Tak Berkategori

Inilah Dampak Ekonomi Kemenangan Trump Bagi Dunia

Kemenangan Donald Trump dalam pemilu Presiden Amerika Serikat, hari ini Rabu (9/11/2016) menjadi perhatian global. Bagaimana tidak, banyak negara bergantung relatif terhadap perekonomian Amerika itu. Proteksi perdagangan yang digaungkan Trump dalam kampanye lalu, agaknya menjadi momok bagi aktivitas perdagangan global. Menurut analis dari Samuel Aset Management, Lana Soelistianingsih Indonesia pun berpotensi terdampak kebijakan Trump, meski tak langsung.wp-1478682081401.jpg

  • Cina Terkena kemudian Indonesia. Bila Trump lebih protektif yang paling terkena dampaknya adalah ekspor China. Jika permintaan Amerika Serikat terhadap barang-barang China berkurang, maka permintaan China terhadap bahan mentah dan barang setengah jadi Indonesia juga akan turun. “Ekonomi China bisa melemah dan ekspor Indonesia (ke China) turun. Sebagai konsekuensinya lain, barang-barang dari China akan ditujukan ke pasar lain, termasuk Indonesia. Sebagaimana diketahui, dengan skala ekonominya yang raksasa, Amerika Serikat merupakan negara importir kedua terbesar di dunia. Sebagian besar impor Amerika Serikat berupa barang modal (29 persen) dan barang konsumsi (26 persen). Selebihnya meliputi bahan baku industri (24 persen), kendaraan bermotor dan bagian-bagiannya serta mesin (15 persen), dan makanan-minuman serta pakan (5 persen). Adapun impor Amerika Serikat terbesar berasal dari China (19 persen), disusul dari Kanada (14,5 persen), Meksiko (12 persen), Jepang (6 persen), dan Jerman (5 persen). Pada kuartal III 2016, impor Amerika Serikat dari China turun 2,8 persen. Penurunan impor dari China mengerek turunnya impor Amerika Serikat secara total pada kuartal III 2016. Dikutip dari Biro Sensus Amerika Serikat, impor Amerika Serikat turun 1,3 persen (mtm) ke level 225,6 miliar dollar AS per September 2016. Impor barang modal turun 1,7 miliar dollar AS, sedangkan impor barang konsumsi turun 800 juta dollar AS.wp-1478662860342.jpg
  • IHSG dan Rupiah Longsor Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan bergerak melemah signifikan pada perdagangan pagi ini akibat terbawa sentimen pemilihan Presiden di AS, Rabu (9/11/2016). Hingga pukul 10.48 WIB, capres dari Partai Republik Donald Trump masih memimpin perolehan suara dari calon dari Partai Demokrat yang juga menjadi favorit pelaku pasar, Hillary Clinton. Kondisi tersebut membuat investor melakukan aksi jual terhadap portofolio investasinya. IHSG pada pukul 10.50 telah melemah sebesar 1,88 persen atau 103,3 poin di posisi 5.367,37. Sementara itu nilai tukar rupiah telah melemah signifikan dan tembus ke Rp 13.188 per dollar AS. Analis dari Infovesta Utama Edbert Suryajaya mengakui bahwa sentimen pilpres AS telah menjalar ke pasar finansial. “Terutama untuk IHSG, saya lihat ada kekhawatiran Donald Trump yang menang sehingga investor ambil langkah hati-hati,” ujarnya.
  • Indeks berjangka Amerika Serikat turun 750 poin seiring negara bagian kunci di Florida dan Ohio memenangkan kandidat presiden dari Partai Republik, Donald Trump.  Selain itu, peso Meksiko juga turun 10 persen dibanding dollar AS, mendekati level terendah dalam sejarah.  Sebelumnya, indeks S&P 500 e-mini juga turun 65 poin atau turun 3,04 persen. dollar AS terpeleset turun 3 persen ke 102,02 yen, sementara euro naik 1,5 persen ke 1,119 euro per dollar AS.  Indeks berjangka ini turun hampir 4 persen, sebuah loss yang mirip dengan loss saat Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa pada Juni lalu.  Wall Street melihat Hillary Clinton, kandidat presiden dari Partai Demokrat, sebagai status quo yang membawa stabilitas ke pasar.  Sementara itu, Trump memiliki pandangan luar negeri yang membawa ketidakpastian pada kebijakan perdagangan dan ketidakpastian.  Kemenangan Trump membuat ngeri para investor yang sebelumnya mengestimasi kemenangan Hillary Clinton.
