Sejarah Dunia

10 Fakta Sejarah Jerusalem dan Islam

wp-1508056542320..jpg10 Fakta Sejarah Jerusalem dan Islam

  1. Sepanjang sejarahnya yang panjang, Yerusalem pernah dihancurkan setidaknya dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan direbut serta direbut-kembali 44 kali. Bagian tertua kota ini menjadi tempat permukiman pada milenium ke-4 SM.Pada tahun 1538 dibangun tembok di sekitar Yerusalem dalam pemerintahan Suleiman yang Luar Biasa. Saat ini tembok tersebut mengelilingi Kota Lama, yang mana secara tradisi terbagi menjadi empat bagian—sejak awal abad ke-19 dikenal sebagai Kawasan Armenia, Kristen, Yahudi, dan Muslim. Kota Lama menjadi sebuah Situs Warisan Dunia pada tahun 1981, dan termasuk dalam Daftar Situs Warisan Dunia yang dalam Bahaya. Yerusalem modern telah berkembang jauh melampaui batas-batas Kota Lama.
  2. Dalam pandangan Islam Sunni, Yerusalem adalah kota tersuci ketiga setelah Mekkah dan Madinah. Dalam tradisi Islam, pada tahun 610 M Yerusalem menjadi kiblat pertama, yaitu arah yang dituju dalam doa Muslim (salat), dan Muhammad melakukan Perjalanan Malam di sana 10 tahun kemudian, naik ke surga di tempat ia berbicara kepada Allah, menurut Al-Qur’an. Alhasil, walaupun hanya merupakan daerah seluas 0,9 kilometer persegi, Kota Lama memiliki banyak situs dengan arti penting keagamaan yang sangat berpengaruh, di antaranya yaitu Bukit Bait Suci (Kompleks al-Haram) dan Tembok Baratnya, Gereja Makam Kudus, Kubah Batu (Kubah Shakhrah), Makam Taman, dan Masjid Al-Aqsa.
  3. Mengingat posisi sentral kota Yerusalem di tengah nasionalisme Yahudi (Zionisme) dan nasionalisme Palestina, selektivitas yang diperlukan untuk merangkum lebih dari 5000 tahun sejarah permukimannya seringkali dipengaruhi oleh latar belakang atau bias ideologis. Era kedaulatan Yahudi dalam sejarah Yerusalem dipandang penting oleh nasionalis Israel (Zionis), yang mengklaim hak atas kota ini berdasarkan garis keturunan Yahudi dari Kerajaan Yehuda bangsa Israel, di mana Yerusalem adalah ibu kotanya. Era Islam, Kristen dan berbagai era non-Yahudi lainnya dalam sejarah Yerusalem dipandang penting bagi nasionalis Palestina, yang mana mengklaim hak atas kota ini berdasarkan garis keturunan Palestina modern dari beragam bangsa berbeda yang telah tinggal di wilayah ini. Akibatnya kedua belah pihak mengklaim bahwa sejarah Yerusalem telah dipolitisir oleh kalangan lain untuk memperkuat klaim relatif mereka atas kota ini, dan bahwa hal ini dikonfirmasi oleh fokus-fokus berbeda yang dibuat beragam penulis pada berbagai peristiwa dan era dalam sejarah kota ini.

  4. Lukisan tahun 1455 mengenai Tanah Suci. Yerusalem dilihat dari sebelah barat; Kubah Shakhrah masih mempertahankan bentuk segi delapannya, di sisi kanan tampak Al-Aqsa yang diperlihatkan sebagai sebuah gereja. Yerusalem Bizantin ditaklukkan oleh pasukan Arab pimpinan Umar bin Khattab pada tahun 638 M. Di kalangan Muslim dari era Islam awal disebut sebagai Madinat bayt al-Maqdis (“Kota Bait Allah”) yang mana hanya sebatas pada wilayah Bukit Bait Suci (Kompleks al-Haram). Wilayah selebihnya dari kota ini “… disebut Iliya, mencerminkan nama Romawi yang diberikan untuk kota ini setelah penghancurannya pada tahun 70 M: Aelia Capitolina“.

  5. Belakangan Bukit Bait Suci dikenal dengan nama al-Haram al-Sharif, “Tempat Suci yang Mulia”, sedangkan wilayah kota di sekitarnya kemudian dikenal sebagai Bayt al-Maqdis, dan selanjutnya masih disebut sebagai al-Quds al-Sharif “Kota Suci yang Mulia”. Proses Islamisasi Yerusalem dimulai pada tahun pertama Hijriyah (623 M), ketika kaum Muslim diinstruksikan untuk menghadap (kiblat) ke arah kota ini ketika melakukan sembahyang sehari-hari dan menurut tradisi keagamaan Muslim merupakan tempat terjadinya perjalanan malam Nabi Muhammad dan kenaikannya ke surga. Setelah 13 tahun, arah kiblat diganti ke Mekkah. Pada tahun 638 M Kekhalifahan Islam memperluas kekuasaannya ke Yerusalem. Dengan adanya penaklukan oleh kaum Arab, kaum Yahudi diizinkan kembali ke kota ini.

  6. Khalifah Rasyidin Umar bin Khattab menandatangani suatu perjanjian dengan Patriark Kristen Yerusalem Sofronius, yang mana sang khalifah memberikan jaminan kepadanya bahwa penduduk dan tempat-tempat suci kaum Kristen di Yerusalem akan dilindungi di bawah pemerintahan kaum Muslim. Tradisi Arab-Kristen mencatat bahwa ketika Khalifah Umar akan memimpin sembahyang di Gereja Makam Kudus, yakni salah satu tempat tersuci bagi kaum Kristen, ia menolak untuk bersembahyang di dalam gereja tesebut sehingga kaum Muslim tidak akan meminta konversi Gereja Makam Kudus menjadi sebuah masjid. Ia bersembahyang di luar gereja tersebut, tempat di mana Masjid Umar (Omar) berdiri hingga saat ini, berlawanan arah dengan pintu masuk Gereja Makam Kudus. Menurut Arculf, seorang uskup dari Galia yang tinggal di Yerusalem antara tahun 679-688, Masjid Umar merupakan sebuah bangunan berstruktur kayu dengan bentuk persegi panjang yang dibangun di atas reruntuhan dan dapat menampung 3.000 jemaah.

  7. Ketika kaum Muslim pergi ke Bayt Al-Maqdes untuk pertama kalinya, mereka mencari lokasi Masjid Al-Aqsa (“Masjid Terjauh”) yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits menurut keyakinan Islam. Sumber-sumber Ibrani dan Arab dari masa itu mengatakan bahwa situs tersebut penuh dengan sampah sehingga kaum Arab dan Yahudi bersama-sama membersihkannya.[136] Khalifah Umayyah Abdul Malik bin Marwan memerintahkan pembangunan Kubah Shakhrah (Kubah Batu) pada akhir abad ke-7. Syamsuddin Al-Maqdisi, seorang sejarawan abad ke-10, menuliskan bahwa Abdul Malik membangun shakhrah tersebut agar dapat mengimbangi kemegahan gereja-gereja monumental di Yerusalem.

  8. Selama 400 tahun berikutnya ketenaran Yerusalem berkurang karena berbagai kekuatan kaum Arab di wilayah tersebut saling berebut kendali atasnya. Yerusalem direbut pada tahun 1073 oleh Kekaisaran Seljuk di bawah komando Atsiz bin Uwaq. Setelah Atsız terbunuh, Pangeran Seljuk Tutush I memberikan Yerusalem kepada Artuk Bey, seorang komandan Seljuk lainnya. Setelah meninggalnya Artuk pada tahun 1091 kedua putranya, Sökmen dan Ilghazi, memerintah kota ini sampai dengan direbutnya kembali kota ini oleh Kekhalifahan Fatimiyah pada tahun 1098.

  9. Pada tahun 1187, Yerusalem direbut dari Tentara Salib oleh Saladin (Salahuddin Ayyubi) yang mengizinkan kaum Yahudi dan Muslim untuk kembali dan menetap di kota ini. Menurut ketentuan penyerahan, 60.000 orang Franka dibebaskan dengan tebusan dan diusir dari kota ini. Penduduk Kristen Timur diizinkan untuk menetap. Di bawah Dinasti Ayyubiyyah pimpinan Saladin, suatu periode investasi besar dimulai dengan dibangunnya berbagai perumahan, pasar, pemandian umum, dan hostel untuk peziarah serta penetapan wakaf. Meski demikian, hampir sepanjang abad ke-13, Yerusalem mengalami penurunan status menjadi sebuah desa karena jatuhnya nilai strategis kota ini dan pergulatan di internal Ayyubiyyah.

  10. Dari tahun 1229 sampai 1244, Yerusalem dikembalikan secara damai ke dalam kendali kaum Kristen sebagai hasil dari suatu perjanjian pada tahun 1229 antara Kaisar Romawi Suci Friedrich II mewakili Tentara Salib dan Sultan Ayyubiyyah al-Kamil dari Mesir sehingga mengakhiri Perang Salib Keenam. Kaum Ayyubiyyah mempertahankan kendali atas tempat-tempat suci Muslim, dan sumber-sumber Arab menunjukkan bahwa Friedrich tidak diizinkan untuk memulihkan fortifikasi-fortifikasi Yerusalem

Iklan