Tak Berkategori

Pertumbuhan Ekonomi Antara SBY dan jokowi, Manakah lebih Hebat dan Merakyat ?

Pertumbuhan Ekonomi Antara SBY dan jokowi, Manakah lebih Hebat dan Merakyat ?

Pada zaman Soeharto pertumbuhan ekonomi selalu bisa di atas 7%. Sedangkan zaman reformasi diawali dengan ekonomi yang sulit. Pertumbuhan ekonomi saat 1998 minus 14%. Hingga pemerintahan SBY di tahun 2008 puncaknya 6,4%. Pernah hampir kita capai 7%. Setelah itu pertumbuhan ekonomi sekitar 6%. Padahal saat itu beberapa kali diterpa krisis ekonomi dan harga BBM yang melambung tinggi. Uniknya saat ini krisis ekonomi tidak terlalu nyata dan harga BBM tidak pernah tinggi justru dalam harga terendahnya. Mengapa saat SBY angka pertumbuhan ekonomi relatif tinggi tetapi saat era Jokowi rendah ?

Perbandingan pertumbuhan Era Jokowi dan SBY

Dalam menopang kesejahteraan rakyat tergantung pada pertumbuhan ekonomi, karena salah satu aspek penting didalam mensejahterakan rakyat adalah pertumbuhan ekonomi. Terdapat beberapa faktor yang menjadi penopang terhadap pertumbuhan ekonomi, yakni investment, Government spending, consumption, dan kinerja ekspor. Sebagai oemimoin yang baik maka pemimoin harus mempertimbangkan berbagai faktor tersebut dengan sangat cermat secara berimbang dan sesuai orioritas dan kondiai keuangan negera. Keempat aspek inilah yang menentukan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Perbandingan pertumbuhan ekonomi era SBY dan Jokowi

  • Dalam era Presiden SBY, pertumbuhannya itu rata-rata 6 sampai 7 persen. Pertumbuhan sekarang rata-rata 4,5 sampai dengan 5 persen
  • Pertumbuhan ekonomi di era Jokowi apaling tinggi hanya bisa menyentuh 5%,
  • Dalam era SBY dibandingkan masa pemerintahannya yang bisa mencapai 6% bahkan pernah hampir menyentuh 7%
  • Selama menjabat dua periode pemerintahannya dari 2004-2014, pertumbuhan ekonomi di era SBY memang sebagian besar menyentuh 6%.
  • Paling rendah 4,9% pada 2009 yang merupakan dampak dari krisis global yang terjadi pada tahun 2008 dan kenaikkan harga BBM
  • Para pengamat ekonomi menganalisa era pemerintahan SBY daya beli masyarakat bagus. Pendapatan masyarakat naik, sehingga konsumsi rumah tangganya bisa mendukung perekenomian. Sehingga pertumbuhan ekonomi meningkat
  • Selama periode kepemimpinannya, SBY memang sangat mengutamakan daya beli masyarakat. Berbagai bantuan seperti bantuan sosial, subsidi, dan bantuan langsung tunai digelontorkan kepada masyarakat secara besar-besaran. Karena lebih mementingkan ekonomi rakyat dan daya beli masyarakat terganggu, SBY pada awalnya tidak terlalu memfokuskan pembangunan sektor industri dan infrastruktur. Pertumbuhan ekonomi Insonesia si jaman SBY relatif lebih baik meski saat itu kriais ekonomi dan kenaikkan harga BBM terus mengahantuinya.
  • Sebaliknya saat era pemerintah Jokowi lebih mementingkan pembangunan infra struktur dengan berbagai motivasi. Bisa saja motivasi membangun infrastruktur demi rakyat, demi meraih jabatan berikutnya atau demi kepentingan ekonomi kelompok tertentu. Tidak ada yang tahu pasti apa motivasi utama Jokowi mengapa terlalu bernafsu membangun infrastruktur. Saat Jokowi membangun infrastruktur dalam keadaan ekonomi negara yang sedang buruk maka tentunya rakyat yang dikorbankan. Saat keuangan negara cenderung defisit, justru Jokowi membangun infrastruktur dimana mana. Jokowi melupakan daya beli rakyat dan melupakan kepentingan ekonomi rakyat, Dampaknya rakyat saat ini seperti diburu pajak, bahkan rakyat kecil terus diburu pajak, subsidi rakyat banyak dicabuti, tarif PLN melambung tinggi dan harga harga semakin menggila sehingga daya beli rakyat semakin merosot tajam. Pengangguran meningkat karena lapangan kerja semakin sulit. Sehingga dampaknya banyak bisnis dan kegiatan ekonomi secara bersamaan ambruk. Seven 7, Matahari, Lotus dan berbagai bisnis gurita bertumbangan. Apalagi bisnis usaha kecil yang dilakukan rakyat tidak trdeteksi banyak bertumbangan pula. Pemerintah berdalih hal itu karena disebabkan bisnis online, tetapi fakta pelaku bisnis pada umumnya sepakat kehancuran ekonomi Insonesia saat ini karena daya beli rakyat turun.
  • Bantuan langsung, subsidi dan bantuan langsung tunai yang dilakukan SBY tampaknya lebih bisa mendongkrak daya beli rakyat. Dibandingkan upaya Jokowi lebih memfokuskan dengan pembagian kartu Indonesia pintar, kartu Indonesia sehat dan pembagian sertifikat tanah gratis yang banyak digembar gembirkan selama ini tidak banyak berdamoak pada ekonomi kerakyatan tetapi hanya mengutamakan citra pemerintah dimata rakyat.
  • Pencabutan berbagai subsidi Litrik, BBM dan peningkatan pajak pada akhirnya membuat daya beli rakyat semakin buruk dan dampak efek domino membuat kegiatan ekonomi lumpuh. Sehingga dampak buruk yang terimbas adalah penyediaan lapangan kerja yang semakin turun sehingga pekerjaan semakin sulit dicari dan pengangguran meningkat dimana mana.
  • Pencabutan subsidi BBM yang dilakukan pada era Jokowi sebenarnya lebih tidak realistis dibandingkan saat pemberian subsidi yang dilakukan SBY. Karena saat pemerintahan Jokowi justru harga BBM sedang pada tingkat paling rendah sepanjang sejarah. Tetapi saat pemerintahan SBY justru subsidi terus dipertahankan padahal saat itu harga BBM melambung tinggi. Sering didengar kisah SBY yang dikenal lambat dan sangat teliti dalam memutuskan menaikkan harga BBM apalagi mencabut subsisi BBM. SBY selalu cermat dan butuh waktu yang tidak cepat untuk memutuskan kenaikkan harga BBM karena menyangkut nasib rakyat kecil dan daya beli rakyat. Makanya saat itu SBY dikenal sebagai presiden yang lambat karena penuh perhitungan. Berbeda dalam era Jokowi, pola tindak Jokowi tampaknya lebih cepat dibandingkan dengan pola pikirnya. Sehingga hal ini membuat tafsiran pengamat atau rakyat bahwa Jokowi lebih dominan mementingkan pembangunan infra struktur dengan berbagai motivasinya tanpa terlalu cermat mempertimbangkan faktor lainnya khususnya mempertimbangkan daya beli rakyat.
  • Pertumbuhan ekonomi nomer 3 di dunia setelah Cina dan India yang digembar gemborkan pemerintah Jokowi saat ini itu juga terjadi dalam setiap ra pemerintahan sebelumnya. Hal ini yerjadi bukan sekedar karena kehebatan pemerintah tetapi terjadi karena bonus modal jumlah penduduk terbesar nomer 3 di dunia yang membuat belanja domestik tinggi tidak trlalu terpengaruh dengan guncangan ekonominnegara lainnya karena produk domestik dapat terserap besar oleh rakyat sendiri. Hal ini juga yang menjelaskan menagaoa India dan China dengan oendusuk yang banyak juga tidak yerlalu terpengaruh dengan krisis ekonomi. Seharusnya dengan pengelolaan ekonomi dengan mementingkan faya beli rakyat sehharusnya ekonomi Indonesia bisa lebih terselamtkan tidak seperti saat ini.
  • Tampaknya pemerintahan Jokowi harus belajar banyak dengan pemerintah era sebelumnya khususnya kehamcuran ekonomi era Soeharto yang ambruk saat trjangan krisis ekonomi yang buruk kaena Indonesia saat itu tergantung dengan hutang luar negeri sehingga dasar ekonomi Indon3sia sangat rapuh. Demikian juga saat era Jokowi Indoenesia yang selalu defisit

Iklan

Kategori:Tak Berkategori

Tagged as: ,