Sejarah Indonesia

Kisah Sadis dan Kekejaman Pemberontakan PKI

Kisah Sadis Pemberontakan PKI

Pemberontakan PKI di Madiun 1948. Musso (51 tahun) yang lari ke Moskow 22 tahun sesu dah gagal memimpin berontak 1926, pulang ke Tanah Air dan memproklamasikan Republik Sovyet Indonesia di Madiun, 18 September 1948. Yang terjadi bukan hanya “Peristiwa Madiun”, atau “Pemberontakan Madiun”, melainkan “Proklamasi Republik Sovyet Indonesia”. Jadi itu adalah kudeta, perebutan kekuasaan dengan kekerasan senjata. Di Uni Sovyet,

  • Musso menyaksikan pembantaian oleh Stalin terhadap 40 juta rakyat antikomunis sebangsanya (Courtois: 2000), yang dicontoh Musso di Madiun. Pejagalan yang dipimpin oleh Musso dimulai pada hari kedua (19 September 1948) sesudah Proklamasi Republik Sovyet di Kota Madiun, dengan penyembelihan kiai, santri, dan pamong praja di Blumbang luar kota. Masaker ini berlanjut ke Soco, Cigrok, Gorang Gareng, Tan jung, Magetan, Takeran, Rejosari (pabrik gula), Bangsri, Dukuh Sedran, Geni Langit, Lembah Parang, Nglopang, Du ngus, Kresek, Mangkujayan, Batokan, Je blok, Randu Blatung, Blora, Pati, Wirosari, Donomulyo, Tirtomoyo. Di se tiap tempat itu, PKI menjagal 25-100 rak yat antikomunis (Lubang Lubang Pem bantaian — Petualangan PKI di Madiun, Tim Jawa Pos: Maksum, Agus Sunyoto, A. Zainud din, Grafiti, 1990). 
  • Di samping lubang pembantaian yang sengaja digali, tempat penyembelihan itu praktis dilakukan di sumur-sumur tua tak terpakai, yang banyak terdapat di desa-desa itu. Karena repot dan sibuk, di Cigrok korban dikubur hidup-hidup. Di sebuah sumur tua yang tak tertimbun penuh, terdengar suara azan dari dalamnya. Tapi, Kiai Imam Sofwan dari Pesan tren Kebonsari tidak tertolong.
  • Pesantren-pesantren yang menjadi sasaran utama PKI adalah Pesantren Takeran, Burikan, Dagung, Tegalredjo (tertua), Kebonsari, dan Immadul Falah. Algojo PKI merentangkan tangga membelintang sumur, lalu Bupati Magetan dibaringkan di atasnya. Ketika telentang terikat itu algojo menggergaji badannya sampai putus dua, langsung dijatuhkan ke dalam sumur.
  • Dubur warga desa di Pati dan Wirosari ditusuk bambu runcing dan mayat mereka ditancapkan berdiri di tengah sawah sehingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi. Salah se orang di antaranya, wanita, ditusuk (maaf, TI) kemaluannya sampai tembus ke perut, juga ditancapkan PKI di tengah sawah.
  • Seorang ibu, Nyonya Sakidi, mendengar suaminya dibantai PKI di Soco. Dia menyusul ke sana, sambil menggendong dua anak, umur satu dan tiga tahun. Dia nekat minta melihat jenazah suaminya. Karena repot melayaninya, PKI sekalian membantai perempuan malang itu, dimasukkan dan dikubur di sumur yang sama, sementara kedua anaknya itu menyaksikan pembunuhan ibunya. Adik Sakidi menyelamatkan kedua keponakannya itu. Yel-yel PKI di Madiun dalam gerakan tersebut.
  • “Pondok bobrok, pondok bobrok! Langgar bubar, langgar bubar! Santri mati, santri mati!” Yang disorakkan dengan penuh ke ben cian dan ancaman. Cara mengekspresikan kebencian dan ancaman ini khas gaya komunis Leninis-Stalinis, yang dari Moskow diimpor Musso, proklamator Republik Sovyet Indonesia 1948 itu.
  • Pembantaian ribuan manusia ini (yang belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, Hindia Belanda, Majapahit) diingat terus oleh umat Islam Indonesia, terutama rakyat Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sehingga 17 tahun kemudian, ketika ternyata di belakang G-30-S adalah PKI, umat cepat bergerak. Daripada terulang pengalaman pahit 17 tahun yang lalu dibantai PKI, lebih baik PKI didahului. Akibat aksi, terjadi reaksi.

Iklan