*Ekonomis

Fiksi Ekonomi Indonesia 2030 Meroket, Kehebatan Presiden atau Bonus Demografi ?

Dalam beberapa bulan terakhir ini kisah fiksi ramalan para ahli ekonomi yang menyebutkan ekonomi Indonesia meroket tahun 2030 semakin santer terdengar dan disuarakan. Meski Presiden Jokowi menertawakan fiksi ilmiah Indonesia terpecah belah tahun 2030, tetapi justru Jokowi percaya fiksi ekonomi Indonesia meroket tahun 2030. Jokowi dan para menterinya terus menyuarakan di setiap pertemuan dengan rakyatnya bahwa Indonesia tahun 2030 akan memimpin ekonomi dunia. Para pengamat politik menduga, hal itu tampaknya menjadikan isu penting untuk menunjukkan kehebatan kerja tim ekonomi Indonesia di era rezim saat ini. Semakin keras pidato kehebatan ekonomi 2030 disuarakan semakin keras tepukan rakyat mengagumi kehebatan Jokowi dalam mengelola ekonomi. Hal itu diikuti para pembantunya salah satunya mengatakan pembangunan infrastruktur saat ini adalah faktor penentu kehebatan ekonomi tahun 2030. Tetapi hal itu menimbulkan kritikan dari para pakar ekonomi, bahwa fiksi ramalan kehebatan ekonomi Indonesia tahun 2030 sebenarnya disebabkan karena bonus demografi jumlah penduduk Indonesia. Hal ini yang membuat rakyat semakin bingung. Ekonomi Indonesia yang diramalkan akan meroket tahun 2030, karena kehebatan Jokowi atau Bonus Demografi ? Apakah modus isu ekonomi Indonesia meroket di tahun 2030 ? Apakah untuk menutupi kelemahan terbesar Jokowi selama ini dalam mengelola ekonomi negeri ?

Permasalahan ekonomi Indonesia meroket di tahun 2030 didasarkan dua fiksi atau tulisan para pakar dunia tentang Indonesia. Fiksi adalah sebuah bentuk tulisan naratif yang bersifat imajiner, meskipun imajiner sebuah karya fiksi tetaplah masuk akal dan mengandung kebenaran yang dapat mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia, linhkungan dan Penciptanya. Kebenaran dalam sebuah dunia fiksi adalah keyakinan yang sesuai dengan pandangan pengarang terhadap masalah hidup dan kehidupan. Kebenaran dalam tulisan fiksi bisa saja sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi ekonomi, politik, hukum, moral, agama, logika, dan sebagainya. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi bahkan dapat terjadi di dunia nyata dan benar di dunia fiksi. Bila tulisan itu adalah fiksi ilmiah dan ditulis pakar dalam bidangnya bjasanya disusun berdasarkan data, fakta dan pemikiran ilmiah yang memnagdung kebenaran dan dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan rencana manusia ke depan.

Fiksi ilmiah pertama yang banyak ditulis para pakar dunia adalah Indonesia akan mendapat anugerah bonus demografi selama rentang waktu 2020- 2035, yang mencapai puncaknya pada 2030. Pada saat itu jumlah kelompok usia produktif (umur 15-64 tahun) jauh melebihi kelompok usia tidak produktif (anak-anak usia 14 tahun ke bawah dan orang tua berusia 65 ke atas). Jadi, kelompok usia muda kian sedikit, begitu pula dengan kelompok usia tua. Bonus demografi ini tercermin dari angka rasio ketergantungan (dependency ratio ), yaitu rasio antara kelompok usia yang tidak produktif dan yang produktif. Pada 2030 angka rasio ketergantungan Indonesia akan mencapai angka terendah, yaitu 44%. Artinya, pada tahun tersebut rasio kelompok usia produktif dengan yang tidak produktif mencapai lebih dari dua kali (100/44). Singkatnya, selama terjadi bonus demografi tersebut komposisi penduduk Indonesia akan didominasi oleh kelompok usia produktif yang bakal menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi kita. Negara-negara maju seperti Jepang, Kanada, atau negara-negara Skandinavia tak lagi produktif karena kelompok usia produktifnya terus menyusut.

Ternyata ramalan ilmiah itu adalah fiksi yang yang sesuai dengan ramalan para pakar ekonomi dunia bahwa Indonesia tahun 2030 ekonomi Indonesia akan masuk trhebat di dunia. Beberapa ahli dan pakar ekonomi dunia dalam sepuluh tahun terakhir ini banyak meramalkan bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan besar pada tahhn 2030. Laporan ramalan ekonomi terkuat pada 2030 yang dimaksud baru-baru ini diterbitkan olah PricewaterhouseCoopers (PwC) 2030 akan jadi kekuatan ekonomi dunia seperti yang dilansir Independent, Kamis (9/3/2017). Dalam laporan berjudul “The long view: how will the global economic order change by 2050?” itu, PwC membuat peringkat 32 negara berdasarkan proyeksi produk GDP global berdasarkan paritas daya beli (purchasing power parity atau PPP) masing-masing. PPP dipergunakan oleh para ahli makroekonomi untuk menentukan produktivitas ekonomi dan standar kehidupan negara-negara pada suatu masa tertentu. Temuan PwC menunjukkan beberapa negara yang memang kerap bercokol di peringkat atas selama 13 tahun terakhir ini. Namun, ada pula beberapa negara yang melejit ke puncak menjelang 2030. Dalam daftar peringkat, semua angka yang dicantumkan dihitung dalam US$ pada nilai konstan. Sebagai catatan, PPP Amerika Serikat sekarang ini ada pada angka US$ 18,562 triliun. Pada tahun 2030 diramalkan PPP Indonesia akan mencapai $5,424 triliun, Jepang sekitar $5,606 triliun, India $19,511 triliun, Amerika Serikat $23,475 triliun dan China mencapai $38,008 triliun. Banyak ahli berpendapat bahwa dua ramalan itu adalah fiksi di masa depan dapat dikaitkan sebagai faktor sebab akibat. Salah satu analisa para pakar di bidangnya penyebab utama ramalan kehebatan ekonomi Indonesia adalah karena bonus demografi penduduk Indonesia.

Pada tahun 2014 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah mengungkapkan 2030 Indonesia akan menjadi negara yang memiliki GDP yang sangat tinggi. Begitu juga dalam tahun politik inipun Presiden Jokowi dalam setiap saat selalu bersemangat di setiap kesempatan bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke 5 di dunia dalam tahun 2030. Tampaknya isu ramalan ekonomi Indonesia menjadi kekuatan ekonomi Indonesia saat ini akan menjadi senjata pamungkas rezim Jokowi dan para pendukungnya untuk mengklaim sebagai hasil karyanya. Diantaranya pendapat Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko pada acara Rosi di kompastv mengatakan bahwa kehebatan ekonomi Indonesia tahun 2030 karena pembangunan infrastruktur yang disiapkan Jokowi JK saat ini.

Memang, dalam tahun politik ini banyak kelucuan dan kegenitan yang dilakukan para elit politik untuk meraih suara rakyat. Memang sangatlah wajar dari pihak incumbent selalu mengeluarkan senjata data dan gambaran yang optimis dan menunjukkan kerjanya untuk citra di yahun politik 2019. Tak pelak lagi, isu fiksi kehebatan ekonomi Indonesia ditahun 2030 karena bonus demografi dipercaya dan terus menerus dihembuskan dijadikan senjata utama untuk menaikkan citra hasil kerja pemerintah. Namun hal ini dianggap oleh banyak pengamat bahwa cerita fiksi kehebatan ekonomi tahun 2030 menutupi buruknya masalah ekonomi Indonesia saat ini seperti pertumbuhan ekonomi target 7% hanya 5%, atau masalah banyaknya deindustriliasasi di seluruh penjuru nusantara. Menurut para pengamat politik, isu fiksi ramalan kehebatan ekonomi 2030 tampaknya sengaja menutupi masih tingginya pengangguran tapi justru perpres yang baru ditanda tangani dianggap memudahkan serbuan TKA dari Cina. Bisa saja isu fiksi kehebatan ekonomi 2030 untuk mengubur lebih dalam menggunungnya utang pemerintah yang mencapai 4000 trilyun atau menurut hitungan indef 7000 trilyun. Terdapat spekulasi para pengamat politik bahwa cerita fiksi kehebatan ekonomi 2030 sengaja ditiupkan untuk menutupi buruknya daya beli rakyat yang berimbas pada rontoknya perusahaan ritel raksasa dan lebih banyak lagi perusahaan menengah dan kecil lainnya.

