*Ekonomis

Jokowi: Triwulan III Ekonomi Meroket, Ternyata Denyutnya Tetap Melemah

wp-1471410315734.jpgPresiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa bulan yang lalu sudah memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2015 akan berada di level 4,67 persen. Dengan keyakinan yang sangat tinggi angka itu akan melambung jauh pada semester kedua mulai bulan September.”Mulai agak meroket September, Oktober. Nah, pas November itu bisa begini (tangan menunjuk ke atas),” kata Jokowi di Istana Bogor, Rabu (5/8/2015). Tetapi optimisme Jokowi tersebut lagi lagi hanya janji yang tidak terrealisasi. Trernyata realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III-2016 sebesar 5,02%. Realisasi tersebut dinilai Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai bukti lemahnya kondisi perekonomian RI. Keadaan tersebut, menurut Sri Mulyani, masih berhubungan dengan rendahnya jumlah realisasi penerimaan pajak sampai Oktober 2016, yakni sebesar Rp 870,95 triliun atau 64,27% dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016 sebesar Rp 1.355,2 triliun. “Saya hanya ingin katakan bahwa ini confirm jika ekonomi kita denyutnya memang melemah,” ujarnya saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di kantor Pusat Direktorat Jendral Pajak (DJP), Jakarta, Senin (7/11/2016). Menurutnya, salah satu yang perlu diperhatikan adalah kegiatan ekspor-impor yang masih kurang, yang bakal mempengaruhi hasil penerimaan pajak. “Kuartal ketiga ini minus 6% untuk ekspor dan minus 3,8% untuk impor. Anda akan lihat beberapa PPh dan PPn yang berhubungan dengan ekspor impor negatif,” ujarnya.

Beberapa bulan sebelumnya Jokowi dengan optimisme yang sangat tinggi  sudah memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2015 akan berada di level 4,67 persen. Dia yakin angka itu akan melambung jauh pada semester kedua mulai bulan September.”Mulai agak meroket September, Oktober. Nah, pas November itu bisa begini (tangan menunjuk ke atas),” kata Jokowi di Istana Bogor, Rabu (5/8/2015). Dia menganggap lambatnya pertumbuhan ekonomi hingga kuartal kedua ini karena serapan anggaran baik di tingkat pusat maupun daerah yang belum tersalurkan. Selain itu, ada juga faktor eksternal yang membuat negara-negara lain termasuk Indonesia mengalami perlambatan. Namun, memasuki semester kedua, Jokowi yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik. Saat ditanyakan apakah pemerintah optimistis hingga akhir tahun ini pertumbuhan bisa mencapai lebih dari 5 persen, Jokowi belum bisa memastikan. Hal ini karena pertumbuhan ekonomi dipengaruhi banyak faktor. “Banyak hal yang pengaruhi. Bukan hanya masalah serapan anggaran saja, tapi juga spending dari BUMN, belanja dari swasta. Itu pengaruh sekali. Jadi kalau bertanya seperti itu, jawabannya pada akhir Desember,” kata Jokowi.

Sedangkan, kata Sri Mulyani, sebagai mesin pertumbuhan, investasi diharapkan bisa menjadi kontributor yang positif baik dari sisi demand atau suplai, ternyata hanya tumbuh sekitar 4,1%. Sri Mulyani mengaku telah menurunkan target yang harus dikumpulkan DJP tahun ini sebesar Rp 218 triliun dari Rp 1.355 triliun dalam APBN-P 2016 menjadi Rp 1.137,2 triliun.”Coba kalau Menterinya tidak ganti, Anda (pegawai DJP) harus mengumpulkan Rp 218 triliun lagi. Terimakasih untuk saya, targetnya diturunkan. Saya sudah diskon shortfall Rp 218 triliun,” canda Sri Mulyani.

Iklan