*Politik-Sosial

Elektabilitas Ahok Anjlok, Paska 4 November

wp-1476191854024.jpgBanyak survey dan pemberitaan media pendukung Petahana mengungkapkan bahwa elektabilitasnya tidak terpengaruh dengan peristiwa penistaan agama Islam. Tetapi ternyata survey yang independen menenunjukkan bahwa elektabilitas petahana Basuki Tjahaja Purnama semakin anjlok terjun bebas paska demo 4 November. Lingkaran Survei Indonesia merilis temuan terbaru jajak pendapat terhadap 440 responden selama lima hari sejak 31 Oktober hingga 5 November lalu. Hasilnya, elektabilitas Ahok dan Djarot Saiful Hidayat hanya 24,6 persen. Turun dibandingkan survei Oktober 31,4 persen dan survei Juli 49,1 persen. “Salah satu faktornya tentu kasus dugaan penistaan agama,” kata peneliti LSI Adjie Alfaraby, Kamis, 10 November 2016.

Namun demikian, elektabilitas pasangan Ahok-Djarot masih unggul dibandingkan dua pasangan lain. Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni berada di urutan kedua dengan elektabilitas 20,9 persen. Sementara pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di angka 20 persen. Sedangkan responden yang tidak menentukan pilihan adalah 34,5 persen. Paska demo 4 November, mereka yang memilih Ahok justru kini beralih menjadi swing voters alias belum menentukan pilihan. Pada survei Oktober, jumlah swing voters adalah 28,2 persen.

Dari 440 responden, 65,7 persen mengatakan pernyataan Ahok tentang Al-Maidah ayat 51 adalah penistaan agama. Sebanyak 13,5 persen menyatakan bukan penistaan agama, sementara sisanya menjawab tidak tahu. Dari responden yang sama, 63,7 persen meminta Ahok diproses hukum.

Jajak pendapat ini digelar LSI selama enam hari sejak 31 Oktober hingga 5 November dengan cara wawancara tatap muka. Di saat itu, isu penistaan agama sedang ramai-ramainya dibicarakan hingga puncaknya pada 4 November lalu ketika demo besar-besaran sejumlah kelompok umat muslim turun ke jalan mendesak Ahok segera diadili.

Iklan