Seharusnya bila presiden percaya fiksi ekonomi Indonesia meroket tahun 2030 juga jangan menertawakan atau meremehkan ramalan fiksi intelejen dunia yang mengatakan bahwa Indonesia akan sangat rawan perpecahan di masa depan. Bahkan saat ini adalah era isu SARA dan isu perpecahan bangsa paling hebat dalam sejarah Indonesia yang sewaktu waktu akan meletus hebat setiap saat. Sebaiknya bangsa ini harus waspada isu SARA yang demikian tinggi itu bisa menumbangkan NKRI bila tidka dikelola dengan baik. Jangankan Indonesia, Rusia dengan paham sosialis dan pemimpun yang berkarakter kuat saja bisa bubar. Apalagi Indonesia yang mempunyai karakter pemimpin yang menganggap isu SARA dan perpecahan NKRI dengan ekskalasi terus meningkat sepanjang jaman. Bahkan saat ini isu ketidak adilan yang berbasis SARA terus meningkat. Kepemilihan kekayaan Indonesia hanya dimiliki segelintir kaum tertentu akan menjadi sumbu bom waktu yang akan mudan meledak setiap detik.

Saat seseorang dianggap visioner di masa depan, bila percaya ramalan fiksi ekonomi pakar dunia juga harus percaya ramalan fiksi intelejen dunia bahwa Indonesia rawan terpecah belah dintahun 2030. Seharusnya presiden dan para menteri bukan hanya percaya fiksi ekonomi tetapi juga mengundang pengarang buku Ghost Fleet seperti yang dilakukan para pimpinan Pertahanan Keamanan Amerika yang mengundang pengarang tersebut untuk mendapatkan informasi lebih jauh dan berdiskusi tentang masalah bangsa Amerika yang juga diramalkannya. Jangan malah menertawakannya dan menganggap tokoh yang memperingatkannya dianggap pesimis dan galau. Karena bila tidak bijaksana dan tidak cerdas dalam memahami berbagai pemikiran tersebut maka fiksi Indonesia meroket ekonominya 2030 akan terburu hancur hanya gara gara pemimpinnya meremehkan ataunbahkan tidak memahamai kelemahan Indonesia yang dapat mempercepat perpecahan bangsa dan kehancuran ekonomi bangsa sebelum tahun 2030.

Sebaiknya pengelola negeri ini mengurangi penyebaran isu politik indentitas tetapi mencermati fakta buruknya ekonomi yang terjadi. Para pengamat politik memahami bahwa isu kelemahan ekonomi adalah kelamahan terbesar Jokowi yang dapat menjungkalkan dalam pilpres 2019. Diduga isu ekonomi meroket 2030 untuk memgimbangi kepanikan penguasa dalam menghadapi gerakan moral rakyat #2019gantipresiden. Para elit negeri ini tidak perlu sibuk meninabobokkan rakyat bahwa fiksi kehebatan ekonomi Indonesia di tahun 2030 hanya untuk menutupi fakta ekonomi Indonesia saat ini. Karena, faktanya kehebatan itu karena bonus demografi bukan kehebatan seorang pemimpin. Sebaiknya pemimpin negeri ini harus disibukkan dengan kerja cepat dan cerdas untuk mengatasi buruknya ekonomi bangsa. Seharusnya pemerintah terus bekerja untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tidak bergerak, memperbaiki pengangguran, mengurangi serbuan TKA, mengurang jumlah utang yang menggunung, memperbaiki daya beli rakyat yang melemah dan berbagai permasalahan ekonomi lainnya yang belum bisa di atasi. Para elit negeri ini jangan sibuk mendewakan menteri terbaik di dunia, tetapi faktanya rakyat sengsara karena berbagai subsidi listrik dan BBM dicabuti. Sehingga dampaknya ekonomi rakyat melemah, rakyat dikejar kejar pajak tinggi, harga BBM melambung dan harga harga bahan pokok meningkat terus.

Apapun yang dipahami dan dilakukan elit negeri ini, membuat rakyat semakin bingung. Rakyat dibuat bingung satu sisi dipaksa percaya cerita fiksi ekonomi meroket 2030 tetapi saat yang lain digiring untuk tidak mempercayai fiksi para pakar dunia tentang kelemahan Indonesia yang dapat porak poranda tahun 2030. Tetapi tampaknya rakyat semakin cerdas mana fiksi dan mana fiktif. Rakyat semakin pintar untukmpercaya data ilmiah atau mana data hoax ? Rakyat yang sudah lelah di tengah buruknya ekonomi bangsa ini masih juga dibebani untuk memahami bahwa fiksi ramalan ekonomi meroket tahun 2030, karena kehebatan presiden atau bonus demografi ?

Iklan

Kategori:*Ekonomis, Kontroversi

Tagged as: ,