Kontroversi

Jokowi: Ndeso Rendahkan Rakyat Kecil. Polisi Anggap Tak Masalah


Jokowi: Ndeso Rendahkan Rakyat Kecil. Polisi Anggap Tak Masalah

Ketika istilah Ndeso menjadi viral di jagad Indonesia maka penegak hukum dengan cepat dan tegas menyatakan bahwa tidak ada yang salah dengan istilah ndeso.  Sehingga Kaesang putra Presiden Jokowi yang tercinta bebas dari dakwaan pelaporan ujaran kebencian. Polisi dan kelompok tertentu melakukan pembenaran bahwa tidak ada yang salah dengan istilah yang diskriminatif itu. Tetapi ternyata Presiden Jokowi pernah merasa terhina karena cibiran ndeso dulu banyak  diterimanya. Sehingga Jokowi mengingatkan bahwa istilah Ndeso sangat merendahkan dan melukai hati rakyat kecil serta dirinya yang pernah dihina dengan kata “penampilan ndeso”.  Ternyata fenomena zaman kerajaan baheula terjadi lagi di Indonesia. Saat yang melakukan hamba sahaja adalah perbuatan haram dan terlarang. Tetapi saat yang melakukan anak raja dianggap tidak salah dengan banyak pembenaran. Dampaknya saat sangat memprihatinkan. Ujaran Ndeso dianggap tidak salah, dianggap baik dan menjadi populer secara bebas digunakan berlebihan oleh warga masyarakat di media sosial dan media televisi untuk menghina dan memperolok saat tidak menyukai atau tidak sependapat dengan orang lain atau kelompok tertentu. Padahal keretakan 2 kelompok besar dalam masyarakat paska kejadian penistaaan agama oleh Ahok sempat mereda menjadi bergejolak lagi. 

Istilah Ndeso menjadi memanas ketika Kaesang Pangarep menyebutkan kalimat yang dianggap mengandung provokasi dan kebencian. “Mengadu-adu domba dan lmengkafir-kafirkan, gak mau mengikatkan padahal sesama Muslim karena perbedaan dalam memilih pemimpin. Apaan coba? Dasar ndeso,” kata Kaesang yang diunggah di youtube dan menjadi viral. Ternyata salah satu “kaum ndeso” ada yang merasa terhina dan melaporkannya ke polisi atas dugaan penodaan agama dan ujaran kebencian. 

Seperti biasa polisi secara profesional dengan cepat menindaklanjuti laporan itu apalagi masalah itu sudah sangat menghebohkan dunia persilatan media sosial dan melibatkan orang nomer satu di replubik ini. Kapolda Metro Irjen M Iriawan dengan sigap dan cepat menyatakan akan siap menindaklanjuti pelaporan tersebut. Kapolda dengan tegas mengatakan Kapolda berjanji selain memanggil pelapor, polisi akan meminta pendapat saksi ahli. Keterangan ahli dibutuhkan guna memutuskan ada-tidaknya unsur pidana dalam laporan itu. Seperti yang banyak diduga kehebatan polisipun berlanjut dalam waktu yang sangat cepat tanpa memanggil pelaku dan belum bisa menghadirkan pelapor Wakapolri langsung memutuskan bahwa  tidak akan memproses laporan “wong ndeso” yang merasa terhina terkait dengan dugaan penodaan agama dan ujaran kebencian karena dianggap mengada ada. Wakapolri  menjelaskan, ujaran kebencian yang ditujukan ke Kaesang hanya bersifat gurauan (guyon). Apalagi istilah “Ndeso” yang diperkarakan dianggap merupakan gurauan umum di masyarakat. Seperti biasa saat ada isu besar muncul, NKRI yang dulunya solid dan damai menjadi terbelah jadi 2 kelompok besar sosial politik yang berseteru. Ketika yang dibela kelompoknya maka mereka saling bersilat lidah tanpa menggunakan rasio sehat lagi dengan melakukan pembenaran sedangkan kelompok lain berusaha mencari celah kesalahan. 

