*Demokrasi

Inilah Profil Hakim Pengadilan Ahok Dalam Penistaan Agama 

 

Hakim Bonek Memenjarakan Ahok. Arek Suroboyo yang Nekad, Jujur dan Berani.

Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) telah menunjuk majelis hakim yang akan menangani kasus dugaan penistaan agama dengan tersangka Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Hakim Ketua Dwiarso Budi Santiarto, sedangkan hakim anggota Jupriyadi, Abdul Rosyad, Joseph V Rahantokman, dan I Wayan Wirjana. Dwiarso saat ini menjabat sebagai ketua PN Jakarta Utara. Sebelumnya ia pernah menduduki posisi sebagai ketua PN Semarang, Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan Hubungan Industrial, yang dilantik pada 22 Agustus 2014. Pangkat atau kode Dwiarso adalah Pembina Utama Madya. Dwiarso adalah al7mni Fak7ltas Hukum Universitas Airlangga dan pascasarjana ditempuh di Universitas Gadjah Mada (UGM).)

Akhirnya pengadilan perkara dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta telah memberikan vonis hukuman dua tahun penjara dipimpin oleh Hakim Dwiarso Budi Santiarto. Vonis hakim ini diluar dugaan para pendukung Ahok karena sebelumnya Jaksa Penuntut Umum Justru hanya menuntut w tahun masa percobaan. Keputusan hakim yang berani ditengah tekanan kekuatan besar di belakang Ahok dan umat Islam Indonesia tak membuat hakim bergeming. Dampak kehebatan vonis itu membuat pendukung Ahok menuding bahwa hukum di Indonesia telah mati dan hakim tidak adil. Tetapi faktanya hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto adalah sosok yang berani, lurus dan tidak kompromi. Bahkan teman sejawatnya menganggap bahwa hakim tersebut adalah hakim bonek nekat, berani dan tanpa kompromi. Mantan olahragawan dari Surabaya itu dengan jiwa sportifitas dikombinasi dengan jiwa bonek Surabaya yang ada pada jiwa kejujuran ahklaknya ternyata memudahkan memutuskan kasus yang sangat berat dan dampaknya sangat luas di Indonesia.

Inilah prestasi Beraninya Hakim Dwiarso Budi Santiarto. 

  • Pada 2014, hakim yang baru menjabat Ketua PN Semarang,  ini memutus perkara kasus korupsi yang menjerat teman satu profesi. Tanggal 22 April 2014, ia memvonis bersalah Asmadinata, mantan hakim ad hoc Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang, dan memberikan hukuman 5 tahun penjara atau denda Rp200 juta. Asmadinata terbukti secara hukum menerima hadiah dan janji (gratifikasi) ketika masih menjabat hakim ad hoc. Pada November 2014, sidang kasasi untuk kasus itu, yang dipimpin ketua kamar pidana Mahkamah Agung, Artidjo Alkostar, memperberat hukuman Asmadinata, menjadi dua kali lipat atau 10 tahun penjara.
  • Dalam riwayat pengabdiannya, ternyata bukan hanya Ahok, gubernur yang berhadapan dengan hakim Dwiarso. Dia telah mengeluarkan banyak putusan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah putusannya memvonis kalah Gubernur Ganjar Pranowo dan Pemprov Jawa Tengah dalam sengketa lahan seluas 237 hektar di Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan Jawa Tengah pada 2015. Sejak itulah nama Dwiarso mulai dikenal di Semarang.
  • Pada Februari 2015, PN Semarang menjerat mantan Bupati Karanganyar, Rina Iriani Sri Ratnaningsih. Iriani terbukti bersalah dalam kasus korupsi subsidi perumahan Griya Lawu Asri (Kabupaten Karanganyar tahun 2007-2008. Rina divonis 6 tahun penjara dan denda Rp500 juta atau dengan menjalani tiga bulan kurungan.
  • Mantan Asisten/ Sekretaris Mahkamah Agung ini sewaktu bertugas sebagai Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat juga pernah memutus hukuman seumur hidup untuk koruptor BLBI.

