*** Artikel Terkini

Kisah Dampak Negara Gagal Bayar Utang Ke Cina, Bagaimana Dengan Indonesia ?

wp-1517528743449..jpgKisah Dampak Negara Gagal Bayar Utang Ke Cina, Bagaimana Dengan Indonesia ?

Ekspansi raksasa ekonomi Cina secara luarbiasa merambah keseluruh penjuru duni, terutama Asia dan Afrika. Saat ini Cina tengah menjalankan program One Belt One Road(OBOR). Melalui program ini, Tiongkok ingin menciptakan kembali jalur sutra yang menghubungkan perdagangan Tiongkok ke berbagai negara di dunia. Pembangunan ekonomi dan fisik diberbagai negara di Asia dan Afrika tampaknya hanya sekedar bantuan bagi negara tidak mampu ternyata dibalik itu kekuatan ekonomi raksasa dunia itu bisa mengendalikan kehidupan sosial poltik di suatu negara yang terbelit hutang. Hal ini dapat dilihat ketika Zimbawe, Angola dan Srilanka bertekuk lutut tak berdaya menggadaikan kedauktan negara karena tidak sanggup bayar hutang yang disodori Cina.

China menyiapkan sejumlah proyek infrastruktur raksasa, ini disebut-sebut untuk melancarkan rencananya menguasai perdagangan di dunia. Empat tahun yang lalu, China dipimpin Presiden Xi Jinping, meluncurkan program infrastruktur miliar dolar AS. Proyek yang dibangun berupa rel kereta, jalan, pelabuhan, dan proyek lain di seluruh Asia, Afrika, dan Eropa. Rencana China menguasai perekonomian dunia sudah direncanakan lama. Negeri tirai bambu ini juga membuat lembaga tandingan Bank Dunia, yaitu Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) atau Bank Investasi Infrastruktur Asia.

Beberapa negara afrika dan negara Asia lainnya sudah merasakan dampak utang Cina yang luarbiasa membahayakan negerinya.

  1. Hal ini membuat Sri Lanka ‘merelakan’ pelabuhan dan bandaranya untuk membayar utang yang tidak mampu mereka bayar pada negara raksasa Asia ini. Walaupun Tiongkok masih mikir-mikir untuk menerima debt of equity swap yang ditawarkan negara itu, namun kasus ini seharusnya juga dapat diambil pelajaran bagi pemerintah agar berhati-hati dengan niat dibalik utang Tiongkok. Sampai saat inipun presiden Jokowi karena kesulitan ekonomi Indonesia dalam menopang APBN sudah mulai ada upaya untuk menjual tol dan bandara yang sudah dibangun untuk mendapatkan dana segar. Apalagi nanti saat Indonesia gagal bayar utang pada Cina maka tidak mungkin akan banyak srana stratehia yang diambil alih Cina
  2. Dampak gagal bayar utang ke Cina juga terjadi pada negara Zimbabwe. Zimbabwe telah mengumumkan untuk menggunakan yuan sebagai mata uang yang sah di negara tersebut. Penggunaan yuan tersebut direncanakan mulai berlaku di negara itu pada awal tahun depan. Pelegalan yuan sebagai alat transaksi sah di Zimbabwe menyusul penghapusan utang senilai US$ 40 juta (sekitar Rp 554 miliar) oleh Cina. “Mereka mengatakan menghapus utang kami yang jatuh tempo tahun ini, sehingga yuan akan resmi menjadi alat transaksi perdagangan antara Cina dan Zimbabwe, serta alat pembayaran resmi di Zimbabwe,” kata Menteri Keuangan Zimbabwe, Patrick Chinamasa. Bahkan saat inipun Presiden Joko Widodo sudah tampak gelagat condong pada Yuan. Sebelumnya Jokowi menyatakan dolar Amerika Serikat sudah tidak relevan dijadikan acuan dalam perdagangan dengan negara lain. Kurs mata uang Amerika Serikat ini dinilai semakin tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. “Jangan sampai ini mendominasi persepsi ekonomi. Kalau mengukur ekonomi Indonesia pakai dolar, kita akan kelihatan jelek,” ujarnya dalam acara “Sarasehan 100 Ekonomi” di Jakarta, Selasa 6 Desember 2016. Sebaliknya, kata Jokowi, apabila diukur dengan mata uang lain seperti euro, yuan (renminbi), won, atau pound sterling, performa ekonomi Indonesia berbeda. “Mungkin akan kelihatan jauh lebih bagus,” ucapnya. Masalahnya, Jokowi melanjutkan, selama bertahun-tahun perekonomian Indonesia selalu diukur dengan rupiah dan dolar Amerika Serikat. “Menurut saya, kurs rupiah dan dolar bukan lagi tolok ukur yang tepat.” Jokowi menjelaskan acuan kurs yang relevan pada saat ini adalah mata uang mitra dagang terbesar Indonesia. “Kalau Tiongkok yang terbesar, ya, harusnya yuan, renminbi. Kalau Jepang, ya, kursnya kurs rupiah terhadap yen,” ujarnya.
  3. Dampak kekuatan ekonomi Cina tersebut juga bisa mempengaruhi kebijakaan negara. Bahkan saat ini kekuatan ekonomi Cina di Afrika bisa membuat Cina telah memulai proyek pembangunan pangkalan militernya di kawasan Afrika Timur. Proses konstruksi di atas lahan seluas 36,4 hektare itu dijadwalkan akan selesai tahun depan. Menurut laporan para petugas dan pakar asing yang memantau perkembangan proyek tersebut, pangkalan militer Cina itu terdiri atas sejumlah fasilitas. Fasilitas itu antara lain berupa pos angkatan laut yang dilengkapi dengan fitur toko senjata, sarana pemeliharaan kapal dan helikopter, dan gedung untuk menampung tentara marinir atau pasukan khusus Cina. Wall Street Journal mengungkapkan, Cina telah menanam investasi dalam jumlah besar di Afrika Timur, terutama di Ethiopia yang kini tercatat sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. “Pembangunan pangkalan militer saat ini dapat dikatakan menjadi bagian dari upaya Cina untuk melindungi kepentingan politik dan investasinya di seluruh kawasan sub-Sahara Afrika,” tulis media asal Turki, World Bulletin, akhir pekan lalu. Berdasarkan data terakhir, nilai saham yang diinvestasikan Cina di Afrika menembus angka 30 miliar dolar AS pada 2014. Sementara, lebih dari satu juta orang Cina diperkirakan telah bermigrasi ke benua hitam itu selama beberapa tahun terakhir untuk mencari penghidupan ekonomi yang baru. Bila Indonesia gagal bayar utang Cina maka kekawatiran para pengamat bisa saja terjadi. Nantinya Cina membangun pangkalan militer di Indonesia demi alasan melindungi proyeknya di indonesia. Seperti kasus konferensi pers PM Li saat ada aksi damai jutaan umat Islam yang akan mengirim pasukannya ke Indknesia bila terjadi kekacauan antar ras di Indonesia untuk menyelamatkan warga Cina di Indonesia.