Para pendukungpun langsung melakukan pembenaran bahwa istilah ndeso itu adalah istilah yang biasa digunakan rakyat sejak dahulu kala tidak pernah dipermasalahkan serta halal untuk diucapkan. Para pembenarpun mengatakan bahwa tukul sang Raja komedian juga sering melakukannya juga dianggap wajar. Tetapi para pencari kesalahanpun tidak mau kalah. Mereka berburu pada kamus atau pendapat ahli bahwa ndeso berkonotasi negatif bila digunakan untuk menghina fisik, pendapat dan perilaku orang lain yang dianggap berbeda dengan orang yang mengucapkan. Konotasi negatif ucapan “dasar ndeso”  tidak jauh berbeda dengan  kampungan, dasar udik atau norak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI 2008: 228) kata ”kampungan (N) didefinisikan sebagai hal yang berkaitan dengan kebiasaan di kampung atau desa; terbelakang (belum modern); kolot; atau tidak tahu sopan santun; tidak terdidik; kurang ajar; berandalan.. Sampai derik ini kontroversi mana yang baik dan benar masih menjadi debat kusir bukan tergantung rasional berpikir yang sehat tetapi karena kepentingan ego masing masing.

Tetapi ternyata para pembenar dan pendukung Kaesang menjadi terhenyak ketika presiden Jokowi yang kita hormati dan kita banggakan semua, justru berpihak pada kelompok bahwa istilah ndeso itu termasuk hinaan dan ujaran kebencian.  Saat kampanye Pilpres Jokowi meminta setiap pihak untuk tidak lagi mengejek dengan menyebutkan ‘ndeso’ karena itu sama saja merendahkan rakyat kecil. Jokowi meminta pihak-pihak yang sering mengejeknya karena penampilan dan wajahnya dengan sebutan ‘ndeso’ agar berhati-hati karena ungkapan tersebut sama saja mengejek seluruh masyarakat desa. Bahkan karena ejekan itu terhadap Jokowi dengan emosional Jokowi mengatakan”Banyak yang menjelekkan saya, katanya wajah saya wajah ‘ndeso’, artinya menjelekkan orang desa kan. Hati-hati itu artinya meremehkan kita semua kan,” kata Jokowi saat kampanye Pilpres menghadiri acara Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Lapangan Tegalega, Bandung, Jawa Barat, Kamis (3/7/2014) swpwrti yang dilansir antaranews.com. Jokowipun saat itu curhat pada pendukungnya karena merasa dihina dan direndahkan. Karena penampilannya yang dicitrakan sangat sederhana dan wajahnya yang sederhana selama ini dihina disebut ndeso. Tetapi Jokowi tetap berusaha merendah, namun hal itu justru membuat orang lain merasa leluasa menginjak-injak harga dirinya dengan beragam ejekan dan fitnah. Tetapi dengan meradang saat itu Jokowi mengingatkan jangan lagi menghina dengan kata Ndeso karema dirinya dan masyarakat desa merasa terhina. Seketika para pembenar yang batil itupun bukan hanya terhenyak tetapi berpikir ulang dan tersadar bahwa selama ini yang dianggap guyonan dan dianggap biasa oleh Kaesang, Tukul, dan para penegak hukum ternyata melukai perasaan Jokowi dan masyarakat desa.

Melihat huru hara istilah ndeso tersebut di Indonesia saat ini akan menjadi fenomena unik dan aneh. Hal ini mengingatkan pada cerita kerajaan atau jaman pra demokrasi dahulu kala. Ketika seorang hamba sahaja yang meneriakkan hinaan atau ujaran kebencian itu terhadap sang Raja dianggap terlarang. Tetapi ketika anak Raja atai bangsawan yang mengucapkan pada rakyatnya maka para hulubalang dan para pendukungnya menganggap hal yang biasa dan bukan hal yang haram. 

Mungkin rakyat saat ini tidak usah mempermasalahkan sangsi hukum bagi terduga pelaku hinaan dan ujaran kebencian karena “kaum ndeso” pasti pesimistis agar kasus hukum itu untuk ditindaklanjuti. Tetapi paling tidak harus dimunculkan pikiran positif bahwa fenomena aneh itu dapat dijadikan pelajaran moralitas bagi bangsa ini. Zaman kerajaan zaman dulu bisa saja sangsi pelanggaran moral, etika dan hukum hanya berlaku untuk rakyat tidak berlaku untuk keluarga raja dan bangsawan.  Ketidakadilan sangsi moral, etika dan hukum itu akhirnya memaksa membalik keadaan bahwa yang hak dan batil dianggap benar dan yang benar dianggap salah. Ketika menghina raja dengan hinaan dan ujaran kebencian kata ndeso dianggap halal dan boleh dilakukan. Jangan kaget saat ini umpatan yang kasar dan bagi orang berbudaya akan merasa jengah ketika ujaran kebencian ” Dasar Ndeso” semakin banyak berseliweran untuk menghakimi orang dan kelompok yang berbeda pendapat. 

Tampaknya fenomena ini mengingatkan berbagai cerita kerajaan zaman dulu pernah terjadi. Ketika anak raja dan para hulubalang kerajaan suatu ketika mulai tidak patuh pada rajanya. Ketika sang Raja bertitah bahwa ejekan, hinaan dan ujaran kebencian jangan lagi dilakukan karena merendahkan rakyat kecil. Tetapi tampaknya titah sang Raja tidak dipatuhi dan dilawan oleh anak raja, para hulubalangnya dan para pendukung setianya.  Mereka masih bersikeras menentang sang raja dengan segala macam pembenaran bahwa hinaan itu hal biasa dan merupakan guyonan. Rakyat menjadi bingung. Dalam kebingungannya, seperti biasa rakyat hanya bisa bersabar dan berdoa sambil menunggu sikap dan titah raja berikutnya. Apakah sang raja akan menghukum anak Raja, Para hulubalang dan rakyat pendukung setia yang melawan titahnya ? Atau malah Sang Raja akan menghukum rakyat yang mempermalukan anaknya ?

Tampaknya cerita raja jaman dahulu kala akan berbeda dengan pemerintahan Indonesia dan rakyat Indonesia saat ini. Indonesia saat ini dikelola oleh presiden yang ditampilkan sangat sederhana tetapi  jujur, bermoral dan santun dan sangat menjunjung tinggi hukum serta bersikap sangat demokratis. Demikian juga sang anak adalah remaja yang cerdas, sopan, bermoral dan sangat inspiratif nantinya diharapkan generasi penerus bangsa yang tangguh dan  bisa diandalkan. Demikian juga para penegak hukum di Indonesia saat ini adalah penegak hukum sejati yang taat hukum dan tidak pernah membeda bedakan kaya-miskin atau rakyat-penguasa di depan hukum dan keadilan. Begitu juga para pendukung setia presiden adalah manusia yang mempunyai akal pikiran yang jernih dan sehat. Mereka selalu mendukung kebaikan dan akan selalu mengingatkan bila ada keburukan yang dilakukan pemimpinnya. Pendukungnya adalah pendukung yang obyektif berdasarkan rasionalitas tidak berdasarkan kepentingan partai, kelompok atau kepentingan sekotak nasi. Begitu juga kelompok lainnya yang dianggap selalu mencari cari kesalahan pemimpinnya. Tampaknya bangsa ini harus mendukung hal positif dari presiden, ulama dan elit bangsa dan mengubur dalam dalam hal negatif yang ada.  Bila itu terjadi maka ujaran Ndeso atau kampungan yang selama ini dianggap biasa dan guyonan itu tidak akan lagi melukai perasaan Presiden Jokowi. orang desa atau manusia yang berpenampilan “Ndeso” di seluruh pelosok negeri ini. Bila itu terjadi maka Indonesia akan menjadi NKRI yang damai dan tidak dipenuhi kebencian seperti beberapa tahun sebelumnya.

Iklan