Tak Berkategori

10 Fakta Tentang Binatang Banteng

  1. Banteng atau tembadau atau, Bos javanicus, adalah hewan yang sekerabat dengan sapi dan ditemukan di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Banteng dibawa ke Australia Utara pada masa kolonisasi Britania Raya pada tahun 1849 dan sampai sekarang masih lestari.
  2. Terdapat tiga anak jenis banteng liar: B. javanicus javanicus (di Jawa, Madura, dan Bali), B. javanicus lowi (di Kalimantan, jantannya berwarna coklat bukan hitam), dan B. javanicus birmanicus (di Indocina). Anak jenis yang terakhir digolongkan sebagai Terancam oleh IUCN.
  3. Banteng dapat mencapai tinggi sekitar 1,6m di bagian pundaknya dan panjang badan 2,3 m. Berat banteng jantan biasanya sekitar 680 – 810 kg — jantan yang sangat besar bisa mencapai berat satu ton — sedangkan betinanya lebih ringan. Banteng memiliki bagian putih pada kaki bagian bawah dan pantat,punuk putih, serta warna putih disekitar mata dan moncongnya, walaupun terdapat sedikit dimorfisme seksual pada ciri-ciri tersebut. Banteng jantan memiliki kulit berwarna biru-hitam atau atau coklat gelap, tanduk panjang melengkung ke atas, dan punuk di bagian pundak. Sementara, betinanya memiliki kulit coklat kemerahan, tanduk pendek yang mengarah ke dalam dan tidak berpunuk.
  4. Banteng memakan rumput, bambu, buah-buahan, dedaunan, dan ranting muda. Banteng umumnya aktif baik malam maupun siang hari, tetapi pada daerah permukiman manusia, mereka beradaptasi sebagai hewan nokturnal. Banteng memiliki kecenderungan untuk berkelompok pada kawanan berjumlah dua sampai tiga puluh ekor. Di Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Baluran menjadi pertahanan terakhir hewan asli Asia Tenggara ini.
  5. Perbedaan Banteng dengan Sapi. Tinggi banteng pada umumnya hampir sama dengan tinggi sapi yakni dengan tinggi sekitar 160 cm dengan panjang antara 190 hingga 225 cm. Untuk bobot satwa yang satu ini diperkirakan antara angka 600 hingga 800 kg walaupun ada juga beberapa banteng yang memiliki bobot hingga 1 ton. Siklus hidupnya sama seperti sapi pada umumnya, hanya saja banteng hidupnya di alam liar. Banteng terkenal dengan tanduknya yang sering digunakan untuk menyeruduk sebagai cara bertahan ketika ada yang dianggap mengganggu ketenangannya. Diperkirakan panjang tanduk banteng berkisar antara 60 hingga 75 cm. Tidak hanya dalam gambar saja warna putih yang ada di tubuh banteng, tetapi kaki kulit bagian bawah, kemudian punuk, hingga daerah sekitar mata dan moncongnya juga berwarna putih. Untuk kulit pada banteng jantan dengan banteng betina memiliki sedikit saja perbedaan yakni kulit untuk banteng betina lebih banyak berwarna coklat agak kemerahan dengan punuk serta tanduk mengarah ke bawah.
  6. Siklus Hidup Banteng. Banteng merupakan hewan pemakan rumput, daun dan buah-buahan atau sebutan ilmiahnya adalah hewan herbivora. Ada dua jenis adaptasi banteng yakni ketika masih menjadi banteng muda biasanya lebih banyak hidup sendirian atau bisa juga ditemukan dalam jumlah kawanan banteng muda lainnya, sedangkan untuk banteng dewasa lebih cenderung hidup secara bergerombolan.
  7. Satwa satu ini bisa dimasukkan dalam golongan nokturnal karena lebih banyak aktif di malam hari, namun hal ini tidak sepenuhnya karena banteng nokturnal biasanya adalah kawanan yang hidup berdekatan dengan daerah pemukiman penduduk.
  8. Habitat dan Persebarannya. Berdasarkan habitatnya, banteng diseluruh dunia menempati kawasan hutan lebat ataupun hutan bersemak. Biasanya kawasan yang ditempati kawanan banteng yakni daratan rendah dengan ketinggian hingga 2.100 mdpl. Persebaran kawanan banteng bisa diperkirakan memenuhi daratan Asia Tenggara mulai dari kawasan Kamboja, Laos, Thailand, Malaysia, Vietnam, Myanmar, dan Indonesia. Untuk di Indonesia bisa ditemukan di beberapa kepulauan misalnya pulau Jawa, Bali dan Kalimantan. Namun berdasarkan beberapa informasi terkait, keberadaan banteng di kawasan Brunei dan India sudah dinyatakan punah.
  9. Banteng telah didomestikasi di beberapa daerah di Asia Tenggara dan Australia dan dikenal sebagai sapi bali. Hingga tahun 2009 diperkirakan jumlahnya di Indonesia mencapai sekitar 4,5 juta ekor. Banteng ternak dan liar dapat saling kawin dan keturunan yang dihasilkannya sering kali subur (fertil). Ada 11 provinsi utama yang memiliki populasi sapi Bali terbanyak. Populasi terbanyak di Sulawesi Selatan, Bali, NTT, NTB, Sumsel , Sultra, Gorontalo, Kalsel, Sulteng, Sulbar, dan Lampung. Sapi Bali merupakan sumberdaya genetik hewan asli Indonesia, karena kerabat liarnya ada di Indonesia. Sapi Bali merupakan sapi asli Indonesia yang ciri – cirinya khas dan berbeda dari bangsa sapi lainnya.  Keunggulan banteng atau sapi Bali adalah memiliki efisiensi reproduksi yang tinggi, daging dan karkasnya berkualitas baik dan persentase karkasnya tinggi (karkasnya bahkan bisa mencapai 57%), Selanjutnya yang juga sangat menarik adalah daya adaptasinya terhadap lingkungan yang sangat baik,dan yang tidak kalah penting adalah kemampuannnya menggunakan sumber pakan yang terbatas.
  10. Penyebab banteng tidak suka kain warna merah sendiri karena sebenarnya banteng itu tidak suka lambaian kainnya, bukan warna kainnya itu sendiri. Banteng punya penyakit buta parsial yang menyebabkan banteng tidak bisa melihat warna/buta warna. Tapi karena matador memang sudah biasa sejak dulu menggunakan kain berwarna merah sebagai alat untuk aksinya melawan banteng, jadi kita menganggap warna merah lah yang membuat si banteng mengamuk.
    Iklan

    Kategori:Tak Berkategori

    Tagged as: