Berita Terkini

Ketika Ulama, Kiai, Biksu dan Pendeta Mendapat Serangan

wp-1517528743449..jpgKetika Ulama, Kiai, Biksu dan Pendeta Mendapat Serangan

Dalam waktu berdekatan serangkaian peristiwa penyerangan terhadap para tokoh agama nampak terjadi di Indonesia. Ustadz Persatuan Islam (Persis) HR Prawoto dibunuh, Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri dianiaya, dan Ustadz Abdul Basit di Palmerah, Jakarta Barat dikeroyok belasan remaja, kemudian sebuah video yang viral di medsos memperlihatkan penolakan warga Kabupaten Tangerang terhadap kehadiran seorang biksu Budha yang dicurigai warga akan mengajak penduduk setempat masuk Budha. Peristiwa terakhir terjadi penyerangan seseorang terhadap Pendeta di sebuah gereja Lidwina di Yogjakarta

  • Kepala Operasi (Ka Ops) Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), R Prawoto, meninggal dunia setelah mengalami penganiayaan, Kamis (01/02/2018) pagi. Prawoto menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan dari rumah sakit menuju rumah duka di Jl Burujul, Margaasih, Bandung, Jawa Barat, Kamis sore. Berdasarkan pengakuan pihak keluarga korban sebagaimana pelaporan ke kepolisian, penganiayaan berlangsung pada sekitar pukul 7 pagi. Hj Ernawaty, istri Prawoto, menyebut pelakunya bernama “Mang Cas”. “Sekitar jam 7 pagi Mang Cas (yang pelaku) merusak rumah, terus ditanya sama suami saya, si pelaku malah memukul pakai linggis (besi). Lalu suami saya lari keluar dikejar sama si pelaku (Mang Cas) dan dipukul bagian kepala, tangan, seluruh badan. Dan langsung dibawa ke rumah sakit oleh keluarga dan warga,” tutur Ernawaty dalam Surat Pernyataan Kronologis kejadian itu yang salinannya diterima hidayatullah.com dari Jejen. Ernawaty dan almarhum tinggal di Blok Sawah, Cigondewah Kidul, Kota Bandung. Informasi dihimpun, PP Persis menyampaikan belasungkawa atas kejadian dan kabar duka tersebut. “PP Persis menyampaikan taziah atas wafatnya HR. Prawoto, S.E, K.Ops Brigade Pusat pada pkl 17.30 WIB di perjalanan menuju rumah duka, Jl. Burujul, rumah H. Asep. Mudah2an almarhum diampuni dosa dan khilafnya, dan anggota yg ditinggalkan diberi kesabaran dan keikhlasan. (Ketua Umum dan Sekum PP. Persis),” demikian pesan diterima media ini dari sumber terpercaya.
  • Sepekan sebelumnya, Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah (Santiong), Cicalengka, Kabupaten Bandung, Kiai Umar Basri dianiaya usai shalat subuh. Aksi pemukulan yang kemudian disebut dilakukan oleh orang yang tak waras itu terjadi di ponpes. Pelaku telah diamankan aparat kepolisian. KH Umar Basri (60), Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hidayah Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dianiaya oleh orang tidak dikenal di dalam masjid. Dari informasi yang dihimpun detikcom, peristiwa itu terjadi Sabtu (27/1/2018) pukul 05.30 WIB, di dalam Masjid Al-Hidayah Kamyang Santiong 03/03, Desa Cicalengka Kulon, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Usep salah satu santri yang juga kolega Pesantren Al-Hidayah mengatakan Mama sapaan karib KH Umar Basri sudah dilarikan ke RS Al-Islam.
  •  Sebuah video seorang biksu dan umatnya dilarang beribadah di Desa Babat, Kecamatan Legok, Tangerang, viral di media sosial. Polisi menyatakan perkara tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan.  “Hanya salah paham saja, sudah diselesaikan secara musyawarah dan sudah selesai,” kata Kapolres Tangerang Selatan AKBP Fadli Widiyanto dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (10/2/2018). Peristiwa terjadi pada Rabu (7/2) lalu, berawal dari adanya penolakan warga Desa Babat, Kecamatan Legok. Warga menolak rencana kegiatan kebaktian umat Budha dengan melakukan tebar ikan di lokasi danau bekas galian pasir di Kampung Kebon Baru, Desa Babat. Masyarakat juga sempat tidak menerima kehadiran Mulyanto Nurhalim selaku biksu di kampung tersebut. Warga resah karena menganggap biksu tersebut akan mengajak orang lain untuk masuk agama Budha. “Ada penolakan dari masyarakat atas segala macam kegiatan keagamaan serta perkumpulan umat Budha di kediaman Mulyanto Nurhalim alias Biksu/Bhante karena rumah tersebut dihuni untuk tempat tinggal bukan dijadikan tempat ibadah,” terang Fadli.Terkait hal itu, pihak kepolisian mengumpulkan masyarakat dan tokoh setempat. Sejumlah tokoh agama diajak