*Politik-Sosial

Saat Menjadi Ancaman Ahok Beramai-ramai Kekuatan Besar Melakukan Pembunuhan Karakter, Sekarang Gilirannya SBY & AHY

Bila mencermati suhu politik dalam negeri demikian panas dan menarik untuk dicermati. Panasnya panggung politik ini dihiasi oleh badut badut politik yang sangat lucu dan sangat unik. Menarik dicermati ketika Kubu Ahok dan pendukungnya secara bersamaan melakukan perilaku dan bahsa tubuh yang sama, sistematis dan masif. Saat ini Ahok dan para pendukungnya bukan secara kebetulan melakukan pembunuhan karakter terhadap SBY dan AHY. Hal ini terjadi karena AHY dianggap ancaman paling besar pada pertarungan politik Pilkada. Hal ini terjadi klarena dalam berbagai survey AHY menunjukkan hasil yang diluar dugaan menjadi kuda hitam yang dapat menggganjal Ahok. Bahkan paska kasus penistaan Agama ahok elektabilitasnya terjun bebas sehingga AHY memimpin di atas. Hal ini bukanlah hal yang pertama. Melihat peristiwa peristiwa sebelumnya saat Ahok mendapatkan tekanan dan ancaman yang merugikan dirinya maka langsung mengadakan mekanisme pembelaan diri dengan melakukan serangan pembunuhan karakter terhadap pelaku yang mebuat ancaman bagi karir politiknya itu. Sebelumnya seperti dilakukan terhadap BPK, MUI, FPI dan saat ini dilakukan terhadap SBY dan AHY.

wp-1479256374157.jpg

Saat ini fokus utama perhelatan politik pasti  didominasi oleh petahana Basuki Thahaja Purnama. Hal ini terjadi karena Ahok dan pendukungnya dianggap oleh para pengamat dan tokoh bangsa ini sebagai calon paling besar yang mempunyai dukungan dana oleh para pemodal besar negeri ini. Seperti opini Mantan Ketua Muhammadiyah dan Ketua Pembina MUI Prof Dr KH Din Syamsudin yang dilansir berbagai media online mengungkapkan ada ancaman besar dibalik polemik Ahok. Permasalahannya, bahkan ancaman nyata, adalah fakta adanya kekuatan uang (the power of money) yang tengah menguasai Indonesia. Din menganalogikan kekuatan uang itu bagaikan cengkeraman naga raksasa yang sedang melilit NKRI yang kaya raya, dan satu persatu kekuatan penghalangnya dilumpuhkan bahkan dimatikan dengan uang. Proses ini dicermatinya tidak terlepas dari perkembangan geo-politik dan geo-ekonomi global dan regional.wp-1475031970897.jpg

Saat ini yang menjadi ancaman adalah AHY. Hasil penelitian lembaga survey terkait elektabilitas paslon di Pilkada DKI Jakarta 2017 cukup mengejutkan. Pasalnya, elektabilitas kandidat petahana mangalami penurunan signifikan. Berdasarkan hasil jajak pendapat Indocon menunjukan bahwa elektabilitas Ahok-Djarot tergerus jauh dari hasil survei sebelumnya. Dan secara mengejutkan pasangan AHY- Sylvi menanjak naik. Uniknya serangan paranpendukung Ahok saat ini fokus pada SBY dan AHY. Tidak ada serangan aesikitpun pada calon Anis Sandiaga. Memangbtidak salah strategintersebut karena seluruh kekuatan dititik beratkan pada satunlawan yang paling berat sehingga lebih efektif dan ecisien.  Karena itu saat ini pihak Ahok-Djarot tampaknya panik sehingga dengan membabi buta melakukan Pembunuhan karakter atau perusakan reputasi adalah usaha-usaha untuk mencoreng reputasi seseorang. Tindakan ini dapat meliputi pernyataan yang melebih-lebihkan atau manipulasi fakta untuk memberikan citra yang tidak benar tentang orang yang dituju. Pembunuhan karakter merupakan suatu bentuk pencemaran nama baik dan dapat berupa argumen ad hominem. Istilah ini sering digunakan pada peristiwa saat massa atau media massa melakukan pengadilan massa atau pengadilan media massa di mana seseorang diberitakan telah melakukan kejahatan atau pelanggaran norma sosial tanpa melakukan konfirmasi dan bersifat tendensius untuk memojokkan orang itu. Akibat pembunuhan karakter dapat mengakibatkan reputasi orang tersebut menjadi rusak di depan publik, terhambat kariernya serta akibat yang lebih besar di mana orang tersebut dipecat dari pekerjaannya, kariernya, dan jabatannya.

