Tak Berkategori

10 Fakta Kelesuan Ekonomi dan Daya Beli Lemah Dibalik Kehebatan Ekonomi Yang Digembar gemborkan Pemerintah

    10 Fakta Kelesuan Ekonomi dan Daya Beli Lemah Dibalik Kehebatan Ekonomi Yang Digembar gemborkan Pemerintah

    :

    1. Ekonomi Indonesia ternyata tidak seindah yang digembor-gemborkan oleh pemerintah. Boleh saja secara akumulasi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai kembali level 5%, tapi berbagai sektor alami penurunan yang juga tidak sedikit. Bahkan patut untuk dikhawatirkan
    2. Setelah momen Ramadan dan Lebaran, besaran inflasi pada bulan Juli kembali rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, tingkat inflasi bulan Juli mencapai 0,22 persen. Angka inflasi tersebut jauh lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 0,69 persen. Banyak pihak menilai tren inflasi rendah yang terus berlanjut tersebut disebabkan salah satunya karena daya beli masyarakat yang terus menurun.
    3. Batam, Kepulauan Riau kembali dihadapkan pada persoalan perusahaan tutup dan pengangguran baru akibat pemutusan hubungan kerja (PHK). Dalam Periode 2014-2017 Sudah 170 Perusahaan Tutup “Hingga bulan Oktober ada 59 perusahaan tutup di Batam dengan ditambah yang terakhir PT Sanyo Energi maka genap ada 60 perusahaan tutup,” ungkap Kadisnaker Batam Rudi Sakyakirti, Rabu (2/11/2016). Rudi Sakyakirti, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam mengakui lesunya perusahaan di Batam. Data yang diterima Disnaker Batam terhitung Januari sampai Mei 2017, ada 23 perusahaan tutup. Dari Januari 2017 sampai dengan Awal April 2017, sebanyak 23 perusahaan, subcont, penyalur, dan jasa yang harus gulung tikar karena tidak adanya orderan yang bisa dikerjakan. Jika dihitung, sejak Januari hingga Oktober 2017 ini, setidaknya sudah ada 31 perusahaan yang sudah tutup. Berarti periode 2014-Oktober 2017 sudah 170 perusahaan tutup. Ada apa dengan Batam? Rudi, mengatakan perusahaan yang tutup tersebut rata-rata perusahaan penyalur barang ke perusahaan. Selain perusahan elektronik maupun manufacturing, umumnya perusahaan tutup itu didominasi industri shypiard atau galangan kapal.
    4. Perusahaan di bidang pertambangan dan perkebunan paling parah terkena dampaknya. Sebanyak kurang-lebih 125 perusahaan pertambangan batu bara di Kalimantan Timur tidak beroperasi. Akibatnya, 5.000 orang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Dalam bincang-bincang Tribun Kaltim dengan sejumlah pengusaha nasional dan daerah, terungkap situasi perekonomian terutama sektor tambang kini sangat parah. Jika krisis berkelanjutan, jumlah perusahaan bangkrut akan terus bertambah. “Sekitar 125 perusahaan tambang tutup di Kaltim. Pokoknya tutup. (Dari perusahaan yang tutup itu) Lebih banyak beroperasi di Kutai Timur,” ujar Ketua Asosiai Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim M Slamet Brotosiwoyo dalam perbincangan di satu hotel di Balikpapan
    5. Pasar Elektronik Glodok dahulu dikenal sangat sangat ramai didatangi pembeli baik eceran, maupun pembeli partai besar. Barang yang dijual pun beragam, mulai dari barang baru sampai rekondisi alias bekas dengan kualitas beragam. Glodok tak hanya jadi pusat belanjanya barang-barang elektronik warga Jakarta, namun juga kesohor sebagai kulakannya pemilik toko-toko elektronik di seantero Indonesia. Tapi dalam beberapa tahun terakhir ini semakin sepi bahkan banyak toko yang tutup. Bahkan parkiran pasar elektronik yang terkenal itu saat ini sangat sepi mobil yang parkir. Salah satu pedagang elektronik mengakui kalau perdagangan elektronik di Glodok sudah tidak seperti dulu. Sekarang ini kondisinya sudah sepi, jauh dibandingkan saat masih jaya-jayanya dulu. “Sekarang pembelinya sepi, sehari belum tentu ada yang laku. Beda kalau dulu, sehari bisa 10 barang yang terjual,” ujarnya
