Berita Terkini

Kemacetan Sangat Parah Puncak Arus Mudik 2017

Kemacetan Sangat Parah Puncak Arus Mudik 2017

Meski sebelumnya Kapolri dan pejabat jajaran kemenhub menyatakan bahwa arus mudik sekarang lebih baik ternyata macetnya semakin parah hingga ke Jakarta. Kemacetan cukup parah masih mencengkeram Jalur Tol Mudik 2017. Pada Kamis (22/6) malam. Terjadi kepadatan volume kendaraan dari Tol Dalam Kota hingga di KM 57 Karawang TimurKemacetan bahkan sangat parah hingga ekor kemacetannya mencapai Jalur Tol Semanggi, Jakarta Selatan, padahal hal ini tidak pernah terjadi pada tahun tahun sebelumnya. Biasanya kemacetan terjadi di Cikampek-Brebes-Semarang, saatnya ssmakin mengular hingga Semanggi Jakarta. 

Ruas Jakarta Cikampek, lumpuh, Jumat, 23 Juni 2017 pukul 09.00 WIB. Arus kendaraan yang datang dari Jakarta menuju Cikampek nyaris tak begerak hingga 7 kilometer. Kamacetan itu mengular dari Cawang hingga gerbang tol Cikarang Utama. Sejauh ini, PT Jasa Marga masih membuka layanan 20 gerbang ke arah Cikampek, dan 30 gerbang tol Jakarta.

Para pemudik harus menempuh perjalanan dalam waktu cukup lama, akibat kemacetan yang terjadi di jalan Tol Jakarta-Cikampek pada Kamis (22/6) malam hingga Jumat pagi. Pengalaman mengenaskan pemudik diantaranya mengeluh dari Jakarta menuju Cikampek butuh 8 jam. “Saya berangkat dari Jakarta (22/6), sekitar pukul 08.00 WIB, tapi sekarang (pukul 04.30 WIB), baru sampai Cikampek, Jatisari,” kata Iskandar, seorang pemudik dari Jakarta Timur menuju Semarang, saat ditemui di “rest area” Kilometer 57 jalan Tol Jakarta-Cikampek, wilayah Karawang, Jumat. Ia mengatakan jarak tempuh yang cukup lama itu terjadi akibat kepadatan arus lalu lintas di sepanjang jalan Tol Jakarta-Cikampek. Biasanya, dengan menggunakan kendaraan pribadi, di hari-hari normal itu jarak tempuh paling lama sekitar dua hingga tiga jam.

Di beberapa titik jalan Tol Jakarta Cikampek sejak Kamis (22/6) malam atau H-3 Lebaran hingga Jumat atau H-2 Lebaran, kondisi arus lalu lintas cukup padat. Hingga siang ini atau H-2 Lebaran pada Jumat, 23 Juni 2017, kepadatan kendaraan pemudik masih terjadi di kawasan Tol Cikampek. Kepadatan terutama terjadi di kawasan Cikarang Utama. Seperti dijelaskan Humas PT Jasa Marga Jakarta-Cikampek, Handoyo, kemacetan terjadi di km 5 hingga kawasan Cikarang Utama. Kemudian setelah Cikarang Utama, kemacetan terjadi sampai KM 39. Setelah melalui kawasan KM 39, lalu lintas terpantau masih lancar.

