10 Berita Dunia

10 Fakta Kisah Kekejaman Terhadap Muslim Rohingya

  1. Ko Ko Linn dari Organisasi Nasional Arakan Rohingya mengatakan, menurut sejumlah penduduk desa, sedikitnya 150 orang dibunuh pasukan keamanan sejak Sabtu. Verifikasi independen atas klaim yang dikeluarkan pemerintah atau aktivis sulit dilakukan karena pemerintah membatasi akses masuk ke kawasan tersebut. “Alasan mengapa kantor-kantor berita internasional dan kelompok-kelompok bantuan tidak diizinkan masuk ke sana adalah karena militer berusaha menutup-nutupi apa yang mereka lakukan di sana, seperti pembunuhan dan lain-lain.” kata Ko Linn melalui telepon. “Mereka berbohong.” Nay San Lwin, blogger yang berbasis di Eropa yang mengamati secara seksama perkembangan kasus Rohingya sejak 2012, mengatakan, laporan-laporan dari jaringan aktivis di Rakhine mengatakan, lebih dari 100 mayat telah ditemukan penduduk desa, sebagian tertutup jerami atau terbakar. Pemerintah Myanmar mengakui menewaskan 25 orang dan memberondong desa-desa kaum Muslim Rohingya dari helikopter tempur.  Tentara Myanmar atau Burma mengaku mereka menembak mati setidaknya 25 orang di desa-desa Muslim Rohingya di kawasan Rakhine yang bergolak, hari Minggu (13/11). Hari Sabtu, tentara mengerahkan helikopter tempur dan menembaki desa-desa di negara bagian Rakhine. Delapan orang, termasuk dua serdadu, tewas. Serangan itu merupakan ‘operasi pembersihan’ yang menyasar kaum militan bersenjata, kata tentara. Gambar dan video di media sosial menunjukkan, korban tewas itu termasuk juga erempuan dan anak-anak.
  2. Media pemerintah berdalih, pengerahan helikopter tempur dilakukan setelah dua tentara dan enam penyerang tewas dalam bentrokan dalam penyergapan terhadap tentara. Beberapa laporan menyebutkan terbakarnya sejumlah desa di kawasan Rakhine. Foto yang dirilis oleh Human Rights Watch tampaknya menunjukkan desa-desa yang hangus, dan menurut kelompok hak asasi itu setidaknya 430 bangunan terbakar. Foto-foto satelit itu diambil antara 22 Oktober dan 10 November, menyusul laporan terjadinya pertempuran dan mengungsinya warga sipil bulan lalu. Tentara Myanmar menyisir kawasan yang dihuni etnis Rohingya
  3. Sebanyak 30 wanita dan anak-anak Rohingnya dilaporkan menjadi korban kekejaman terbaru tentara Myanmar di negara bagian Rakhine, Rabu (16/11/2016).  Korban dikurung dan dibakar hidup-hidup di Kampung Yay Kahe Chaung Khwa Sone di utara Maungdaw. Media Malaysia, Utusan, mengutip situs RB News, melansir berdasarkan keterangan warga setempat, korban yang dikurung coba melarikan diri namun gagal. Organisasi Nasional Arakan Rohingyamengatakan, kekejaman terbaru itu hanya sebagian dari penderitaan yang ditanggung oleh etnis minoritas itu sejak militer Myanmar mengadakan operasi Oktober lalu.  Organisasi Nasional Arakan Rohingyamengutuk sekeras-kerasnya upaya yang disebutnya pembersihan etnis Rohingya. Disebutkan militer Myanmar menggunakan helikopter, meriam dan tank menggempur kampung-kampung etnis Rohingya. “Warga yang coba melarikan diri akan dihalang dan ditembak di sawah-sawah padi dan anak sungai.’‘ “Kampung yang menjadi sasaran tentera adalah Myaw Taung, Dargyizar, Yekhechaung Kwasone, Pwinpyu Chaung, Thu Oo La, Longdun, Kyin Chaung dan Wabaek di utara Maungdaw. Organisasi Nasional Arakan Rohingya memperkirakan sejak ketegangan meletus di Rakhine 9 Oktober lalu, korban Rohingya mencapai 350 orang dan 300 yang lain cedera. “Banyak gadis dan wanita diperkosa sementara lelaki pula ditahan tanpa bukti yang kuat.”
