*Pendidikan Islam

Heboh 212, Ketika Imam An Nawawi Membolehkan Shalat Jumat Di Ruang Terbuka

Dalam menanggapi Jum’at Kubro Aksi Super Damai Bela Islam III tetapi saat itu bersamaan dengan shalat jumat segingga terpaksa shalat di jlan. Tetapi banyak kelompok melakukan pelemahan dengan melakukan kontroversi pendapat bahwa shalat Jumat di Lapangan tidak sah. Beberapa di antaranya  yang di ungkapkan holongan liberal, seperti  Aktifis JIL (Jaringan Islam Liberal) DR. Abdul Muqsith Ghozali sebagaimana dikutip NU Online mengatakan bahwa; Madzhab Syafi’i di dalam kitab Al-Majemuk karya Imam An-Nawawi menegaskan bahwa shalat Jumat ini disyaratkan dilakukan di dalam sebuah bangunan meskipun terbuat dari batu, kayu, dan bahan material lain. Karenanya tidak sah melakukan ibadah Jumat di jalanan. Karena tidak sah, maka shalat Jumatnya harus diulang dengan melakukan shalat Zhuhur. Ternyata dalam kitab yang sama sepwrti yang digunakan rujukan tersebut ada ayat terusan yang mengatakan bahwa salat Jumat di jalan tetap dibolehkan. Bahkan dalam sejarah Islam pernah terjadi shalat jumat terbesar dalam sejarah dilakukan di jalanan tempat terbuka

Dalam mengartikan ungkapan Imam an-Nawawi ” Fi Abniyatin Mujtami’ah” dengan arti yang ia sebutkan di atas. Padahal, Maksud dari ungkapan tersebut adalah; bahwa dalam Mazhab Syafi’i Solat Jum’at harus didirikan di tengah wilayah pemukiman (desa / Kota) yang disitu ada sekumpulan bangunan (Abniyatin Mujtami’ah) sehingga tidak sah jika dilakukan ditengah padang pasir dsbnya, karena bukan merupakan wilayah pemukiman.
Pada beberapa baris setelah ungkapan tersebut, Masih dalam Kitab yang sama, bahkan juz dan halaman yg sama (4/ 501) dengan jelas dan terang benderang al-Imam an-Nawawi mengatakan :

قال الأصحاب : و لا يشترط إقامتها في مسجد و لكن تجوز في ساحة مكشوفة بشرط أن تكون داخلة في القرية أو البلدة معدودة في خطتها

“Al-Ashab ( Para Ulama Mazhab Syafi’i ) Berkata : Mendirikan solat Jum’at tidak disyaratkan harus di Masjid, akan tetapi boleh di tempat terbuka, dengan syarat tempat tersebut masih dalam wilayah desa atau kota “

Salat Jumat Terbesar Dalam Sejarah

Perdebatan mengenai sholat jumat di jalanan dan bukan di Mesjid merupakan bidah, tetnyata praktek ini pernah dilakukan umat islam sebelumnya bila kita bisa buka buka buku sejarah Islam sebelumnya. Shalat Jumat termegah dan terpanjang pernah terjadi pada tahun 1453 dilakukan oleh Sultan Muhammad Al Fath. Termegah karena sholat itu dilakukan di jalan menuju konstatinopel dengan jamaah yang membentang sepanjang 4 km dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara, Shalat jumat tesebut terjadi 1.5 KM di depan benteng Konstantinopel, dalam proses Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan yang kemudian mengakhiri sejarah Kekaisaran Byzantium dan menjadi cikal bakal kekhalifahan Usmaniyah. Penaklukan Konstantinopel merupakan pembuktian atas kabar gembira “Bisyarah” atau nubuwat yang disampaikan oleh Rasulullah kepada sahabat sahabatnya, bahwa negara adidaya seperti Romawi akan dapat dikalahkan oleh kaum Muslimin. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah?
Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel. (HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim) Shalat jumat termegah di jalanan, yang menghantar umat membuka lembaran baru nubuwat Rasul dalam penaklukan konstaninopel.


