Teknologi Transportasi

Dampak Turbulance Pesawat, cara Pencegahan dan Tindakan Penumpang

Dampak Turbulance Pesawat, cara Pencegahan dan Tindakan Penumpang

Turbulensi merupakan keadaan dimana pesawat dalam kondisi tidak stabil atau mengalami pergerakan yang acak dalam setiap waktu. Kondisi ini mengharuskan para penumpang mengenakan sabuk pengaman serta merasakan guncangan di dalam pesawat. Terkadang guncangan yang terjadi tersebut bisa menyebabkan cedera pada penumpang. Meski sudah sering naik pesawat nyatanya tak sedikit traveler yang takut saat kondisi ini terjadi.

Turbulensi Sangat Umum Terjadi. Pada dasarnya turbulensi terjadi disebabkan oleh angin, badai, jet stream, daerah dekat pegunungan dan faktor-faktor lainnya. Hal ini sangat umum terjadi dalam dunia penerbangan. Saat pesawat mengalami turbulensi itu sama dengan keadaan seseorang yang naik mobil dan melewati gundukan. Dalam prosesnya angin yang mengalir pada pesawat yang sedang terbang itu diibaratkan seperti aliran sungai, ini disebut dengan jet stream. Angin ini bisa mencapai kecepatan hingga 402 km/jam. Kemudian angin ini bercampur dengan udara yang bergerak lambat, akhirnya menyebabkan percampuran udara cepat dan lambat yang menimbulkan guncangan. Guncangan inilah yang disebut dengan turbulensi.

Pilot Tahu Kapan Turbulensi Akan Terjadi. Dalam banyak kasus pilot mengetahui kondisi cuaca yang ada di jalur penerbangannya meski itu masih jauh di depan. Hal ini dibantu dengan laporan cuaca sebelum penerbangan, radar kokpit dan juga laporan dari pesawat lain yang melintasi daerah tersebut. Dengan berbagai bantuan tersebut seorang pilot bisa mengetahui bahaya apa saja yang ada di depan mereka sehingga saat pesawat sedang mendekati wilayah tersebut seorang pilot bisa mengaktifkan tanda sabuk pengaman untuk para penumpang dan awak pesawat

Jenis Turbulance

  1. Clear Air Turbulence (CAT). Turbulensi memiliki beragam jenis dan yang paling sering terjadi dalam penerbangan adalah Clear Air Turbulence (CAT). Berbeda dari jenis turbulensi lain yang dapat diprediksi dengan memperhatikan radar maupun melihat kondisi cuaca, CAT merupakan turbulensi yang terjadi di saat langit cerah tak ada awan sehingga radar cuaca tidak dapat memprediksi bahwa kondisi tersebut bisa memicu turbulensi. CAT dapat dikatakan jenis turbulensi yang paling berbahaya karena kondisinya tidak dapat diprediksi. Saat pesawat tiba-tiba mengalami Clear Air Turbulence maka tidak ada waktu bagi awak pesawat untuk memperingatkan penumpang untuk kembali ke kursi mereka dan mengenakan sabuk keselamatan. Tak heran mayoritas cedera akibat turbulensi diakibatkan oleh turbulensi jenis ini.
  2. Pemanasan Global Picu Turbulensi. Turbulensi erat kaitannya dengan kondisi cuaca. Saat ini tercatat sering terjadi clear air turbulence dalam penerbangan di dunia manapun. Ternyata hal ini disebabkan oleh pemanasan global. Jumlah turbulensi yang mempengaruhi penerbangan mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa dekade ini. Meski cuaca sedang cerah tak menutup kemungkinan sebuah pesawat mengalami guncangan. Global warming ditengarai sebagai penyebab keadaan ini.
  3. Mechanical Turbulence yang disebabkan gesekan angin dengan bangunan, gunung, atau benda lain yang menjulang ke angkasa.
  4. Wake Turbulence disebabkan gerakan manuver pesawat. Semakin besar, efek wake turbulence akan makin besar dan bisa berimbas pada pesawat kecil yang ada di belakangnya.
  5. Convection Turbulence diakibatkan udara panas yang mengalir ke atas sebagai akibat perbedaan temperatur.
  6. Inversion Turbulence adalah perubahan arah angin (berbalik) karena perubahan temperatur.
  7. Frontal Turbulence ialah perubahan arah angin horizontal karena karena perbedaan tekanan udara.
  8. Mountain Wave Turbulence. Sesuai namanya, turbulensi ini terjadi di atas pegunungan.
  9. Thunderstorm Turbulence yang disebabkan oleh badai.
  10. Clear Air Turbulence (CAT) yang disebabkan fenomena alam atau juga dikenal dengan jet stream. CAT pada umumnya terjadi di ketinggian sekitar 40.000 kaki. Jet stream yang terbentuk kerap dimanfaatkan pesawat untuk efisiensi bahan bakar. Misalnya turbulensi yang dialami ketika pesawat sedang terbang di ketinggian jelajah 36 ribu kaki di atas permukaan laut. Pasca turbulensi, pesawat berada di ketinggian 30.000 kaki atau terempas 6.000 kaki.
  11. 4 tingkatan intensitas bahaya turbulensi pesawat 

