Kontroversi

Jokowi Resmikan 180 km Jalan Tol, SBY Berkontribusi 480 km dan Presiden Sebelumnya 557 Km, Manakah Paling Hebat ?

Jokowi Resmikan 180 km Jalan Tol, SBY Berkontribusi 480 km dan Presiden Sebelumnya 557 Km, Manakah Paling hebat ?

Kehebatan pembangunan infrastruktur yang dilakukan Jokowi saat ini selalu setiap hari tidak terlepas dari fokus pembicaraan media masa dan selalu menjadi buah bibir sebagian rakyatnya. Demikian pula secara berlebihan pernah salah satu elit politik pendukung pemerintah mengatakan bahwa tidak ada presiden sehebat Jokowi dalam membangun infrastruktur. Bahkan dalam acara ILC pada 10 April 2018 Akbar Faizal dari Partai Nasdem partai pendukung setia pemerintah mengatakan dengan jumawanya: Jokowi telah berbuat banyak untuk negeri ini,”Apa yang dilakukan presiden senelumnya selama 25 tahun ini ?”. Memang harus diakui bahwa perhatian dan fokus utama pembangunan rezim saat ini adalah pembangunan jalan tol. Tetapi ternyata data dan fakta yang ada kehebatan Jokowi dan ketidakhebatan presiden sebelumnya tidak sehebat yang digembar gemborkan. Terdapat data bahwa berapa panjang presiden sebelum era Jokowi telah membangun jalan tol. Tetapi uniknya sampai saat ini tidak ada data yang dapat diakses yang bisa menunjukkan bahwa berapa panjang Jokowi bisa membangun jalan tol mulai dari nol km ? Data yang dilaporkan pemerintah bahwa rencana besar Jokowi membangun tol dan panjang tol yang telah diresmikannya atau mulai beroperasi. Dimana jalan tol tersebut sebagian besar telah dibangun dan dirintis proyeknya saat presiden sebelumnya. Siapakah presiden Indonesia yang paling hebat membangun jakan tol ?

Data menujukkan jumlah jalan tol yang dibangun presiden sebelumnya sepanjang 857,45 km. Dari semua itu yang dibangun dan diresmikan selama dua periode pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, yakni Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I dan KIB II, panjang jalan bebas hambatan tumbuh sekitar 300 kilometer (Km). Terdapat beberapa jalan tol dibangun sejak era SBY tetapi diresmikan Jokowi sekitar sepanjang 180,5 km hingga tahun 2017. Sehingga dalam era SBY dianggap berkonstribusi terhadap pembangunan jalan tol sepanjang 480 km. Sampai saat ini tidak ada data yang bisa diakses berapa panjang jalan tol yang dibangun mulai dari nol di pemerintahan Jokowi yang sudah dibangun. Kecuali data yang menunjukkan Jokowi telah meresmikan atau mengoperasikan jalan tol sepanjang 392 km hingga tahun 2017. Tidak ada data yang bisa diakses betapa km jalan tol yang dibangun Jokowi sejak 0 km.

Ternyata kehebatan Jokowi dibandingkan presiden sebelumnya khususnya SBY dalam membangun jalan tol tidak seperti yang digembar gemborkan media masa. Karena, ternyata presiden sebelumnya khususnya Soeharto dalam keadaan teknologi yang lebih minim dan rasio panjang jalan, jumlah kendaran dan kepadatan kendaraan yang tidak tinggi yang dilakukan cukup spektakular seperti jalan tol Jagorawi. Hal ini bisa digambarkan pembangunan jalan tol yang fenomenal saat jamannya yaitu Tol Jagorawi saat itu setelah diresmikan masih tidak terlalu padat. Hal itu menunjukkan bahwa saat itu pembangunan jalan tol dibandingkan jumlah kendaraan jumlahnya masih ideal. Tetapi saat ini meskipun pembangunan jalan tol terus digalakkan masih saja banyak kepadatan luar biasa dalam jalan tol. Bahkan harus menggunakan ganjil genap. Hal itu mungkin saja dianggap era kegagalan menyediakan jalan tol bagi rakyat dibandingkan jaman Seoharto yang jalan tolnya masih tidak padat. Dalam era SBY meski saat itu harus dirundung krisis moneter yang menyapu seluruh dunia masih mampu membangun 300 km jalan tol. Sayangnya saat ini tidak ada data yang menyebutkan berapa panjang jalan tol yang dibangun Jokowimmulai nol km. Sehingga tidak bisa membandingkannya.

Perbedaan lain yang unik adalah jalan tol dalam era Jokowi berapapun panjangnya harus selesai ditargetkan sebelum tahun 2019. Dalam era Jokowi berapapun panjangnya jalan tol baik jalan tol lokal atau nasional yang telah dioperasikan dan siapapun ide dan penginisiasi jalan tol itu pengoperasiannya akan selalu diresmikan oleh Jokowi. Tampaknya Jokowi bukan hanya fokus membangun jalan tol tetapi juga tidak ketinggalan kehilangan dalam momen seremonial meresmikan jalan tol. Bahkan hampir selalu peresmian itu dilakukan acara seremonial yang unik dan spektakular. Seperti Jokowi menyetir sendiri mobil kuno untuk memulai pembukaan jalan tol dan tontonan seremonial yang menghebohkan lainnya. Hal khas lainnya setiap peresmian jalan tol selalu diikuti oleh Jokowi berfoto seorang diri dengan background jalan tol. Secara psikologis hal itu menunjukkan bahwa presiden adalah satu satunya orang yang paling berjasa dalam pembangunan jalan tol itu. Berbeda dalam era SBY tidak semua jalan tol diresmikan SBY, sebagian jalan tol yang meresmikan hanya menteri dan gubenrnur setempat. Memang tidak ada yang salah dalam hal itu. Karena hal itu merupakan kebanggaan seorang presiden untuk membangun jalan tol di mata rakyatnya.

Daftar tol yang diresmikan dan dibangun presiden di Indonesia:

1. Jagorawi, panjang 59 km, diresmikan Maret 1978
2. Semarang seksi A-C, panjang 24,75 km, diresmikan Juli 1983
3. Jakarta-Tangerang, panjang 33 km, diresmikan November 1984
4. Prof Dr. Ir. Sedyatmo, panjang 14,3 km, diresmikan April 1985
5. Surabaya-Gempol, panjang 49 km, diresmikan Juli 1986
6. Cawang-Tomang-Grogol-Pluit, panjang 23,55 km, diresmikan April 1987
7. Jakarta-Cikampek, panjang 83 km, diresmikan September 1988
8. Belawan-Medan-Tj. Morawa, panjang 43 km, diresmikan 1989
9. Cawang-Tj. Priok-Ancol Timur-Pluit, panjang 27,05 km, diresmikan November 1989
10. Serpong-Pondok Aren, panjang 7,2 km, diresmikan Februari 1990
11. Padalarang-Cileunyi, panjang 66,4 km, diresmikan Maret 1991
12. Tangerang-Merak, panjang 73 km, diresmikan Juli 1992
13. Surabaya-Gresik, panjang 20,7 km, diresmikan Maret 1993
14. JORR seksi S, panjang 14,25 km, diresmikan September 1995
15. Palimanan-Plumbon-Kanci, panjang 26,3 km, diresmikan Januari 1998
16. Ujung Pandang seksi I dan II, panjang 6,05 km, diresmikan 1998
17. Pondok Aren-Ulujami, panjang 5,55 km, diresmikan Februari 1999
18. Cikampek-Purwakarta-Padalarang, panjang 58,5 km, diresmikan April 2005
19. JORR W2S-E1-E2-E3, panjang 31,12 km, diresmikan Agustus 2007
20. SS Waru-Bandara Juanda, panjang 12,8 km, diresmikan April 2008
21. Makassar seksi IV, panjang 11,6 km, diresmikan September 2008
22. Jembatan-Surabaya-Madura, panjang 5,4 km, diresmikan Juni 2009
23. Kanci-Pejagan, panjang 35 km, diresmikan Januari 2010
24. JORR W1, panjang 9,85 km, beroperasi Februari 2010
25. Surabaya-Mojokerto seksi 1A, panjang 1,89 km, diresmikan Agustus 2011
26. Semarang-Solo seksi I, panjang 11 km, diresmikan November 2011
27. Bogor ring road seksi 1A, panjang 3,85 km, diresmikan November 2011
28. Cinere-Jagorawi, panjang 3,5 km, diresmikan Februari 2012
29. Bali Mandara, panjang 10 km, beroperasi September 2013
30. Semarang-Solo seksi II, panjang 11,95 km, diresmikan April 2014
31. Bogor ring road seksi IIA, panjang 1,95 km, diresmikan Mei 2014
32. JORR W2 Utara, panjang 7,87 km, diresmikan Juli 2014
33. Kertosono-Mojokerto seksi I, panjang 14,41 km, diresmikan Oktober 2014
34. Porong-Gempol seksi Kejapanan-Gempol, panjang 4 km, dibangun SBY tahun 2012 diresmikan Jokowi Mei 2015
35. Gempol-Pandaan, panjang 12,05 km, dibangun sejak era SBY 5 April 2012 diresmikan Jokowi Juni 2015
36. Cikampek-Palimanan, panjang 116,75 km, dibangun sejak era SBY tahun 2012 diresmikan Jokowi tahun Mei 2015
37. Surabaya-Mojokerto seksi IV, panjang 16,25 km, dibangun sejak era SBY Juni 2012 diresmikan Jokowi bukan Maret 2016
38. Pejagan-Pemalang seksi I dan II, panjang 20,2 km, dibangun sejak era SBY sejak pada 23 Juli 2014 diresmikan Jokowi Juni 2016
39. Tol akses Tanjung Priok, panjang 11,4 km, dibangun sejak era SBY tahun 2009 diresmikan Jokowi Mei 2017