Fatwa MUI 
KOMISI Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan Salat Jumat di jalan sah dilakukan selama memenuhi beberapa persyaratan sesuai ketentuan syariah. “Salat Jumat dalam kondisi normal dilaksanakan di dalam bangunan, khususnya masjid. Namun, dalam kondisi tertentu sah dilaksanakan di luar masjid selama berada di area permukiman,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin, seperti dikutip dari Antara, Rabu (30/11). Dia mengatakan, beberapa ketentuan yang membolehkan dilakukan di luar masjid itu di antaranya kekhusyukan salat Jumat terjamin, tempat pelaksanaan suci dari najis, dan tidak mengganggu kemaslahatan umum. Selain itu, Salat Jumat di luar masjid harus mematuhi aturan hukum yang berlaku dan menginformasikan kepada aparat untuk dilakukan pengamanan dan rekayasa lalu lintas. Unjuk rasa untuk kegiatan amar maruf nahi munkar termasuk tuntutan untuk penegakan hukum dan keadilan, kata dia, tidak menggugurkan kewajiban Salat Jumat. Hal itu, merupakan kewajiban setiap muslim dewasa, laki-laki, mukim, dan tidak ada halangan secara syarii. Hasanuddin mengatakan terdapat keadaan yang menggugurkan kewajiban Salat Jumat seorang muslim antara lain safar (dalam perjalanan jauh), sakit, hujan, bencana, dan tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Sementara bagi muslim yang bertugas mengamankan unjuk rasa yang tidak memungkinkan meninggalkan tugas saat Salat Jumat, kata dia, tidak wajib Salat Jumat dan dapat menggantinya dengan Salat Zhuhur. Dia mengatakan kegiatan keagamaan termasuk Salat Jumat sedapat mungkin tidak mengganggu kemaslahatan umum.

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Nafis KH Cholil menjelaskan bahwa pada dasarnya shalat Jumat di luar masjid selama ketentuanya dipenuhi hukumnya sah, meskipun, mengganggu jalanan. “Shalat Jumat itu ibadah, jika sudah cukup syarat dan rukunnya. Maka shalatnya sah. Jika ada mudharat dan larangan dalam pelaksanaannya, maka hukum shalatnya sah, tapi haram. Kiyai Cholil melanjutkan, konsep ibadah sah tapi haram, dijelaskan secara baik oleh kalangan ulama mazhab Hanafiyah. “Ulama Hanifiyah mencontohkan seperti transaksi saat Jumatan. Itu hukumnya sah, tapi haram,” bebernya.Kiyai Cholil juga menegaskan bahwa secara umum mayoritas ulama, dari kalangan mazhab Syafi’i, Hanafiyah, dan Hambali membolehkan sholat Jumat di luar masjid atau lapangan. “Hanya ulama Malikiyah yang mensyaratkan shalat Jumat di masjid,” ucapnya. Kendati demikian, Kiyai Cholil menjelaskan, apabila shalat yang dijadikan polemik, ternyata makna yang dimaksud adalah shalat di jalan protokol hanya bersifat kadang-kadang atau sekali seperti momen Car Free Day, itu tidak termasuk mengganggu jalanan. “Jadi, hukum shalat di luar masjid hukumnya sah, tapi kalau mengganggu haram,” katanya. Namun, sambung Kiyai Cholil, substansi dari polemik shalat di jalan raya oleh publik Indonesia bukan hukum shalatnya. Akan tetapi, soal setuju atau tidak dengan aksi bela Islam Jilid 3. “Saya melihatnya ini bukan soal hukum shalatnya. Tapi, soal setuju atau tidak setuju dengan demo 212,” tandasnya.

Shalat Jumat Qubro

Para Ulama yang tergabung dalam GNPF MUI memilih shalat Jum’at sepanjang Sudhirman – Thamrin bukan untuk cari se nsasi ! Namun pertimbangan itu lahir dari Pengalaman Aksi Bela Islam 411 bahwa Masjid Istiqlal sudah tidak muat menampung jutaan umat Islam yang membludak tumpah ruah datang dari berbagai daerah untuk bela agamanya yang dinista dan Kitab Sucinya yang dinodai.

Selain itu, Aksi Bela Islam III akan dilaksanakan hari Jum’at dan dimulai dari Pagi, sehingga tidak mungkin JUTAAN Umat Islam yang sedang lakukan Aksi Super Damai melaksanakan Shalat Jum’at di tempat lain, sebab justru mengalihkan jutaan orang ke masjid yang tidak bisa menampung akan mengganggu ketertiban umum. Umat Islam wajib bersatu, Saat ini banyak upaya pelemahan dan penggembosan oleh pihak pemerintah, kelompok liberal, yang seringkali melakukan korupsi dalil serta memanipulasi hujjah

Iklan