    • Tingkat 1. Pada tingkat ini turbulensi pesawat hanya bersifat sementara. Pengaruhnya pun kecil; hanya pergeseran kecil terhadap ketinggian maupun posisi pesawat di udara. Penumpang hanya sedikit merasakan ketegangan dari perubahan yang diakibatkan oleh turbulensi di luar. Letak objek, misal gelas, pun hanya sedikit mengalami pergeseran tempat. Pada tingkat turbulensi ini, awak yang tengah berjalan mengantarkan makanan di pelataran pesawat (ruang berjalan di antara kursi penumpang) tidak akan mengalami kesulitan.
    • Tingkat 2. Akan ada perubahan sebesar 0.5-1g pada pusat gravitasi badan pesawat. Hal ini bisa dilihat instrumen pembaca accelerometer di kokpit. Namun kondisi pesawat masih dapat dikontrol meski mungkin sebagian benda atau penumpang dapat berpindah dari posisinya. Penumpang dan awak akan merasa lebih tegang karena objek dalam pesawat bisa keluar atau tercabut dari posisinya. Bahkan para awak akan merasa kesulitan ketika berjalan di pelataran.
    • Tingkat 3. Pada tahap ini, terjadi perubahan lebih besar; 1g pada pusat gravitasi di badan pesawat. Para penumpang akan merasakan guncangan keras hingga terlepas dari ikatan sabuk pengamannya. Keadaan ini tidak memungkinkan para penumpang maupun awak berjalan di kabin pesawat.
    • Tingkat 4. Ini adalah tingkat turbulensi paling parah. Berbagai benda, penumpang, atau awak bisa terlempar begitu saja tanpa bisa dikendalikan dan sangat membahayakan penerbangan.

