*Demokrasi

10 Fakta Keanehan Kasus Penyiraman Air Keras Penyidik KPK Novel Baswedan, Antara Jelas dan Kabur ?

10 Fakta Keanehan Kasus Penyiraman Air Kersa Penyidik KPK Novel Baswedan, Antara Jelas dan Kabur ?

Sudah beberapa bulan pasca penyiraman air keras pada penyidik senior KPK Novel Baswedan, TETAPI Polri yang pada beberapa kasua lainnya sangat pintar dan profesional kali ini masih kesulitan mencari siapa pelakunya. Padahal banyak dugaan motif, fakta dan bukti permulaan sudah mendekati pada pelaku tetapi tetap saja kesulitan. Fakta tetsebut diantaranya kasus kunci melihat pelaku dan pwmilik sepeda motor pelaku adalah anggota polisi Dan motifnyapun mungkin bisa diduga bahwa Novel Baswedan adalah penyidik senior KPK yang sedang membongkat kasus korupsi yang nelibatkan banyak pejabat negwri ini termasuk aebagian bwsar anggota dan pimpinan DPR. Penyingkapan kasua tersebut tampkan antarabjelas dan kabur. Banyak data yang diungkap tetapi kasuanya tetap semakin kabur.

Penyerangan terhadap Novel diduga dilakukan oleh laki-laki, yang menumpangi sepedamtor matic pada April lalu. Novel diserang dengan cara disiram air keras, saat ia tengah pulang ke kediamannya di kawasan Kelapa Gading Jakarta Timur, usai menunaikan ibadah shalat subuh. Polisi berkali-kali menangkap orang yang diduga terlibat pejahatan tersebut, belakangan orang-orang yang ditangkap Polri akhirnya dilepaskan. Sampai saat ini, belum ada pengumuman resmi dari Polri soal siapa pelaku di balik kejahatan tersebut.

