Jokowi Presiden Terbaik Di Asia Australia, Ternyata Distorsi Informasi Masif dan Seirama 

Sejumlah situs berbahasa Indonesia (termasuk dari sebuah media Nasional yang sudah tidak saya baca lagi) menulis berita hampirnseirama dan senadanbahwa “Bloomberg menobatkan Jokowi” sebagai “yang terbaik” tahun 2016 di kawasan Asia Pasifik. Padahal, sumber informasi awal, yaitu Bloomberg, bukan berbicara soal siapa yang “Terbaik” dalam artikel yang di-publish dalam Bahasa Inggris itu. Judulnya saja berbunyi: “Who’s Had the Worst Year?”. Dalam bahasa kita sehari-hari artinya adalah: Siapakah yang mengalami tahun terburuk kali ini? Judul bernada “sial” ini diperkuat dengan anak kalimat “How Asian Leaders Fared in 2016” yang berarti “Gambaran nasib para pemimpin Asia tahun 2016”. Pula, pada bagian subjudul editor Bloomberg mencantumkan: “And some of the headaches they face in 2017”, atau: “Dan sejumlah ‘sakit kepala’ yang dihadapi tahun 2017″. Ternyata  tidak ada  istilah”Terbaik” pada artikel bloober tersebut. Mungkin substansi utamanya adalah “Siapa yang Terbaik di antara yang Terburuk”. Ternyata sampai sekarang media masa semakin sulit dipercaya masyarakat karena menyebarkan berita pencitraan penuh kebohongan.

Terjadi penyebaran distorsi informasi yang dilakukan pelaku medsos , dan sejumlah media sosial a6aummedia masa lainnya tampak sekali bagai mendapat setitik air di tengah kegersangan catatan pemenuhan janji-janji kampanye Joko Widodo. Di tengah kabar pembangunan pembangkit listrik 35 ribu MW yang mulai menjauh dari harapan, Tol Laut yang mulai kehilangan semangat, Harga BBM di Papua yang ternyata masih belum sama sepenuhnya dengan di kawasan barat, nilai tukar Rupiah yang masih berkutat di level 13 ribuan, Kartu Ajaib yang masih jauh dari harapan artikel Bloomberg pun jadi pelipur lara.

Indikator yang digunakan Bloomberg (dalam rangka membandingkan para pemimpin Asia-Pasifik, bukan dalam rangka menunjukkan adanya perubahan yang dilakukan pemimpin bersangkutan di negaranya masing-masing):

  • Rupiah menguat 2,41℅.. Sekilas, ini tampak sebagai indikator “Positif”. Menjadi makin bercitra positif saat dibandingkan dengan mata uang beberapa negara pembanding yang mengalami penurunan. Namun, penguatan 2,41℅ itu belum bisa menutupi penurunan nilai tukar Rupiah (terhadap Dollar AS) yang terjadi sejak Joko Widodo menjadi presiden. Saat ia dilantik, Rupiah berada pada level 12.100 per Dollar. Saat ini, pertanggal 30 Desember 2016, Rupiah berada dievel 13.475. Artinya, Rupiah mengalami depresiasi (penurunan) lebih dari 10℅. Penguatan 2,41℅ di atas masih terhitung “tekor”. Pula, data 2,41℅ itu rancu karena hanya mencakup jendela data Juli sampai Oktober 2016. Sementara data nilai tukar negara pembanding lainnya seperti China, Jepang, dan Korea mencakup jendela data yang lebih lebar. China mencakup keseluruhan tahun (Jan-Des), Korea Januari hingga November, Jepang Januari hingga Oktober. Jadi, pembandingan data menjadi sangat rancu. Mengapa untuk Rupiah hanya mencakup Juli-Oktober? Sekedar info, Rupiah sempat menyentuh nilai tukar 12.900-an (nilai terkuatnya selama 2016) pada awal Oktober). Mengapa hanya pada jendela waktu singkat dan pada saat ada strong point seperti itu?  Mungkin jawabannya ada pada Saiful Mujani Research & Consulting yang menjadi sumber Bloomberg.
  • Pertumbuhan Ekonomi 5,02℅. Ini berarti pertumbuhan datar datar saja karena berkisar pada angka pertumbuhan yang sama dengan tahun sebelumnya. Angka ini jika dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan rezim sebelumnya, yaitu rezim SBY, masih belum ada apa-apanya. SBY pernah membawa Indonesia ke angka pertumbuhan 6℅.
  • Approval Rating 69℅. Dengan sumber SMRC, merupakan hadiah hiburan karena angka 69℅ bukanlah yang terbaik. Ada Presiden Filipina dan Presiden India yang memiliki approval di atas 80℅.
Iklan