*Demokrasi

Kisah Mukidi, Preman dan Gelar Sajadah Di Tengah Kota

Alkisah di negeri yang subur gemah ripah loh jinawi, aman, rukun dan tentram, mendadak masyarakatnya jadi resah dan berubah menjadi kacau. Kerukunan masyarakat yang sebelumnya sangat kuat dan seperti saudara meski beda warna kulit dan beda logat bahasa seketika tercerai berai penuh permusuhan. Sungguh tidak dimasuk akal, kondisi buruk itu terjadi hanya karena aksi seorang preman dengan tato seluruh tubuh dan berbadan kekar yang menjarah barang barang di perumahan dan pertokoan di sebuah kota besar. Ketika hendak masuk rumah korban, si preman berpura pura pakai surat sumbangan pembangunan Masjid. Ternyata polisi tidak berdaya membekuknya karena ternyata si preman adalah anak angkat si Tuan Tanah atau Si Tuan Besar di Kota itu.  

Mukidi, seorang pegawai minimarket “Betamart” karena tidak tahan batinnya dicekam ketidakadilan dengan beraninya mengunggah video CCTV aksi preman itu ketika menjarah barang  di tempatnya bekerja melalui facebooknya. Unggahan itu prolog kalimatnya adalah “Hati hati jangan dibohongin sumbangan masjid oleh preman karena akan menjarah barang “. Kontan saja masyarakat panik dan marah pada preman itu dan melaporkan ke penegak hukum. Tapi apa lacur hamba hukum dengan bijaksana mempersilahkan si preman terus melakukan aksinya. Tetapi menahan dan menangkap  si Mukidi yang malang dan dianggap meresahkan warganya karena tidak pakai kata PAKAI dalam prolog videonya. Tentu saja tokoh agama dan masyarakat di situ sangat marah karena si pengeak hukum tidak adil dan preman tersebut mempergunakan kedok masjid dalam melakukan aksi busuknya. Tragisnya laporan tersebut hanya digeletakkan di meja karena hamba hukum adalah sohibnya Si Tuan Besar di kota itu.

Para manusia bertubuh kecil itu tak berdaya sehingga bersama para pemuka agama dengan ikhlas hanya bisa berdoa dan menggelar sajadah di sekitar jalan pintu masuk kota. Tetapi dengan garangnya si hamba hukum melarangnya karena dianggap mengganggu kalau ada yang melahirkan terganggu jalannya. Tetapi seorang masyarakat yang bertubuh kecil protes muncul dari kerumunan warga dan setengah berteriak, ” Khan ada jalan alternatif lain pak ! Trus, kenapa si preman saat pesta tahun baru yang lalu bisa menutup jalan untuk organ tunggal dangdut, pesta kembang api dan mabuk mabukan tetapi tidak dilarang. Sekali lagi dengan bijaksana si Hamba Hukum berkata maaf kamu kamu khan orang bertubuh kecil, kalo tubuhmu besar kamu pasti saya dengar dan saya bela.

Si tubuh kecil itu hanya merenung karena tak berdayanya karena semua tokoh pengayom kota mulai penguasa kota, pemimpin paguyuban warga, hulubalang hukum dan pewarta berita sudah dikuasai gemerlap harta dari Si Tuan Besar. Rakyat bertubuh kecil itu hanya bisa mengadu pada salah satu pemimpin rohaninya yang lebih penting merawat umat atau lebih mementingkan akhirat daripada kepentingan dunia.  Tampakanya rakyat bertubuh kecil itu hanya punya senjata ampuh dengan menarik celengan uangnya secara bersamaan dengan para teman teman yang bertubuh kecil lainnya. Ternyata uang rakyat bertubuh kecil itu selama ini bila digabungkan menjadi jumlah luar biasa yang bisa membuat pasar di kota itu jadi ambruk. Selama ini tidak disadari uang yang berjumlah luar biasa itu dipegang pada para pemodal di kota besar itu untuk digunakan kepentingan para tuan tanah.

