*Pendidikan kebangsaan

Ahok Tidak Mau Belajar, Terlontar Lagi Kafir Tidak Bisa Jadi Pejabat

wp-1479256445897.jpgAhok Tidak Mau Belajar, Terlontar Lagi Kafir Tidak Bisa Jadi Pejabat

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ternyata tidak bosannya mengeluarkan  berbagai  pernyataan kontroversi yang menyudutkan kelompok tertentu, tendensius dan bisa memecah belah NKRI. Ahok dalam satu kesempatan Kamis (4/5/2017) kembali mengungkapkan pernyataan yang menyinggung kelompok mayoritas dengan pernyataan bahwa di Indonesia, kafir tak boleh jadi pejabat. Pernyataan kontroversi Ahok ini menanggapi perihal kemungkinan dirinya dicalonkan menjadi wakil presiden pada Pilpres 2019 mendatang mendampingi Joko Widodo. Pernyataan kontroversial Ahok yang kesekian kalinya itu menunjukkan bahwa Ahok masih tidak mau belajar dengan berbagai panas dinginnya kehidupan politik dan profesinya selama ini. Ahok tampaknya tidak punya kepekaan bahwa selama ini ucapan dan perilakunya adalah sumber kegaduhan yang membuat NKRI terus bergoyang panas.

“Mau jadi gubernur aja susah, ini lagi mau jadi wapres. Kafir mana boleh jadi pejabat di sini,” kata Ahok di Balai Kota DKI. 

Ahok mengatakan bahwa dirinya tak akan terjun di dunia politik setelah selesai menjabat sebagai gubernur.”Saya sudah putuskan selesai ini, saya akan jadi pembicara saja. Enggak masuk partai politik, enggak mau jadi menteri, enggak jadi staf presiden, semua enggak. Kita ngajar aja, jadi mendidik aja,” ujar Ahok.

Pernyataan Ahok kembali memperkeruh suhu politik yang sudah mulai mereda. Pernyataan kontroversial itu menjadi sangat tendensius dan menuding kelompok tertentu khususnya mayoritas muslim yang menganggap rasis dan anti SARA. Padahal warga muslim adalah paling toleran dan semua WNI yang memenuhi syarat berhak memegang jabatan politik apapun di negeri ini. Ahok atau siapapun punya hak jadi apapun di negeri ini, Konstitusi kita tegas semua jabatan publik terbuka bagi Warga Negara Indonesia. Buktinya sejarah Indonesia mencatat bahwa di indonesia dari dulu hingga sekarang banyak warga keturunan tionghoa bisa menjadi pejabat tinggi mulai dari bupati, gubernur dan  menteri. Bahkan Ahok sendiri pernah menjadi bupati Belitung dan wakil Gubernur DKI Jakarta. Penolakan warga tersebut bukan sekedar karena Ahok seorang non muslim tetapi karena Ahok dianggap sebagai sumber kegaduhan negeri ini. Warga mayoritas muslim tidak ada seorangpun yang melarang Ahok untuk maju menjadi calon Gubernur. BUktinya Ahok bisa maju sebagai calon Gubernur hanya saja Ahok tidak dipih masyarakat mayoritas muslim karena sikap Ahok yang kasar, arogan dan sering membuat pernyataan tendensius yang menyinggung umat muslim. Hal itu dipuncaki saat peristiwa penodaan agama. Bahkan hakim yang menyidangkan kasus penistaan agama juga dalam pertimbangan dakwaannya mengungkapkan bahwa kasus Ahok membuat Indonedia gaduh bukan anti keberagaman atau kasus politik tetapi Ahok sendiri adalah sumber kegaduhan.wp-1479256544574.jpg

Islam dalam sejarah bangsa hingga saat ini terkenal sangat toleran. Bahkan pemuka agama Nasrani Prof Dr Franz Magnis-Suseno SJ,  mengakui bahwa Islam merupakan agama paling awal menerapkan toleransi, kini kembali viral. Menurut Romo Magnis, panggilan akrabnya, Islam sebagai agama sudah menerapkan toleransi, jauh sebelum agama. Kekristenan baru menghidupi toleransi sekitar pada abad-18. Sementara Katolik baru 50 tahun sejak lahirnya Konsili Vatikan II. “Selama lebih dari 1400 tahun sebelumnya, umat Kristen hidup sebagai komunitas-komunitas kecil di Mesir, Libanon, Irak, Pakistan, dll. Orang-orang Yahudi hidup di Timur Tengah yang mayoritas dipimpin oleh para pemimpin Islam,” kata Romo Magnis saat menjadi narasumber dalam Simposium Memahami Nilai-nilai Pancasila di Paroki Maria Bunda Karmel Tomang, Jakarta tahun lalu, yang kini, Senin (8/5/2017) kembali viral di media sosial.