Guna mengurai kemacetan di kawasan Tol Cikampek, contra flow masih diberlakukan di KM 32 sampai KM 41. Sementara titik contra flow kedua yang berada di KM 14 sampai KM 21 masih sedang dipersiapkan. “Sedang berjalan dari KM 32 – KM 41, dan kedua sedang dipersiapkan,” katanya. Selain melakukan contra flow, saat ini telah diberlakukan penutupan gerbang Tol Cikarang Utama dan dialihkan ke gerbang Tol Cikarang Barat 3 dan Cikarang Barat 1. Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban kendaraan di Cikarang Utama. “Tapi tidak akan lama. Setelah Cikarang Utama kosong akan dibuka kembali,” katanya.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane mengatakan, kemacetan cukup parah masih mencengkeram Jalur Tol Mudik 2017. Bahkan, ekor kemacetannya mencapai Jalur Tol Semanggi, Jakarta Selatan. “Koordinasi apik yang sudah dilakukan Polri dengan berbagai pihak sepertinya tak berdaya menghadapi serangan pemudik,” ujar Neta seperti yang dilabsir SINDOnews, Kamis (23/6/2017). Belajar dari kasus ini, kata dia, Polri segera mengingatkan pemerintah untuk mengubah strategi di Jalur Pantura, terutama di pintu keluar Jakarta. Artinya, pemerintah tak bisa lagi hanya mengandalkan Jalan Tol, terutama Jalan Tol Cikampek untuk Jalur Mudik 2018 mendatang. Dia mengungkapkan, sudah saatnya pemerintah menata, memperbaiki, dan melebarkan jalan arteri sebagai pintu keluar dari Jakarta untuk pemudik 2018. Jika tidak, stagnasi akan kembali terulang dan tetap mencengkram karena Jalan Tol Cikampek sebagai pintu keluar dari Jakarta sudah over kapasitas dan tak mampu lagi menampung serbuan kendaraan pemudik. ” IPW mencatat jalan arteri dari Jakarta menuju Pantura sebenarnya ada 4 jalur, yakni Jalan Raya Pulogadung, Jalan Raya Klender, Jalan Raya Casablanca, dan Jalan Kalimalang,” terangnya. Namun, ungkapkanya, keempat jalur ini tak diurus pemerintah dengan serius. Pemerintah hanya mengandalkan Jalan Tol Cikampek untuk jalur mudik. Padahal, keempat jalur arteri ini selalu menjadi andalan bagi pemudik sepeda motor untuk keluar dari Jakarta meski jalanannya kerap tak layak. “Ke depan, di musim Mudik 2018 sudah saatnya pemerintah mengubah orientasinya, menata keempat jalan arteri itu agar bisa juga menjadi andalan untuk pemudik bermobil sehingga beban Jalan Tol Cikampek bisa dikurangi,” jelasnya. Dia menambahkan, berbagai terobosan harus segera dilakukan Polri dan pemerintah mengingat jumlah kendaraan bermotor terus menerus dibiarkan pemerintah membludak.  Jika terobosan tak segera dilakukan, musim mudik 2018 akan kembali dicengkram neraka macet hingga berpuluh kilometer yang membuat stagnasi dimana mana. Akibatnya, kerja keras Polri dalam menata dan merekayasa lalulintas mudik menjadi sia-sia.

Kepadatan lalu lintas masih terjadi di Tol Jakarta-Cikampek pada waktu subuh. Hal ini disebabkan padatnya volume kendaraan yang melintas karena puncak arus mudik. “Volume kendaraan padat. Kondisi lalu lintas dari semalam sampai sekarang masih padat seperti ini,” ujar petugas call cantre Jasa Marga, Widodo saat dihubungi, Jumat (23/6/2017) pukul 04.40 WIB. Ada pun titik kepadatan terpantau sejak Tol Bekasi Barat hingga menjelang rest area KM 19 Tol Cikampek. Kepadatan terjadi akibat kendaran yang keluar masuk ke rest area. “Kepadatan terjadi karena kendaraan yang keluar masuk rest area,” katanya. Selepas itu, lalu lintas mengarah ke Tambun terpantau lancar. Namun, kembali terjadi kepadatan hingga ke Gerbang Tol (GT) Cikarang Utama. Dari Cikarang Utama mengarah ke Karawang Barat masih lancar. Kepadatan kembali terjadi dari Karawang Barat hingga rest area KM 57 Karawang Timur.

