Sejarah Indonesia

BOCORNYA MAKALAH PRA SEMINAR AD & MARAHNYA BUNG KARNO

BOCORNYA MAKALAH PRA SEMINAR AD & MARAHNYA BUNG KARNO

“Kelompok pemikir di lingkungan TNI-AD yang tergabung dalam Dewan Penelitian dan Pengembangan yang dipimpin oleh Brigjen A. Yani (Deputy KSAD), telah mengantisipasi pelbagai gerak-gerik PKI. Dalam perkembangannya kemudian karena masalah politik di mana konfrontasi dengan PKI menghangat, Men/Pangad Letnan Jenderal A. Yani pada bulan Februari 1964 memerintahkan agar Seskoad melakukan diskusi-diskusi dan pembahasan mengenai pendayagunaan AD. Hasil diskusi dan pembahasan Seskoad dituangkan dalam makalah yang kemudian didistribusikan kepada para Panglima Kodam (Pangdam). lsi pokok makalah adalah pemikiran mengenai pertahanan keamanan bahwa TNI-AD reluctant terhadap politik konfrontasi, sebaliknya kerjasama regional harus dipupuk (3). Juga dimuat pembahasan tentang potensi ancaman dan gangguan, serta peranan AD sebagai kekuatan politik.

Makalah produk Seskoad tersebut semula dimaksudkan sebagai materi persiapan menuju Seminar AD. Rupanya makalah ini bocor sampai ke Bung Karno sebab di Seskoad sendiri terdapat sejumlah perwira yang pro PKI. Men/Pangad memutuskan Seminar tetap diadakan tanpa makalah. Kebetulan pula pada saat itu banyak universitas yang mendapat tekanan berat dari PKI, seperti UI, UNPAD, GAMA. Dosen-dosen mereka direkrut sementara ke Seskoad.

Seminar juga dimaksudkan untuk mengevaluasi Pancasila dalam hubungannya dengan Manipol-USDEK, suatu analisis mengenai fungsi-fungsi organisasi politik termasuk Angkatan Bersenjata. Motivasinya ditegaskan oleh Men/Pangad Letjen TNI A. Yani bahwa ABRI perlu mengadakan reorientasi dan reevaluasi untuk memastikan bagaimana posisi Angkatan Bersenjata, khususnya TNI-AD sebagai alat revolusi dan bagaimana membina alat revolusi. (2)

Sebelum Seminar dimulai, sesuai dengan acara Seminar, pada tanggal 2 April 1965 para peserta seminar menghadap Presiden Sukarno ke lstana Bogor untuk mohon restu. Dalam amanat yang diberikan Presiden, dikatakan bahwa rakyat Indonesia telah menyeleweng dari “rel revolusi” dalam tahun 1950-1959, tetapi sejak itu telah menekan kembali revolusi itu. Namun di dalam Angkatan Bersenjata proses tersebut ”belum dilaksanakan”. Ditambah pula, bahwa Angkatan Bersenjata telah menempuh suatu strategi pertahanan yang tidak sesuai dengan revolusi kita yang asli, melainkan dengan suatu revolusi yang menyimpang. Dalam amanatnya Presiden sempat pula menyentil beberapa perwira yang mendapat didikan dari luar negeri telah membawa pulang konsep yang menyatakan “musuh berada di Utara”. ltu salah. Musuh Indonesia adalah Nekolim. (4)

Ditandaskan lagi, “Pada waktu kita masih menyeleweng, Angkatan Bersenjata kita meng-adoptasi suatu kebijaksanaan (policy) pertahanan yang salah, yang sebetulnya tidak cocok dengan revolusi kita yang asli, tetapi cocok dengan revolusi yang nyeleweng tersebut. Tetapi kemudian kita berhasil membanting stir. Namun demikian, Angkatan Bersenjata RI belum seluruhnya membanting stir.” (5)

bahaya laten komunisme 1

bahaya laten komunisme 2

bahaya laten komunisme 3

Gambar. Bahaya Laten Komunisme di Indonesia, dan sambutan Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung.

Pidato inilah yang diduga oleh para perwira Seskoad, bahwa makalah pra Seminar AD telah “bocor” kepada Bung Karno. Oleh karena itu, Bung Karno bernada marah dan mengoreksi konsep makalah tersebut.(6)

Meskipun ada empat makalah yang disajikan, namun analisis yang paling sensitif berpusat pada perlunya memperhatikan ancaman dari utara, yaitu ekspansi komunisme Cina melalui konflik bersenjata di Vietnam, Laos, dan Kamboja. Berdasarkan hal ini, maka kekosongan strategis karena menurunnya kehadiran militer Inggris-Amerika di kawasan-kawasan yang mengelilingi Indonesia harus diisi oleh Indonesia sendiri dan bukan oleh kebijakan ekspansionis Cina dan negara-negara sekutunya….