Melihat akumulasi kondisi yang tidak adil dan memuakkan itu, masyarakat semakin gerah dan mulai ada tanda tanda amuk masa.  Penguasa kota itu baru bangun dari lelapnya bahwa selama ini masyarakat yang bertubuh kecil itu ternyata bila menyatu menjadi raksasa menakutkan yang bisa menyapu bersih kota itu. Penguasa baru sadar bahwa harta rakyat bertubuh kecil itu bila dikumpulkan bisa membuat runtuh bangunan pasar kota yang megah itu. Penguasa kota menjadi panik takut harta dan singasana emasnya terancam maka sibuk menghubungi berbagai perguruan silat yang beranggotakan badan besar, cepak dan terlatih silatnya untuk menakut nakuti msyarakat yang bertubuh kecil itu. Bahkan penguasa kota itu sibuk berbicara pada para bangsawan pendukung tahtanya untuk menambah kekuatan.

Orang orang yang biasa duduk di kedai kopi saling beradu kata, heran mengapa penguasa kota itu menjadi sibuk sekali hanya karena ulah seorang preman. Sedangkan si Preman tetap terus melakukan aksinya tanpa dosa. Apakah kehebatan seorang preman itu sehingga penguasa kota menjadi lemah menghadapinya. Bahkan si penguasa kota itu tidak pernah menegur sekalipun kesalahan fatal yang dilakukan preman tersebut. Justru malah si penguasa kota malah justru menuduh masyarakat berbadan kecil yang mengacaukan kota itu. Masyarakat berbadan kecil itu difitnah mau mengambil singasana emasnya. Seorang sepuh berbaju putih tiba tiba masuk menyorongkan badannya pada kedai kopi itu sambil menyeruput kentalnya kopi panas nikmat itu. Ternyata orangtua itu adalah guru tua berbaju besar Mr Luik Lian Kie. Dia adalah orang pintar seberang pulau yang banyak mengabdi pada kota itu. Dengan nada gemetar orang pintar sepuh ini menjawab kebingungan orang di kedai itu. “Saudaraku, meski aku berbeda kulit aku tetap cinta kota besar ini. Kalau kamu bingung apa hubungan penguasa kota ini dengan si preman. Maka kamu harus tahu bahwa si preman hanya sebuah cipratan debu dibalik badai pasir besar yang menyelimuti kota besar yang kaya ini. Kamu jangan sibuk dengan mengejar seekor tikus berlarian di kota ini tetapi kamu tidak tahu ada segerombolan naga raksasa dengan kekuatan uangnya telah mencengkeram kota ini. Mendengar kalimat yang aneh dan dengan bahasa yang sulit itu orang di kedai itu hanya mengangguk ada yang mengerti, ada yang pura pura tidak tahu atau ada yang memang mengangguk tidak mengerti. Orang yang mengangguk mengerti ternyata terbuka akal pikirnya setelah sekian lama dicekokin pewarta desa ternyata kerabat saudagar tanah kota itu. Orang yang tahu tetapi pura pura tidak tahu, ternyata mereka masih menginkan cipratan harta dan kedudukan dari para tuan tanah di kota itu. Orang yang mengangguk tetapi tidak mengerti ternyata tertidur saat duduk.

Saat kedai kopi itu ditutup karena sudah menjelang tengah malam. Maka sebagian masyarakat bertubuh kecil itu pamit untuk salat malam untuk berdoa mendapat sedikit sedikit keadilan yang tampaknya hanya berlaku untuk masyarakat yang bertubuh besar.  Setelah berdoa malam maka masyarakat bertubuh kecil itu hanya bisa memecah “celengannya” bersama sama saudara saudara sedesa dan menggelar sajadah sambil berdoa bersama di jalan utama kota itu.

 

Iklan

Kategori:*Demokrasi, *Hukum-HAM

Tagged as: ,