Tak Berkategori

Boikot Sari Roti, Metrotv dan Pembangkangan Nasional

Boikot Sari Roti dan Metrotv Semoga Tidak Menjadi Pembangkangan Nasional

Aksi boikot yang telah terjadi seperti produk makanan sari roti  dan sebuah media stasiun televisi metrotv diyakini para pengamat adalah bentuk awal akumulasi ketidakpuasan umat muslim terhadap ketidak adilan informasi, sosial, ekonomi dan hukum yang dialami umat muslim. Sebelumnya bibit bibit kecil boikot sudah bermunculan seperti penolakan terhadap jasa transportasi online dan ajakan Rush Money. Boikot umat Islam kepada berbagai pihak-pihak yang membuat tersinggung umat itu itu dalam sekejap menjadi viral di media sosial. Seketika itu juga kini disadari, baik oleh umat Islam sendiri maupun pihak-pihak di luar gerakan boikot ini, bahwa ternyata aksi boikot umat Islam sangat cepat dan kuat dalam menyatukan kekuatan luarbiasa masyarakat dan berdampak kehancuran pada pihak-pihak yang diboikot. Para pengamat mengingatkan bahwa aksi boikot itu jangan diremehkan karena bila ketidakpuasan umat itu terus terjadi akan berkembang menjadi senjata utama umat berupa gelombang besar pembangkangan nasional seperti “Rush Money”, penolakan bayar pajak dan mogok nasional yang ujung ujungnya dapat meruntuhkan kelanggengan pemerintahan bila tidak ditangani dengan adil dan bijaksana. Pembangkangan Sipil atau Civil Disobedience adalah salah satu essay paling populer yang ditulis oleh Henry David Thoreau yang membuat inspirasi luarbiasa bagi Mahatma Gandhi dan  Martin Luther King Jr., tokoh gerakan hak-hak sipil yang melakukan aksi tanpa kekerasan memperjuangkan ketidak adilan negerinya yang dapat menghancurkan penguasa yang mendzolimi rakyatnya.

Tampaknya ketidak adilan berbagai segi kehidupan seperti ketidak adilan informasi, hukum, sosial dan ekonomi semakin lama semakin dirasakan umat muslim. Puncaknya adalah ketidak adilan hukum seperti yang terjadi pada kasus penistaan agama oleh Ahok. Ketidak adilan itu dapat dirasakan mulai dari awal pemrosesan hukum hingga  yang terakhir ini belum ditahan meskipun sudah jadi tersangka. Banyak pengamat dan umat menganggap banyak pihak yang melindungi dan mendukung Ahok. Mulai dari penguasa, aparat negara, pemimpin parpol, tokoh-tokoh ormas dan LSM, media massa nasional yang dicurigai disandera dengan kekuatan uang oleh sebuah kekuatan sangat besar yang melanda NKRI. Fakta itu diperkuat dengan adanya perseteruan intern ormas dan parpol karena pimpinannya melakukan tindakan yang dianggap menyimpang dari visi dan misi organisasi. Bahkan hingga saat ini suara wakil rakyat seperti bungkam dan tiarap, hanya satu atau dua  wakil rakyat yang masih kritis itupun langsung dituding sebagai makar. Keyakinan masyarakat bahwa mereka dianggap secara terbuka mendukung Ahok ditunjukkan dalam caci-maki di media sosial dan spanduk dan tulisan yang digunakan dalam berbagai aksi masa. Maka ketika Ahok belum juga ditahan, kekecewaan umat Islam diarahkan kepada pihak-pihak yang dianggap melindungi dan mendukung Ahok. Kekecewaan yang tadinya dalam bentuk verbal dan visual melalui medsos kini menjadi kemarahan dalam tindakan nyata, yaitu pemboikotan pada pihak yang merasa mendzolimi umat muslim. Ternyata kekuatan umat dalam boikot itu yang awalnya diremehkan ternyata dampaknya luar biasa yang bisa meruntuhkan kelanggengan bisnis perusuhaan besar itu. Pemboikotan sari roti dan metrotv itu terbukti membuat panik meski sebuah perusahaan sangat besar dan bonafit karena yang memboikot adalah mayoritas penduduk negeri ini. Para pengamat meyakini bahwa keberhasilan pemboikotan itu akan menjadi inspirasi untuk melakukan pemboikotan atau pembangkangan sipil bila penguasa meremehkan kebangkitan jutaan umat.

