*Ekonomis

Jokowi Klaim Ekonomi Tidak Lesu Pindah Ke Online, Dibantah Presdir JNE ?

wp-1464670999773.jpgJokowi Klaim Ekonomi Tidak Lesu Pindah Ke Online, Dibantah Presdir JNE ?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melempar pernyataan yang menyebut bahwa daya beli masyarakat Indonesia masih cukup baik. Bahkan, isu penurunan daya beli disebutnya lebih karena faktor politis menjelang 2019. “(Katanya) daya beli sekarang menurun, anjlok. Saya berikan angka. Coba saya ambil dari shifting offline ke onliine. Banyak orang yang ke situ. Kalau ada toko tutup ya karena ini salahnya enggak ikuti zaman. Jasa kurir naik 130 persen, di akhir Sepember ini. Angka ini didapat dari mana? Ya kita cek. JNE cek, kantor pos cek,” kata Presiden Jokowi dalam Rakornas Kadin 2017, Jakarta, Selasa (3/10). Tetapi ternyata sekali lagi tampaknya Jokowi salah mendapat informasi dan data yang akurat. Hal itu dibantah oleh Presdir JNE bahwa kenaikkannya hanya 30 persen. Bahkan diakuinya hanya tidak semua kiriman barang yang meningkat juga merupakan barang-barang dari perdagangan online. Hanya separuh dari 70 persen pendapatan ritel  dari e-commerce

Presiden Direktur PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) Mohammad Feriadi mengoreksi klaim Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut adanya lonjakan pertumbuhan logistik, terutama jasa kurir, yang naik hingga 130 persen di tengah peralihan masyarakat ke belanja online. Kendati demikian, Feriadi dalam jumpa pers kerja sama metode pembayaran dengan Tokopedia di Jakarta, Senin (16/10), mengakui, adanya peralihan budaya belanja masyarakat dari offline ke online. “Pernyataan yang disampaikan Pak Jokowi terkait logistik terjadi peningkatan, saya pikir angkanya tidak semua mengalami peningkatan yang disebutkan itu. Awalnya disebutkan 130 persen. Tapi, kami tidak merasakan itu meski memang terjadi peningkatan,” katanya.

Feriadi menuturkan, pertumbuhan logistik yang dialami perusahaan dalam beberapa tahun terakhir mencapai hingga 30-an persen. Perusahaan pun optimistis pertumbuhan logistik dapat mencapai kisaran tersebut ke depan. Ia menilai, peralihan masyarakat dari yang tadinya berbelanja langsung di toko, mal atau pasar (offline) ke berbelanja secara online memang mempengaruhi pertumbuhan logistik. Meski demikian, tidak semua kiriman barang yang meningkat juga merupakan barang-barang dari perdagangan online. “Separuh dari 70 persen pendapatan ritel kami bisa bilang itu dari e-commerce,” katanya. Feriadi menyebut pertumbuhan e-commerce yang luar biasa tersebut baru sekitar 1 persen dari total pendapatan ritel Indonesia. Namun, pencapaian itu telah membuat perilaku konsumen berubah untuk berbelanja online.

 

sumber: replubika dan sumber lainnya

Iklan