Inilah Strategi Pembunuhan Karakter Yang dilakukan Ahok dan para pendukunganya terhadap SBY dan AHY

  • Basuki Thahaja Purnama Calon gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, sempat menyindir istilah “Lebaran kuda” yang pernah disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia keenam Susilo Bambang Yudhoyono. Ahok menyindir kenapa ucapan SBY yang lebaran kuda tak dilaporkan penistaan agama?
  • Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Boni Hargens, Boni seperti para pendukung Jokowi lainnya dianugerahi sebagai Anggota Dewan Pengawas Lembaga Kantor Berita Nasional Antara itu tidak ada angin tida hujan kembali belakangan ini seringkali menyerang dan terkesan melakukan pembunuhan karakter terhadap SBY. Mantan anggota timses Jokowi JK itu  mengungkap aktor politik dibalik aksi 4 November Jumat lalu. Boni menyebut mantan presiden yang juga ketua umum DPP Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sebagai penggerak utama demonstrasi di depan Istana Negara tersebut.Boni mengatakan sinyalemen dapat dilihat saat SBY menggelar konferensi pers 2 November sebelum demonstrasi. Menurutnya, SBY saat itu terlihat marah dan panik terhadap gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan pemerintahan Jokowi. Sebelumnya SBY sempat melakukan klarifikasi karena beberapakali disudutkan oleh pemberitaan yang tidak benar terhadap dirinya. Dalang aksi 4 November itu saat ini adalah strategi kekuatan besar di belakang Ahok dengan beramai ramai menyudutkan lawan politiknya yang dianggap menganggu dan pesaing dalam perseteruan politik Pilkada.Pendukung Ahok termasuk penguasa melakukan tuduhan bahwa aksi kebangkita umat Islam yang luar biasa itu dilemahkan dengan menuding karena ditunggangi aktor politik. Padahal bila dicermati sampai saat ini tidak ada kekuatan politik sehebat apapun atau kekuatan uang sebesar apapun yang dapat membuat aksi jutaan umat tersebut. Bahkan KH Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) mengatakan gerakan jutaan massa pada aksi Bela Islam 4 November 2016 lalu adalah bukti dari kedahsyatan energi Al-Quran. Maka hal ini akan sulit diterangkan kepada kalangan yang tidak mempercayai al-Quran.Gerakan tersebut hanya bisa dimengerti, dirasakan, dan diperjuangkan oleh orang yang memang mengimani al-Quran. Tentu sangat sulit untuk diterangkan kepada mereka yang tidak percaya kepada al-Quran, berpikiran atheis, sekuler, dan liberal,” ujar Kyai Hasyim dalam tulisannya yang dimuat Antara. Selain itu Boni Hargens seperti dilansir JPNN mengatakan tidak percaya dengan komitmen antikorupsi yang kerap dilontarkan calon Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono. Boni bahkan mengatakan, janji-janji Agus bakal berakhir sama dengan orangtuanya, yakni Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).”Dia (Agus) bakal sama dengan bapaknya. Jadi saya nggak percaya,” kata Boni Hargens, melalui sambungan telepon, Selasa (15/11).
  • Politisi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu Masinton mengatakan, masyarakat tidak butuh calon pemimpin yang hanya bermodalkan pencitraan serta jargon normatif, seperti akan mewujudkan tata kelola pemeritahan ibukota yang transparan, akuntabel dan berintegritas. Sederet jargon normatif tersebut selama ini kerap diucapkan calon gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat menggelar kampanye di sejumlah wilayah Ibukota. “Warga DKI sudah cerdas, sehingga tidak akan tertipu dengan pemimpin pencitraan. Cukup 10 tahun saja kita dipimpin dengan pencitraan,” kata Masinton menyindir dua periode rezim Presiden SBY, Jakarta, Jumat (18/11/2016).

Inilah contoh contoh gelombang viral yang dahsyat sedang terjadinya pembunuhan karakter terhadap SBY dan AHY yang dilakukan keluatan besar pendukung Ahok

      Iklan