10 Berita Indonesia

10 Fakta Penghinaan Ulama Sekaligus Gubernur NTB TGB Zainul Majdi

Gubernur yang juga dikenal sebagai tokoh adat dan tokoh agama di NTB ini mendapat perlakuan tak pantas saat berada di Bandara Changi Singapura. Saat mengantre di Bandara, ia mendapat umpatan kata-kata kasar dari Steven yang juga warga negara Indonesia. Dalam insiden itu, Steven menghardik dan mencaci Muhammad Zainul Majdi dengan sebutan pribumi tiko (tikus kotor). Kejadian ini juga sempat membuat masyarakat NTB marah meski akhirnya berhasil diredam sang gubernur yang mengaku telah memaafkan Steven.

  1. Umat Islam Indonesia kembali terlukai oleh oknum sekelompok manusia Indonesia ketika seorang ulama sekaligus Gubernur TGB Zainul Majdi dihina oleh seorang mahasiswa keturunan Steven Hadisurya Sulistyo beralamat Jakarta dengan kata-kata yang tidak pantas. ‘Dasar Pribumi Tiko’ itulah sebuah hinaan yang dialamatkan kepada pemimpin Bumi Gora dan pemimpin ulama. Kejadianya berlangsung minggu 9 April 2017 di Bandara Changi pukul 14.30 waktu Singapura saat terjadi insiden antrian di Bandara terkait. Tetapi menjadi viral beberapa hari kemudian setelah sejumlah pihak mensharenya kemedia sosial.
  2. Kronologis peristiwa tersebut terjadi saat insiden antrian, dimana TGB Zainul Majdi dan istri tengah menngatri. Tetapi karena ingin mengetahui info penerbangan TGB keluar antrian untuk bertanya kepada salah seorang petugas Bandara. Setelah bertanya kemudian kembali dan bergabung dengan istri yang tetap mengantri, nah saat itulah Steven dan rekan-rekanya marah dan mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak pantas. Pribumi Tiko adalah sebutan Tikus kotor, atas kejadian itu Gubernur NTB melaporkan kejadianya kepada polisi.
  3. Kini kasusnya tengah diselidiki oleh aparat kepolisian, Steven sendiri telah mengajukan surat permohonan maaf yang ditandatangi dengan materai Rp 6.000. Namun demikian masyarakat NTB tidak terima dan meminta agar kasusnya diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
  4. Meski demikian diharapkan kerukunan dan harmoni umat beragama di NTB terjalin dengan sangat baik. Meski berjuluk seribu masjid dengan mayoritas muslim, NTB yang juga dihuni beragam entis, suku, ras, agama, tradisi, budaya dan bahasa itu mampu menjaga kedamaian. Ya, itu semua tak lepas dari kepemimpinan sang gubernur. Dia adalah Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi. 

  5. Di tangan TGB, sapaan akrab Zainul, kemajemukan itu selama ini terjalin sangat baik dan menjadi tulang punggung pembangunan di NTB. Masyarakatnya menjunjung nilai-nilai toleransi dan kerukunan antar umat terjalin sangat indah. Hal inilah yang membuat NTB sebagai daerah yang  damai. Hal itu dikatakan, Gubernur NTB, TGB HM Zainul Majdi

