Tokoh Indonesia

Benarkah Ahok Lebih Hebat Dibandingkan Foke ? 

Benarkah Ahok Lebih Hebat Dibandingkan Foke ?

Beberapa survey menunjukkan kepuasan masyarakat  terhadap Ahok jauh lebih baik dibandingkan Foke. Tetapi fakta dan data menunjukkan bahwa ternyata prestasi kerja Foke jauh lebih baik dibandingkan Ahok. Terdapat beberapa kemungkinan mengapa terjadi perbedaaan fakta dan persepsi publik tersebut. Salah satunya adalah kehebatan Ahok dan tim pendukungnya melakukan pencitraan melalui berbegai media online, media televisi dan media cetak secara cerdik dan terstruktur yang menciptalan profil dan penampilan Ahok demikian hebat hingga mencapai kepuasan publik yang diinginkan. Pejabat politik saat ini sadar bahwa politik dan pencitraan tidak bisa dilepaskan. Saat popularitas seorang pejabat turun maka tim pendukungnya bekerja keras melakukan intervensi informasi yang masif dan luas untuk meningkatkan citra sang pejabat.

Saiful Mujani Researchand Consulting (SMRC), membandingkan kepuasan kinerja Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan mantan Gubernur DKI Fauzi Bowo (Foke). Dari hasil survei yang dilakukan selama Agustus 2015 itu, masyarakat Jakarta lebih puas dengan kinerja Ahok. Posisi Foke lebih rendah dari Ahok. Karena tingkat kepuasan terhadap Ahok mencapai 64 persen sedangkan dibanding dengan Foke pada survei bulan November 2010 yang hanya mendapatkan 43 persen,” terang Djayadi dalam jumpa pers hasil survei SMRC di Hotel Sari Pan Pacific, Rabu (14/10/2015). Pengambilan survei keduanya ketika rentang waktu yang sama-sama 1,5 tahun jelang Pilgub DKI. Dari hasilnya masyarakat yang kurang puas terhadap kinerja Ahok hanya 34 persen dan Foke mencapai 55 persen saat itu.