Dari data jalan tol tersebut di atas menunjukkan bahwa jumlah jalan tol yang dibangun presiden sebelumnya sepanjang 857,45 km. Dari semua itu yang dibangun dan diresmikan selama dua periode pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, yakni Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I dan KIB II, panjang jalan bebas hambatan tumbuh sekitar 300 kilometer (Km), Sebagaian sisanya dibangun sejak era SBY yang diresmikan Jokowi sepanjang 180,5 km. Sehingga bisa disebut bahwa dalam era SBY berkonstribusi sepanjang 480 km.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) di bawah Direktorat Jenderal Bina Marga menargetkan sepanjang tahun 2017 ini dioperasikan 392 km jalan tol. Ternyata sebagian besar jalan tol tersebut telah dibangun dalam pemerintahan era SBY tetapi diresmikan pemerintahan Jokowi mulai tahun 2015 hingga tahun 2017. Laporan kementrian tersebut tIdak ada data yang menyebutkan mulai kapan jalan tol tersebut dibangun. Juga tidak pernah disebutkan bahwa jalan tol mana yang dibangun Jokowi mulai dari nol. Sehingga data tersebut tidak bisa disimpilkan manakah jalan tol yang dibangun era SBY atau dibangun pemerintahan Jokowi ?

Fenomena kehebatan keinginan dan berita presiden Jokowi dalam fokus membangun infrastruktur membangun jalan tol mungkin harus diapresiasi. Meski sampai saat ini belum ada data yang valid menunjukkan berapa panjang jalan tol yang dibangun Jokowi mulai nol kilometer. Tetapi saat presiden ingin menonjolkan diri maka data dan fakta sering tidak terungkap jelas bahwa siapa sebenarnya yang paling awal membangun dan siapa yang hanya tinggal meresmikannya.