  • Emas melejit. Pada transaksi tadi malam (2/11/2016), harga emas dunia sempat bertengger di posisi tertingginya sejak 4 Oktober 2016 lalu, yakni 1.309,10 dollar AS per troy ounce. Namun, berdasarkan data CNBC pada pukul 15.30 waktu New York, harga emas di pasar spot naik 0,7 persen menjadi 1.297,41 dollar AS per troy ounce. Sedangkan harga kontrak emas untuk pengantaran Desember naik 1,6 persen menjadi 1.308,20 dollar AS per troy ounceHarga emas naik terjadi setelah The Federal Reserve mengumumkan kebijakan suku bunga yang tidak berubah. Sebelumnya harga emas dunia diprediksi bakal menguat apabila kandidat dari Partai Republik Donald Trump memenangkan pilpres AS. Pekan lalu saja, harga emas bersinar sejalan dengan besarnya kemungkinan Trump menjadi presiden AS pengganti Barack Obama. Akan tetapi, pada Senin (7/11/2016) waktu setempat, harga emas turun 2 persen setelah Biro Investigasi Federal (FBI) menyatakan kandidat presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton tidak perlu ditindak secara hukum terkait skandal e-mail pribadinya. Dengan kata lain, harga emas akan naik jika persentase kemungkinan kemenangan Trump meningkat. emas sudah lama menjadi aset aman yang dilirik investor ketika ada kondisi finansial yang tertekan. Banyak investor khawatir akan kepemimpinan Trump di Gedung Putih lantaran tabiatnya yang susah diprediksi dan efeknya terhadap perekonomian global. Trump sudah menuai kritik global terkait perjanjian perdagangan global. Ini adalah salah satu alasan Citigroup memperingatkan bahwa pasar saham AS bisa turun 3 hingga 5 persen sesaat setelah Trump dinyatakan menang dan Deutsche Bank menyatakan pasar saham Eropa bisa merosot 10 persen. PredictIt, platform taruhan politik, merilis angka probabilitas kemenangan masing-masing kandidat dan menemukan korelasi kuat 0,81 antara probabilitas kemenangah Trump dan harga emas dalam 60 hari terakhir. Korelasi terdekat adalah 1, yang mengindikasikan eratnya hubungan. Semua hal tersebut menjelaskan mengapa bank investasi Societe Generale meyakini harga emas bisa menikmati penguatan hingga 1.400 dollar AS per ons jika Trump memenangkan pilpres AS. “(Penguatan harga) lebih tinggi sangat mungkin terjadi,” ungkap Robin Bhar, kepala riset logam mulia di Societe Generale dalam analisinya seperti dikutip dari CNN Money, Selasa (8/11/2016). Bhar menyatakan jika Trump menang pilpres, maka harga emas bisa terus mengalami rally. Dengan demikian, harga emas pada akhir tahun diprediksi mencapai kisaran 1.450 hingga 1.500 dollar AS per ons. Bhar menyoroti adanya kemungkinan yang tinggi terjadinya perubahan radikal yang dibawa oleh kemenangan Trump. Menurut Bhar, janji-janji Trump untuk memangkas anggaran pemerintah dan kebijakan proteksionis maupun isolasi dapat meningkatkan ketidakpastian politik di kawasan seperti Eropa Timur dan Asia Tenggara
  • Tenggelamnya Pasar Saham Eropa. Deutsche Bank dalam catatan risetnya menyatakan bahwa ketidakpastian ekonomi akan memuncak apabila kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump memenangkan pilpres AS. Pada akhirnya, kepemimpinan Trump bisa menyebabkan keraguan dalam hal perpajakan, imigrasi, dan kebijakan perdagangan. Para analis Deutsche Bank mengemukakan, pesan-pesan yang disampaikan Trump dalam rencana kebijakan ekonominya sudah jauh dari konsisten. Bahkan, rencana kebijakan Trump untuk meningkatkan belanja infrastruktur yang diklaim dapat menggenjot perekonomian dinilai sebagai rencana yang meragukan. Mengutip CNN Money, Senin (7/11/2016), perusahaan-perusahaan energi Eropa diyakini Deutsche Bank dapat terpukul dengan kemenangan Trump. Pasalnya, Trump sudah berjanji bakal meningkatkan produksi minyak mentah maupun batu bara AS. Lalu, bagaimana jika kandidat dari Partai Demokrat Hillary Clinton yang memenangkan pilpres? Menurut Deutsche Bank, kemenangan Clinton bisa mendorong pasar saham Eropa hingga 5 persen. “Dengan kebijakan-kebijakan Clinton yang tidak radikal ketimbang kebijakan Trump dan telah dikomunikasikan secara lebih konsisten, kami mengekspektasikan ketidakpastian akan hilang dari pasar apabila Clinton menang,” tulis tim analis Deutsche Bank dalam laporannya.Pasar saham telah mencatatkan penguatan ketika probabilitas kemenangan Clinton meningkat. Pada perdagangan Senin, saham di seluruh dunia menguat setelah Biro Investigasi Federal (FBI) menyatakan Clinton tidak harus menghadapi tuntutan hukum pidana terkait e-mail pribadinya.Pekan lalu, grup perbankan Citi memprediksi indeks saham Standard & Poor’s (S&P) 500 akan langsung terperosok 3 hingga 5 persen apabila Trump memenangkan pilpres.
Iklan