UBN: Walisongo Islamkan Nusantara, Kini Ada Yang Nusantarakan Islam

SEKJEN Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustaz Bachtiar Nasir) menegaskan, gagasan Islam Nusantara yang diusung oleh kelompok liberal dan didukung oleh Menteri Agama, identik dan cenderung pada sinkretisme. Ada upaya mencampuradukkan Islam dengan budaya. Gagasan ini error dan salah niat. Dikatakan Ustadz Bachtiar Nasir atau akrab disapa UBN, dahulu Walisongo mengIslamankan nusantara, sedangkan saat ini sebagian kalangan ingin menusantarakan Islam. “Yang jelas program Islam Nusantara sejak awal sudah salah niat. Ada yang suudzon, bahwa Islamisasi itu sama dengan Arabisasi. Nggak mesti gitu dong. Tapi sepertinya ada yang benci Arab,” kata UBN saat melauncing Program Spesial Ramadhan di kantor AQL Islamic Center – Tebet.

Pimpinan AQL Islamic Center itu mengingatkan, gagasan Islam Nusantara timbul dari sikap benci kaum Yahudi Bani Israil kepada Arab ketika itu. Bani Israil protes kenapa orang Arab yang menjadi Nabi. Bahkan Bani Israil menolak kenapa Malaikat Jibril menurunkan wahyu kepada orang Arab, dalam hal ini Nabi Muhammad Saw. Bagi Bani Israil itu merupakan kesalahan. “Karenanya, janganlah jadi penerus perasaan Bani Israel yang membenci orang Arab. Bertobatlah bagi mereka yang membenci orang Arab. Jangan-jangan perasaan ini sudah tersusupi oleh iblis-iblis yang pernah berhasil menyusupi perasan Bani Israel masa lalu yang tidak suka sama Arab,” tukas UBN.
Bagaimanapun Al Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab. Meski begitu, Arab pun belum tentu Islami. Maka, lebih baik, kata UBN, perbaiki muka kita jika objek di cermin kotor. Jadi, jangan salahkan cerminnya. “Hilangkan perasaan hasud, dengki dan dendam itu.”

Kiblat Nusantara

Ketika ditanya, terkait statemen Wapres Jusuf Kalla yang terobsesi memindahkan kiblat pemikiran Islam yang selama ini berpusat di Timur Tengah ke Indonesia, UBN mengatakan, Allah Swt telah menetapkan Baitul Maqdis, kemudian Kabah di Makkah sebagai kiblat umat Islam.

Kepada yang hendak memindah kiblat Islam dari tanah lahirnya ke Indonesia, cobalah baca Surat Al Baqarah ayat 144, 149 dan 150. “Ayat-ayat tersebut awalnya memang terkait urusan kiblat shalat. Namun, sekarang, bukan sekadar kiblat shalat tetapi juga kiblat pemikiran,” kata UBN. Kenapa ayat terkait kiblat umat Islam tiga kali diulang. “Alhaqqu min Rabbikum”. Sesuatu yang haq turun dari Tuhanmu? “Supaya tidak ada alasan bagi manusia yang ingin mengalihkan kiblat pemikiranmu,” kata UBN. “Dengan demikian, jangan bergeming kepada orang-orang yang hendak mengubah arah kiblat pemikiranmu, kiblat keyakinanmu. (Sebab) akan ada yang selalu berupaya untuk mengalihkan kiblat pemikiranmu,” pesan UBN. UBN menegaskan, selama ini yang dimaksud Islam Nusantara identik dengan sinkretisme, pencampuran antara Islam dan budaya. “Nah di sini errornya,” ungkap alumni Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo ini. Namun demikian, Bachtiar tetap mendukung rencana pemerintah yang hendak membangun kampus Islam Internasional dengan mengusung gagasan Islam moderat itu. “Kita dukung. Kita dukung Pak Wapres, minta sama gubernur mudah-mudahan dapat 200 hektar. Mudah-mudahan dibangun semewah-mewahnya dan kita akan isi dalamnya,” imbuhnya. [Desastian/Islampos]