*Pendidikan politik

10 Faktor Kemenangan Anis Sandi

 10 Faktor Kemenangan Anis Sandiwp-1482883284925.jpg

  1. Penistaan agama. Pengaruh ulah Ahok dalam dugaan kasus menista agama tampaknya menjadi penyebab utama sentimen anti Ahok terutama dari kelompok muslim yang taat pada agamanya. Umat muslim Jakarta yang taat Jakarta akan cerdas ketika agamanya dinista oleh Ahok. Hal ini yang membuat sentimen anti Ahok dikalangan muslim memuncak. Sentimen  ANTI Ahok di kalangan muslim diperparah ketika dalam persidangan Ahok memgancam dan menghina ketua MUI dan petinggI NU.
  2. Ahok dalam kebijaksanaannya dianggap tidak adil terhadap umat mualim seperti melarang jual binatang kurban di tengah kota, melarang pengajian akbar di Monas, melarang takbir keliling dan dipuncaki dengan ungkapannya yang menyakitkan umat Islam bahwa menyamakan jilbab dengan serbet. Hal ini menambah sentimen anti Ahok dari umat muslim menjadi lebih besar.
  3. Kasus reklamasi. Ketika Ahok mendukung proyek reklamasi yang dianggap bwberapa menteri, pakar kelautan dan kacamata rakyat biasa yanh menganggap hanya untuk kepentingan sekelompok kecil dan Anis Baswedan yang getol membuat sebagian warga Jakarta menjadi antipati.
  4. Kasus Korupsi. Kasus korupsi yang menyinggung Ahok baik kasus Sumber Waras, kasus Dana CSR 30 Milyar Teman ahok dan kasus terakhir kasus e-KTP yang menggerus ketokohan anti korupsi pada Ahok membuat kredibilitas Ahok semakin terpuruk.
  5. Pendukung, termasuk partai politik pengusung pasangan nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni yang kalah pada putaran pertama lebih banyak mengalihkan dukungan kepada pasangan Anies dan Sandiaga.
  6. Kebijakan Tidak Pro Rakyat. Akibat kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang dinilai tak pro kepada rakyat. Kebijakan tersebut, antara lain berupa penertiban kawasan pemukiman dan reklamasi di pantai Jakarta Utara.
  7. Sentimen Anti-Ahok. Ahok dianggap tak pas untuk memimpin pemerintahan DKI Jakarta karena bukan pemeluk agama yang mayoritas dipeluk warga DKI Jakarta. Berdasarkan asil riset LSI Denny JA, sekitar 40 persen pemilih yang beragama Islam di DKI Jakarta tidak bersedia dipimpin oleh Ahok yang non-Muslim. Mereka berupaya keras agar Ahok kalah dan tidak memimpin lagi DKI Jakarta. Selain itu, dia juga berasal dari kelompok etnis minoritas. Isu SARA itu justru diperberat oleh ucapan Ahok yang selalu menjurus ke SARA dengan menuduh orang lain rasis dan mengungkapkan memilih pemimpin sesuai agama melanggar hukum membuat sentimen anti Ahok semakin membesar. Apalagi isu SARA diperparah dengan kejadian warga keturunan bernama Steven memghina ulama sekaligus gubernur NTB.
  8. Kasar dan Arogan. Karakwp-1479256544574.jpgter Ahok yang kasar dan arogan. Sikap mantan Bupati Belitung Timur itu dianggap bukan tipe pemimpin yang layak memimpin Jakarta karena omongannya kerap dianggap kasar. Puncaknya, ketika dia blunder soal ayat suci Alquran. Belum lagi sikapnya yang dinilai tidak konsisten, suatu ketika mencerca partai politik dan hanya ingin maju lewat jalur independen. Namun, selanjutnya ia berjuang mencari dukungan partai politik.
  9. Kasus hujan sembako yang banyak dilakukan baju kotak kotak di minggu tenang pilkada tampaknya membuat memukul diri Ahok dianggap berpeilaku curang dan tidak jujur.
  10. Isu bahwa istana sebagai pusat koordinasi tim sukses Ahok Djarot membuat rakyat semakin anti pati karena merasa sitipu dan dibohongi oleh penguasa dalam pilkada. Meski berkali kali penguasa selalu berorasi bahwa tidak akan memihak salah satu paslon. Tetapi rakyat sudah cerdas gerakan dan perilaku penegak hukum yang selalu dianggap tidak adil dan pilih kasih terhadap dua kubu membuat orasi penguasa yang tidak memihak Ahok Justru menjadi anti pati terhadal Ahok.
Iklan