Riwayat pendidikan dan kehidupan Hakim lurus, berani dan tanpa kompromi

  • Sosok hakim kelahiran 14 Maret 1962 itu merupakan alumni Universitas Airlangga Surabaya (S1) dan Universitas Gadjah Mada (S2 Magister Hukum Bisnis), ia juga pernah menempuh pendidikan di Lemhanas.
  • Sebelum menjabat sebagai Hakim di Pengadilan Jakarta Utara (sejak April 2016), sebelumnya ia menjabat Ketua PN Semarang. Di sana Dwi menjabat sejak 22 Agustus 2014. Ia dilantik langsung oleh Ketua Pengadilan Tinggi Semarang, Muhammad Daming Sanusi.
  • Hakim Dwi adalah olahragawan yang berprestasi. Dia merupakan mantan Atlet Hoki PON Jatim dan Atlet Tennis mewakili Provinsi di mana dia bertugas waktu itu.
  • Hakim Dwiarso adalah asli arek soroboro karena  terlahir di Surabaya, 14 Maret 1962, Inoenk, panggilan akrab H Dwiarso Budi Santiarto SH Mhum, sampai sekarang pun masih tinggal di rumah dinas.
  • Hakim Inoenk mempunya 2 putra. Putranya, Rio (S-1 ITB dan S-2 UI), saat ini tinggal di Jepang bekerja sebagai pelayan toko. Sedangkan, Anya (Hukum Unpar) bekerja sebagai pegawai pajak di Palangka Raya. Ada kisah menarik dari putra-putri Inoenk ketika terjadi penangkapan terhadap Ketua Mahkamah Konstitus Akil Mochtar tempo hari. Kompak mereka meminta Inoenk berhenti jadi hakim karena merasa malu dengan profesi ayahnya. Juga kompak berdua menyatakan biarlah mereka yang bekerja untuk menopang ekonomi orang tuanya.
  • Sarjana hukum jebolan S-I Universitas Airlangga dan S-2 Universitas Gadjah Mada serta terakhir Lemhanas (2016) ini adalah mantan atlet hoki PON Jatim dan atlet tenis mewakili provinsi di mana dia bertugas waktu itu.
  • Isterinya adalah bekas teman kuliah almuni Fakultas hukum Universita Airlangga, Yanti SH MH dan dua anak, Rio dan Anya.
  • Riwayat pekerjaan hakim selama ini pernah menjadi ketua pengadilan di Kotabumi, Kraksaan, Depok, Banjarmasin, dan Semarang.
  • Di mata kawan-kawan sejawatnya, ia dijuluki bonek (bondo nekat). Bukan hanya karena kelahiran Surabaya. Namun, julukan itu menunjuk pada integritasnya sebagai hakim. “Antisuap, antigertak,” kata seorang sahabatnya. Bahkan si adik kandungnya seorang dokter bedah ortopedi di Surabaya Dr Triarto Budi Susetyo SpBO, pernah mengungkapkan pada teman sejawatnya bahwa kakaknya sejak remaja hingga sekarang terkenal konsisten dan lurus lurus saja dalam kehidupan dan pekerjaannya. Cerita menarik kuatnya konsistensi profesinya adalah saat si Adik kandungnya menanyakan atau hanya mengajak diskusi tentang permasalahan kasus Ahok tidak pernah digubrisnya.
  • Kejujuran sang hakim bisa silihat dari kesederhanaannya dalam kehidupan sehari hari, dari rumah ke kantor, pulang-pergi, ia naik angkutan umum Transjakarta
  • Keberaniannya untuk berbeda dengan alasan hukum yang rasional itulah yang membuat Ketua Mahkamah Agung Marsekal Sarwata sangat membanggakannya. Selasa (9/5) siang, akhirnya, ia membuktikan dirinya memang hakim yang berintegritas tinggi. Meskipun sempat dibayangi spekulasi, dia juga akan dilumat pelbagai manuver, seperti aparat penegak hukum lainnya yang masuk angin. Vonisnya, Ahok terbukti bersalah dan dihukum penjara dua tahun yang langsung ditahan di LP Cipinang.
  • Dosen favorit Fakultas Hukum Universitas Trisakti itu kini menjadi tempat bergantung harapan keputusan adil dari persidangan kasus penistaan agama Ahok. Sekian lama, ia memang menjadi gantungan harapan para penuntut keadilan yang mengharapkan vonisnya terhadap Ahok terbebas dari pelbagai intervensi supaya wajah hukum kita mendapat kepercayaan publik.

Diluar cacian dan makian pendukung Ahok yang menganggap bahwa peradilan si Indonesia telah mati dan hakim tidak jujur ternyata dijawab Hakim Dwiarso dengan sikap profesional, kejujuran moral yang mulia dan keberanian yang luar biasa. Sikap profesional, kejujuran dan keberanian sang Hakim seharusnya malah harusnya bukan dicerca oleh pendukun Ahok tetapi justru menjadi inspirasi penegak hukum di Indonesia dalam menegakkan kebrobokan keadilan dan coreng moreng hukum di Indonesia yang sebelumnya sudah banyak tidak dipercaya lagi.

Iklan

Kategori:*Demokrasi

Tagged as: