*Agama

Kontroversi Salat Jumat Aksi Damai 2 Desember

Para Ulama yang tergabung dalam GNPF MUI memilih shalat Jum’at sepanjang Sudhirman – Thamrin bukan untuk cari senssasi  Namun pertimbangan itu lahir dari Pengalaman Aksi Bela Islam 411 bahwa Masjid Istiqlal sudah tidak muat menampung jutaan umat Islam yang membludak tumpah ruah datang dari berbagai daerah untuk bela agamanya yang dinista dan Kitab Sucinya yang dinodai. Selain itu, Aksi Bela Islam III akan dilaksanakan hari Jum’at dan dimulai dari Pagi, sehingga tidak mungkin jutaan Umat Islam yang sedang lakukan Aksi Super Damai melaksanakan Shalat Jum’at di tempat lain, sebab justru mengalihkan jutaan orang ke masjid yang tidak bisa menampung akan mengganggu ketertiban umum. Umat Islam wajib bersatu, Saat ini banyak upaya pelemahan dan penggembosan oleh pihak pemerintah, kelompok liberal, yang seringkali melakukan korupsi dalil serta memanipulasi hujjah. Rencana Aksi Bela Islam Jilid 3, dengan format shalat Jumat dan istighosah bersama di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, mengundang berbagai respon. Tidak sedikit yang mengomentari dengan negatif menyebut perbuatan itu bidah dan tidak sah

  •  تجوز في ساحة مكشوفة بشرط أن تكون داخلة في القرية أو البلدة معدودة في خطتها “Al-Ashab ( Para Ulama Mazhab Syafi’i ) Berkata : Mendirikan solat Jum’at tidak disyaratkan harus di Masjid, akan tetapi boleh di tempat terbuka, dengan syarat tempat tersebut masih dalam wilayah desa atau kota “
  • Imam an-Nawawi Ternyata dalam kitab yang sama sepwrti yang digunakan rujukan tersebut ada ayat terusan yang mengatakan bahwa salat Jumat di jalan tetap dibolehkan. Bahkan dalam sejarh Islam pernah terjadi shalat jumat terbesar dalam sejarah dilakukan di jalanan temlat terbuka. Dalam mengartikan ungkapan Imam an-Nawawi ” Fi Abniyatin Mujtami’ah” dengan arti yang ia sebutkan di atas. Padahal, Maksud dari ungkapan tersebut adalah; bahwa dalam Mazhab Syafi’i Solat Jum’at harus didirikan di tengah wilayah pemukiman (desa / Kota) yang disitu ada sekumpulan bangunan (Abniyatin Mujtami’ah) sehingga tidak sah jika dilakukan ditengah padang pasir dsbnya, karena bukan merupakan wilayah pemukiman. Pada beberapa baris setelah ungkapan tersebut, Masih dalam Kitab yang sama, bahkan juz dan halaman yg sama (4/ 501) dengan jelas dan terang benderang al-Imam an-Nawawi mengatakan :
  • DR. Abdul Muqsith Ghozali Dalam menanggapi Jum’at Kubro Aksi Super Damai Bela Islam III banyak kelompok melakukan pelemahan dengan melakukan hembusan kontroversi pendapat bahwa shalat Jumat di Lapangan tidak sah. Seperti yang di ungkapkan Aktifis JIL (Jaringan Islam Liberal) DR. Abdul Muqsith Ghozali sebagaimana dikutip NU Online mengatakan bahwa; Madzhab Syafi’i di dalam kitab Al-Majemuk karya Imam An-Nawawi menegaskan bahwa shalat Jumat ini disyaratkan dilakukan di dalam sebuah bangunan meskipun terbuat dari batu, kayu, dan bahan material lain. Karenanya tidak sah melakukan ibadah Jumat di jalanan. Karena tidak sah, maka shalat Jumatnya harus diulang dengan melakukan shalat Zhuhur.
  • Sholahudin Wahid atau Gus Sholah. Suara berbeda disampaikan oleh ulama NU lainnya.  Adik kandung Abdurrahman Wahid ini mengatakan, bahwa tidak ada larangan sama sekali dalam Islam untuk menunaikan salat Jumat di jalan. Menurutnya, salat Jumat di jalan boleh dilakukan. Terlebih jika masjid sudah tidak dapat menampung jamaah salat Jumat lagi. “Kalau memang tidak bisa menampung jamaah, ya apa boleh buat,” kata Gus Sholah, di Surabaya, Kamis, 24 November 2016 Gus Sholah mengatakan, keinginan umat Islam untuk melakukan aksi di Jakarta pada 2 Desember mendatang tidak perlu dilarang. Sebab, hal itu merupakan hak konstitusional setiap warga negara. “Kalau menurut saya tidak perlu dihalangi keinginan mereka. Mau diapakan lagi kalau mereka mau unjuk rasa,” ujar Gus Sholah. Terlebih, jika aksi itu dibarengi dengan kegiatan salat Jumat, maka hal itu adalah sesuatu yang biasa. “Konteksnya ini kan orang berbondong-bondong ke Jakarta untuk ikut salat Jumat, jadi itu hak masing-masing individu,” ujar pesaing Said Aqil Siradj dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang tersebut.
  • Duta Besar Arab Saudi. Demikian juga pemerintah tampaknya terus berusaha menghalangi aksi damai tersebut dengan melakukan galangan dukungan pendapat berbagai kelompok di antaranya meminta dukungan pada dubes Arab Saudi. Namun Dubes Kerajaan Arab Saudi untuk RI menyebut salat boleh dilakukan di jalan raya. “Islam itu boleh salat di mana saja. Di hutan, di gurun, karena semua tempat di bumi sudah disucikan. Tapi kalau di jalan itu dianjurkan tidak, karena tidak lazim,” ujar Dubes Arab Saudi untuk RI, Osamah Mohammed al-Shuibi kepada wartawan di kantor kedubes, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (24/11/2016). Terkait dengan pemberitaan media mainstream pagi ini tentang fatwa yang membawa-bawa nama Kedubes Saudi yang seolah-olah tidak memperbolehkan shalat dijalan. Hal ini di bantah keras oleh Sekjen Mualaf Center Indonesia Ustadz Hanny Kristianto yang mengklarifikasi langsung dengan menelpon Syaikh Osama al Shuaibi. Berikut klarifikasi Ust. Hanny Kristianto melalui laman facebooknya: Astagfirullah, Ada upaya menggembosi AKSI BELA ISLAM III dengan membawa-bawa Kedubes Saudi diberitakan seolah tidak menganjurkan shalat dijalan: https://news.detik.com/berita/d-3353529/dubes-arab-saudi-boleh-salat-di-mana-saja-tapi-tidak-dianjurkan-di-jalan
  • Beliau mengatakan boleh shalat dimana saja dan beliau bukan yang membuat fatwa. Berikut rekaman telepon barusan klarifikasi saya dan Syaikh Osama al Shuaibi: https://soundcloud.com/shilvia-nanda-putri/kalrifikasi-ko-hanny Tahun lalu saya hampir 2 bulan di Mekah dan Madinah disana sholat dimana-mana sah saja, ini dalilnya: Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    ﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﻛُﻠُّﻬَﺎ ﻣَﺴْﺠِﺪٌ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟْﺤَﻤَّﺎﻡَ ﻭَﺍﻟْﻤَﻘْﺒَﺮَﺓَ Semua tempat di bumi ini adalah masjid (dapat digunakan untuk shalat atau bersujud) kecuali kamar mandi dan kuburan. (HR. Abu Daud no. 492 dan At-Tirmizi no. 317, seta dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’: 1/320)

