10 Tokoh Indonesia

Gamis, Jenggot dan Surban Menjadi Bahan Olokan Padahal itu Ciri KH Hasyim Asyrie dan Para Kyai Kita

Gamis, Jenggot dan Surban Menjadi Bahan Olokan Padahal itu Ciri KH Hasyim Asyrie dan Para Kyai Kita
Saat ini Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Agil Siraj tidak bosan-bosannya melontarkan stigma tajam terhadap sosok muslim yang berjenggot panjang, bersorban, bergamis, dan berjrnggot. Mengherankan saat bicara soal radikalisme dan terorisme, kenapa sampai harus menyindir, mencela dan menyudutkan identitas Muslim yang sesungguhnya disunnahkan Rasulullah Saw. Entah kenapa, seorang Said Agil Siraj menjadi alergi dan anti terhadap sosok muslim berjenggot panjang, bersorban dan bergamis? Apa hubungannya identitas muslim itu dengan radikalisme, terlebih terorisme. Ternyata hal itu menjadi bahan olokan oleh sebagian tokoh di Indonesia dan sebagian masyarakat yang memperolok jenggot, surban dan gamis sebagai budaya arab yang tak pantas digunakan di Indonesia.

Ketua PBNU itu mengatakan, berjenggot panjang, memakai sorban dan bercelana di atas tumit, itu bagus. Tapi hal-hal yang bersifat simbolik itu tidak cukup untuk dinilai bahwa dia telah mengamalkan ajaran Islam. “Ulama terdahulu, seperti Imam Syafi’I, al-Ghazali, Ibnu Sina, dan sejumlah tokoh Islam terkemuka lainnya juga punya jenggot panjang dan memakai sorban. Namun, sekali lagi, Islam tidak cukup hanya dengan jenggot dan sorban saja. Sebab, ajaran Islam sangat luas dan tidak bisa diwakili hanya dengan simbol belaka,” kata Kiai Said. Tentu kita sepakat, bagi seorang muslim, keimanan yang hanya dibalut dengan simbol-simbol tidaklah cukup. Orang yang telah beriman harus disempurnakan dengan amal dan ibadah yang baik, serta perilaku yang terpuji (akhlakul karimah). Tapi, satu hal, KH. Said Agil Siraj tak perlu mengucapkan berkali-kali, hingga tanpa ia sadari ataupun disadari, sesungguhnya ungkapannya yang terkesan tendensius itu pada akhirnya dapat membentuk opini publik, seolah seorang muslim yang berjenggot, jidat hitam dan celana cingkrang itu identik dengan Salafi-Wahabi, kelompok Islam Ekstrem, dan berbagai stigma buruk lainnya. Padahal tokoh Pendiri NU KHM Hasyim Asyrie juga berjenggot, bergamis dan bersurban seperti foto asli yang ditemukan anak cucu keturunannya.

Foto sangat langka tentang KH M Hasyim Asy’rie ditemukan. Ternyata foto ini tidak akan mengubah stigma akan sorban, jenggot, dan jubah yang selama ini telah menjadi pakaian keseharian para kyai kita. Terakhir ini profil Kyai Indonesia itu sering diperolok oleh segelintir tokoh umat Indonesia yang menganggap itu budaya Arab yang tidak harus diikuti umat muslim Indonesia. Uniknya terdapat upaya untuk memgaburkan stigma tersebut dengan menampilkan foto tokoh pendiri NU dengan tidak berjenggot. Foto asli tersebut berasal dari arsip foto ‘Almaghfurlah wa Murobbina’ KH Amir Ilyas dari Pesantren Guluk-guluk Madura. Arsip tersebut ditemukan atau dibongkar oleh cucunya yang bernama KH Mubassyir Sa’di pada tanggal 2 Syawal 1438 H.


Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy’arie bagian belakangnya juga sering dieja Asy’ari atau Ashari adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Di kalangan Nahdliyin dan ulama pesantren ia dijuluki dengan sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru.
K.H Hasjim Asy’ari adalah putra ketiga dari 10 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asy’ari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Sementara kesepuluh saudaranya antara lain: Nafi’ah, Ahmad Saleh, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Berdasarkan silsilah garis keturunan ibu, K.H. Hasjim Asy’ari memiliki garis keturunan baik dari Sultan Pajang Jaka Tingkir juga mempunyai keturunan ke raja Hindu Majapahit, Raja Brawijaya V (Lembupeteng).  Ia menikah tujuh kali dan kesemua istrinya adalah putri dari ulama. Empat istrinya bernama Khadijah, Nafisah, Nafiqah, dan Masrurah. Salah seorang putranya, Wahid Hasyim adalah salah satu perumus Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Menteri Agama, sedangkan cucunya, Abdurrahman Wahid, menjadi Presiden Indonesia.

    Iklan