untuk bermusyawarah agar kejadian tersebut tidak menjadi isu yang berkepanjangan dan semakin meluas. Rapat dilaksanakan di ruang kerja Camat Legok di Jl Alun-alun Desa Caringin, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang pada Rabu (7/2) pukul 14.10 WIB. Rapat dihadiri 16 orang, di antaranya Kapolsek Legoj AKP Murodih, Camat Legok H Nurhalim, Ketua MUI Legoj KH Odji Madroju, Kades Babat H Sukron Ma’mun, Romo Kartika toga umat Budha Jakarta. Warga sempat mencurigai biksu tersebut melakukan ibadah dengan mengundang jemaat dari luar. Namun, warga ternyata salah paham, karena yang datang ke situ ternyata cuma memberi makan biksu saja. “Di kediaman Biksu Mulyanto Nurhalim sering dikunjungi umat Budha dari luar kecamatan Legok terutama pada hari Sabtu dan Minggu untuk memberikan makan kepada Biksu dan minta didoakan, bukan melaksanakan kegiatan ibadah. Hal ini dapat dimaklumi karena Biksu tidak boleh pegang uang dan beli makanan sendiri,” tuturnya. Warga juga semula sempat memberi tenggang waktu kepada biksu untuk meninghalkan kampung tersebut. “Biksu tersebut adalah warga asli Desa Babat dan sudah memiliki KTP dan memiliki hak tinggal di Desa Babat,” cetusnya Setelah musyawarah, polisi dan seluruh elemen masyarakat setempat memastikan bahwa rumah Biksu Mulyanto bukan rumah ibadah seperti kecurigaan warga. Sementara dalam musyawaraj itu disepakati agar Mukyanto tidak menyimpan ornamen yang menimbulkan kecurigaan warga. “Ornamen yang menyerupai kegiatan ibadah umat Budha agar tidak mencolok yang dapat menjadi bahan kecurigaan warga (di singkirkan ke dalam rumah agar tidak terlihat seperti patung dan lain-lain,” tuturnya. Fadli memastikan persoalan tersebut telah selesai. Warga pun meminta maaf atas kesalah pahaman terhadap Mulyanto ersebut. “Semua menyatakan permasalahan selesai dan saling menyadari kesalahan yang ada kemudian saling memaafkan,” tandasnya.
  • Seorang pria tak dikenal membawa samurai masuk ke dalam Gereja St Lidwina, Bedog, Sleman, Yogyakarta pada Ahad pagi, 11 Februari 2018. Pria ini menyerang membabi buta orang-orang yang berada dalam gereja termasuk Romo Edmund Prier SJ yang tengah memimpin ibadah Minggu pagi tadi. Pria yang akhirnya diketahui seorang mahasiswa bernama Suliyono, 23 tahun, ini juga melukai empat orang lainnya. “Umat sedang menyanyi dalam acara kemuliaan, lalu ada seorang membawa pedang dan melukai beberapa orang sebelum berjalan ke altar,” ujar Heni, saksi dalam kejadian tersebut seperti yang dilansir  Tempo. Seorang saksi lainnya, Danang Jaya, warga Nogotirto, Gamping, Sleman kepada Antara mengatakan peristiwa ini terjadi saat Misa masih berlangsung. Pelaku yang membawa samurai sepanjang satu meter itu langsung mengamuk dan merusak benda-benda yang ada di dalam gereja seperti patung dan perabot lainnya. Ia mengatakan pelaku kemudian menyerang umat yang ada di dalam gereja sehingga menimbukan kepanikan di dalam gereja. “Pelaku kemudian mendatangi dan menyerang Romo yang sedang memimpin misa,” katanya. Pelaku yang mengenakan baju hitam dan membawa satu ransel di tangan kanannya terus mengancam jemaah dengan pedang di tangan kirinya. Jemaah mencoba untuk menghentikan aksi Suliyono dengan melempar benda-benda yang ada di gereja. Pelaku berusaha menghindar dari lemparan tersebut dan tetap mengacungkan pedangnya.Pelaku masuk dari pintu gereja bagian barat langsung menyerang korban yang bernama Martinus Parmadi Subiantoro. Pelaku masuk ke gedung utama gereja sambil mengayun ayunkan senjata tajam sehingga para jemaat juga membubarkan diri. Selanjutnya pelaku berlari ke arah koor dan langsung menyerang Romo Prier yang sedang memimpin misa. Pelaku terus menyerang jemaat yang masih berada di dalam gereja dan mengenai korban bernama Budi Purnomo. Suliyono tetap mengayun-ayunkan senjata tajamnya ke patung Yesus dan patung bunda Maria yg berada di mimbar gereja. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian DIY Ajun Komisaris Besar Yulianto menyatakan, korban berjumlah 5 orang dan sedang dirawat di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada. Menurut Yulianto, walaupun kejadian tersebut terjadi di gereja, aksi itu bukan sebuah teror melainkan kasus penganiayaan. “Kalau teror kan pake bom. Ini orang bacok jadi termasuk kasus penganiayaan,” tutur Yulianto.

     

     

 

Iklan