    6. Pusat perbelanjaan di Jakarta yang legendaris seperti  Pasar Glodok dan WTC Mangga Dua. meredup lantaran mulai ditinggalkan pengunjung. Dalam beberapa tahun terakhir ini semakin sepi dan semakin jarang pengunjung. Beberapa pemilik toko mengatakan hal yang senada. Kejayaan pasar Golodok dan WTC Mangga dua sudah berlalu. Bila dalam kejayaan beberapa tahun yang lalu yang padat dan penuh penungjung seakarang hanya tinggal kenangan.
    7. Penjual grosir sepatu di Pasar Jatinegara merasakan melemahnya daya beli masyarakat. Pedagang grosir sepatu, Merry mengatakan omzetnya menurun sebanyak 20 persen sampai 25 persen sejak 2015. “Sepi, malah bisa main bola di sini,” ujarnya pada Jumat (6/10).
    8. Turunya pendapata taksi taksi resmi bukan sekedar taksi online. Taksi resmipun saat ini merasakan sepinya penumpang yang lumayan jauh dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Bila tahun yang lalu setemgah hari saja sudah bisa mengumpulkan target pendapatan. Sampai saat ini sampai sorepun kadang separuh dari target sudah sangat bagus. Bahkan kadang kadang target satu hari baru bisa dikejar 2 hari. Sama dengan sepinya bisnis ritel, taxi online dianggap sebagai penyebab utama melorotnya jumlah penumpang. Ternyata banyak pengemudi taksi online juga mengeluh. Mereka sempat merasakan nikmatnya mengais rejeki. Ternyata hanya berlangsung beberapa bulan. Setelah itu kondisi jumlah penumpang juga semakin seret. Bahkan ada beberapa karyawan kantor berhenti bekerja karena pindah dengan kredit mobil untuk taksi online. Ternyata saat ini sebagian dari  mereka kesulitan membayar cicilan karena aulitnya mendapatkan penumpang
    9. Di bidang kesehatanpun juga terkena imbasnya. Banyak praktek dokter dan Rumah Sakit tidak seramai dulu. Beberapa rumah sakit favorit di Jakarta yang sering dipenuhi pasien,  saat ini terlihat sepi pasien. Beberapa dokter favorit di sebuah Rumah Sakit yang selalu pasien penuh anatara 30 hingga 50 pasien sehari saat ini pasiennya hanya 5 hingga 10 pasien. Bahkan pernah sekali sekali tidak ada pasien sama sekali dalam sehari. Berbagai cara sudah dilakukan untuk memperbaiki hal tersebut mulai dari mengganti direktur Rumah sakit hingga meningkatkan kualitas pelayanan tetapi tetap saja jumlah pasien tetap tidak bergeming. Sama seperti bisnis online atau taksi, dalam praktek kesehatan BPJS dianggap sebagai penyebab merosotnya pendapatan dokter atau rumah sakit. Ternyata setelah status Rumah sakit menerima pasien BPJS pun 
    10. Di bidang kuliner yang tampak masih tidak terganggu. Tetapi sebenarnya omzetnya jauh berkurang dalam waktu belangan ini dibandingkan dulu. Bahkan beberapa cafe dan beberapa rumah makan di mall banyak yang mulai  banyak berhuguran. Misalnya di Mall Semanggi mulai tahun terakhir ini beberapa tempat makanan mulai banyak berguguran. Bukan hanya tempat yang kecil bahkan Steak XXI yang sudah puluhan tahun di sana mulai gulung tikar. Demikian pula pedagang makanan menengah dan kecil mulai merasakan sepinya pengunjung.