  6. Gubernur NTB: Tuan Guru DR KH Zainul Majdi. Lebih akrab disebut Tuan Guru Bajang. Gelar Tuan Guru di depan namanya, mencerminkan bahwa dirinya bukan orang biasa. Dia Ulama besar. Tokoh agama paling terhormat di Lombok sejak dari kakeknya. Sang kakek punya nama selangit. Termasuk langit arab: Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid. Dr. K.H. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat 2 periode, masa jabatan 2008-2013 dan 2013-2018. Pada periode pertama dia didampingi oleh Wakil Gubernur Badrul Munir dan pada periode kedua didampingi oleh Wakil Gubernur Muhammad Amin. Sebelumnya, Majdi menjadi anggota DPR RI masa jabatan 2004-2009 dari Partai Bulan Bintang yang membidangi masalah pendidikan, pemuda, olahraga, pariwisata, kesenian dan kebudayaan (Komisi X). Bila kita ingin masa depan Indonesia jadi lebih baik, maka bangsa ini harus dipimpin oleh sosok langka seperti DR KH Zainul Majdi ini.Ada dua unsur penting yang selama ini telah menjaga eksistensi agama Islam, yakni ulama dan umara’ (pemimpin). Ulama adalah pewaris ajaran nabi berserta perjuangan dan dakwahnya. Ulama adalah representasi dari pengetahuan dan pengamalan Islam. Sedangkan pemimpin (pemerintah) adalah ibarat penjaga, penguat, dan pemersatu umat Islam. Kata Imam Al Ghazali, agama ini adalah pondasi, sedangkan pemerintah adalah penjaga. Pemerintah tanpa agama akan hancur, sedang agama tanpa penjaga (pemerintah) akan hilang. Tidak banyak kita temukan seorang ulama dan pemimpin yang menyatu sekaligus dalam satu sosok. Setelah khalifah rasyidah, kita temukan pemimpin seperti itu ada dalam Umar bin Abdul Aziz atau Shalahuddin Al Ayyubi. Munculnya tokoh ulama yang menjadi gubernur di NTB tentu saja menjadi sorotan dan kekaguman banyak orang. Tuan Guru M, Zainul Majdi atau akrab disebut Tuan Guru Bajang telah membuktikan kapasitasnya sebagai ulama dan gubernur, sama baiknya.

  7. Dalam era modern bangsa ini sudah menjadi semacam tradisi bahwa untuk menjadi Presiden di negeri ini, maka dia harus menjadi “MediaDarling” sayangnya, Pemimpin berkualitas dan berkualifikasi seperti Beliau “Mustahil” akan didukung oleh para Taipan Media, apalagi dengan latar belakang keislamannya yang begitu kental. Namun, itu bukan alasan bagi kita untuk tidak berusaha “Menempatkan Orang Baik di tempat yang baik untuk kebaikan bersama” dengan segala kemampuan yang kita miliki. Meski hanya dengan menyebarkan informasi seperti ini. 

  8. Sang Gubernur kelihatannya menguasai ilmu mantik. Pelajaran penting waktu saya bersekolah di madrasah dulu. Pemahamannya akan pentingnya pariwisata juga tidak kalah. “Lombok ini memiliki apa yang dimiliki Bali, tapi Bali tidak memiliki apa yang dimiliki Lombok” motto barunya. Memang segala adat Bali dipraktikkan oleh masyarakat Hindu yang tinggal di Lombok Barat. Demikian juga pemahamannya tentang vitalnya infrastruktur. Dia membangun by pass di Lombok. Juga di Sumbawa. Dia rencanakan pula by pass jalur selatan. Kini sang Gubernur lagi merancang berdirinya kota baru. Kota Internasional di Lombok Utara. Sebagai Gubernur, Tuan Guru Bajang sangat mampu dan modern. Sebagai Ulama, Tuan Guru Bajang sulit diungguli. Inikah sejarah baru ?

  9. DR KH Zainul Majdi memang pernah bertahun-tahun belajar di Mesir setelah menyelesaikan studynya di pesantren Gontor. Di Universitas paling hebat disana ‘Al Azhar’, bukan hanya paling hebat, tapi juga salah satu yang tertua di dunia. Dari Al Azhar pula sang Gubernur meraih gelar Doktor untuk ilmu yang sangat sulit ‘Tafsir Al Qur’an’. Inilah satu-satunya kepala pemerintahan di Indonesia yang hafal Al Qur’an, dengan artinya, dengan maknanya, dan dengan tafsirnya. Mesir memang mirip dengan Indonesia. Dibidang politik dan persnya. Pernah lama diperintah secara otoriter. Lalu terjadi reformasi. Bedanya: Demokrasi di Indonesia mengarah ke berhasil. Di Mesir masih sulit ditafsirkan.