Pembangkangan Sipil

Konsep pembangkangan sipil atau civil disobedience pertama kali dikenal ketika filosof Amerika lulusan Harvard bernama Henry David Thoreau pada tahun 1846. Thoreau mengkampanyekan menolak membayar pajak pada pemerintah, sebagai bentuk protes terhadap penggunaan penerimaan pajak yang memberikan kontribusi dalam mendukung perbudakan. Meskipun akhirnya dipenjara, pembangkangan sipil Thoreau membuka mata publik Amerika, mengapa seorang warga negara mematuhi hukum yang diciptakan oleh Pemerintah padahal mereka percaya bahwa hukum itu tidak adil. 

John Rawls seorang ahli filsafat lainnya dalam A Theory of Justice menjelaskan bahwa pembangkangan sipil untuk menyuarakan rasa keadilan sebagian besar masyarakat, akibat tidak dihormatinya suatu pendapat yang sifatnya prinsipil dalam kerangka sosial dan kesetaraan. Secara teoritis pembangkangan sipil terjadi pada suatu tatanan masyarakat di mana warga negara mengakui dan menerima legitimasi konstitusi, namun di dalamnya terjadi suatu tindakan ketidakadilan yang serius. 

Pembangkangan Sipil adalah salah satu essay paling populer yang ditulis oleh Henry David Thoreau itu ternyata membuat inspirqsi yang luarbiasa bqgi Mahatma Gandhi, tokoh kemerdekaan India. Prinsip Satyagraha  atau kebenaran dan keteguhan dan Ahimsa  atau perlawanan tanpa kekerasan ,adalah ajaran Gandhi yang sangat dipengaruhi gagasan Civil Disobedience. Demikian juga Martin Luther King Jr., tokoh gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat juga terpengaruh oleh gagasan Civil Disobedience. Fakta sejarah lainnya menunjukkan bahwa pembangkangan sipil sudah banyak dilakukan di Syria sepanjang 2011, AS bulan Agustus 2011, China tahun 2000-an, Myanmar tahun 2007, Thailand tahun 2010 dan berbagai tempat lain di dunia. Dalam beberapa peristiwa pembangkangan sipil di beberapa negara, seringkali diikuti dengan tumbangnya rezim penguasa. Apalagi jika boikot dan pembangkangan sipil didasari dengan semangat membela agama dan keyakinannya dianiaya. Kebangkitan jutaan umat diyakini bukan karena provokasi politik atau buah karya tangan seorang ulama sekalipun tetapi adalah upaya tangan Allah yang satu satunya kekuatan yang bisa menyatukan dan menggerakkan jutaan hati umat serta mengatur seluruh pergerakannya. 