wp-1517528743449..jpgProf. Ronnie Higuchi Rusli: Seperti Afrika, Indonesia Target Negara Gagal Diberi Utang Sulit Dilunasi

Pengamat publik Prof. Ronnie Higuchi Rusli mengatakan Indonesia sudah dimasukkan dalam target supaya tidak menjadi salah 1 dari 4 negara terbesar dan maju di dunia. Mantan penasehat Menko Rizal Ramli ini menjelaskan ada 4 cara menjadikan Indonesia negara gagal. “Indonesia sudah dimasukkan dalam target supaya tidak menjadi salah 1 dari 4 negara terbesar dan maju di dunia dengan cara: 1. Dikirimi narkoba supaya jadi junki population & fail state, 2. Diberi utangan yang sulit untuk dilunasi, 3. Diupayakan menjadi negara sarang teroris. 4. Pecah jadi negara-negara baru,” kata Ronnie Higuchi Rusli yang juga Dosen UI ini di akun twitternya, Kamis (15/2/2018).

“Kalau pemerintah sadar akan bahaya yang mengancam negara ini cukup perhatikan dengan seksama dan sikat yang namanya Narkoba (imperium China hancur karena ini makanya tiada ampun di negeri China) dan 3 hal utama yang saya sampaikan itu,” lanjutnya. Ronnie mencontohkan negara-negara Afrika yang dijadikan “failed states” (negara gagal) karena hanya dikeruk untuk kepentingan Asing. “Ini benua dimana negara-negara di benua tsb dibikin jadi failed states karena isinya menjadi back up £€$,” kata Ronnie melampirkan gambar map Afrika. “Because of its richness, diverse population, countries in this africa continent were made a fail states to the benefit of the west,” lanjutnya.wp-1517528743449..jpg

“Saya menemukan utang nasional ini, berlipat ganda, terbungkus dalam sebuah mangkuk besar yang sudah menunggu saat pertama kali saya melangkah ke dalam Oval Office.” ~ Barack Obama

Tampaknya kekawatiran Barack Obama nantinya yang akan terjadi lebih kburuk lagi bila Indonesia mempunyai presiden baru pengganti Jokowi saat akan masuk Istana Merdeka. Kejadian tersebut bukanlah hal yang mustahil, karena selama kurang lebih 2,5 tahun pemerintahannya, Jokowi tercatat telah berutang sebesar Rp 1.062 triliun. Akibatnya, kini total utang Indonesia mencapai Rp 3.667,41 triliun, per April 2017. Bahkan berdasar RAPBN 2018, pemerintah berencana mencari utang Rp 399,2 triliun. Utang tersebut berasal dari penerbitan surat utang dan pinjaman masing-masing senilai Rp 414,7 triliun dan negatif Rp 15,5 triliun. Kritikan yang lebih tajam dan keras lagi, sepertinya juga harus diterima Jokowi ketika ternyata ia lebih suka berutang pada Tiongkok. Negara yang bagi warga Indonesia secara sosial budaya memiliki kisah sejarah dan sentimen tidak baik secara turun temurun. Faktanya dari daftar negara-negara pemberi utang Indonesia, Tiongkok memang langsung naik di posisi tiga besar sejak tahun 2015, dari sebelumnya hanya berada di posisi enam pada tahun 2014. Sementara utang Indonesia dari Jepang dan Belanda, mengalami penurunan yang cukup drastis. Dalam pemerintah era sebelumnya para presidennya harus mikir seribu kali bila berutang pada Cina, tetapi mengapa Jokowi terus meningkatkan utang ke Cina. Melihat kondisi ekonomi Indonesia yang carut marut, dimana berutang untuk menutupi utang berikutnya itu membuat para pengamat ekonomi kawatir. Akankah Indonesia gagal membayar utang ke Cina dan akhirnya Indonesia dapat sitaklukkan dengam mudah. Benarkah isu proxy war itu menjadikan Indonesia menderita ekonomi sibawah pengaruh kekuatan raksasa Ekonomi Cina seperti negara Angola, Srilangka sannegara afrika lainnya