Dampak Turbulance

  1. Turbulensi Tidak Akan Menyebabkan Pesawat Kecelakaan. Seorang pilot berpengalaman dari maskapai British Airways, Steve Allright mengatakan bahwa turbulensi dibagi menjadi tiga yakni ringan, sedang dan berat. Dalam turbulensi ringan seorang pilot hanya akan merasakan sedikit guncangan sama seperti sedang naik mobil. Sedangkan kategori sedang akan membuat pesawat melenceng 3-6 meter dari rute sesungguhnya. Lain halnya dengan turbulensi berat yang bisa menyebabkan pesawat menyimpang hingga ketinggian 30 meter dengan guncangan yang hebat. Hal tersebut sangat tidak nyaman namun tidak berbahaya. Intinya turbulensi adalah hal wajar yang umum dialami oleh sebuah pesawat.
  2. Luka Akibat Turbulensi Bisa Saja Terjadi Namun Jarang. Federasi Administrasi Penerbangan menyatakan bahwa setiap tahunnya selalu ada kasus turbulensi di berbagai negara. Dalam beberapa kasus bahkan menyebabkan baik awak pesawat maupun penumpang terluka akibat situasi ini. Dari sekian banyak kasus cedera akibat turbulensi tersebut, dua pertiga diantaranya dialami oleh pramugari. Hal ini terkait pekerjaan mereka yang melayani penumpang sehingga tak jarang mereka telat memakai sabuk pengaman saat pesawat berbenturan dengan angin yang menyebabkan turbulensi.
  3. Bayi ini sedang dalam pangkuan saat turbulensi hebat terjadi pada pesawat yang mereka tumpangi. Saat itu tangan orang tuanya bergetar dan secara tidak sengaja melepas dekapannya tersebut hingga membuat bayi terpelanting. Untuk itu Dewan Keselamatan Transportasi menyerukan bahwa bayi akan diikat pada kursi khusus keselamatan.
  4. Turbulensi Tidak Akan Menyebabkan Pesawat Kecelakaan. Seorang pilot berpengalaman dari maskapai British Airways, Steve Allright mengatakan bahwa turbulensi dibagi menjadi tiga yakni ringan, sedang dan berat. Dalam turbulensi ringan seorang pilot hanya akan merasakan sedikit guncangan 7 itu tangan orang tuanya bergetar dan secara tidak sengaja melepas dekapannya tersebut hingga membuat bayi terpelanting. Untuk itu Dewan Keselamatan Transportasi menyerukan bahwa bayi akan diikat pada kursi khusus keselamatan.

Pencegahan

  1. Pilot Dilatih Untuk Menangani Dengan Santai. Para pilot yang menerbangkan pesawat telah dilatih sebelumnya untuk bisa menangani masalah turbulensi dengan santai. Untuk itu sebelum melakukan penerbangan seorang pilot akan dengan hati-hati mempelajari pola cuaca dan memilih rute terbaik pada penerbangannya. Namun terkadang turbulensi terjadi tanpa bisa diprediksi. Ketika turbulensi tidak dapat dihindari maka tugas pilot yang paling penting adalah menenangkan kecemasan para penumpang.
  2. Akan Ada Teknologi Baru yang Memungkinkan Pesawat Terhindar Dari Turbulensi. Para perancang penerbangan sedang mengembangkan sebuah teknologi baru yang dapat membantu pesawat untuk menghindari turbulensi. Jadi pada masa yang akan datang pesawat tidak perlu mengalami guncangan yang tidak nyaman tersebut. Teknologi ini berupa laser ultraviolet yang fungsinya menembakkan semacam gelombang ke jalur pesawat yang akan dilewati sehingga udara di sana menjadi stabil. Dengan begitu rute pesawat menjadi aman dari gangguan turbulensi. 

Tindakan Penumpang Saat Turbulance

  1. Mematuhi Tanda Penggunaan Sabuk Pengaman. Satu-satunya cara yang paling efektif saat terjadi turbulensi adalah tetap bersikap tenang dan patuhi tanda memakai sabuk keselamatan yang dinyalakan oleh pilot. Hal ini sangat sederhana namun efektif untuk menekan angka cedera saat terjadi turbulensi. Ketika turbulensi terjadi atau beberapa saat sebelum pesawat mengalami turbulensi biasanya pilot akan menyalakan lampu tanda untuk mengenakan sabuk keselamatan. Ini penting untuk penumpang perhatikan jika tidak ingin cedera saat pesawat mulai berguncang.
  2. Jangan Memangku Anak Saat Turbulensi. Anak-anak adalah objek yang paling rentan mengalami cedera saat turbulensi terlebih jika mereka berada di dalam pangkuan orang tuanya. Kejadian ini pernah menimpa seorang bayi perempuan pada penerbangan di Inggris beberapa waktu lalu.
Iklan