  • Salat Jumat Terbesar Dalam Sejarah Perdebatan mengenai sholat jumat di jalanan dan bukan di Mesjid merupakan bidah, tetnyata praktek ini pernah dilakukan umat islam sebelumnya bila kita bisa buka buka buku sejarah Islam sebelumnya. Shalat Jumat termegah dan terpanjang pernah terjadi pada tahun 1453 dilakukan oleh Sultan Muhammad Al Fath. Termegah karena sholat itu dilakukan di jalan menuju konstatinopel dengan jamaah yang membentang sepanjang 4 km dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara, Shalat jumat tesebut terjadi 1.5 KM di depan benteng Konstantinopel, dalam proses Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan yang kemudian mengakhiri sejarah Kekaisaran Byzantium dan menjadi cikal bakal kekhalifahan Usmaniyah. Penaklukan Konstantinopel merupakan pembuktian atas kabar gembira “Bisyarah” atau nubuwat yang disampaikan oleh Rasulullah kepada sahabat sahabatnya, bahwa negara adidaya seperti Romawi akan dapat dikalahkan oleh kaum Muslimin. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel. (HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim) Shalat jumat termegah di jalanan, yang menghantar umat membuka lembaran baru nubuwat Rasul dalam penaklukan konstaninopel.
  • Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan fatwa terkait rencana aksi gelar sejadah dari Semanggi hingga Bundaran HI yang diinisiasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI. PBNU menilai salat Jumat tersebut tidak sah. “Kalau imamnya di masjid, makmumnya keluar di jalan, enggak apa-apa. Tapi kalau sengaja keluar dari rumah mau salat Jumat di jalan, salatnya enggak sah. Mengganggu ketertiban dan kepentingan orang lain,” kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj di sela Kongres XVII Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (24/11/2016).  Keputusan tersebut, kata Said, berdasarkan keputusan dari pembahasan NU dan kiai-kiai. “Saya hanya mengeluarkan fatwa,” kata Said. Said menampik fatwa tersebut dikeluarkan terkait dengan Ahok. “Enggak ada kaitannya dengan Ahok. Pokoknya salat Jumat di jalan kapan pun, di mana pun, enggak sah menurut Mazhab Syafii,” Said membeberkan. Salat Jumat sejatinya harus dilakukan di dalam bangunan yang sudah diniatkan untuk salat Jumat. Said mengimbau keluarga besar NU tidak turun ke jalan di 2 Desember nanti. “Saya mengimbau keluarga NU tidak ikut demo. Kan sedang diproses hukum. Mau apa lagi?” kata Said.

