*Politik-Sosial

Ketika Ahok Jarot Ditolak Dimana Mana

Pasangan petahana DKI Basuki T Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat beberapa kali ditolak warga saat kampanye di mana mana. Banyak kelompok masyarakat Jakarta yang menolak kedatangan pasangan petahana tersebut.   Sejak hari pertama blusukan Ahok sudah dihadang saat mengunjungi kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Penolakan terhadap Ahok dan Djarot mayoritas terjadi di daerah Jakarta Barat. Namun ada juga satu lokasi di Jakarta Utara ketika Djarot tengah blusukan. Para pendemo ini rata-rata membawa spanduk penolakan dengan berbagai tuntutan mereka. Penolakan juga sudah muncul dalam beberapa kali kesempatan sebelum Ahok dan Djarot resmi melakukan kampanye. Salah satunya saat Ahok meresmikan RPTRA di kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan. Kemudian, penolakan juga terjadi Rawabelong, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ahok sempat dievakuasi dengan menggunakan angkutan kota. Rencana blusukan Ahok kali ini sudah dijaga ketat oleh ratusan personel pengamanan gabungan. Jumlah aparat gabungan diperkirakan sebanyak delapan satuan setingkat kompi (SSK), terdiri dari Kepolisian Sektor Kebon Jeruk, Kepolisian Resor Jakarta Barat, Kepolisian Daerah(Polda) Metro Jaya, Brigadir Mobil (Brimob), dan Sabhara. Untuk antisipasi kerusuhan, pasukan pengamanan juga menyediakan ada dua unit water canon, dan tiga unit mobil barracuda. Seluruh kendaraan itu diparkir di sebuah tanah kosong yang berada di sekitar pengamananwp-1479256374157.jpg

  • Lenteng Agung Sejumlah orang mengatas namakan Forum Warga Lenteng Agung melakukan aksi demonstrasi menolak kedatangan calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang sedang blusukan ke sejumlah daerah di Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Penolakan tersebut ketika Ahok keluar dari kawasan Kelurahan Srengseng Sawah, tepatnya di pertigaan Jalan Gardu. Melihat aksi tersebut, Ahok langsung bergegas menuju ke mobilnya yang diparkir tidak jauh dari lokasi tersebut tanpa menanggapi sepatah katapun. “Kampung kami kampung religius, Jagakarsa beragama. Intinya warga Jagakarsa itu menolak kampungnya diinjak oleh penista Alquran,” ungkap Syuhada Al Aqso di lokasi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (31/10/2016). Shuhada melanjutkan, seluruh kunjungan yang dilakukan Ahok di kawasan Kelurahan Srengseng Sawah itu tanpa sepengetahuan dan seizin warga. Dia menyebutkan sudah ada tim yang diutus untuk mengkondisikan masyarakat untuk menyambut kehadiran Ahok. “Seluruh kegiatan yang dilakukan oleh penista agama di kampung kami, kecamatan Jagakarsa, itu merupakan pengkondisian tanpa diketahui oleh warga, dan warga yang hadir disana adalah setting-an. Apabila ada warga yang seolah-olah mendukung maka warga tersebut adalah setingan. Itu saya jamin,” tambah Syuhada.
  • Kedoya.Kampanye calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di kawasan Kedoya, Kebon Jeruk, ‎Jakarta Barat, terpaksa dibatalkan. Puluhan warga yang menolak kedatangan Ahok terus bertambah sehingga tim kampanye cagub petahana membatalkan kampanye di lokasi itu. “Tolak Ahok….Tolak Ahok, kami tak sudi kampung kami dimasuki kafir,” tutur pendemo di lokasi, Kamis (10/11/2016). Dalam demonstrasi itu, ratusan petugas bersenjata lengkap, gabungan dari Sat Brimob, Sabhara Polres, dan Sabhara Polsek Kebon Jeruk tampak berjaga. Mereka membentuk barisan sepanjang 50 meter di sisi menuju Jalan Panjang Kedoya. Kondisi ini membuat kemacetan bertambah parah. Polisi terpaksa memberlakukan jalur buka tutup, memberikan satu jalur di sisi lain Jalan Panjang.”Aparat teman Ahok, aparat dibayar Ahok,” teriak pendemo. Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sempat melintas di tengah pengamanan ketat saat akan blusukan di kawasan Kedoya, Jakarta Barat, akhirnya dibatalkan. Mobil Kijang Inova berwarna silver sempat lewat sebanyak dua kali di depan puluhan orang yang tengah berdemonstrasi atas nama warga Kedoya Utara. “Ya tadi, harusnya kami memang turun, cuma setelah saya putar dua kali, saya lihat polisinya banyak pegang gas air mata. Nah terus kondisi lalu lintas kan macet,” kata Ahok di kediaman pribadinya, Pantai Mutiara, Kamis, 10 November 2016. Menurut Ahok, jika ia nekat turun ke jalan dan bertemu masyarakat, maka mereka pasti ribut. Saat kondisi itu, kata Ahok, sudah pasti polisi akan menahan massa untuk mendekat. Jika polisi menjaga ketat dirinya dari serangan masyarakat, maka lempar-melempar tidak dapat dihindari.  “Kalau lempar-lemparan saya pikir yang jadi korban adalah mobil-mobil orang. Kasihan. Orang sudah kena macet, mobil korban sih bisa asuransi ya. Saya cuma bayangin, ketakutan orang-orang di dalam mobil,” ujar Ahok. Namun, kedatangan Ahok ditolak oleh puluhan orang yang mengaku warga Kedoya yang berdemonstrasi sambil bernyanyi dan bersorak. Mereka juga membawa dua spanduk besar bertuliskan penolakan terhadap Ahok. “Tangkap Ahok! Si Penista Agama!  Manusia Provokator Kerukunan Umat Beragama”, “Ahok Minta Maaf? Penghina Al-Quran harus tetap dihukum!” Seluruh anggota pengamanan juga telah berbaris sekitar sepanjang 100 meter. Anggota Brimob yang berjaga pun dilengkapi dengan senjata lengkap, seperti senjata laras panjang dan tembakan gas air mata. Tampak pula puluhan polisi wanita berada di barisan pengamanan.
  • Cilincing. Tidak hanya Calon Gubernur (Cagub), Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang mendapat penolakan warga saat melakukan blusukan, tetapi hal itu juga dialami calon wakil gubernur (cawagub) DKI, Djarot Saiful Hidayat saat blusukan ke Kampung Nelayan, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (3/11). Ketika datang ke lokasi blusukan dengan mengekan kemeja kotak-kotak merah, Djarot mendengar ada aksi unjuk rasa yang dilakukan Forum RT/RW Kelurahan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Warga menyatakan menolak kedatangan Djarot karena hingga saat ini tidak ada musyawarah terhadap rencana akan dilakukan penertiban kawasan Kampung Nelayan oleh Pemprov DKI. CilincingAksi unjuk rasa dipimpin Ketua RW 07 Kalibaru Caharudin, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Forum RT/RW Kalibaru. Caharudin menyatakan, menolak kedatangan Ahok atau Djarot karena adanya rencana penggusuran tanpa adanya ganti rugi.
  • Sawah Besar. Calon wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat ditolak sekelompok warga saat kampanye di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Warga memasang spanduk penolakan dan menghalangi jalan Djarot. Seperti yangmdilansir detik di RW 06, Jalan F, Karang Anyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Senin (14/11/2016), warga sudah berkumpul sejak pukul 08.30 WIB. Mereka memasang spanduk dan karton yang berisikan penolakan terhadap Djarot. Sekelompok warga tersebut juga menutup portal ke Jalan F. Puluhan polisi juga berjaga di sekitar lokasi kampanye. Pukul 10.25 WIB, ada seorang warga yang berteriak mengabarkan keberadaan Djarot di RW 07. Warga pun buru-buru berlari. Di RW 07, Djarot yang sudah datang melayani permintaan berfoto dengan warga. Di sisi lain, sekelompok warga menutup akses ke Jalan F dengan gerobak hingga tangga besi. Warga juga meneriakkan takbir. Djarot tetap tersenyum dan santai meski ada penolakan sekelompok warga di depannya. Kapolres Kombes Dwiyono menggunakan toa lalu meminta sekelompok warga yang menolak itu untuk tenang. “Jangan menghalangi proses Pilkada,” kata Kombes Dwiyono. Ditolak ke Jalan F, Djarot tetap melanjutkan kampanye ke lokasi sekitarnya.
  • Ciracas. Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menanggapi santai ihwal penolakan yang terjadi di lokasi blusukannya. Bahkan pria yang karib disapa Ahok itu sama sekali tak peduli.”Cuek aja. Toh warga yang mau foto juga lebih ramai. Yang nolak berapa orang? Cuekin aja,” ujarnya di Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (15/11). Kecuali, kata Ahok, warga menolak kehadirannya saat blusukan. Maka dipastikan dia tidak akan datang. “Kan warga enggak ada yang nolak,” klaim eks Bupati Belitung Timur itu. Saat ditanyai apakah dia berani menghadapi langsung para demonstran, Ahok enggan melayani mereka. “Ngapain (temuin mereka)? Orang bukan penduduk situ kok,” tukasnya. 
Iklan