Untuk konteks Indonesia, Romo Magnis menjelaskan, saat para pemuda dari berbagai agama dan etnik duduk bersama untuk merumuskan naskah Sumpah Pemuda terlihat dengan sangat jelas bahwa yang Muslim sebagai mayoritas tidak memaksakan diri untuk mengangkat sumpah berdasarkan agama. Ini berlanjut saat Soekarno merumuskan Pancasila. Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia bersedia ‘merendahkan diri’ untuk merangkul umat beragama lain dalam menetapkan falsafah hidup bersama. “Maka Pancasila sangat kuat dan merupakan kekayaan Indonesia karena mencerminkan sikap dan nilai kebersamaan yang ada dalam agama-agama. Yang mayoritas mengayomi yang minoritas, yang minoritas tidak melukai hati yang mayoritas. Kita sama-sama hidup sebagai satu bangsa yang mencintai keanekaragaman,” ujar Romo Magnis menegaskan. Indonesia, punya tradisi pluralisme yang sangat baik dan merupakan modal berharga untuk membangun masa depan bangsa. Karena itu, masing-masing kita mestinya berusaha untuk menjaga pluralitas itu dengan sebaik mungkin. Banyak konflik di negara ini bukan berdasarkan agama, tetapi berdasarkan etnik. Romo Magnis menilai, konflik-konflik itu justru atas dasar etnik, bukan agama. Agama biasanya hanya ditunggangi. Maka menghidupi nilai-nilai Pancasila yang merupakan konsensus bersama agama-agama dan etnik-etnik di Indonesia sangat urgen,

Bukti bahwa warga Tionghoa bisa menempati jabatan tinggi

  • Amir Syamsuddin (Freddy Tan Toan Sin), menteri hukum dan HAM.
  • Bob Hasan, menteri perdagangan dan perindustrian era orde baru, pengusaha.
  • Kwik Kian Gie, menteri koordinator Indonesia, ahli ekonomi.
  • Laksamana Sukardi, menteri negara BUMN
  • Lie Kiat Teng, menteri Indonesia, ahli kesehatan.
  • Mari Elka Pangestu, menteri Indonesia, ahli ekonomi.
  • Oei Tjoe Tat, menteri Indonesia, politisi.
  • Ong Eng Die, menteri Indonesia, ahli ekonomi.
  • Ignasius Jonan, menteri ESDM.
  • Christiandy Sanjaya, Wakil Gubernur Kalimantan Barat.
  • Setya Novanto, Ketua DPR RI.

wp-1476191854024.jpgTampaknya Ahok masih belum menyadari dan tidak mau belajar dari pengalaman hidupnya  yang penuh gejolak berskala nasional selama menjadi wakil Gubernur DKI Jakarta. Ahok tidak mau sedikit beratensi dan berpikir mengapa jutaan umay muslim bergerak menuju Jakarta untuk mendukung proses persidangan Ahok dalam penistaan agama. Ahok tidak pernah tercerahkan bahwa pernyataan kontroversinya selama ini yang selalu mengedepankan jargon jargon pahlawan kebinekaan, pluralisme dan pendukung setia Pancasila. Bahkan setelah minta maaf saat mngeluarkan kalimat penistaan terhadap ayat Quran tetapi masih saja mengeluarkan pernyataan yang menyinggung umat Islam. Ahok selalu menilai semua perbuatan dan perilakunya dengan materi tanpa introspeksi bahwa ucapan dan perilakunya tidak bisa ditutupi dengan gelontoran uang dan bantuan dana. Ahok selalu menyinggung bantuan dana bagi umat Islam untuk menaikkan haji dan mendirikan masjid tetapi tidak diiringi pola pikir dan sikap yang selalu tampak bermuatan kebencian dan kesinisan terhadap umay=t mayoritas

Ahok adalah manusia jenius yang selalu menganggap dirinya paling benar dan pihak lain selalu salah tanpa introspeksi. Perilaku tersebutlah yang membuat Ahok selama ini manusia tanpa dosa yang dengan seenaknya mengeluarkan pernyataan yang mengandung subtansi SARA yang menyinggung umat lainnya. Justru perilaku Ahok tersebut saat ini juga diikuti oleh pata pendukungnya. Hal iilah yang membuat Indonesia tidak akan bisa damai dan tentram karena Ahok selalu mengeluarkan pernyataan yang kontroversial tentang SARA yang selalu menyinggung umat mayoritas di Indonesia.

 

 

Iklan