Pantura Macet 15 Km

Meski jalur tol fungional Pemalang-Batang telah difungsikan, namun kemacetan panjang masih terjadi di sepanjang jalur Pantura Kabupaten Peklaongan. Kemacetan panjang mencapai 15 kilometer terjadi mulai Ulujami hingga Desa Karangjompo Kecamatan Tirto, yakni perbatasan dengan Kota Pekalongan. Pemalang menuju Kota Pekalongan biasanya bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Namun, Kamis (22/6) kemarin, harus ditempuh dengan waktu 3 jam. Kemacetan yang cukup lama terjadi di Jalan AYani Wiradesa, karena ada penyeberangan warga yang hendak ke Pasar Wiradesa. Lantaran pengawalan penyeberangan yang dikawal oleh Kamtimnas Desa Mayangan tersebut dilakukan tiap 10 menit sekali. Kemacetan juga terjadi di depan IBC Wiradesa, karena banyak kendaraan roda dua dan roda empat yang berputar arah, atau warga yang menyeberang karena hendak ke IBC Wiradesa. Akibatnya, kemacetan semakin panjang, karena banyak titik pemberhentian di sepanjang jalur pantura Kabupaten Pekalongan. Ruslan, 46, warga Kabupaten Jepara, yang terjebak macet di jalur pantura Jalan A Yani mengungkapkan bahwa dirinya semula hendak lewat jalur tol Pemalang Batang melalui Kecamatan Kesesi. Namun karena jalur tol juga mengalami kemacetan, maka memilih jalur pantura, ternyata lebih parah dibandingkan jalur tol. Menurutnya, perjalanan dari perbatasan Pemalang hingga Pasar Wiradesa, ditempuh selama hampir dua jam. Karena banyak titik kemacetan yang dijumpai, mulai dari masih diaktifkannya lampu lalu lintas trafic light, hingga adanya pasar tiban di Wiradesa. “Kemacetan terparah di tempat penyeberangan Pasar Wiradesa. Kami mennunggu hampir satu jam, untuk bisa lewat di Wiradesa,” ungkap Ruslan. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pekalongan, Muhlisin, mengatakan bahwa puncak arus mudik arah barat menuju ke timur terjadi pada Kamis (22/6) kemarin. Hal ini, karena beberapa perusahaan mulai menetapkan libur pada hari Kamis, demikian juga dengan perkantoran milik pemerintah yang mulai libur hari Jumat (23/06)

Bandung

Arus lalu lintas dari Kota Bandung menuju Jalur Nagreg di Kabupaten Bandung pada Jumat (23/6/2017) pagi ini tersendat. Jalur Nagreg sendiri merupakan akses menuju sejumlah kawasan di Jawa Barat hingga penghubung menuju Jawa Tengah. Pantauan Okezone pukul 06.00-09.30 WIB, lalu lintas mulai tersendat dari Jalan Raya Cinunuk hingga Cileunyi. Kendaraan hanya bisa memacu kendaraannya dengan kecepatan sangat rendah. Bahkan, kendaraan lebih banyak berhenti daripada melaju. Di kawasan Rancaekek, arus lalu lintas justru lancar. Tidak ada hambatan sama sekali. Kendaraan bahkan bisa melaju dengan kecepatan di atas 100 kilometer/jam. Tapi, di kawasan Cicalengka, arus lalu lintas kembali tersendat hingga Jalur Nagreg. Informasi yang dihimpun Okezone, padatnya lalu lintas bahkan terasa hingga akses menuju Garut, Tasikmalaya, dan sekitarnya.

Untuk menuju ke Jalur Nagreg, pengemudi harus bersabar sepanjang perjalanan. Untuk sepeda motor, dari Kota Bandung hingga Jalur Nagreg saja bisa memakan waktu tempuh hingga 6 jam. Padahal, jika jalan lancar bisa ditempur dalam kurun 1-1,5 jam. Sementara pengendara mobil harus memiliki kesabaran ekstra. Sebab dari Kota Bandung hingga Jalur Nagreg saja bisa memakan waktu lebih dari 6 jam. Hari ini sendiri diprediksi merupakan puncak arus mudik. Sebab, banyak karyawan yang sudah mendapatkan jatah libur bersama sejak kemarin. 

Iklan