  4. Para aktivis Rohingya mengatakan pemerintah berusaha secara sistematis untuk mengusir minoritas Muslim dari desa-desa mereka. Menyerang Rohingya adalah langkah populer untuk militer, lapor wartawan BBC Jonah Fisher dari kota terbesar Myanmar, Yangon. Itu karena kaum Rohingya tidak disukai oleh banyak orang Burma yang menganggap mereka imigran ilegal dari Bangladesh, katanya pula. Ratusan warga Muslim Rohingya dipaksa mengungsi akibat pertempuran bulan lalu. Maraknya lagi pertempuran dipicu oleh serangan pada tiga pos pemeriksaan polisi sebulan lalu. Pemerintah Burma tidak mengizinkan wartawan independen untuk masuk ke Rakhine, sehingga tidak mungkin untuk memverifikasi klaim tentang skala pertempuran.Menurut pernyataan resmi terbaru pada hari Sabtu, tentara disergap dan kemudian terlibat bentrokan beberapa kali dengan orang-orang bersenjata, yang diperkirakan adalah kaum Muslim Rohingya, yang menyandang senapan, golok dan tombak. Ketika mereka terdesak, dikepung oleh sekitar 500 orang, tentara meminta dukungan udara dan dua helikopter tempur dikerahkan menembaki desa Rohingya. Namun pengakuan ini tak bisa diverifikasi.
  5. Sebanyak 3.500 buah rumah dibakar atau dimusnahkan, yang mengakibatkan hampir 30.000 penduduk kehilangan tempat tinggal. Pihak Bangladesh memperkirakan sebanyak 500 penduduk Rohingya dari Rakhine telah menyeberang ke negara tersebut sejak bulan lalu. Mereka kini ditempatkan di empat kamp sempadan (perbatasan) Bangladesh-Myanmar. Namun pengawal perbatasan Bangladesh, terpaksa menolak kedatangan pelarian Rohingya ke negara itu, Rabu (16/11/2016). “Sebanyak 86 penduduk Rohingya coba memasuki Bangladesh di Teknaf awal pagi semalam dengan menaiki bot. Mereka terpaksa diusir,” kata pegawai pemerintah tentera di Cox’s Bazar di timur Bangladesh, Leftenan Kolonel Anwarul Azim.  Reuters melaporkan kelompok pelarian itu tidak mungkin kembali ke kampung mereka yang masih dipenuhi tentera Myanmar. (Utusan)
  6. Perlakuan terhadap sekitar 1,1 juta Muslim Rohingya di sebagian besar negara Buddha, Myanmar, telah muncul sebagai tantangan terbesar bagi pemimpin nasional, Aung San Suu Kyi. Pada Jumat lalu, dia mengecam penyerangan oleh gerilyawan Muslim yang membawa senjata, tongkat, dan bom rakitan ketika mereka menyerang 30 kantor polisi dan sebuah pangkalan militer. Peraih hadiah Nobel Perdamaian telah dituduh oleh beberapa kritikus Barat karena tidak berbicara mengenai minoritas Muslim yang telah lama dianiaya, dan tetap mempertahankan serangan balasan tentara setelah serangan Oktober 2016. Win Myat Aye, menteri kesejahteraan sosial, mengatakan pada Sabtu malam, 4.000 “penduduk desa” telah dievakuasi dari desa mereka – merujuk pada penduduk non-Muslim di wilayah tersebut. Kementerian tersebut menyediakan fasilitas untuk non-Muslim di tempat-tempat seperti vihara-vihara, kantor pemerintah, dan kantor polisi setempat di kota-kota besar. Belum terdengar informasi yang melaporkan evakuasi khusus penduduk Rohingya, kecuali berita tentang pelarian mereka ke Banglades.
  7. Seorang muslim Rohingya tewas setelah dilempari batu oleh sekelompok umat Buddha di Sittwe, Rakhine, Myanmar, pada Rabu (5/7). Adapun enam muslim Rohingya lainnya luka-luka.  Insiden ini merupakan serangan terbaru yang mengincar etnis Rohingya di negara Asia Tenggara itu. “Seorang Muslim terbunuh dan enam lainnya luka-luka. Dua orang lainnya masih di rawat di rumah sakit,” tutur seorang perwira kepolisian setempat. Menurut laporan media lokal, kejadian ini bermula saat tujuh lelaki Rohingya diizinkan meninggalkan kamp pengungsiannya di pinggiran kota, guna memberikan pernyataan di pengadilan Sittwe mengenai suatu kasus pidana. Setelah menghadiri sidang, pria-pria tersebut meminta seorang polisi mendampingi mereka ke sebuah dermaga terdekat. Di sana, ketujuh pria Rohingya itu bernegosiasi mengenai pembelian sebuah kapal dari seorang pengusaha lokal. “Di dermaga kapal, mereka berargumen dan cekcok mulai berkembang,” bunyi laporan Global Light of Myanmar. “Mereka diserang oleh beberapa orang menggunakan batu bata. Itu lemparan batu yang fatal,” tambah laporan tersebut seperti dikutip AFP. Negara bagian Rakhine yang terletak di barat Myanmar merupakan pusat bentorkan komunal antara etnis mayoritas Buddha dan kaum minoritas Muslim, khususnya Rohingya.
