*Agama

Mengapa Din Ketua Pertimbangan MUI Sebut Masjid Daan Mogot Sebagai Masjid Dhirar dan Ditunda Peresmiannya ?


Ketua Dewan Pertimbangan MUI/Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah M Din Syamsuddin dlam surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo meminta agar menunda peresmian Masjid KH Hasyim Asy’ari yang berada di bilangan Daan Mogot, , sempat menyebut istilah ‘Masjid Dhirar’. Di dalam surat yang tersebar luas semenjak kemarin itu, ‘Din Syamsuddin’ mengartikan istilah ‘Masjid Dhirar’ sebagai masjid yang membahayakan.

Din Syamsuddin Minta Peresmian Masjid Daan Mogot Ditunda ketika pemprov DKI akan meresmikan Masjid Daan Mogot pada Minggu (16/4) lusa. Namun mengapa Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin, meminta peresmian masjid itu ditunda. 

“Rencana pereresmian Masjid Dan Mogot oleh Presiden Jokowi dengan melibatkan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama yang diaktifkan kembali, sebaiknya ditunda karena hanya akan mengganggu ketenteraman atau menambah ketegangan dalam masyarakat jelang Pilgub DKI 19 April 2017,” ucap Din dalam keterangan tertulis, Jumat (14/4). Din menyampaikan bahwa umat Islam berterima kasih atas pembangunan masjid yang akan memiliki nama resmi Masjid Raya Hasyim Asy’ari itu. Namun menurut Din, peresmian masjid saat minggu tenang Pilgub DKI, apalagi melibatkan salah seorang cagub, tentu akan mengganggu ketenangan masyarakat pemilih yang berseberangan. Bukankah penundaan pembacaan tuntutan JPU pada sidang penistaan agama didalihkan pada alasan gangguan ketentraman?  Unhkap Din Syamsuddin “Acara peresmian itu, yang tentu akan diberitakan secara luas oleh media, akan mempertontonkan dengan kasat mata bahwa Presiden Jokowi tidak netral. Bahkan berpihak secara nyata terhadap paslon nomor 2 Ahok-Djarot,” imbuh mantan Ketum PP Muhammadiyah itu. Jika Jokowi tetap meresmikan masjid itu, Din mengatakan bertentangan dengan pernyataan Jokowi sendiri berulang kali bahwa dia tidak berpihak. Padahal sebenarnya sebagian rakyat sudah menilai bahwa Presiden Jokowi dari awal sudah tidak netral dan tidak berdiri mengayomi seluruh rakyat. “Maka peresmian masjid yang apalagi dihadiri oleh Ahok, akan menambah rasa ketidakpercayaan sebagian rakyat. Padahal pelaksanaan agenda pembangunan negara dewasa sangat memerlukan dukungan seluruh rakyat,” lanjutnya. Untuk itu, rakyat memdambakan keteladanan politik ‘satunya ucap dan laku’. “Selama ini sering diucapkan tidak boleh ada politisasi agama, tapi rencana peresmian pada 16 April 2017 tersebut tak pelak lagi akan dianggap sebagai bentuk politisasi agama yang nyata,” ungkap Din. Saya mengharapkan agar peresmian itu ditunda setelah Pilkada 19 April 2017, pinta Din Syamsuddin

Selain itu, Din meminta perlu klarifikasi berita dengan gambar yang beredar luas, khususnya di kalangan umat Islam, bahwa denah Masjid Dan Mogot itu dari atas berbentuk lambang salib. Begitu pula garis pada pintu-pintu masjid menonjolkan lambang-lambang tersebut. “Kalau ini benar, maka sebaiknya diperbaiki dulu agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, yakni akan dianggap sebagai ‘masjid dhirar’ atau ‘masjid yang membahayakan’ karenanya harus dijauhi,” terang Din. “Hanya kearifan dan kenegarawanan yang bisa menampilkan kebijakan yang bijak. Politik dan agama tak terpisahkan, tapi jika pengaitan politik dengan agama secara tidak pas adalah sebuah langkah bablas,” tegasnya.

Masjid Dhirar

Setelah dicari dalam litelatur, maka soal sebutan masjid seperti itu ada dalam banyak pembahasan para cendikiawan Muslim. Pakar Tafsir, Prof Dr HM Quraish Shihab dalam bukunya Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Quran dan Hadits Shahih pun telah mengungkapkan. Dia menyatakan saat itu jumlah orang-orang munafik dengan berkembangnya ajaran Islam, pada waktu yang sama juga muncul semakin banyaknya orang munafik. (Tulisan ini pernah ditulis di Republika.co.id oleh almarhum Damanhuri Zuhri, Selasa , 09 February 2016, 07:20 WIB dengan judul: Ini Alasan Rasulullah SAW Musnahkan Masjid Dhirar). Quraish menceritakan, sebelum Rasulullah SAW bertolak ke Tabuk, orang-orang Munafik membangun bangunan yang mereka namai masjid. Mereka membangunnya bukan demi karena Allah SWT tetapi untuk tujuan menyambut kehadiran seorang yang bernama Abu Amir ar-Rahib.

Abu Amir ar-Rahib adalah seorang yang sangat aktif dalam membakar semangat kaum Musyrik Makkah dalam pertempuran Uhud. Ia lalu memeluk agama Kristen dan berangkat menemui Kaisar Romawi yang juga pemeluk agama Kristen.

Kaisar Romawi menjanjikan dukungan kepada Abu Amir ar-Rahib untuk memimpin masyarakat Madinah. Komunikasi antara Abu Amir dengan teman-temannya di Madinah berlanjut, dan untuk itulah kaum Munafik mendirikan tempat berkumpul bagi para pendukungnya sambil menanti kedatangannya. Ketika Bani Amir selesai membangun Masjid Quba di pinggiran Madinah, mereka mengundang Rasulullah SAW untuk shalat di sana dan Rasul memperkenankan permintaan mereka.

Bani Ghanim bin Auf, penggagas pembangunan masjid kaum munafik, mengundang juga Rasulullah SAW, tetapi ketika itu Rasul sedang bersiap-siap menuju Tabuk. Sekembalinya dari Tabuk dan setelah selesainya pembangunan masjid Bani Ghanim itu, Rasulullah SAW bersiap-siap menuju ke sana untuk shalat, tetapi sebelum melangkah turun firman Allah surat AT-taubah (9) ayat 107 yang artinya, ‘Dan orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan terhadap orang-orang Mukmin secara khusus, dan masyarakat secara umum, dan untuk kekafiran dan tujuan pengingkaran kepada Allah SWT serta untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin…” Begitu turun ayat ini, Rasulullah SAW membatalkan niatnya berkunjung ke masjid Bani Ghani bahkan memerintahkan beberapa orang untuk pergi menghancurkannya. Lokasi bangunan masjid ini dijadikan Rasulullah SAW sebagai tempat pembuangan bangkai dan najis.

QS. At Taubah : Tentang Masjid yang dibangun orang kafir

وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَّكُفْرًا وَّتَفْرِيْقًۢا بَيْنَ  الْمُؤْمِنِيْنَ وَاِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ مِنْ قَبْلُ    وَلَيَحْلِفُنَّ اِنْ اَرَدْنَاۤ اِلَّا الْحُسْنٰى  ؕ  وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ  لَـكٰذِبُوْنَ “Dan (di antara orang-orang kafir itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran, dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya).” Surat Ataubah ayat 107 – 110

  • QS. At-Taubah: Ayat 107 لَا تَقُمْ فِيْهِ اَبَدًا   ؕ  لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى  مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِ  ؕ  فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ  يَّتَطَهَّرُوْا   ؕ  وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ “Janganlah engkau melaksanakan sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.”
  • QS. At-Taubah: Ayat 108 اَفَمَنْ اَسَّسَ بُنْيَانَهٗ عَلٰى تَقْوٰى مِنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ اَمْ مَّنْ اَسَّسَ بُنْيَانَهٗ عَلٰى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهٖ فِيْ نَارِ جَهَـنَّمَ  ؕ  وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ “Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-(Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
  • QS. At-Taubah: Ayat 109  لَا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِيْ بَنَوْا  رِيْبَةً فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلَّاۤ اَنْ تَقَطَّعَ قُلُوْبُهُمْ  ؕ  وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ “Bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi penyebab keraguan dalam hati mereka, sampai hati mereka hancur. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” 
Iklan

Kategori:*Agama

Tagged as: ,