        FAKTA LAIN

        • Banyak pejabat pemerintah mengatakan yang turun hanya ritel usaha yang lain malah meningkat tampaknya juga tidak benar. Fajta menunjukkan tingkat penghunian kamar hotel bintang 5 di Tanah Air mengalami penurunan secara year on year pada Februari 2017. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Senin 3 Maret 2017, menunjukkan tingkat penghunian kamar atau tingkat okupansi hotel bintang 5 pada Februari 2017 dibandingkan dengan Februari 2016. Tercatat, persentase okupansi pada Februari 2017 sebesar 52,27 persen atau turun 2,55 persen sec dari periode yang sama tahun lalu sebesar 54,82 persen.
        • Perekonomian Indonesia yang dinilai kondusif selama triwulan II-2016 nyatanya masih belum memberikan dampak terhadap kinerja pasar properti Tanah Air. Tingkat okupansi hotel turun 6,9 persen selama triwulan II-2016 dan menjadi rerata 57,1 persen. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali memaparkan rata-rata tingkat hunian atau okupansi hotel di Bali dalam tiga triwulan tahun ini mengalami penurunan 2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dari rata-rata 59% tahun lalu menjadi rata-rata 57% selama 3 triwulan 2016 ini.
        • Pantai Baron merupakan salah satu pantai terkenal di Gunungkidul, di Pantai tersebut banyak para pedagang makanan, khususnya rumah makan yang menjajakan makanan laut dan non makanan laut. Pada musim liburan lebaran kali ini, nampak beberapa rumah makan tersebut kurang dipadati pengunjung. Sumaryati (51), pemilik Rumah Makan Mutiara menjelaskan, pihaknya mengalami penurunan omzet dibandingkan dengan musim libur lebaran tahun lalu. Berkurangnya omzet tersebut karena pengunjung yang datang ke Pantai Baron menurutnya tidak seramai tahun lalu.
        • Omzet penjualan parsel selama bulan puasa di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, menurun hingga 20 persen dibanding Lebaran tahun lalu. Para pedagang hanya meraup untung sebesar Rp2 juta per hari atau menjual hanya 10 sampai 15 paket. Andriati, 57, yang sudah berjualan parsel selama sepuluh tahun lebih mengaku, jumlah pengunjung dan pelanggan yang mendatangi kiosnya berkurang drastis. Biasanya, warga Bekasi ini bisa meraup untung hingga Rp3 juta per hari.
        • Merosotnya  perekonomian di kota Teluk Kuantan juga berimbas pada pedagang makanan dan minuman keliling.  Tidak hanya pedagang keliling, pedagang makaan dan minuman yang berjualan di Ruko juga banyak yang mengeluh dengan kondisi ekonomi yang kian tak pasti. Anin salah seorang pedagang makanan dan minuman keliling saat ditanya wartawan, Rabu ( 1/11/2017) mengaku omzetnya turun dratis hingga separuh dari omzet sebelum-sebeleumnya.  Sebelumnya Ani mengaku omzet jual beli daganganya Rp 2 juta hingga Rp 1.5 Juta. Namun sekrang tinggal Rp.500 ribu itupun sudah pendapatan kotor. “ Turunnya dratis sekali jual beli,”ujarnya mengeluh. Ani yang berjualan gorengan, kue dan bubur dan puding mengaku berjualan pada pagi hari dan sore hari.  Agar dagangannya  laris setiap hari dirnya berkunjung ke kantor pemerintah dan swasta walaupun kadang ditolak atau mendatangi konsumen mengubunginya. “ Tetapi omzet tak seperti dulu, turun drastis,”ujarnya. Hal yang sama dikeluhkan Cece yang berjualan makanan dan monuman di salah satu Ruko dijalan Imam Munandar Teluk Kuantan. Saat bertandang ke kedai kopi miliknya, wanita asal Padang ini mengeluh karena omzetnya turun drastis.
        • Beberapa toko di ITC Kuningan dan Mall Ambasador tutup. Sebagian pedagang mengeluhkan sepinya pengunjung. Dony misalnya, pedagang peralatan elektronik ini mengaku mengalami penurunan penjualan yang cukup drastis, bahkan terkadang dalam seminggu tidak ada satupun barang yang laku terjual. “Kalau ini sehari kadang enggak laku satu pun. Kadang seminggu bisa enggak ada yang beli sama sekali,” akunya kepada detikFinance, di Mall Ambassador, Jakarta, Selasa (31/10/2017). Penurunan penjualan diakuinya mulai terasa sejak tahun lalu. Penyebabnya disinyalir penetrasi dari penjualan elektronik melalui online. Padahal dulu bisa mengantongi penjualan hingga Rp 15 juta per hari.
        Iklan