*Hukum

Perbedaan Perlakuan Polisi Pada Aksi Demo Saat Malam Hari

Menko Polhukam Wiranto menegaskan bahwa demonstrasi Aksi Bela Islam II terkait dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) para pendemo diingatkan agar patuh pada aturan. “Tapi peraturannya jelas, tiap 100 orang yang ada pimpin. Setelah pukul 18.00 WIB bubar karena aturannya begitu sehingga tidak meresahkan masyarakat,” kata Wiranto di Kantor Presiden, Jl Veteran, Jakpus, Selasa (1/11/2016). Hal itu disampaikan Wiranto dalam konferensi pers usai pertemuan ormas Islam dengan Presiden Joko Widodo. Dia menekankan bahwa tetap perlu ada tanggung jawab dalam kebebasan.  Alhasil ternyata saat aksi bela Islam hingga larut malam tidak berhasil menemui Jokowi tetap bernegosiasi bertemu JK. Tetapi belum selesai negosiasi itu polisi mulai membubarkan aksi bela Islam dengan ratusan tembakan gas air mata menghunjam umat Islam dan ulama yang memimpinnya. Tetapi alangkah mirisnya penegakkan hukum di Indonesia ada kelompok lain yang melakukan aksi demo hingga tengah malam tetap dibiarkan. Inilah yang sering tidak disadari penguasa sebenaranya memicu akumulasi berbagai ketidakadilan uang diterima kelompok tertentu memicu keadaan NKRI semakin labil dan penuh gejolak. TETAPI saat umat bergejolak jadi sasaran biang kesalahan.

Bahkan Kepolisian pernah mengimbau kepada massa demo 212 di Monas, Jakarta Pusat, agar membubarkan diri sebelum pukul 17.00 WIB. “Bagi para pendemo diimbau agar kembali ke tempat masing-masing atau ada yang berasal dari luar daerah agar mereka kembali ke tempat singgah,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar di Monas, Jakarta Pusat, Jumat (2/12/2016).

Sementara itu di lain peristiwa Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Iwan Kurniawan mengatakan, pihaknya akan memberi waktu hingga pukul 18.00 WIB kepada massa dari Front Pembela Islam (FPI) yang akan berunjuk rasa di depan Mabes Polri, Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (16/1). “Sampai pukul 18.00 WIB harapan saya. Saya berikan imbauan dan koordinasi kalau melebihi (waktu). Kita lakukan ketentuan UUD,” ujar Iwan di sekitaran Mabes Polri. Iwan menjelaskan, dalam ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia, pengunjuk rasa hanya boleh melakukan aksinya hingga pukul 18.00 WIB. Sesudah itu, polisi akan membubarkan massa tersebut.

Aksi Bela Islam 

  • Banyak tokoh ulama dan tokoh naaional menuatu dalam aksi bela Islam 411 yang hanya menuntut keadilan. Imam Besar Masjid New York, Ust Shamsi Ali terbang dari Amerika dan ada di antara para pejuang muslim menuntut keadilan. Gubernur NTB, Bpk Zainul Majdi memimpin mujahid Nusa Tenggara bergabung dalam aksi ini. Selain tokoh seperti KH. Maaruf Amin, Prof Didin Hafidhuddin, Ust. Abu Jibril, Ust Bobby, Prof Nazaruddin Umar, Ust Ahmad Lutfi Fathullah, Ust. Tony Rosyid, Ust Haikal Hassan, Ust Erick Yusuf, Ust Fadlan Garamatan, Ribuan Ulama lain dan Jihadis, tampak pula figur nasional seperti Rahmawati Sukarnoputeri, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Kiwil, Lucky Hakim dll. Aksi ini juga diikuti sekelompok mujahid tunanetra. Mereka saling berpegang pundak di tengah barisan mujahid. Masjid MA dan tamannya dijadikan tempat sholat berjamaah. Mujahid berbaris rapih, tenang, antri air untuk berwudhu. KH Arifin Ilham berinisiatif bernegosiasi langsung dengan Wapres JK. MEMASUKI bad’ah Isya, suara ledakan mulai terdengar di sisi Medan Barat. Seorang pemuda mujahid bilang itu petasan. Beberapa mujahid berseru “hati-hati provokasi”. Suara letupan terdengar lagi. Semakin lama suaranya semakin sering. Ruas jalan dibuka. Laskar FPI menerobos menuju ke depan barisan. Kami tau, kawan-kawan di sisi Medan Barat sedang ditembaki aparat. Suara dentumannya semakin keras dan semakin banyak. Setiap kali dentuman keras terdengar, mujahid serempak berteriak “Allahuakbar”. Sekali lagi ruas jalan dibuka. Laskar FPI lain berlari merobos ke depan. Mata mulai terasa perih. Sekarang, semua orang telah membalurkan pasta gigi di bawah mata. Seorang mujahid berkata, “Masa kita harus berkelahi dengan polisi. Mereka juga saudara-saudara kita. Hanya karena seorang Ahok.” Suara letupan keras terdengar lagi. “Allahuakbar” bergema. Kali ini, barisan serempak maju ke depan. Namun tertahan kembali. Ada suara-suara, “satu komando”, “Tenang-tenang”. Saya tau teman-teman sedang ditembaki di sisi lain. Namun ini aksi damai. Para Ulama dan Habaib belum memberi instruksi ofensif. Semua orang menahan diri. Ust Arifin Ilham tertembak. Sebuah peluru gas air mata tiba-tiba terjun bebas. Barisan mundur tiga langkah pelan. Tiba-tiba, diberondong gas air mata. Bagian terbesar mundur ke belakang. Hujan gas air mata terus menerjang. Saya dan sejumlah mujahid berlindung di dalam pos satpam. Gas air mata terus dilontarkan. Jumlahnya semakin banyak. Sebagian masuk ke halaman MA. Mata semakin perih, hidung terasa pedas dan dada mulai sakit. Sampai akhirnya, saya bilang kita harus keluar dari pos kecil itu. Entah, berapa puluh kali kami ditembaki gas air mata. Sisi Medan Utara dibombardir, setelah sisi Medan Barat berhasil dipukul mundur dengan puluhan tembakan gas air mata. Sekitar 150 mujahid terluka. Bpk Syahrie Oemar Yunan tewas di rumah sakit akibat sesak nafas diserang gas air mata. 

Aksi Masa Pendukung Ahok Paska Divonis 2 tahun

  • Banyaknya kerumunan massa di Rutan Kelas I Cipinang menimbulkan kemacetan di ruas Jalan I Gusti Ngurah Rai, Jakarta Timur, Selasa (9/5) malam. Massa tersebut menuntut untuk membebaskan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang divonis hukuman pidana selama dua tahun penjara dalam kasus penistaan agama. 
  • Massa pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hingga malam ini masih bertahan di depan Rutan Cipinang. Setelah melakukan aksi bakar-bakar spanduk dan mulai mendorong dorong pagar LP Cipinang untuk berusaha merobohkan dengan teriskan teriakan bebaskan Ahok. Warga yang menjadi pengguna jalan mengeluhkan aksi para pendukung Ahok yang berlangsung hingga Rabu (10/5) dini hari tersebut. “Ini dari siang belum selesai juga aksi?” kata Angga, salah satu warga, saat melintas di kerumunan massa, Rabu (9/5). Warga di sekitarnya heran mengapa petugas keamanan membiarkan aksi yang berjalan hingga larut malam dan masih berkumpul di depan Rutan Cipinang. “Giliran untuk Ahok, aksi tidak dibubarkan,” katanya. Sampai tengah malampun aksi tersebut tidak dibubarkan polisi. Kapolres Jakarta Timur, Kombes Polisi Andry Wibowo berdalih alasan tidak dibubarkannya massa Pro-Ahok itu. Dia membenarkan aturan legalistik yang membatasi massa unjuk rasa pada pukul 18.00 WIB. “Tapi polisi juga melihat sisi yang lain, tentunya medan, kemudian taktis, lalu struktur massa,” ujar Andry Rabu (10/5). Menurut Andry, mengambil tindakan pembubaran pada aksi massa Pro-Ahok itu sangat berbahaya. Sehingga polisi pun lebih menitikberatkan pertimbangan kemanusiaan lebih tinggi daripada pertimbangan lain. Andry menjelaskan polisi menjalankan hukum secara operasional di lapangan. Tidak dilakukannya pembubaran pada aksi massa Pro-Ahok menurut dia disesuaikan dengan keadaan lapangan. Pada prinsipnya, pendekatan pada massa pun menurut Andry sama.  “Persuasif, preemtif, kemudian juga represif. Kemudian pemilihan itu disesuaikan di lapangan,” ujarnya menambahkan. 