10 Fakta Keanehan Kasus Penyidik KPK Novel Baswedan

  1. Novel Berandil besar dalam penyingkapan kasus korupsi E-KTP.Sidang kedelapan kasus korupsi e-KTP sudah digelar di PN Tipikor, Jakarta, Senin 10 April 2017. Dalam sidang yang merugikan negara Rp 2,3 triliun itu, jaksa KPK menggali proses pengadaan proyek e-KTP dengan total anggaran Rp 5,9 triliiun. Dalam mengungkap kasus ini, penyidik senior KPK Novel Baswedan memiliki andil besar. Dia yang memeriksa anggota DPR dari Fraksi Hanura Miryam S Miryani. Dalam persidangan, Miryam mengaku diancam penyidik KPK saat diperiksa untuk memberikan keterangan terkait e-KTP sehingga menandatangani BAP. Namun pengakuan Miryam itu dibantah oleh Novel. Bahkan dia mengungkapkan adanya tekanan terhadap Miryam dari sejumlah anggota DPR. “Beliau disuruh oleh pihak yang dikatakan adalah anggota Komisi III DPR untuk tidak mengakui fakta menerima dan membagi-bagi uang. Yang bersangkutan dikatakan kalau sampai mengaku, nanti dijebloskan,” ujar Novel Baswedan di hadapan Majelis Hakim, Kamis 30 Maret 2017. Novel mengatakan, sempat meminta agar mantan anggota Komisi II DPR Miryam S Haryani mengembalikan uang yang diterima dari pengadaan e-KTP, yang berujung korupsi e-KTP. Permintaan itu disampaikan kepada Miryam lantaran politikus Partai Hanura itu sempat mengakui menerima uang. “Saya beritahu terkait uang yang diterima, untuk semakin memperjelas sikap kooperatif dan kewajiban sebaiknya dikembalikan,” ujar Novel saat bersaksi dalam persidangan perkara korupsi e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (30/3/2017). Permintaan tersebut Novel sampaikan pada saat pemeriksaan terakhir Miryam, 24 Januari 2017. Menurut Novel, saat itu Miryam enggan mengembalikan karena mendapat ancaman dari rekan-rekannya sesama anggota DPR. “Yang bersangkutan (Miryam) bilang ‘kalau dikembalikan habis saya sama kawan-kawan saya di DPR’,” kata Novel menirukan pernyataan Miryam. Novel Baswedan mengatakan, ada enam orang yang diduga menekan Miryam S Haryani agar tidak mengakui fakta menerima uang proyek e-KTP. “Ada enam, pertama Bambang Soesatyo, Aziz Syamsudin, Desmond J Mahesa, Masinton Pasaribu, Syarifudin Suding. Satu lagi saya lupa namanya,” kata Novel.(liputan6)
  2. Times sebut ada jenderal Polisi terlibat. Majalah Time di edisi terbarunya mempublikasikan hasil wawancara dengan penyidik Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan tentang kasus penyiraman air keras ke wajahnya, dua bulan lalu. Berdasar wawancara yang dilakukan di Singapore General Hospital, Singapura, 10 Juni 2017, Novel mengaku mendapat informasi dari seseorang tentang dugaan adanya jenderal polisi yang diduga terlibat dalam penyiraman air keras ke wajahnya, 11 April 2017 di dekat kediaman Novel Baswedan di Kelapa Gading, Jakarta Utara. (Tribunnews)
  3. Motor pelaku Milik Polisi, tapi masih sulit cari pelakunya. Hingga hari ke-56 pasca penyiraman air keras pada Novel Baswedan, Polri masih kesulitan mencari siapa pelakunya. Polisi mengklaim hingga saat ini keberadaan dan ciri-ciri pelaku masih gelap. “Masih gelap, belum dapat indikasi apapun,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (6/6).  Setyo mengatakan, dugaan pelaku penyiram yang menggunakan sepeda motor kini sudah diketahui pemilik motor tersebut. Pemiliknya merupakan anggota polisi Polda Metro Jaya, yakni Yusmin. Menurut Setyo, Yusmin  memang kerabat dari dua orang yang sebelumnya pernah dimintai keterangan oleh penyidik. Dua orang tersebut yakni Hasan Hunusalela dan Mukhlis Ohorella. “Jadi begini, si Mukhlis dan Hasan itu kan informan, dan Yusmin sama mereka itu satu kampung dari daerah timur sana,” katanya. Namun, hasil pemeriksaan penyidik bahwa Hasan dan Mukhlis tidak berada di lokasi kejadian pada saat peristiwa penyiraman itu terjadi. Keduanya berada di Malang dan Bogor. “Muklis dan Hasan sudah dibuktikan saat kejadian dia ada di Malang dan Bogor. Itu orang melihatnya beberapa hari sebelum kejadian,” kata dia. Yusmin juga sudah meminta keterangannya. Namun, hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa Yusmin juga tidak ada kaitannya dengan penyiraman di depan masjid di dekat rumah Novel di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara itu. “Yusmin juga diperiksa. Enggak ada (kaitannya),” jelas dia. Dia juga membenarkan bahwa motor yang terekam dalam kamera tersebut adalah motor anggota. Hanya saja, pada saat kejadian kedua orang yang menggunakan motor tersebut tidak berada di loaksi. “Ya motor Yusmin. Itu kan sudah beberapa hari lalu. Sudah dari awal diperiksa, dia sudah menyatakan satu di Malang dan Bogor. Alibinya kuat,” katanya.