10 Kelebihan Pemerintahan Gubernur Foke Dibandingkan Ahok

  1. Tata Kelola Keuangan. Kinerja Ahok terkait Tata kelola keuangan sangat buruk. Hasil audit keuangan BPK menunjukkan bahwa pada Tahun Anggaran 2015 terdapat temuan bermasalah senilai Rp30,15 triliun atau hampir 50% APBD DKI & status hasil audit yang diberikan adalah WDP. Capaian ini lebih buruk dari Fauzi Bowo yang mampu membawa DKI hanya memperoleh temuan bermasalah senilai Rp. 4,83 T atau 13,42% dari APBD & memperoleh status WTP, status terbaik dalam audit BPK
  2. Akuntabilitas Kinerja. Akuntabilitas kinerja pemerintahan DKI Jakarta di bawah Ahok sangat buruk. Hasil penilaian Kementerian PAN & RB nilai akuntabilitas kinerja DKI untuk Tahun 2015 hanya berpredikat CC dan berada pada peringkat 18[3]. Lebih lanjut, memang sejak Jokowi-Ahok Pemda DKI tidak pernah memperoleh nilai lebih tinggi dari CC[4]. Capaian ini lebih buruk dari Fauzi Bowo yang pernah membawa akuntabilitas kinerja DKI bernilai B.
  3. Pertumbuhan ekonomi. Data BPS menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jakarta pada 2015 hanya 5.88%. Pertumbuhan ini paling rendah sejak tiga tahun sebelumnya. Pada Triwulan III 2016, angka ini kembali turun hanya mencapai 5.75%[6]. Capaian ini bahkan lebih buruk dari Fauzi Bowo yang rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 6.17% (LPPD DKI Jakarta 2007-2012).
  4. Buruknya capaian ini diantaranya disebabkan serapan anggaran yang rendah (72.11%). Dan serapan yang rendah terjadi kembali pada tahun 2016. Kondisi ini membuat Ahok ditegur Jokowi[7].
  5. Kemiskinan. Data BPS menunjukkan terjadi peningkatan jumlah orang Miskin menjadi 384,3 Ribu (3.75%) per Maret 2016[8]. Buku Statistik Daerah Provinsi DKI Jakarta 2016) dari 363,2 Ribu (3.69%) per Maret 2012. Capaian ini bahkan lebih buruk dari capaian Fauzi Bowo, dimana ia berhasil menurunkan kemiskinan dari dari 405, 700 jiwa (4.48%) (Maret 2007) menjadi 363,200 jiwa (3.69%) (Maret 2012)[9].
  6. Pemukiman/Perumahan Rakyat. Kinerja Ahok terkait pemukiman/perumahan rakyat sangat buruk. Dari sisi penataan kampung kumuh, Ahok gagal melanjutkan proyek kampung Deret Jokowi (LKPJ 2014 & 2015). Capaian ini lebih buruk dari Foke yang sukses merubah 274 RW kumuh dengan proyek MHT plus (LPPD DKI 2007-2012).
  7. Dari sisi pembangunan rusun, Ahok tidak membangun rusun yang dapat dimiliki warga (Rusunami) tetapi hanya membangun Rusun yang harus disewa (Rusunawa). Sepanjang 2014-1015, DKI hanya mampu membangun 3.587 unit (1.794/tahun) dengan hampir 28.9% Pusat yang membangun (LKPJ Gub DKI 2014 & 2015). Capaian ini lebih buruk dari Foke yang sepanjang 2007-2011 mampu membangun 3.366 unit Rusunami & 8.971 unit Rusunawa (2242/tahun) (LPPD DKI 2007-2012).
  8. Kemacetan. Kemacetan makin menjadi. Riset tempatkan Jakarta Kota paling macet di 178 Negara. Capaian Ahok terkait hal ini dapat dinilai sangat buruk bila mengingat tiga indikator lain yang dapat mengurangi kemacetan. Pertama, dari sisi penambahan panjang Jalan, BPS juga menyebutkan bahwa Foke berhasil menambah panjang jalan di DKI dari 6.543.997 m menjadi 6. 995.842 m sedangkan Ahok stagnan dalam menambah panjang jalan (Buku Statistik Daerah Provinsi DKI Jakarta 2010 & 2016 serta LKPJ Gub DKI 2015). Kedua dari sisi angkutan umum, Jokowi hanya mampu menambah 1 koridor busway yang merupakan lanjutan proyek Foke dan Ahok gagal menambah jumlah koridor busway sementara Foke mampu menambah menambah 4 koridor baru (LPPD DKI Jakarta 2007-2012, LKPJ Gubernur DKI 2012, 2013, 2014, & 2015). Dari sisi penumpang Busway, BPS menyebut bahwa Ahok hanya mampu menambah jumlah penumpang dari 111.260.431 (2012) menjadi 111.630.305 (2014) sedangkan Foke mampu menambah jumlah penumpang Busway dari 61.446.336 (2007) menjadi 114.783.000 (2011) (Buku Statistik Daerah Provinsi DKI Jakarta 2010, 2013 & 2016). BPS belum mengumumkan data 2015 & 2016, tetapi berdasarkan keterangan Kepala Dinas, jumlah penumpang pada 2016 mencapai 340.000/hari atau 122.400.000 masih jauh dari target yang ditetapkan
  9. Banjir. Banjir masih dianggap  gagal diatasi. Banjir saat ini bahkan telah menjangkau wilayah kerja sang Penguasa. Lebih ekstrim, tidak perlu menunggu hujan 1 Jam, banjir telah terjadi. Selama ini diopinikan bahwa Banjir Jakarta berhasil diatasi karena Ahok. Faktanya, program banjir Jakarta yang selama ini berjalan adalah program pemerintah Pusat. Jika pemerintah pusat tidak ingin mengeksekusinya, maka proyek tersebut tidak terlaksana. Oleh karena itu, untuk melihat buruknya kinerja Ahok terkait hal ini, tentunya perlu dibandingkan proyek pengendalian banjir sejenis. Ahok dalam melaksanakan proyek Sodetan kali Ciliwung-Kanal Banjir Timur sepanjang 1.27 KM mangkrak. Foke mampu menyelesaikan Proyek Kanal Banjir Timur sepanjang 23.6 Km yang membebaskan 2,7 juta warga di 15.000 ha daerah rawan banjir (Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) DKI Jakarta 2007-2012).
  10. Keterbukaan Informasi Publik (Transparansi). Standar Keterbukaan Informasi Publik (KIP) & Transparansi Pengelolaan Daerah diatur dalam UU Keterbukaan Informasi Publik & Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 188.52/1797/SJ/2012 Tahun 2012 Tentang Peningkatan Transparansi Pengelolaan Anggaran Daerah. Kinerja Pemerintahan DKI Jakarta di bawah Ahok terkait hal ini sangat buruk. Hasil verifikasi Kemendagri pada Tahun 2015, DKI hanya memperoleh capaian 8.33% terkait informasi anggaran yang harus dipublikasikan, Pada Tahun 2015, Hasil penilaian Komisi Informasi Publik DKI tidak masuk 10 besar. Capaian ini lebih buruk dari Foke yang mampu membawa DKI peringkat 2 Keterbukaan Informasi Publik tahun 2012 (EI).