  8. Kaum Rohingya telah lama teraniaya di negara itu. Rohingya pun dibenci oleh banyak kaum mayoritas Buddha Myanmar, yang menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari negara tetangga yakni Bangladesh. Dalam hukum kewarganegaraan Myanmar, negara itu menganggap setidaknya 80 etnis resmi, kecuali Rohingya. Selama ini kebanyakan kaum Rohingya pun tidak diakui status kewarganegaraannya oleh Myanmar.
  9. Tokoh nasionalis garis keras umat Buddha di Myanmar pun secara agresif menolak tindakan apapun yang memberikan mereka kewarganegaraan. Di Bangladesh, kelompok Rohingya pun tidak diakui sebagai pengungsi. Serangan terbaru yang mengincar Rohingya pun kembali terjadi sejak Oktober lalu, saat insiden di pos perbatasan terjadi yang menewaskan 9 polisi. Militer Myanmar menuding teroris Rohingya yang melakukannya. Alih-alih memburu pelaku, militer diduga malah menyiksa serta membunuh kaum Rohingya di Rakhine hingga menewaskan sedikitnya 80 orang. Pemerintahan penasihat negara Aung San Suu Kyi pun tak lepas dari kecaman dunia internasional. Peraih Nobel Perdamaian ini pun dianggap gagal melindungi Rohingya yang merupakan warga negaranya. Myanmar bahkan menolak akses bagi tim pencari fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM terhadap kaum Rohingya.
  10. Seorang warga Muslim Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar telah memberikan deskripsi grafis dari pembunuhan, pemerkosaan dan pembakaran rumah oleh tentara Mynamar. Militer Myanmar dituduh datang dan melakukan pembunuhan tanpa ampun terhadap warga Rohingya di negara bagian Rakhine. Pengungkapan warga Rohingya yang berhasil melarikan diri ke Bangladesh ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa pembersihan etnis sedang berlangsung di Rakhine oleh militer Myanmar. ”Mereka datang dan membunuh tanpa ampun. Mereka membakar rumah kami. Tidak ada seorang pun di sana untuk menyelamatkan kita,” kata Osman Gani, seorang guru bahasa Arab dari komunitas Muslim Rohinya kepada Associated Presssetelah berenang melintasi Sungai Naf untuk memasuki Bangladesh di dekat pelabuhan Cox Bazar. Gani bahkan menunjukkan bukti video klip yang dia rekam dari ponselnya tentang kekerasan yang terjadi di Rakhine. ”Mereka (militer Myanmar) menindas kami dan menembaki kami dari pesawat,” kata Gani, yang dilansir Jumat (9/12/2016). ”Orang-orang tewas di depan rumah saya. Mereka mengejar gadis-gadis dan menembaki mereka. Dan mereka membakar banyak orang. Mereka membakarnya di depan rumah saya,” ujar Gani. Gani bersembunyi dengan keluarganya selama seminggu sebelum tentara Myanmar mencari mereka pria yang identitasnya Rohingya. ”Saya tidak punya pilihan selain meninggalkan (keluarga saya) di belakang. Saya datang ke tepi sungai dan mulai berenang,” katanya. Gani adalah salah satu dari sekitar 15 ribu Rohingya yang telah tiba di Bangladesh pada bulan lalu. Dia bergabung dengan 500 ribu orang lainnya yang sudah tinggal di kamp-kamp perbatasan kumuh di Bangladesh. Beberapa laporan dari warga Rohingya yang belum dikonfirmasi menyatakan bahwa militer Myanmar telah melepaskan tembakan terhadap warga sipil dari helikopter tempur, termasuk bayi yang terkena tembakan. PBB memperkirakan bahwa hingga 30 ribu warga Rohingya telah meninggalkan rumah mereka dalam beberapa pekan terakhir setelah militer “mengunci” ketat Rakhine, menolak masuk badan-badan bantuan kemanusiaan, wartawan dan pengamat independen.
Iklan