  4. Saksi Kunci kasus. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan keterangan saksi kunci inisial E belum mampu mengungkap pelaku penyiram air keras Novel Baswedan.  Argo mengatakan E adalah tetangga penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu. E, sebut Argo telah diperiksa polisi lantaran mengaku punya bukti melihat diduga pelaku penyiram Novel.  “(Keterangan E) belum menjadi petunjuk,” kata Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (22/6).  Argo mengatakan, sebelum insiden penyiram air keras, E berada di masjid tempat Novel menggelar Salat Subuh. Kala itu, kata Argo E sempat melihat seseorang yang tengah menunduk dan bahkan mengenali wajahnya. Namun demikian, kata Argo keterangan E ini menjadi rujukan dalam membuat sketsa wajah. Kemudian disesuaikan dengan keterangan 50 saksi lainnya untuk mencocokan ciri-ciri pelaku. “Nanti kami cek kembali, kami gambarkan. Kami buatkan sketsanya,” kata Argo. 
  5. Saksi kunci melihat betul pelaku. Polisi saat ini tengah memeriksa seseorang yang disebut sebagai saksi kunci dalam kasus penyiraman air keras ke wajah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan. Menurut Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto pihaknyabelum mengetahui berapa lama atau berapa kali pemeriksaan harus dijalani saksi yang dirahasiakan identitasnya tersebut. Menurut Setyo, saksi itu melihat betul pelaku sehingga bisa mengidentifikasi ciri-cirinya.  “Nanti mungkin pemeriksaan pertama, nanti ada pemeriksaan tambahan karena yang bersangkutan melihat betul pelaku jadi bisa mengidentifikasi dan melihat ciri-ciri yang bisa ditindaklanjuti teman-teman Inafis untukk me-recognize seperti apa mukanya. Dari sketsa mungkin bisa jadi gambaran utuh,” kata Setyo, Rabu (21/6/2017). Selain mendapatkan saksi kunci yang berpotensi memberi petunjuk mengarah pada pelaku,menurut Setyo, dalam waktu dekat pihak penyidik juga akan memintai keterangan Novel di Singapura. Selama ini, polisi belum bisa memintai keterangan Novel untuk dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan dengan alasan tidak mendapat izin dari dokter yang menanganinya. Namun, menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M. Iriawan pihaknya sudah pernah berkomunikasi dengan Novel. Selain dengan Novel, pihaknya juga menggandeng KPK. Kedua belah pihak menjalin komunikasi dan saling mengabarkan perkembangan terakhir terkait kasus ini. “Tim lagi bergerak, kita sudah sepakat dari KPK melakukan penggandengan tetapi bukan joint investigation ya,” kata Setyo. Menurut Iriawan, pemecahan kasus ini menjadi sulit karena berbeda dengan sejumlah kasua lain yang memiliki bukti cukup jelas. Pada.kasus Novel, sejumlah bukti seperti cctv dan cangkir yang diduga digunakan sebagai wadah cairan untuk menyiram Novel tidak cukup untuk menuju ke pelaku. Hingga saat ini, kepolisian telah memeriksa sekitar 56 orang saksi terkait kasus ini.
  6. Kecurigaan pada polisi. Kordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Yati Andriyani. Kepada wartawan di kantor Kontras, Jakarta Pusat, mengatakan kekecewaan sang penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu, karena Polri tidak kunjung bisa mengungkap, siapa dibalik penyerangan terhadap dirinya itu. “Sudah berbulan-bulan tidak ada penyelesaian kasus Novel,” katanya. “Yang terjadi kan sekarang banyak ketidakpercayaan, kecurigaan, kenapa kasus seorang Novel, penyidik KPK, kejahatannya jelas terlihat terjadi, barang buktinya ada, itu tidak bisa ditindaklanjuti, apakah ada sesuatu di internal kepolisian,” katanya. “Kalau ada informasi yang terkait dengan keterlibatan okunum atau pihak tertentu, ya harus dipelajari, harus ditelusuri, jangan ditutup-tutupi,” ujarnya. Kejahatan tersebut adalah kejahatan terhadap penegakan hukum di Indonesia. Seharusnya semua pihak menganggap serius hal tersebut. Setelah berbulan-bulan Polri tidak kunjung suskses menangkap pelaku dibalik penyiraman terhadap Novel, menurut Yati Andriyani, sudah seharusnya Polisi membuka diri terhadap pihak lain, untuk membantu pengungkapan kasus Novel. (Tribunnews)