Karena makalah-makalah yang diajukan pada seminar Bandung itu secara langsung menantang visi strategis Presiden Sukarno yang memandang pertikaian itu dari segi konfrontasi antara kekuatan baru dan kekuatan lama, maka pada hari kedua seminar, tanggal 2 April 1965, Presiden memanggil semua peserta ke Istana Bogor untuk menyangkal “kecenderungan berpikir sendiri yang berbahaya” ini dari para komandan militer puncaknya.

Meskipun pada awal kemarahannya Presiden memuji dan menghormati kecerdasan Jenderal Yani dan penguasaannya terhadap hal-hal rinci yang kecil-kecil, namun Presiden lebih lanjut mengatakan bahwa elit kepemimpinan AD tidak boleh hanya berpikir dari segi taktis saja, tetapi seyogyanya memperhatikan kondisi strategis global yang lebih luas, terutama sekali di Asia Tenggara. Teori yang diajukan dalam seminar itu bahwa Indonesia mendapat ancaman dari Utara adalah tidak benar, demikian Presiden berargumentasi berapi-api, karena hal itu dipropagandakan oleh NEKOLIM, yaitu kekuatan-kekuatan imperialisme yang berniat untuk mematahkan kekuatan-kekuatan baru yang muncul di asia. Berdasarkan hal ini, neo-kolonialisme harus ditolak, dan sebaliknya AD Indonesia harus loyal mengikuti garis politik negara-negara Non-Blok itu, yang telah dikemukakan Presiden garis besarnya dalam pidatonya di Kairo tahun 1964. Pimpinan AD hanya memahami peran yang harus dimainkan Indonesia dalam perjuangan revolusioner memerangi Malaysia, ciptaan Nekolim itu dan memahami pentingnya Poros Pyongyang-Peking-Phnom Penh-Jakarta bagi konfrontasi global terhadap kekuatan-kekuatan lama yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan baru.

Seminar TNI-AD yang diselenggarakan di Seskoad Bandung, dari tanggal 2 sampai dengan 9 April 1965 berhasil merumuskan doktrin TNI-AD yang diberi nama “Tri Ubaya Cakti”. lsinya, tiga janji ampuh yang harus diamalkan, yaitu doktrin kekaryaan TNI, doktrin Perang Revolusi Indonesia (Perevindo), dan doktrin pembinaan Perevindo. Kenyataannya, hasil seminar itu tidak terlepas pula dari pengaruh doktrin PKI yang dilakukan oleh para perwira TNI-AD yang pro PKI. PKI berusaha menggantikan doktrin TNI-AD yaitu Doktrin Perang Wilayah/Perang Rakyat Semesta dengan Doktrin Perang revolusioner. (7)

Tiga minggu setelah Seminar, Men/Pangad A. Yani memanggil semua Pangdam pada tanggal 28 Mei 1965. Presiden/Panglima Tertinggi memberikan pengarahannya. Pada hari kedua Men/Pangad menjelaskan bahwa tujuan rapat Panglima ini adalah untuk memantapkan sikap dan persepsi Angkatan Darat terhadap PKI, Nasakom, dan Dwikora. Rapat ini diadakan setelah terjadi Peristiwa Bandar Betsi. Jenderal Yani menilai bahwa peristiwa itu merupakan test-case PKI. Pada kesempatan itu Jenderal A. Yani menyatakan, “Mulai saat ini kita tidak mundur selangkahpun terhadap PKI”. Sejak saat itu sebutan “golongan tertentu” ditegaskan menjadi PKI. Dalam rapat itu beberapa Panglima berbicara. Panglima Kodam VIII/Brawijaya Mayjen Basuki Rachmat mengatakan bahwa rapat ini sebagai titik kulminasi ketegasan (firmness in attitude) terhadap PKI. Pangdam VI/Siliwangi Ibrahim Adjie menyatakan : “Kita perlu sikap tegas terhadap pengertian Nasakom. Yang penting bukan Nasakomnya, tetapi prasangka-prasangka terhadap Angkatan Darat”. (Bahaya Laten Komunis, jilid IV, MABES ABRI, 1996, hal. 141-143)

Sumber:

  1. http://www.kontrakomynis.com
  2. Ceramah Letjen (Pur) Joseph Muskita, pada Direktorat Khusus Lemhannas, Jakarta, tanggal 3 September 1987
  3. Dr. A.H. Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas VI, Jakarta, hal. 140
  4. Diambil dari Amanat PJM Presiden/Pangti pada Pembukaan Seminar AD, Bogar, 2 April 1965
  5. Siapa Menabur Angin, hal. 214
  6. Seminar itu dihadiri oleh delapan Jenderal: Rachmat Kartakusumah, J. Mokoginta, Suwarto, Djamin Gintings, Suprapto, Sutojo, M.T. Harjono, S.Parman (Wawancara dengan Brigjend. Nugroho Notosusanto di Jakarta, 30 April 1971).
  7. Dr. A.H. Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas VI, Jakarta, hal. 140

Iklan