  • Massa pro Ahok di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta malam kamis semakin bertambah. Setelah menolak untuk membubarkan diri, malam ini pukul 22.30 WIB, massa semakin banyak dan membuat lalu lintas di sekitarnya macet total. Para pendukung masih berada di depan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, sambil berorasi menuntut agar Ahok dibebaskan. Mereka juga terlihat membawa bendera merah putih serta spanduk dan poster. Aksi bakar lilin juga dilakukan massa di depan Pengadilan Tinggi tersebut. Aktivitas massa di depan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta membuat lalu lintas di jalur lambat Jalan Letjen Suprapto ke arah Pasar Senen, Jakarta Pusat, ditutup. Massa sendiri telah bertahan di sana sejak pukul 10.00 WIB. Sambil berorasi mereka juga mengancam akan menginap di depan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, hingga tuntutan mereka agar pihak Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menurunkan surat penangguhan penahanan. Aksi masa pendukung Ahok kembali membuat kericuhan dan anarkisme ketika menahan polisi yang akan mengevakuasi pegawai Pengadilan Tinggi DKI Jakarta di Jalan Letjen Suprapto, Cempaka Putih yang disandera masa. Aksi Massa itu berubah menjadi anarkis ketika menyandera pegawai Pengadilan Tinggi rabu sore,. Saat polisi hendak menyelamatkan pegawai yang disandera terlibat aksi saling dorong hingga nyaris baku hantam dengan petugas kepolisian. Kericuhan mereda setelah humas Pengadilan Tinggi menjelasakan bahwa Pengadilan Tinggi DKI belum menerima surat dari Pengadilan Jakarta Utara, hingga proses belum dapat dilanjutkan. Setelah melakukan dialog, massa akhirnya mengizinkan para pegawai yang disandera untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Dalam tuntutanya, massa meminta agar Pengadilan Tinggi DKI Jakarta segera mengabulkan surat permohonan penangguhan penahanan terhadap Gubernur non aktif Basuki Cahaya Purnama.Sampai sejauh ini tidak ada penangkapan dan penahanan terhadap aksi anarkis penyanderaan tersebut. Bahkan Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Pol Suyudi Ario Seto hanya bisa menenenangkan masa.  Dalam orasinya di depan massa pendukung Ahok mengatakan bahwa mereka salah sasaran melakukan aksi di depan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Karena hingga saat ini memori banding masih disiapkan tim pengacara Ahok. “Kalau boleh jujur kalian di sini salah sasaran karena berkas Pak Ahok masih di Jakarta Utara, belum di sini,” ujar Suyudi di hadapan massa pendukung Ahok yang masih bertahan di depan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Rabu (10/5). Aksi masa pendukung Ahok yang sudah anarkis dengan menyandera dan hingga larut malampun tidak dibubarkan polisi

    Iklan