Bila seorang presiden tulus dalam membangun negerinya seharusnya tidak perlu mengungkit ungkit siapa yang paling hebat. Seyogjanya tidak perlu seorang presiden atau pendukungnya mengatakan bahwa presiden sebelumnya dianggap tidak berbuat apa apa. Setiap presiden tantangannya berbeda. Saat jaman Soeharto misalnya mungkin saja tidak perlu membangun jalan tol lebih banyak karena rasio jumlah penduduk dan jumlah kendaraan masih tidak banyak. Tetapi di jaman Jokowi mungkin saja jumlah kendaraan berlipat lipat sehingga dituntut membangun jalan tol lebih banyak. Nantinya presiden pengganti Jokowipun punya tantangan yang berbeda pula. Bahkan presiden masa depan bisa saja akan membangun jalan tol lebih panjang karena tuntutan kebutuhan lebih tinggi dan teknologi semakin baik. Sehingga presiden masa depan akan membangun jalan tol lebih banyak lagi. Presiden di masa depan seharusnya sosok yang pekerja keras , tanpa pamrih dan rendah hati. Dengan tidak perlu mengklaim dirinya paling hebat dan tidak merendahkan atau menyalahkan presiden sebelumnya. Bisa saja meski Soeharto hanya membangun 250 km jalan tol akan lebih hebat dari presiden masa depan yang bisa jumawa membangun 1000 km jalan tol. Karena tantangan, kebutuhan rakyat dan kemampuan teknologi setiap presiden berbeda dalam setiap jamannya. Sulit untuk menilai parameter apakah yang dipakai untuk menilai keberhasilan membangun jalan tol seorang presiden. Tetapi cara mudah menilai kehebatan seorang presiden saat jamannya dapat dilihat dari kepadatan jalan tol tersebut. Bila sampai jalan tol masih lengang dan nyaman dilalui maka presiden telah berhasil membangun jalan tol untuk rakyatnya. Tetapi saat jalan tol macet dan harus digunakan mobil ganjil dan genap dalam hari berbeda maka keberhasilan pembangunan jalan tol masih harus diperdebatkan. Bahkan akan menjadi debat panjang saat banyak jalan tol lama macet total tetapi banyak tol baru dalam kota sangat lengang. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pembuatan jalan tol tidak menggunakan studi kelayakan yang baik dan cermat.

Pesan moral untuk presiden masa depan yang lebih hebat, lebih bijak dan rendah hati adalah jika diri selalu merasa hebat, tentu akan sangat sulit untuk bisa menghargai orang lain. Tetaplah menjadi pribadi yang rendah hati, seberapapun tinggi kedudukan yang dimiliki seorang presiden Tetaplah percaya diri dengan seberapapun kekurangan yang dimiliki seorang presiden. Pamer merupakan salah satu ide tidak cerdas dalam merengkuh suatu kemenangan. Seorang yang pandai bercakap namun rendah hati bagaikan perhiasan yang nilainya sama dengan suatu kerajaan surga. Semakin presiden merasa banyak berjasa, semakin banyak juga kekecewaan yang presiden rasakan. Maka, kunci untuk tak banyak kecewa ialah dengan keikhlasan dan rendah hati.

Kehebatan presiden dalam membangun jalan tol yang dipakai parameter seharusnya bukan berapa panjangnya jalan tol yang diresmikan. Keberhasilan seorang presiden dalam membangun jalan tol tampaknya tidak harus dinilai dalam kehebatan seremonial dan bagusnya gambar foto presiden seorang diri dengan latar belakang jalan tol. Kehebatan seorang presiden adalah bila dengan ikhlas tanpa pamrih dapat membangun jalan tol untuk rakyatnya dengan nyaman dan rakyat yang menilai bukan diri sndiri. Saat presiden membangun jalan tol, kepadatan jalan tol tidak tinggi dan jalan tol tidak macet maka rakyat akan menilai kehebatannya. Tetapi saat pemberitaan pembangunan jalan tol sangat heboh tetapi ironisnya saat ini dalam banyak jalan tol masih macet dan harus disyaratkan ganjil genap maka menunjukkan bahwa presiden berbeda tantangannya dalam setiap jaman dan presidennya berbeda kehebatannya dalam membangun jalan tol. Apapun data dan fakta yang ada, presiden Indonesia setiap jamannya punya kehebatan tersendiri.

Iklan