Waspada PKI

Benarkah Markas PKI DI ibukota adalah LBH Jakarta ?

Benarkah Markas PKI DI ibukota adalah LBH Jakarta ?


Ustadz Alfian Tanjung ternyata pernah menyebut markas Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jakarta itu adalah LBH Jakarta. “Markas PKI di Jakarta adalah LBH Jakarta, itu catat Alfian Tanjung yang ngomong,” tegas Alfian saat jumpa pers ”Tolak Simposium PKI di Hotel Aryaduta 18-21 April 2016” yang digagas Front Pancasila di Graha 66 Jakarta, Sabtu (16/4/2016). Menurut Alfian, acara tempat wisata loka karya korban 1965 telah digagalkan oleh pihaknya dan selanjutnya berpindah ke LBH Jakarta. Alfian pun menunjukkan dokumen AD/ART milik korban 1965 yang merupakan hasil kongres terakhir. “Kita tidak bisa membantah AD/ART komunis baru mereka. Ini adalah titik starting bahwa ada gerakan PKI. Dan AD/ART ini merupakan hasil kongres mereka terakhir,”. Misteri sinyalemen ustadz Alfian Tanjung terus bergulir di masyarakat antara mitos dan fakta. Benarkah LBH Jakarta menjadi markas PKI seperti yang dituding tokoh agama Islam itu ?

Sinyalemen Ustads Alfian Tanjung ternyata terus berlanjut hingga kini setahun kemudian. Sejumlah Orang Berunjuk Rasa di LBH Jakarta, Tuding Ada Kegiatan PKI. Massa mendatangi kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta di Jalan Pangeran Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (17/9/2017) malam. Mereka memprotes kegiatan yang sedang diselenggarakan di kantor LBH karena dituding berbau komunis. Suasana di pintu masuk LBH saat itu memanas. Aparat keamanan mengamankan aksi tersebut, dan menahan massa yang berupaya masuk. Belum jelas dari mana masa tersebut berasal. Menurut informasi yang beredar di masyarakat , di LBH dilangsungkan acara seminar “Pelurusan Sejarah 65”. Acara itulah yang diprotes massa itu. Massa pendemo mulai kacau ketika polisi mulai membubarkan mereka. Sebagian merapat ke arah Cikini dan Menteng yang berada di arah berlawanan menuju Salemba. Sebagian ada yang bertahan di tepi kali samping Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan memprovokasi polisi dengan melempari batu. Menjelang pukul 02.40 massa pendemo baru betul-betul dapat dibubarkan, dan situasi mulai kondusif. Benerapa orang tampak ditangkap usai bentrokan itu karena dianggap sebagai provokator. Mereka digiring dari area di sekitar Cinema XXI Metropole, yang berada di persimpangan Cikini-Diponegro ke arah LBH Jakarta.

Seminar ‘Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/66’ di LBH Jakarta, pada Sabtu (16/09), ditunda setelah kepolisian dan sejumlah anggota organisasi masyarakat mencegah acara berlangsung. Acara tersebut, menurut Yunita dari LBH Jakarta, rencananya diikuti akademisi, pejabat pemerintah, dan beberapa korban peristiwa 1965-1966. Secara keseluruhan, peserta seminar berjumlah kurang dari 50 orang. Kapolsek Menteng Ajun Komisaris Besar Ronald Purba berkeras acara dihentikan karena “tidak ada izin”. Tetapi di luar gedung LBH Jakarta tampak massa berorasi menuntut seminar dibubarkan seraya mengusung poster bertulis ‘Anti PKI’ dan ‘Awas PKI Bangkit’. Alasan polisi membubarkan kegiatan tersebut bukan karena kegiatan yang diduga aksi dukungan terhadap PKI tetapi karena tidak ada izin. Tetapi alasan polusi justru dibantah panitia. Panitia mengaku pihaknya memang tidak mengantongi surat pemberitahuan dan surat izin keramaian dari polisi “karena acara seminar diselenggarakan di ruang tertutup dan diikuti kurang dari 50 orang”. Dikutip dari laman resmi Polri, surat izin keramaian harus dibuat apabila ada kegiatan yang mendatangkan 300-500 orang hingga lebih dari 1.000 orang. Adapun surat pemberitahuan wajib disampaikan ke pihak kepolisian apabila suatu pihak hendak menggelar aksi demonstrasi, pawai, rapat umum, dan mimbar bebas di muka umum. “Kami mengecam tindakan polisi karena kalau memang demi ketertiban dan keamanan, kegiatan kami tidak bertentangan. Ini kan sekadar diskusi akademis. Justru orang-orang yang mengancam melakukan kekerasan seharusnya ditindak,” kata Yunita mengacu kepada massa di luar LBH Jakarta yang menuntut seminar dibubarkan. “Jangan sampai ketika kita tidak menyukai sesuatu, kita mengerahkan massa dan menebar fitnah. Yang saya takutkan, kita tak lagi bersandar pada hukum, tapi kepada massa, kekerasan, dan fitnah,” tambahnya.

Ketua PB ANSOR ancam anggotanya yang ikut demo anti PKI

Sementara itu, di antara massa yang menuntut seminar dibubarkan terdapat sejumlah orang yang memakai atribut Gerakan Pemuda Ansor, organisasi yang bernaung di bawah Nahdlatul Ulama. Soal keterlibatan orang-orang itu, Ketua GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, mengatakan mereka telah berjalan “di luar koordinasi”. “Kami akan mengeluarkan peringatan keras kepada mereka. Sebab posisi GP Ansor tidak mendukung maupun tidak menolak acara Seminar 1965 di LBH Jakarta. Silakan saja, wong namanya diskusi,” ujar pria yang akrab disapa dengan sebutan Gus Yaqut itu kepada BBC Indonesia. Menurutnya GP Ansor punya tafsir sendiri atas peristiwa seputar 1965-1966. “Ada fakta yang harus diungkap, kami setuju. Tapi bahwa ada fakta kyai-kyai NU yang dibantai pada waktu itu, harus diungkap dong,” jelasnya.

Iklan

Kategori:Waspada PKI

Tagged as: