*Politik-Sosial

Hasil Berbagai Survey Terkini Ahok Jeblok dan Paling Tidak Disukai

Jelang Pilkada DKI 2017, sejumlah lembaga survei mengeluarkan hasil survei masing-masing untuk mengetahui elektabilitas dan popularitas sementara dari pasangan bakal calon gubernur-wakil gubernur. Ada tiga pasangan bakal calon yang telah mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI (KPUD DKI). Ketiga pasangan calon tersebut ialah Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, dan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni.
Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan, bahwa kasus penistaan agama dianggap sebagai faktor penting dalam membuat keputusan mengenai pilihan dalam Pilgub DKI 2017. Meski sebagian pemilih tetap melihat berbagai faktor lain seperti kualitas personal, kinerja, dan janji kampanye sebagai acuan saat memilih. Direktur Eksekutif LSI Kuskridho Ambardi menjelaskan, semua calon gubernur sudah sangat populer dengan angka masing-masing di atas 90%. Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menempati urutan paling buruk dalam hal tingkat kesukaan dengan angka 54%. Sementara dua calon gubernur lain, Agus Harimurti Yudhoyono serta Anies Baswedan, memperoleh nilai yang sama yakni 66%.

Lembaga Survey Indonesia

Elektabilitas calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) jeblok pasca demo 4 November 2016. Dari hasil survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI), elektabilitas Ahok-Djarot saat ini sudah di bawah 30 persen, yaitu di angka 24,6 persen. Alasan pertama dari anjloknya elektabilitas Ahok-Djarot adalah efek dari kasus dugaan penistaan agama yang menjerat Ahok. LSI mengungkap, 70 persen warga ibu kota menyatakan Ahok bersalah atas kasus tersebut. Jika lebih dikerucutkan berdasarkan afiliasi warga ke organisasi-organisasi Islam, ditemukan bahwa mayoritas warga Muhammadiyah (85,7 persen), Nahdlatul Ulama (85 persen), dan Persatuan Islam (75 persen) menyatakan Ahok bersalah. “Sementara, FPI dan Ikhwanul Muslimin sepakat 100 persen Ahok salah,” ujar peneliti LSI, Adjie Alfaraby, saat merilis survei terbaru di Kantor LSI, Jalan Pemuda nomor 70, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (10/11). Selain itu, tingkat kesukaan warga terhadap Ahok juga terus mengalami penurunan. Dari 71,3 persen di bulan Maret, merosot jadi 68,9 persen di Juli, dan tersisa 58,2 persen di bulan Oktober. “Pada bulan ini, tingkat kesukaan warga kepada Ahok berada di bawah 50 persen, atau 48,3 persen saja,” sambung Adjie. Terakhir, yang membuat elektabilitas Ahok merosot adalah masalah personality dan kebijakan yang diambil Ahok. Mantan bupati Belitung Timur itu dianggap memiliki kepribadian yang dipersepsikan sangat arogan oleh publik. “Kebijakan penggusuran dan reklamasi yang dipersepsikan membela pemodal dan persepsi Jakarta tidak akan stabil jika Ahok memimpin kembali, turut menyumbang kemerosotan elektabilitas Ahok,” jelasnya. Survei kali ini dilakukan pada tanggal 31 Oktober hingga 5 November 2016 di Jakarta. Survei juga dilakukan secara tatap muka terhadap 440 responden yang dipilih dengan menggunakan metode multistage random sampling. Margin of Error survei ini plus minus 4,8 persen.

Lembaga Survey Pltracking

Lembaga survei Poltracking Indonesia melansir hasil survei peta dukungan serta tren elektabilitas calon gubernur-calon wakil gubernur DKI jelang Pilkada DKI 2017. Dikutip dari Kompas.com, Poltracking menempatkan pasangan calon Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dengan elektabilitas tertinggi, yakni 27,29 persen.
Disusul pasangan calon petahana Basuki “Ahok’ Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat 22 persen. Adapun pasangan nomor pilih tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, elektabilitas mencapai 20,42 persen.
Sebanyak 29.66 persen pemilih masih belum memilih. “Elektabilitas Pak Basuki sangat tipis selisihnya dengan Anies. Selisih di bawah 2,8 persen jadi secara statistik tidak bisa menyebut siapa paling unggul,” ujar Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yudha, di Jakarta Pusat, Minggu (27/11/2016). Hanta menjelaskan, pemilih yang belum menentukan pilihan masih sangat tinggi. Sehingga, pemilih ini masih sangat menentukan siapa yang paling berpeluang unggul. Hanta menambahkan, sejumlah kemungkinan mengapa pemilih yang belum menentukan pilihannya masih tinggi. Kemungkinan tersebut seperti pemilih masih menunggu, dan pemilih benar-benar memutuskan untuk tidak memilih. “Semua pasangan calon masih sangat berpeluang untuk menang (pada Pilkada DKI) karena pemilih di Jakarta masih sangat dinamis,” ujar Hanta. Survei ini dilaksanakan pada 7-17 November 2017 dengan menggunakan metode multi stage random sampling. Jumlah responden 1.200 orang dengan margin of error sebesar 2.8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Dana survei dibiayai oleh internal.

Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan, bahwa kasus penistaan agama dianggap sebagai faktor penting dalam membuat keputusan mengenai pilihan dalam Pilgub DKI 2017. Meski sebagian pemilih tetap melihat berbagai faktor lain seperti kualitas personal, kinerja, dan janji kampanye sebagai acuan saat memilih. Direktur Eksekutif LSI Kuskridho Ambardi menjelaskan, semua calon gubernur sudah sangat populer dengan angka masing-masing di atas 90%.  Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menempati urutan paling buruk dalam hal tingkat kesukaan dengan angka 54%. Sementara dua calon gubernur lain, Agus Harimurti Yudhoyono serta Anies Baswedan, memperoleh nilai yang sama yakni 66%. Secara kualitas, tingkat disukai Ahok relatif lebih rendah, 54%, dibanding Agus dan Anies masing-masing disukai 66%.

Iklan

Kategori:*Politik-Sosial

Tagged as: , , ,