*Ekonomis

Benarkah Akan Terjadi Rush Money, Inilah Dampaknya ?

Kampanye atau aakan untuk menarik uang secara besar-besaran dari bank pada 25 November atau tanggal 2 Desember 2016 berkembang di media sosial. Isu itu tersebar bersamaan dengan rencana aksi demontrasi atas kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang akan dilakukan pada tanggal tanggal itu. Padahal kasus penistaan agama sudah diproses oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri. Ahok pun sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sementara dari pihak pemerintah, terutama dari sektor ekonomi dan keuangan sudah terlihat panik. Semua sudah angkat bicara. Mulai dari Menteri Keuangan, Menko Perekonomian hingga Gubernur Bank Indonesia menilai rush money merupakan ancaman yang serius bagi negara.

Dalam rangka menunggu keputusan hukum terhadap penistaan agama yang dilakukan gubeenur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama ataupun setelah dikeluarkan status tersangka oleh Bareskrim ternyata semakin gencar perang opini di media sosial salahnsatunya ajakan atau himbauan seluruh Ummat Islam untuk malukan aRUSH MONEY, yaitu Dengan cara tarik semua dana di Bank sampai keadilan ditegakkan bagi si penghina Al quran. Bayangkan kalau ada 5jt umat muslim yg berpartisipasi dalam aksi Rush Money sebesar 2 juta perorang, maka akan ada 5.000.000 x 2.000.000 = 10.000.000.000.000, jumlah tersebut kalau 5juta orang dan masing masing 2 juta. Hal itu bisa mencapai 100 trilyun uang yg rush dari dunia perekonomian Indonesia, begituna jakan itu muncul di medsos.

Ekonom Indonesia, Ichsanuddin Noersy mengatakan dalam era demokrasi dewasa ini kekuatan uang sangat menentukan jalannya kekuasaan, mahalnya biaya politik membuat kandidat melakukan sungkeman kepada para pemodal yang memiliki jaringan korporasi. Imbasnya kekuasaan yang diamanatkan oleh rakyat kepada seorang pejabat, serta jalannya pemerintah akan tersandera dan dikendalikan oleh kaum pemodal. Berapa kemampuan seorang calon untuk mengeluarkan dana dari kantongnya pribadi. Ancaman dari aksi tarik uang atau rush money merupakan perkara perang antara uang lawan uang dalam mempengaruhi kekuasaan.“Ini perang uang lawan uang. Jalan yang satu mempengaruhi kekuasaan lewat sogok, mengatur suara untuk mengendalikan kebijakan dan kekuasaan, yang satunya lagi menekan dengan menarik uangnya sendiri dari perbankan,”.

Pada saat ini terdapat sebanyak Rp4.576 triliun dana distribusi di perbankan atau dana pihak ketiga, dari jumlah tersebut, sebanyak Rp2.655 triliun atau 46 perse merupakan milik orang Islam. Jika ancaman umat islam Indonesia untuk melakukan Rush Money sebagai bentuk protes atas dugaan penistaan agam yang dilakukan oleh Basuki Tjhaja Purnama (Ahok), jika acaman itu benar benar terjadi, maka akan beresiko fatal bagi kondisi negara. Jika saja 20 persen dari Rp2.655 dana milik orang islam itu ditarik, itu memberi dampak kejatuhan rupiah yang berujung politik risk. Ekonomi negara kita ini rapuh. Pemerintah agar mampu memberi keadilan dan mendinginkan ketegangan sosial yang terjadi pada saat ini. Dia berpesan kepada presiden Jokowi agar menjadi negarawan.

Respon Pemerintah

  • Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo Agus meminta masyarakat tidak terpengaruh isu penarikan uang secara massal atau rush money pada 25 November mendatang. Menurut Agus, tidak ada alasan bagi masyarakat untuk melakukan hal tersebut. “Enggak ada dasar kegiatan yang disebut rush. Jadi saya ingin sampaikan ke masyarakat jangan terpengaruh itu,” kata Agus di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (18/11/2016). Agus memastikan, perekonomian Indonesia dalam keadaan baik. Begitu juga dengan perbankan yang likuiditasnya terjaga dengan sehat. Hal itu bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang di atas 5 persen, sementara inflasi berada di kisaran 3 persen. Ia juga memastikan bahwa transaksi berjalan, neraca pembayaran, hingga sistem perbankan dalam keadaan sehat. “Jadi saya ngin sampaikan ke masyarakat dan media jangan terpengaruh itu. Karena ekonomi Indonesia dalam keadaan stabil,” kata dia.
  • Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution Darmin mengomentari dingin isu gerakan penarikan uang secara besar-besaran pada 25 November 2016. “Janganlah mengada-ada, itu namanya sudah mengalihkan langkah (politik) ke ekonomi,” ujar Darmin. Ia menilai pihak-pihak yang menyebarkan gerakan rush money adalah orang-orang yang tidak mengedepankan kepentingan bangsa dan negara.
  • Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati Sri menanggapi dingin soal gerakan penarikan dana secara besar-besaran (rush money) pada 25 November 2016. Baginya, ajakan yang menyebar melalui media sosial tersebut adalah sebuah hasutan berbahaya bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat sejatinya memiliki kebebasan untuk mengekspresikan pandangan politiknya. Namun, hal tersebut tidak merembet ke ranah ekonomi karena penarikan dana secara besar-besaran tentu akan berdampak terhadap stabilitas ekonomi Tanah Air. “Karena kalau sampai terjadi ekonomi yang tidak stabil, yang terkena justru kelas menengah dan masyarakat bawah. Keinginan untuk mengekspresikan pandangan politik ya silahkan saja diekspresikan secara politik,” katanya. Ajakan menarik dana di bank secara besar-besaran pada 25 November tersebut, sangat kontraproduktif dengan tujuan awal aksi unjuk rasa terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Ajakan tersebut dinilai justru akan berpengaruh terhadap kondisi sektor keuangan di Tanah Air, yang jelas tidak ada hubungannya dengan kasus penistaan agama oleh Ahok. “Kalau cara ekspresinya dilakukan dengan melakukan suatu sabotase atau bahkan melukai diri sendiri, itu sebetulnya akan kontraproduktif. Karena itu yang akan terkena justru masyarakat tadi, yang kalau itu dilakukan akan menyebabkan kondisi sektor keuangan kita akan terkena dampak,” imbuh dia. Masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan hasutan-hasutan tersebut. Sri Mulyani meyakini, jika masyarakat peduli dengan kondisi perekonomian di Tanah Air, maka masyarakat akan menjaga dan tidak mudah dihasut untuk merusak negaranya sendiri. “Menurut saya itu (rush money) adalah suatu hasutan yang berbahaya, yang tentu masyarakat sangat paham bahwa itu enggak akan mencapai tujuan yang diinginkan oleh masyarakat itu sendiri. Yakni suatu kondisi sosial yang baik yang menciptakan kesempatan kita untuk terus memperbaiki kesejahteraan masyarakat,” pungka.
Iklan