Tak Berkategori

Misteri Pembacokan Hermansyah Saksi Ahli HRS

Hermansyah pernah menjadi narasumber di acara Indonesia Lawyer Club TV One. Saat itu dia menyatakan chat Rizieq Syihab dan Firza Husein hasil rekayasa. Hermansyah dibacok lima orang pada Minggu, 9 Juli 2017, sekitar pukul 04.00 WIB. Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Tol Jagorawi Kilometer 6 ruas Taman Mini Indonesia Indah dengan jalan tol lingkar luar (Jakarta Outer Ring Road).  Korban yang menggunakan Toyota Avanza B-1086-ZFT sedang melaju dari arah Jakarta menuju Depok. Pelaku diperkirakan berjumlah lima orang. Satu pelaku diduga menggunakan senjata tajam. Setelah membacok Hermansyah, pelaku kabur.Sampai sejauh ini, sudah ada empat pelaku yang ditangkap. Dari pengakuan para pelaku, mereka mengeroyok dan menganiaya Hermansyah dipicu dari senggolan mobil. Sebelum kejadian, salah satu mobil yang dikemudikan dakui pelaku menyenggol mobil yang dikemudikan Hermansyah. Tetapi ternyata senggolan mobil itu dibantah oleh korban  Hermansyah kemudian menghentikan mobil yang menyenggolnya itu. Saat turun dari mobil itu, ia terlibat cekcok dengan sang sopir, yakni Edwin Hitipeuw (37).

Misteri Pembacokan Hermansyah Saksi Ahli HRS

  • Pengamat kepolisian Anton Tabah Digdoyo menyesalkan pernyataan salah satu anggota polisi bahwa penganiayaan terhadap pakar IT ITB Hermansyah karena senggolan kendaraan di jalan tol. Seharusnya polisi tidak boleh berspekulasi sebelum melakukan penyelidikan kasus itu. Akan tetapi bagi polisi, kata Anton yang juga anggota Dewan Pakar ICMI Pusat ini, ketika menangani kasus kejahatan ada tiga pantangan yang harus dihindari. Pertama polisi tidak boleh berasumsi bahwa kasus ini karena begini dan begitu.”Jika asumsi dilakukan sebelum penyelidikan dan penyidikan hasilnya tidak obyektif,” kata Anton kepada Republika.co.id, Senin (10/7). Kedua kata Anton jangan beropini tentang kasus yang belum dilakukan penyelidikan. Karena polisi tugasnya menyidik pro yustisia untuk di pengadilan. “Kalau baru dilakukan penyelidikan, polisi beropini apalagi jika opininya bertentangan dengan publik akan makin runyam,” katanya. Ketiga jangan memutuskan kasus yang baru diterima, belum dilakukan gelar perkara langsung diputus kasus tersebut tidak penuhi unsur pidana. Menurut Anton yang juga dikenal sebagai intelektual Polri dan telah menulis lebih dari 40 buku ini menjelaskan, tugas penyidik itu membuat terang suatu perkara. “Apalagi jika korbannya terkait dengan kasus besar yang jadi atensi publik seperti menimpa Novel baswedan dan kini menimpa Hermansyah,” ujarnya. Jika melihat hal itu kata Anton pantas jika masyarakat melihat kasus yang menimpa Hermansyah dikaitkan dengan apa yang dilakukan kedua korban sebelumnya karena itu kontra produktif bahkan anti sosial jika beropini itu hanya kasus biasa. Untuk itu Anton mengingatkan agar polisi menjauhi tiga pantangan, apalagi terhadap kasus-kasus yang memiliki derajat keresahan publik sangat tinggi seperti kasus Hermannyah dan Novel Baswedan Penyidik KPK.”Rakyat berharap Polri cepat tangkap pelakunya dan ungkap tuntas kasusnya,” katanya. [www.tribunislam.com]
  • Pihak keluarga dari Hermansyah meminta kepolisian untuk tidak langsung menyimpulkan kasus pengeroyokan terhadap Hermansyah semata-mata karena masalah senggolan mobil. Juru bicara keluarga Hermansyah, Ikhwan menyatakan kepolisian harus mengumpulkan lebih dulu semua bukti dan baru kemudian menyimpulkan. “Jangan membuat kesimpulan ini biasa, tidak sengaja, tidak direncana. Itu harus ada pembuktian. Lakukan pembuktian hukum,” kata Ikhwan saat dihubungi, Kamis (13/7/2017). Hermansyah adalah pakar telematika yang menjadi korban pengeroyokan di Km 6 Tol Jagorawi arah Bogor di wilayah Cipayung, Jakarta Timur. Tak lama kemudian, rekan-rekan Edwin yang lain datang dan menganiaya Hermansyah hingga menyebabkannya bersimbah darah. Sampai saat ini, Hermansyah masih dirawat di RSPAD Gatot Subroto. Ikhwan menyebut Hermansyah belum bisa diajak berkomunikasi. “Tim pengamanan khusus rumah sakit juga dilarang berkomunikasi yang dapat mengganggu kesehatan Pak Hermansyah,” ujar Ikhwan
  • Lauren Paliyama (31), mengaku membawa pisau untuk menjaga diri. Lauren merupakan penusuk pakar telematika dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Hermansyah.”Pisau itu saya untuk jaga-jaga saja,” ujar Lauren, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (13/7/2017). Lauren menuturkan, pisau yang digunakan untuk menusuk Hermansyah merupakan pisau dapur. Dia memperkirakan pisau itu memiliki panjang 20 sentimeter. Menurut Lauren, usai menusuk Hermansyah dia membuang pisau itu tidak jauh dari lokasi kejadian. Dia membuang pisau itu untuk menghilangkan barang bukti. “Masuk rest area Cibubur. Saya lempar,” kata Lauren. Pengeroyokan itu bermula ketika Hermansyah bersama istrinya, Irina, melintas di Tol Jagorawi arah ke Bogor mengendarai mobil Toyota Avanza pada Minggu (9/7/2017) dini hari. Saat di dalam tol, mobil Hermansyah disalip dan tersenggol oleh mobil Honda City yang dikemudikan Edwin. Tidak terima mobilnya tersenggol, Hermansyah langsung mengejar mobil Edwin. Hingga akhirnya di KM 6 Tol terjadilah percekcokan. Tiba-tiba, dari arah belakang, datang Lauren dan rekannya dengan menggunakan mobil Toyota Yaris dan langsung menyerang Hermansyah dengan pisau. Saat Hermansyah tersungkur, para pelaku langsung melarikan diri. Hermansyah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Hermina, Depok, oleh sang istri.
Iklan

Kategori:Tak Berkategori