  7. KPK tagih janji polisi. Setelah hampir dua bulan, polisi masih belum bisa mengungkap kasus penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan. Novel disiram air keras di dekat rumahnya oleh orang tak dikenal pada 11 April. Artinya, kejadin itu sudah 51 hari berlalu.   Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan bahwa sampai saat ini, pihaknya belum mendapatkan perkembangan terbaru dari hasil penyelidikan yang dilakukan Polisi. “Terkait dengan penanganan perkara penyerangan Novel, kami belum mendapat informasi perkembangan hasil investigasi,” kata Febri, melalui pesan singkat, Kamis (1/6/2017). Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Mochamad Iriawan sempat menanyai seputar bisnis Rina Emilda, istri penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan. Iriawan sempat menginterogasi Novel saat membesuk di Rumah Sakit Jakarta Eye Center, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (11/4/2017) malam. Iriawan juga sempat menanyakan mengenai bisnis istri Novel, Rina.
  8. Kapolda dalam hari yang sama sudah menyebut berkaitan dengan bisnia jual beli baju muslim isterinya. Keanehan yang terjadi dalam kasus ini polisi dengan cepat dalam hari yang sama langsung menyebut pelaku berkaitan dengan bisnia jual beli baku muslim istwri novel. Padahal biasanya polisi pada awal kejadian selalu mengatakan sedang dalam penyidikan dan penywlidukan. Tetapi saat itu dengan begitu cepatnya polisi mencurigai pelakunya. Kapolda Metro Jaya Iriawan menyebut ada kaitan kasus teror yang menimpa Novel dengan bisnis jual-beli pakaian muslim, yang dijalani oleh Rina. “Tadi sudah kita dalami juga, termasuk kepada istri yang bersangkutan, karena di rumahnya kan’, ibu Novel atau istrinya itu jualan online. Gamis, baju untuk semacam mukena, semacam jilbab kepada perempuan,” ujar Iriawan di RS JEC, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (11/4/2017). Iriawan kepada Rina menanyakan, apakah yang bersangkutan menjalani jual-beli baju lain, misalnya jualan baju gamis untuk laki-laki. “Saya tanyakan, apakah jualan baju lain, selain itu, mungkin jualan baju gamis laki-laki, dia menyatakan tidak ada. Itu jadi catatan kami, pertanyaan kami, karena ada korelasinya dengan kejadian tadi (kemarin) pagi,” tutur Iriawan.
  9. Kapolri katakan Miriam berpotensi terlibat. Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Karnavian menyatakan Anggota DPR dari Fraksi Hanura, Miryam S. Haryani, berpotensi terlibat dalam kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik KPK Novel Baswedan. Miryam saat ini berstatus tersangka dalam kasus korupsi e-KTP karena diduga memberi keterangan palsu. “Miryam Haryani dari sudut pandang kami dia punya potensi, termasuk link-nya, digerakan dalam penyerangan. Tapi hasil belum positif,” ujar Tito dala rapat kerja bersama Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/5/2017). Ia mengungkapkan, dalam menangani kasus penyiraman terhadap Novel, polisi menggunakan metode induktif berdasarkan olah TKP dan deduktif berdasarkan orang-orang yang berpotensi terlibat. Tito menambahkan, dalam penggunaan metode deduktif tadi, sejauh ini polisi telah memeriksa dua orang, yakni Miryam dan Miko yang belakangan muncul melalui videonya di youtube. Sedangkan melalui metode induktif, polisi sudah memeriksa tiga orang, di antaranya Muhammad Lestaluhu, dan belum menemukan hasil yang sudah positif. “Semenjak 11 April, Polri telah membentuk tim gabungan yang berasal dari Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya, dan Mabes Polri dan ini terus bekerja,” lanjut Tito.
  10. Polri tak setuju tim independen pencari fakta. Polri tak setuju wacana dibentuknya tim independen untuk kasus penyerangan air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan menyusul belum terungkapnya kasus tersebut. Sebab, kepolisian, khususnya Polda Metro Jaya dibantu Bareskrim Polri, yang menangani kasus ini merasa masih mampu untuk mengungkap dan menangkap pelaku serta aktor penyerangan Novel. Dorongan agar Presiden Jokowi membentuk tim pencari fakta independen kasus penyerangan terhadap Novel datang dari sejumlah pegiat anti-korupsi, wadah pegawai KPK hingga pihak keluarga Novel. Hal itu mereka sampaikan mengingat upaya Polda Metro Jaya dalam pengungkapkan kasus Novel ini belum juga menemui titik terang, baik pelaku maupun aktor di balik penyerangan tersebut.

Sumber: dari berbagai sumber

Iklan