berita metropolitan

Gubernur DKI Baru Kaget, Masalah Ketimpangan Masyarakat Jakarta 


Gubernur DKI Baru Kaget, Masalah Ketimpangan Masyarakat Jakarta

Anies Baswedan dan pasangannya Sandiaga Uno baru akan resmi menjabat pada Oktober 2017 mendatang. Saat ini Gubernur DKI dipegang Djarot Saiful Hidayat yang menggantikan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Keduanya adalah lawan Anies-Sandi di Pilkada 2017.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan sampai saat ini di Ibu Kota masih ditemukan berbagai masalah pelik seperti kemiskinan, kesehatan, pendidikan, ketimpangan ekonomi masyarakat bahkan sampai cuacanya. Anies Baswedan mengutip statistik dan mengaku kaget karena sumber daya manusia yang justru masih rendah dan berbagai oermasalahan lainnya di Jakarta yang tidak pernah diungkapkan media mainstream

Inilah masalah Jakarta Pada masa kepemimpinan Gubernur sebelumnya.

  • sebanyak 3 juta dari 10 juta penduduk Jakarta masih memiliki penghasilan di bawah Rp 1 juta per bulan.
  • Di Jakarta Utara, yang lulus SMA hanya 52 persen dan 48 persen tidak lulus SMA, ini ibukota kok sama kabupaten di pedalaman saja kalah.
  • Anies Baswedan pun merasakan air di Jakarta sudah sangat tak sehat
  • Jurang antara si miskin dan kaya terlalu kentara.
  • Tantangan di Jakarta bukan soal preman-premannya sehingga gubernurnya harus galak, tapi kemiskinannya
  • Ekstrimnya persoalan di Jakarta ia ketahui saat masa kampanye lalu ketika ia banyak menyambangi pemukiman padat di kampung kampung. Anies mendapati di kampung padat itu sering memiliki tempat Mandi, Cuci, Kakus (MCK) umum tak layak dan jadi rebutan warga untuk kebutuhan sehari hari.
  • Terdapat satu rung berukuran 3 x 4 meter yang di dalamnya ditinggali enam sampai delapan orang rantau dari daerah.
  • Ini potret (persoalan) di Jakarta, yang dibilang gubernur kemarin mengerti anggaran, padahal tidak memahami,” ujar Anies tanpa menyebut nama siapa gubernur kemarin yang ia maksud. Jka seorang gubernur mengerti anggaran, maka sisa anggaran Jakarta yang tidak terserap tidak akan mencapai angka 30 persen dari total anggaran daerah DKI Jakarta sebesar Rp 70 triliun. “Kalau orang ngerti anggaran, pasti bisa manfaatkan anggaran dengan baik, ” ujar Anies. Anies menuturkan, sangat tak wajar dengan kompleksitas kemiskinan yang cukup ekstrim di Jakarta masih ada sisa anggaran tak terpakai. Anggaran daerah seharusnya dipakai untuk menyelesaikan masalah dan dirasakan rakyat. “Jadi jelaskan kepada saya kalau anda mengerti anggaran, itu hanya citra yang dibangun kalau dia mengerti anggaran,” ujar Anies.
  • Anies menuturkan, pihaknya sejak dipilih sebagai calon gubernur sudah komitmen membela masyarakat ekonomi lemah yang banyak mendiami pemukiman padat dan kumuh di Jakarta. “Sehingga kemenangan kami di pilkada kemarin memang mayoritas dari rakyat kecil, di kampung kampung yang dianggap kumuh,” ujarnya.

Sebelumnya Djarot membantah bahwa sisa lebih penggunaan anggaran pada 2016 adalah karena kesalahan pemerintah.  Menurut Djarot, rendahnya realisasi belanja daerah disebabkan oleh terlambatnya penetapan Peraturan Daerah tentang APBD Perubahan Tahun Anggaran 2016.”Hal ini berdampak pada keterbatasan sisa waktu pelaksanaan kegiatan, sehingga mengakibatkan anggaran tidak terserap,” ujar Djarot dalam sidang paripurna di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu, 19 Juli 2017.
Sumber: tempo.co.id

Iklan