Kinerja vs Pencitraan

  • Pengalaman politik pejabat publik di Indonesia menunjukkan popularitas Jokowi yang melambung tinggi karena kecerdikan Jokowi dan tim pendukungnya melakukan pencitraan yang masif dan terus menerus terhadap rakyat. Isu mobil nasional Esemka, isu kesederhanaan dan blusukan dikemas sedemikian rupa oleh konsultan politic marketing secara masif dan terua menerua di berbagai media online dan media cetak membuat popularitas Jokowi melambung tinggi. Tetapi pepatah orangtua bahwa mangga terbaik adalah yang masak di pohon bukan karbitan ternyata terbukti. Ternyata isu kesederhanaan, mobil esemka dan Blusukan hanya sekedar kesok dan sekarang perlahan terungkap bahwa mobil esemka hanya sensasi. Demikian juga kesederhaan itu terungkap ketika baju dan sepatu jokowi yang saat kampanye digambarkan hanya berharga 150 ribu. Saat ini terungkap bahwa sepatu. Jaket dan batik berharga jutaan hingga puluhan juta.
  • Tampaknya kehebatan pencitraan  Jokowi dalam menggunakan media masa juga menjadi inspirasi tim pendukung atau konsultan politic marketing Ahok. Baik Ahok dan Jokowi yang mempunyai tujuan politik jangka panjang sadar bahwa politik tidak pernah lepas dari citra di mata rakyatnya. Makanya kerja senyap atau kerja tulus dan ikhlas bagi para pejabat politis tidak begitu populer dan jarang dilakukan. Sebaiknya yang menjadi  ren saat ini adalah kerja dan pencitraan. Kerja harus diliput media mulai dari perencanaan, pembangunan hingga peresmian. Pembangunan yang dilakukan saat ini bukan untuk kepentingan rakyat tetapi kepentingan agar dapat keoercayaan rakyat untuk dipilih lagi. Secara politik hal yang dianggap munafik itu sah sah saja.
  • Suatu saat hal itu pernah terjadi ketika popularitas Ahok dianggap menurun karena kata dan kalimat kasarnya berulang menjadi konsumsi publik. Maka segera tim pendukung marketing politic beraksi. Saat itu dalam 7 hari berturut turut Ahok dan tim pendukung menyebatkan isu positif tentang keberhasilan Ahom memberaihkan kali Jakarta. Padahal beberapa minggu sebelumnya kali Jakarta kotor dan dipenuhi sampah tetapi dalam beberapa minggu dikerahkan ratusan pasukan oranye membabat sampah di kali. Dalam seminggu penuh media online, para buzer dan media cetak televisi mainstream memuat berita dan informasi yang sama tentang Ahok yang sidak di seputar sungai Jakarta. Lucunya saat Ahok menyusuri tepian sungau disambut beberapa tentara yang berdiri di setiap 50 meter sepanjang kali tersebut. Luarbiasa popularitas Ahok langsung melejit dalam seminggu bahwa Ahok membersihkan kali Jakarta. Saking bersemangatnya kali di sekitar kuningam yang menjadi karya Ridwan Kamil saat mengaristeki sungai tersebut diklaim buzer Ahok, bahwa Ahok merubah sungai Jakarta tak kalah dengan Eropa. Sontak saja hal iti disanggah langsung oleh RK dalam twitternya.
  • Hal ini menunjukkan bahwa kerja senyap sudah tidak populer lagi. Yang menjadi trend saat ini adalah kerja hingar bingar dan kerja membangun bangunan monumental. Hal ini juga dibuktikan ketika jalan layang yang dibangun Foke antara Tanah Abang dan kampung Melayu yang lebih spetakuler kalah populer dengan jembatan melingkar Ahok yang dipenuhi lampu berawarna warni. Padahal secara fungsional jembatan tersebut sangat lemah kemanfaatannya hal ini dapat dilihat sepinya jembatan Ahok tersebut tetapi saat yang sama di sekitar jembatan semanggi tetap saja macet panjang dan melingkar.
Iklan