  10. Di Makkah, sang kakek dihormati sebagai Ulama Besar. Buku-bukunya terbit dalam bahasa Arab. Banyak sekali. Di Mesir, juga di Lebanon. Menjadi pegangan bagi orang yang belajar agama di Makkah. Sang kakek adalah pendiri organisasi keagamaan terbesar di Lombok: Nahdlatul Wathan (NW). Setengah penduduk Lombok adalah warga NW. Di Lombok tidak ada NU. NU-nya, ya NW itu. Kini sang cucu lah yang menjadi pimpinan puncak NW. Dengan ribuan madrasah di bawahnya

Pada zaman demokrasi ini, dengan mudah Tuan Guru Bajang terpilih menjadi anggota DPR. Semula dari Partai Bulan Bintang. Lalu dari Partai Demokrat. Dengan mudah pula dia terpilih menjadi Gubernur NTB. Dan terpilih lagi. Untuk periode kedua tahun ini. Selama karirnya itu, Tuan Guru Bajang memiliki track record yang komplit. Ulama sekaligus Umara. Ahli Agama, Intelektual, Legislator, Birokrat, dan sosok santun. Tutur bahasanya terstruktur. Pidatonya selalu berisi. Jalan pikirannya runut. Kelebihan lain: masih muda, 43 tahun. Ganteng, berkulit jernih, wajah berseri, dan murah senyum. Masa depannya masih panjang, pemahamannya pada rakyat bawah nyaris sempurna

Keluarga 

TGH. Muhammad Zainul Majdi adalah putra ketiga dari pasangan HM Djalaluddin SH, seorang pensiunan birokrat Pemda NTB dan Hj. Rauhun Zainuddin Abdul Madjid, putri dari TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid (Tuan Guru Pancor), pendiri organisasi Islam terbesar di NTB, Nahdlatul Wathan (NW) dan pendiri Pesantren Darun-Nahdlatain .Pada tahun 1997 Majdi menikah dengan Hj. Robiatul Adawiyah, SE, putri KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i, pemimpin Ponpes As-Syafiiyah, Jakarta. Pernikahan cucu ulama besar di NTB TGH. KH. Zainuddin Abdul Majid dan cucu ulama besar kharismatik Betawi itu telah dikaruniai 1 putra dan 3 putri, yaitu Muhammad Rifki Farabi, Zahwa Nadhira, Fatima Azzahra dan Zayda Salima.Pada tanggal 31 Mei 2013, Zainul Majdi mengajukan berkas permohonan talak terhadap istrinya. Rabiatul Adawiyah di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, dengan nomor perkara 1409/pdt.G/2013/PA.Jaksel, dan akan disidangkan mulai bulan Juli.Istri TGH M Zainul Majdi saat ini adalah ibu Erica Panjaitan dan telah dikaruniai seorang putri, Azzadina Johara Majdi

Pendidikan 

Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi mengenyam pendidikan dasar di SDN 3 Mataram (Sekarang SDN 6 Mataram), lulus tahun 1986. Ia melewati jenjang SLTP di Madrasah Tsanawiyah Mu’allimin Nahdlatul Wathan Pancor hanya selama 2 tahun, dan lulus Aliyah di yayasan yang sama tahun 1991. Sebelum memasuki perguruan tinggi ia menghafal Al-Qur’an di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits Nahdlatul Wathan Pancor selama setahun (1991-1992).Kemudian pada tahun 1992 Majdi berangkat ke Kairo guna menimba ilmu di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Universitas Al-Azhar Kairo dan lulus meraih gelar Lc. pada tahun 1996. Lima tahun berikutnya, ia meraih Master of Art (M.A.) dengan predikat “Jayyid Jiddan”.Setelah menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di Al-Azhar selama 10 tahun, Majdi melanjutkan ke program S3 di universitas dan jurusan yang sama. Pada bulan Oktober 2002, proposal disertasi Majdi diterima. Judulnya, “Studi dan Analisis terhadap Manuskrip Kitab Tafsir Ibnu Kamal Basya dari Awal Surat An-Nahl sampai Akhir Surat Ash-Shoffat” di bawah bimbingan Prof. Dr. Said Muhammad Dasuqi dan Prof. Dr. Ahmad Syahaq Ahmad. Ia berhasil meraih gelar Doktor dengan predikat “Martabah EL-Syaraf El Ula Ma`a Haqqutba” atau Summa Cumlaude pada hari sabtu, 8 Januari 2011 dalam munaqosah (sidang) dengan Dosen Penguji Prof. Dr. Abdul Hay Hussein Al-Farmawi dan Prof. Dr . Al-Muhammady Abdurrahman Abdullah Ats-Tsuluts.

Iklan