*Politik

Inilah Perbedaan #2019gantipresiden dan #diasibukkerja

Saat minggu pagi 29 April 2018, aktifitas olahraga masyarakat di lokasi CFD (Car Free Day) di beberapa kota besar ada yang berbeda. Di Jakarta sekitar puluhan ribu bahkan ada yang mengatakan ratusan ribu masyarakat menggunakan kaos berlambang #2019gantipresiden memenuhi bundaran HI dan monas. Tanpa ada yang mengundang dan mengkoordinasi gerakan rakyat itu bergelora secara bersamaan di berbagai kota besar lainnya. Surabaya, Medan, Yogjakarta, Semarang, Malang, Banjamasinmasin, Ujungpandang dan berbagai kota lainnya. Bukan hanya itu baner, spanduk, bahkan ada spanduk panjang berisi tanda tangan dukungan #2019gantipresiden. Selain itu juga diramaikan para pedagang di pinggir jalan juga semakin banyak berjualan kaos #2019gantipresiden dan berbagai asesoris lainnya seperti slendang slayer, mug, topi, sticker dan berbagai asesoris lainnya. Ternyata dibalik kehebatan suara rakyat itu ada aksi tandingan #diasibukkerja yang ikut meramaikan pemanasan tahun politik itu. Meski dianggap berpolitik tetapi kebangkitan suara rakyat yang luar biasa dan aksi tandingan itu tidak sekalipun menjurus pada kegiatan politik praktis atau kampanye. Tanpa orasi, tanpa dukungan pada parpol dan tanpa dukungan pada satu calon pemimpin. Para warga masyarakat hanya ingin mengungkapkan tidak ada yang mengungkapkan visi, misi dan program seorang calon presiden. Makanya KPU dan Bawaslu dati awal tidak menganggap kaos bertagar itj sebagai pelanggaran hukum.

Pemanasan tahun politik ini tampaknya baru awal kebangkitan rakyat, diprediksi gelombang kaos rakyat atau people power itu akan menggoyang seluruh pelosok Indonesia. Indonesia yang sudah terlanjur terbelah menjadi dua kutub politik itu. Maka tak pelak lagi kelompok lain tak tinggal diam saat ada kebangkitan suara rakyat yang demikian dahsyat itu. Maka aksi tandingan yang sporadis berskala kecil muncul seperti #diasibukbekerja, #2019tetapjokowi dan hastag tandingan lainnya. Seperti aksi masa 2 tahun terkahir ini. Dalam tahun politik ke depan tampaknya rakyat akan semakin jelas membedakan dan menganalisa. Aksi kelompok manakah yang murni suara rakyat mayoritas atau people power dan kelompok manakah yang bukan. Manakah yang swadaya rakyat dan manakah yang swakelola elit politik atau kekuatan besar di Indonesia. Fenomena ini akan mengingatkan perjuangan ke dua kutub rakyat itu dalam pilkada DKI Jakarta 2017. Bedanya saat ini berskala nasional dan akan lebih heboh dibandingkan pertarungan Ahok vs Anis.

Salah satunya yang paling heboh adalah di Jakarta. Saat mata memandang selalu tampak kaos #2019gantipresiden yang berwarna warni bertebaran sepanjang jalan Soedirman Tamrin hingga ke lapangan Monas. Sesampai di Bundaran HI konsentrasi masa semakin padat. Banyak beberapa tokoh nasional, beberapa wajah artis dan selebritis tampak meramaikan Car Free Day special tersebut. Tetapi di antara puluhan kaos kaos berwarna warni itu tersembul puluhan orang berkaos putih #diasibukbekerja yang di kawal barisan polisi.

Aksi #2019gantipresiden vs #diasibukkerja menggambarkan kepedulian rakyat terhadap pemimpinnya. Aksi itu menggambarkan bahwa rakyat menginginkan presiden baru tetapi ada yang tetapi ingin mempertahankan presiden baru. Alasan kedua kelompok itu berbeda. Secara kasat mata alasan yang disampaikan kelompok ganti presiden karena mengganggap selama ini negara dianggap gagal karena selama 3 tahun terakhir ini carut marut sosial, politik, hukum dan ekonomi semakin merugikan kelompok mayoritas. Ketegangan SARA, ideologi dan agama dianggap paling buruk dalam sejarah bangsa. Ketidak adilan hukum, ekonomi dan sosial dianggap hanya menguntungkan kelompok kecil rakyat. Sehingga tak ajal lagi isu komunis, isu anti agama, isu anti asing atau aseng, isu keperpihakan, isu kriminalisasi ulama menjadi isu terpanas sepanjang sejarah reformasi.

#2019gantipresiden vs #diasibukkerja

Perbedaan #2019gantipresiden vs #diasibukkerja bukan sekedar kaos, tetapi pertarungan kekuatan besar dua kutub politik di Indonesia. Kutub Politik itu tidak akan terlepas dari kepentingan agama, ekonomi, budaya, sosial dan kepentingan pribadi. Sehingga pertarungan kekuatan kelompok agama dan kekuatan pelaku ekonomi baik dunia internasional dan nasional akan ikut bermain dalam pertarungan itu. Saat kekuatan besar itu berjibaku maka akan muncul dalam pertarungan dalam medan perang yang semakin luas dan semakin panas. Pertarungan kekuatan besar itu akan melibatkan umat dan rakyat secara individu. Ketika aspirasi itu mewakili rasionalitas agama, ras, suku atau sikap nasionalisme maka kekeuatan dalam dirinya akan tumbuh sangat kuat. Bila rasionalitas agama atau nasionalitas itu terpinggirkan maka bukan hanya harta, nyawapun mungkin siap dikorbankan. Sehingga kebangkitan #2019gantipresiden adalah people power yang dahsyat tanpa harus dikomando dan tanpa dikoordinir. Meski hanya rakyat kecil tak berpunya mereka rela menyisihkan uang makannya hanya sekedar untuk membeli kaos #2019gantipresiden. Meski rakyat kecil itu makannya belum tentu setiap hari bisa menyumbanhkan sebotol air aqua dan sepotong roti untuk para aksi rakyat. Meski pedagang kecil mereka rela menggratiskan dagangannnya untuk oerjuangan rakyat dan umat untuk bela agama dan negerinya. Hal itu tergambar jelas pada fenomena pertarungan politik Pilkada DKI 2017 dengan berbagai keterkaitannya termasuk aksi bela Islam yang berjilid jilid. Tampaknya fenomena politik Pilkada DKI akan menjadi miniatur politik pertarungan besar antara #2019gantipresiden vs #diasibukkerja. Namun perseteruan koas ini akan lebih dahsyat dan lebih kuat di seluruh pelosok nusantara.

Perbedaan #2019gantipresiden vs #diasibukkerja

Kelompok #2019gantipresiden dan #diasibukkerja maka bila dicermati dapat dianalisa secara sosial, politik dan budaya. Secara sosial maka kedua kutub itu mempunyai karakterik yang berbeda. Kelompok yang satu didominasi umat mayoritas Islam yang modernis. Sehingga kelompok ini tidak jauh berbeda dengan pengikut aksi bela Islam. Kelompok didominasi kelompok nasionalis dan golongan lainnya. Sehingga tampak sekali secara katakteristik fisik dan bahasa tubuhnya secara umum berbeda. Satu kelompok di dominasi perempuan berkerudung. Meski di kelompok lain ada yang berkerudung. Uniknya ada beberapa orang perempuan melepas keredungnya saat hendak pulang karena kepanasan atau tidak terbiasa memakai.