  • Fatwa MUI KOMISI Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan Salat Jumat di jalan sah dilakukan selama memenuhi beberapa persyaratan sesuai ketentuan syariah. “Salat Jumat dalam kondisi normal dilaksanakan di dalam bangunan, khususnya masjid. Namun, dalam kondisi tertentu sah dilaksanakan di luar masjid selama berada di area permukiman,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin, seperti dikutip dari Antara, Rabu (30/11). Dia mengatakan, beberapa ketentuan yang membolehkan dilakukan di luar masjid itu di antaranya kekhusyukan salat Jumat terjamin, tempat pelaksanaan suci dari najis, dan tidak mengganggu kemaslahatan umum. Selain itu, Salat Jumat di luar masjid harus mematuhi aturan hukum yang berlaku dan menginformasikan kepada aparat untuk dilakukan pengamanan dan rekayasa lalu lintas. Unjuk rasa untuk kegiatan amar maruf nahi munkar termasuk tuntutan untuk penegakan hukum dan keadilan, kata dia, tidak menggugurkan kewajiban Salat Jumat. Hal itu, merupakan kewajiban setiap muslim dewasa, laki-laki, mukim, dan tidak ada halangan secara syarii. Hasanuddin mengatakan terdapat keadaan yang menggugurkan kewajiban Salat Jumat seorang muslim antara lain safar (dalam perjalanan jauh), sakit, hujan, bencana, dan tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Sementara bagi muslim yang bertugas mengamankan unjuk rasa yang tidak memungkinkan meninggalkan tugas saat Salat Jumat, kata dia, tidak wajib Salat Jumat dan dapat menggantinya dengan Salat Zhuhur. Dia mengatakan kegiatan keagamaan termasuk Salat Jumat sedapat mungkin tidak mengganggu kemaslahatan umum.
  • Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Nafis KH Cholil menjelaskan bahwa pada dasarnya shalat Jumat di luar masjid selama ketentuanya dipenuhi hukumnya sah, meskipun, mengganggu jalanan. “Shalat Jumat itu ibadah, jika sudah cukup syarat dan rukunnya. Maka shalatnya sah. Jika ada mudharat dan larangan dalam pelaksanaannya, maka hukum shalatnya sah, tapi haram. Kiyai Cholil melanjutkan, konsep ibadah sah tapi haram, dijelaskan secara baik oleh kalangan ulama mazhab Hanafiyah.
  • “Ulama Hanifiyah mencontohkan seperti transaksi saat Jumatan. Itu hukumnya sah, tapi haram,” bebernya.Kiyai Cholil juga menegaskan bahwa secara umum mayoritas ulama, dari kalangan mazhab Syafi’i, Hanafiyah, dan Hambali membolehkan sholat Jumat di luar masjid atau lapangan. “Hanya ulama Malikiyah yang mensyaratkan shalat Jumat di masjid,” ucapnya. Kendati demikian, Kiyai Cholil menjelaskan, apabila shalat yang dijadikan polemik, ternyata makna yang dimaksud adalah shalat di jalan protokol hanya bersifat kadang-kadang atau sekali seperti momen Car Free Day, itu tidak termasuk mengganggu jalanan. “Jadi, hukum shalat di luar masjid hukumnya sah, tapi kalau mengganggu haram,” katanya. Namun, sambung Kiyai Cholil, substansi dari polemik shalat di jalan raya oleh publik Indonesia bukan hukum shalatnya. Akan tetapi, soal setuju atau tidak dengan aksi bela Islam Jilid 3. “Saya melihatnya ini bukan soal hukum shalatnya. Tapi, soal setuju atau tidak setuju dengan demo 212,” tandasnya.

Iklan