wp-1517528743449..jpgProyek OBOR Cina si Asia

Saat ini Cina tengah menjalankan program One Belt One Road(OBOR). Melalui program ini, Tiongkok ingin menciptakan kembali jalur sutra yang menghubungkan perdagangan Tiongkok ke berbagai negara di dunia. Karena itulah tahun 2015 lalu, negara Tirai Bambu ini membentuk bank investasi infrastruktur Asia atau Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Tujuan dibentuknya AIIB yang mulai beroperasi pada Januari 2016 ini, adalah menyediakan pembiayaan bagi perbaikan infrastruktur di Asia.

China menyiapkan sejumlah proyek infrastruktur raksasa, ini disebut-sebut untuk melancarkan rencananya menguasai perdagangan di dunia. Empat tahun yang lalu, China dipimpin Presiden Xi Jinping, meluncurkan program infrastruktur miliar dolar AS. Proyek yang dibangun berupa rel kereta, jalan, pelabuhan, dan proyek lain di seluruh Asia, Afrika, dan Eropa. Rencana China menguasai perekonomian dunia sudah direncanakan lama. Negeri tirai bambu ini juga membuat lembaga tandingan Bank Dunia, yaitu Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) atau Bank Investasi Infrastruktur Asia. Tak hanya itu, China juga mendorong penguatan perdagangan di Asia. Bahkan akhir pekan kemarin, China mengumpulkan sejumlah pemimpin negara dunia di Beijing, untuk membicarakan soal perdagangan bertema ‘One Belt, One Road’. Proyek-proyek infrastruktur yang dibangun China untuk memperkuat perdagangannya antara lain, jalan ribuan kilometer hingga ke Pakistan, lalu bandara internasional di Nepal, serta rel kereta yang menghubungkan China dengan Laos. Xi Jinping menyiapkan US$ 124 miliar atau sekitar Rp 1.649 triliun (kurs Rp 13.300/US$) untuk membangun jalur sutra baru.

Secara kebetulan atau memang disengaja ternyata program OBOR itu hampir sama dengan rencana pembangunan infra struktur yang masif dilakukan Jokowi di Indonesia. Proyek pembangunan Cina di Asia sepertinpembangunan rel kereta, jalan, pelabuhan, dan proyek yang dicanangkan Cina ternyata juga dilakukan Jokowi si Indonesia, begitu juga dengan keberadaan AIIB ini tentu sejalan dengan program kerja Jokowi yang ingin memfokuskan pembangunan negara di bidang infrastruktur. Sehingga tak heran bila jumlah utang Indonesia ke Tiongkok yang kini jumlahnya mencapai 15,4 miliar dollar AS (per Mei 2017), sebagian besarnya merupakan pinjaman untuk pembangunan infrastruktur.

Saat ini banyak pihak yang mempermasalahkan pinjaman utang dari Cina. Apalagi utang tersebut sibunakan untuk peoyek yang tidak menguntungkan secaranekonominsecara jangka pendek. Keuntungan ekonomi berbagai proyek tersebut hanya untuk jangka panjang dan itupun harus dihitung lebih cermat ketika pembangunan infrastruktur yang mahal itu harus dilakukan di daerah yang tidak menguntungkan secara ekonomi seperti di daerah Indonesia Timur. Apakah benar hanya karena pengembalian dua persen per tahun yang dianggap memberatkan pemerintah? Atau benarkah isu kontroversial yang sering dibicarakan antar pengamat kalau utang itu akan membuat negara kita ‘dijajah’ oleh Tiongkok? Bagaimana bila ternyata Indonesia tidak mampu membayar utang tersebut, apa yang akan terjadi dengan negeri ini?

Secara geopolitik, banyak pengamat luar negeri menilai, ‘kebaikan’ Tiongkok melalui program OBOR ini merupakan jalan lain bagi Tiongkok untuk menguasai dunia. Bahkan AS menuding kalau Tiongkok tengah melakukan penjajahan modern, bukan lagi menjajah dengan menggunakan invasi militer tapi melalui ekonomi. Walaupun negara Panda itu menyanggahnya, namun ada baiknya pemerintah tetap waspada dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi. Seperti Mike Mullen katakan, semakin besar utang kita, makin besar juga ancaman keamanan negara kita.

Iklan