Kejumawaaan penguasa, aparat pemerintah, ormas dan parpol ternyata membuat rasa keadilan sebagian besar masyarakat terkoyak. Kesewanang-wenangan itu tampaknya dipermukaan saat ini  sepertinya memenangkan pertarungannya. Hal ini diyakini karena pemerintah dan aparat keamanan dengan hebat dapat  meredam aksi damai jutaan umat menjadi aman dan tertib. Tetapi mereka lupa Sang Penguasa alam semesta tak akan tinggal diam ketika umatnya terus berdoa dan teraniaya melihat kedzaliman dalam berbagai segi kehidupan itu. Hampir sebagian besar ekonomi didominasi  oleh sebagian kecil para pemodal besar keturunan, sehingga uang bisa mengatur semua rencana busuk para kelompok orang licik dan tidak nasionalis di negeri ini. Polemik yang sangat luas yang dilakukan ulah Ahok membuat kegaduhan luar biasa di negeri ini. Banyak masyarakat heran mengapa seorang Ahok bisa membuat penguasa dan penegak hukum menjadi lentur sehingga mengorbankan keutuhan NKRI. Ternyata banyak orang pintar negeri sudah mulai mencermati  bahwa permasalahan ini bukan sekedar Ahok. Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015, Prof. Dr. KH. Din Syamsuddin, MA yang biasanya menahan diri ternyata akhirnya berusaha mengungkapkan ada ancaman besar dibalik polemik Ahok. Din menganalogikan kekuatan uang itu bagaikan cengkeraman naga raksasa yang sedang melilit NKRI yang kaya raya.  Kekuatan tersebut membuat negeri ini menjadi terpuruk ketika pemerintah, partai politik, ormas, sampai kepada pers, yang banyak terdiri dari orang-orang lemah baik iman, akal pikiran, dan komitmen kerakyatan. Kekuatan besar yang di belakang Ahok semakin banyak dirasakan rakyat tetapi sulit dibuktikan. Ternyata adanya kekuatan besar itu juga sudah ramai diungkapkan oleh banyak ulama dan banyak dicermati oleh orang Indonesia yang berpikir. Bahkan sebagian orang putih dan orang pintar seperti Kyai Mbeling Emha Ainun Najib, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc, atau mantan Menko Perekonomian Kwik Kian Gie sebelumnya juga sudah sering memberi “warning” pada masyarakat bahwa kekuatan besar itu menvengkeram negeri ini semakin dirasakan tetapi sulitmdibuktikan. Kekuatan besar uang tersebut justru membuat kebangkitan umat muslim yang sangat luar biasa. Kebangkitan umat yang menvengangkan dunua ketika lebih dari 5 juta umat Islam beramai ramai menuju pusat negeri melakukan aksi bela agama 212. Meski sempat dihalangi, dihambat dan diancam oleh aparat pemerintah dimana mana tetapi dengan semangat membela agama peserta aksi 212 merasakan kekuatan Ilahi hadir dalam dirinya yang mengantar mereka tetap dengan gagah berani bergelombang menuju perjuangan suci melawan ketidak adilan yang selama ini diterima. 

Saat ini para pendukung ahok dan pendukung pemerintah menganggap aksi jutaan umat yang berlangsung damai itu sebagai kemenangan penguasa.  Kisah  Presiden Indonesia Jokowi dengan berbekal menenteng payung sendiri dengan berani masuk dalam jutaan umat yang sebelumnya ditakutinya dan dilarang oleh aparat pemerintah itu digambarkan oleh media nasional dan pendukungnya sebagai tindakan kemenangan dan tindakan heroik. Tampaknya hal itu tidak disadarinya bahwa kekuatan doa dan kesabaran peserta aksi 212 berjalan dengan damai, tanpa kekerasan jangan dianggap kekalahan karena umat Islam belum mencapai tujuan akhirnya. Bila dicermati akumulasi gelombang aksi itu diprediksi banyak pengamat akan semakin lama semakin menghebat bahkan diprediksi para pengamat akan bisa berpotensi menggulung kelanggengan kekuasaan negeri ini meski dengan cara damai. Aksi bela agama umat Islam yang dilakukan dengan kekuatan doa dan sabar itu meski berlangsung damai dan tanpa kekerasan itu jangan dianggap remeh,  dianggap lemah dan tidak mampu melawan kekuatan besar yang melindungi dan mendukung Ahok. Tampaknya aksi gerakan umat Islam itu tidak akan melakukan kekerasan dan anarkisme untuk melawan ketidakadilan. Tampaknya kekuatan umat itu mulai tampak dengan bentuk lain berupa aksi boikot yang telah terjadi dan menjadi viral di sosial media adalah bukti bahwa kekuatan boikot sangat luar biasa. Aksi boikot adalah suatu tindakan untuk tidak menggunakan jasa atau membeli produk atau berhubungan dengan pihak tertentu sebagai bentuk protes. Dalam kasus penistaan agama oleh Ahok, para pengamat menilai bahwa aksi boikot bisa saja berkembang menjadi pembangkangan sipil, jika negara berlarut-larut tidak menangkap Ahok. Apalagi membebaskan Ahok maka akumulasi ketidak puasan akan semakin menghebat. Ketika semua jalur demokrasi dan alur hukum rakyat tertutup, tersumbat dan terbungkam sementara rakyat tidak berdaya tidak berkekuatan, berkelembagaan dan berfinansial untuk memperjuangkan keadilan. Tetapi ternyata aksi damai jutaan umat itu mulai menemukan bentuk dan jalan bahwa betapa sangat ditakutinya senjata boikot ratusan juta umat Islam itu. Para pengamat memperkirakan bila penguasa meremehkan gerakan umat itu maka sangat mungkin boikot umat Islam akan berkembang menjadi senjata utama pembangkangan sipil. Bentuk pembangkangan sipil yang sangat ditakuti penguasa adalah rush money, menolak membayar pajak dan mogok kerja nasional. Pembangkangan nasional dianggap para ahli sejarah merupakan tindakan yang paling tidak beresiko dibandingkan dengan tindakan kekerasan. Hal ini sudah ditunjukkan oleh Mahatma Gandhi dengan gerakan ahimsa dan satryagraha melakukan perlawanan padan kekuasan yang bathil dengan kesabaran dan tanpa kekerasan.

Banyak ulama dan umat mulai sadar bahwa doa dan sabar para umat yang teraniaya akan selalu berberkah dan menemukan jalannya sendiri meski harus dengan tanpa kekerasan. Bila keadilan masih tidak berpihak pada umat Islam sebaiknya pemimpin informal umat tidak perlu menggelorakan gerakan revolusi kekerasan. Ulama pemimpin umat tentunya sudah memahami  teladan sikap terpuji Nabi Muhammad  SAW bahwa untuk mengingatkan pemerintah yang dzolim tidak dengan bersuara keras dan berteriak. PemimpIn umat sebaiknya tidak mengorbankan darah dan nyawa umat tetapi cukup menginspirasi Mahatma Gandhi yang melakukan perlawanan dengan kesabaran dan tanpa kekerasan.

Saat ini bola panas semua proses akumulasi aksi bela umat dalam menuntut ketidakadilan ada di tangan penguasa dan aparat hukum. Awalnya petinggi perusahaan dari Roti dan Metrotv menganggap remeh aksi boikot itu. Tetapi ternyata dampaknya sangat luar biasa sehingga dalam beberapa hari menarik statementnya di situs perusahaan itu. Hal itu juga mulai disadari oleh pengelola televisi berita nasional yang diboikot itu. Saat ini mulai lebih mendekatkan hatinya pada umat muslim dengan lebih sering menayangkan acara islami. Seharusnya langkah Sariroti dan Metrotv juga harus diikuti penguasa dalam mengatasi kebangkitan jutaan umat yang menuntut sedikit keadilan itu. Para pengamat mengingatkan bahwa aksi boikot itu jangan diremehkan karena bila ketidakpuasan umat itu terus terjadi akan berkembang menjadi gelombang besar pembangkangan nasional seperri Rush Money, penolakan bayar pajak dan mogok nasional yang ujung ujungnya dapat meruntuhkan kelanggengan pemerintahan bila tidak ditangani dengan adil dan bijaksana. Mudah mudahan para pemimpin negeri dan aparat pemerintah ini diberi kekuatan dan hidayah dalam melihat kebangkitan jutaan umat ini. Mudah mudahan para pemimpin negeri ini sadar bahwa ketidak adilan dan ketidakberpihakan pada rakyat adalah tindakan tidak bijaksana yang bisa meruntuhkan NKRI. Semoga boikot Sariroti dan Metrotv tidak berujung pada Civil Disobedience atau pembangkangan sipil. Semoga kisruh bangsa yang belum pernah terjadi seperti ini dapat berlalu dengan NKRI aman dan damai tanpa adanya pembangkangan sipil.

Iklan

Kategori:Tak Berkategori