Berita Internasional

Tragedi Aleppo, Tragedi Kemanusiaan Terbesar Abad 21

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dengan geram bahwa serangan militer di Aleppo adalah tragedi kemanusiaan terebsar di abad 21. Tentara pemerintah Suriah kembali melakukan serangan di Aleppo timur. Serangan ini berlangsung hanya sehari setelah terjadi kesepakatan antara pemerintah dan pemberontak Suriah, dan berlangsung di saat proses evakuasi di Aleppo timur berlangsung. Seorang pejabat dari kelompok Jabha Shamiya, bagian kelompok pemberontak Suriah yang berbasis di Turki mengatakan, tentara Suriah melakukan serangan dengan kekuatan penuh. Ada pengeboman yang dilakukan secara bertubi-tubu oleh pasukan rezim di wilayah Aleppo timur, mereka menggunakan artileri, tank, dan mortir,” kata pejabat pemberontak yang berbicara dalam kondisi anonim, seperti dilansir Reuters pada Rabu (14/12). 

Sekitar 1.150 warga sipil, termasuk korban luka-luka, telah tiba di kota Idlib Suriah pada hari Kamis malam waktu setempat. Menurut kesepakatan antara rezim Assad dan kelompok oposisi Suriah, warga sipil yang dievakuasi dari Aleppo Timur akan diarahkan ke Idlib, yang terletak dekat perbatasan dengan Turki. Pada hari Kamis, kelompok pertama warga yang dievakuasi dari Aleppo mencapai zona aman yang dikuasai oposisi di Suriah, demikian menurut Wakil Perdana Menteri Turki Veysi Kaynak. Kekerasan meningkat di kota Aleppo pada hari Senin lalu, ketika pasukan rezim Suriah menggempur wilayah yang dikuasai oposisi di bagian timur kota setelah pengepungan selama lima bulan dan pemboman udara secara terus-menerus. Sekitar 80 ribu warga sipil diyakini masih terperangkap di Aleppo.

Serangan udara berlanjut Jumat (29/4) di kota kedua Suriah, Aleppo, di mana klinik dihantam satu hari setelah serangan menghancurkan sebuah rumah sakit, kata pejabat pertahanan sipil.m

Klinik, yang telah memberikan pengobatan untuk penyakit kronis dan layanan gigi selama sekitar lima tahun ini, rusak parah. Seorang perawat termasuk di antara beberapa yang cedera. 

Media pemerintah melaporkan bahwa pemberontak telah menembaki masjid Aleppo di lingkungan Bab al-Faraj, menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai 30 lainnya. 

“Pesawat-pesawat tidak tidur dan juga tidak membiarkan kami tidur,” kata seorang warga kepada kantor berita AFP. “Bumi bergetar di bawah kaki kami.”

Salat Jumat dihentikan di masjid-masjid kota di kawasan yang dikuasai pemberontak karena khawatir akan kekerasan lebih lanjut. 

Kamis (28/4) merupakan hari paling maut di Aleppo sejak kekerasan meletus pekan lalu, ketika organisasi HAM Syrian Observatory for Human Rights mengatakan 54 orang tewas. 

Sedikitnya 200 warga sipil tewas di Aleppo pekan ini saat pemberontak menembaki kawasan yang dikuasai pemerintah dengan roket dan artileri sementara rezim terus melancarkan serangan udara di daerah pemberontak.

Kepala HAM PBB Zeid Ra’ad Al Hussein menyatakan hari Jumat (29/4) bahwa kekerasan baru di Suriah pekan ini menunjukkan ketidakperdulian yang mengerikan pada nyawa warga sipil oleh semua pihak yang berperang. Adanya serangan yang dilakukan oleh tentara Suriah juga turut disampaikan oleh Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia. Kelompok yang berbasis di London itu serangan terjadi di lingkungan yang menjadi basis pemberontak Suriah. “Suara ledakan terdengar di kawasan yang dikendalikan oleh faksi pemberontak di Aleppo timur, lendakan ini diyakini telah disebabkan oleh artileri yang ditembakkan oleh pasukan rezim di wilayah tersebut,” kata Direktur Observatorium, Rami Abdulrahman. Seorang saksi mata mengatakan, serangan itu berlangsung sekitar setengah jam, kemudian berhenti. Sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Suriah, atau Rusia sebagai sekutu Suriah mengenai serangan terbaru tersebut.

Allepo

Aleppo adalah sebuah kota di Suriah yang menjadi ibu kota Kegubernuran Aleppo yang berpopulasi terbesar dalam Kegubernuran di Suriah. Dalam beberapa abad, Aleppo adalah kota terbesar wilayah Syam dan kota ketiga terbesar Kesultanan Utsmaniyah, setelah Konstantinopel dan Kairo. Penduduknya berjumlah 2.130.000 jiwa (2005). Kota Aleppo termasuk kota tertua di dunia, sudah ada sejak tahun 2000 SM. Kota ini dulu bernama Halab. Dalam naskah Babilonia Kuno (750 SM), nama Halab sudah disebut, demikian pula nama Aleppo dalam inskripsi Mesir Kuno (abad ke-16 SM). Aleppo berubah namanya menjadi Beroia oleh Seleucus Niktator (312-64 SM) pada masa Kerajaan Seleukus. Karena letak Aleppo yang sangat strategis sebagai pusat perdagangan, sudah banyak bangsa yang sering menaklukan Aleppo. Mulai dari bangsa, Hitit (2000 SM), Mesir dan Asiria (abad ke-8 SM), Persia (abad ke-6 SM), Macedonia (332 SM), Romawi (64 SM), Arab (635 M), Tatar (1260), Mongol (1398), Kesultanan Utsmaniyah (1517 M), dan Perancis (1920 M). Kota Aleppo menjadi bagian dari negara Suriah sejak tahun 1944. Kota Aleppo sempat diguncang gempa bumi pada tahun 1822 dan 1827 yang mengakibatkan beberapa kerusakan pada bangunan bersejarah di kota Aleppo.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan ia tengah membahas situasi saat ini di Aleppo dan Irak dengan Presiden AS Barack Obama pada hari Kamis.“Kami berbincang cukup lama dengan Obama tentang masalah evakuasi di Aleppo, dan ia bertanya bagaimana dia bisa membantu,” kata Erdogan, lansir World Bulletin. Erdogan mengatakan pembantaian dan penindasan yang dilakukan terhadap orang-orang di Aleppo dilakukan di tempat terbuka di depan seluruh dunia. “Aleppo adalah tragedi kemanusiaan paling memalukan di abad ke-21. Jika kita ingin menghasilkan solusi di Suriah, Aleppo harus di bawah kontrol,” kata Erdogan. “Kami terus memantau proses gencatan senjata dan kami akan terus melakukannya. Tentunya, jumlah [orang yang terperangkap di Aleppo] tidak begitu kecil. Saya berharap ini [gencatan senjata] tidak akan dilanggar lagi, “tambahnya.

Iklan