Saat di media sosial pasti ada ujaran yang saling menuding satu dan lainnya sebagai demo bayaran atau pasukan nasi bungkus. Mereka sama sama saling mengklaim bahwa dirinya paling mandiri. Tetapi bila dicermati memang ada yang aksi swadaya dan aksi swakelola. Swadaya karena aksi itu timbul dari emosi yang paling dalam ingin menyuarakan suara hatinya. Dalam kedua kelompok pasti ada orang orang seperti ini, mereka tanpa pamrih dan berani mengorbankan harta untuk aksi itu. Kelompok lainnya ikut aksi karena paksaan ekonomi atau lingkungan. Saat iming iming 50 ribu dan sebungkus nasi mereka akan lakukan meski hatinya berkata lain. Kelompok ini biasanya datang dari warga berdomisili sekitar Jakarta dengan menggunakan bus kopaja sewaan dan datangnya selalu berombongan sekitar 10-30 orang, berseragam kaos sama dan mendapatkan konsumsi yang sama. Kelompok lainnya datang sendiri sendiri dan membeli konsumsi sendiri. Dalam aksi yang lebih besar nantinya kelompok swadaya ini niasanya tanpa pamrih membagi bagikan makanan dan minuman pada peserta aksi lainnya.

Secara psikologi politik para pengamat mengungkapkan kekuatan psikologis makna tagar 2019gantipresiden lebih kuat daripada #diasibukbekerja. Buktinya secara cepat kaos itu jadi bisnis luar biasa yang memenuhi lapak online atau lapak kaki lima mengalahkan kaos jersey bola. Bahkan kaos itu ditakuti dimana mana. Sehingga ada upaya dati pejabat, elit politik dan penegak hukum mengkriminalisasi pemakai dan pembuat kaos karena dianggap melanggar hukum. Tampaknya ini bukan akhir, tapi awal kekuatan tagar itu akan terus menerus memanasi jiwa rakyat yang tidak menerima keadilan hukum, ekonomi dan sosial. Kaos bertagar #2019gantipresiden diramalkan beberapa politisi seperti fenomena kaos merah yang bisa merobohkan rezim yang tidak diaukai rakyat.

Tidak ada yang salah dengan pemakai kaos #2019gantipresiden dan pembuatnya. Katena keduanya tidak ada sedikitpun hukjm yang dilanggar. Kaos #2019gantipresiden adalah simbol bahasa tubuh rakyat ketika ketidak puasan akan pembangunan ekonomi, politik dan sosial di Indonesia 3 tahun terakhir ini. Aspirasi rakyat muncul karena Kaos itu menjadi people power di mana mana , karena banyak rakyat sudah jenuh dengan pencitraan dan ketidak adilan hukum, ekonomi dam sosial yang dipertontonkan rezim ini.

Sebaliknya juga tidak ada yang salah dengan kaos #diasibukkerja. Karena kelompok ini menganggap sudah puas dan nyaman dengan kehebatan Jokowi dalam membangun infrastruktur. Kelompok ini sudah puas dengan kebijaksanaan ekonomi dan keadilan hukum atau sosial yang dijalankan Jokowi yang menguntungkan kelompoknya dan dirinya. Kelompok ini harus mendukung Jokowi karena takut bila ada penguasa lain kehidupan ekonomi, sosial dan beragamanya akan terancam. Padahal kalau negara Pancasila maka ketakutan itu hanya sekedar paranoid saja.

Secara politis, kekuatan psikologis makna #2019gantipresiden tidak sehebat tagar #diasibuk kerja. Buktinya tidak ada kaos yang dijual seheboh kaos lainnya. Dan tidak ada yang mempermasalahkan pemakaian kaos ini tidak seperti halnya kaos #2019gantipresiden dihujat dan dikriminalisasi dimana mana. Slogan #diasibukbekerja tidak terlalu kuat karena dianggap hanya sekedar reaktif, sporadis dan tidak mempunyai konsep kuat. Makanya pengamat meyakini tagar dari kelompok itu masih berganti ganti seperti tagar seperti #2019tetapjokowi, #tetapindonesia masih belum mempunyai bentuk yang kuat untuk melawan #2019gantipresiden.

Iklan