Tak Berkategori

Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Dimana mana Jadi Bintang

ILC Paska 411. Benarkah ada perbedaan bahasa tubuh antara Panglima dan Kapolri ? Panglima sangat santai seperti tanpa beban, sementara kapolri sangat tegang seperti ada yang memberati. Mungkinkah tanda ini seperti yang banyak dikatakan orang bijak bahwa mengekspresikan bahasa tubuh lebih mudah bila hati dan ucapan selaras dibandingkan membohongi hati dengan ucapan. Kalau itu benar maka Kapolri dan Panglima sama sama adalah contoh orang baik. Kapolri masih dianggap bijak krn hatinuraninya masih putih meski tidak mahir bersandiwara. Panglima dianggap orang baik dan bijak krn hati nuraninya lebih  putih dan lebih bercahaya antara hati dan ucapan ada ketulusan. Tetapi sangat disayangkan banyak pemimpin negeri, pintar berkamuflase ketika hati dan ucapannya tidak selaras.

Penampilan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo saat menjadi bintang tamu di acara ILC Indonesia Lawyer Club dengan tema Setelah 411 yang disiarkan TV One pada Rabu (9/11/2016) malam, dapar dikatakan menjadi bintang dan mendapat apresiasi dri semua kalangan masyarakat

  • Panglima selain mengaku sebagai umat muslim berkali kali mendukung kebangkitan umat Islam dalam aksi damai tersebut
  • Gatot melanjutkan, “Demo 411 betul-betul sangat indah dan damai. Dengan tenang, tertib menyampaikan, sehingga mereka mematuhi aturan yang disampaikan Pak Kapolri.
  • “Sementara itu, Gatot sangat mengapresiasi peran serta para ulama dalam membimbing dan menyejukkan umatnya agar tidak berbuat anarkistis dalam aksi damai pada 4 November 2016. Walaupun para pendemo diprovokasi untuk berbuat anarkistis, kata dia, namun mereka tidak terpengaruh sama sekali
  • “Islam itu indah dan sangat indah, apa yang dilakukan umat islam 411 itulah keindahan dalam karena Islam itulah keindahan Islam itulah Indonesia dan itulah kebhinekaan, hal ini terlihat ketika ada resepsi seorang Nasrani di Kathedral, umat Islam membersihkan area kathedral supaya gaun yang panjang yang dipakai orang ini tidak kotor, itulah kebhinekaan,” tuturnya.
  • Kericuhan pecah antara para pengunjuk rasa Aksi Bela Islam dan aparat kepolisian, diduga kuat disebabkan ulah provokator. Para pengunjuk rasa yang melemparkan petasan ke anggota kepolisian dibalas dengan tembakan gas air mata.Massa pun mulai merangsek maju dan mendorong aparat kepolisian mundur. Panglima TNI Gatot Nurmantyo pun turun tangan. Dengan pengeras suara, ia menyampaikan keduanya agar menghentikan kericuhan ini.“Saya Panglima TNI Gatot Nurmantyo meminta semuanya tenang. Kita sesama umat Muslim harus membuat tenang,” kata Gatot di depan para pengunjuk rasa di kawasan Istana Negara, Jumat (4/11) sebagaimana dikutip VIVA News. Bahkan, ia menyampaikan amanat Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian agar anggota polisi menghentikan tembakan gas air mata. “Rekan kepolisian, Kapolri menyampaikan perintah. Saya minta kepada anggota (polisi) agar menghentikan tembakan dan gas air mata,” tuturnya. Ia pun meminta pengunjuk rasa membubarkan diri dan mundur. “Kita sesama umat Islam, tidak boleh bertikai dan butuhkan ketenangan. Saudara-saudara itu saudara saya juga. Kapolri sudah perintahkan hentikan tembakan. Hentikan semua. Mari kita baca Al-Quran. Terima kasih,” ujar mantan KSAD ini.

Kisah Hidup

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo adalah Panglima Tentara Nasional Indonesia yang resmi menjabat sejak 8 Juli 2015. Sebelumnya, Gatot merupakan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-30 yang mulai menjabat sejak tanggal 25 Juli 2014 setelah ditunjuk oleh Presiden SBY untuk menggantikan Jenderal TNI Budiman. Ia sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Pangkostrad menggantikan Letjen TNI Muhammad Munir. Pada Juni 2015, ia diajukan oleh Presiden Jokowi sebagai calon Panglima TNI, menggantikan Jenderal Moeldoko yang tengah masuk waktu purna baktinya Gatot Nurmantyo merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1982 yang berpengalaman di kecabangan infanteri baret hijau Kostrad. Gatot pernah menjadi Komandan Kodiklat TNI-AD, Pangdam V/Brawijaya dan Gubernur Akmil. Selain itu, Gatot juga adalah Ketua Umum PB FORKI periode 2014-2018

Gatot lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada 13 Maret 1960. Tapi sejatinya ayahnya berasal dari Solo dan ibunya dari Cilacap. Gatot dibesarkan dari keluarga yang berlatar militer pejuang sangat kental. Ayah Gatot, bernama Suwantyo, seorang pejuang kemerdekaan yang pernah menjadi Tentara Pelajar. Di masa perang kemerdekaan ayahnya bertugas di bawah komando Jenderal Gatot Subroto. Dari nama tokoh militer kharismatik itulah, ayahnya kemudian memberi nama anaknya “Gatot”. Ayah Gatot pensiun dengan pangkat terakhir Letnal Kolonel Infanteri dan tugas terakhir sebagai Kepala Kesehatan Jasmani di Kodam XIII/Merdeka, Sulawesi Utara. Sedangkan ibunda Gatot, anak seorang Kepala Pertamina di Cilacap, memiliki tiga orang kakak kandung yang mengabdi sebagai prajurit TNI AD, TNI-AL dan TNI-AU. Karena anak tentara, sejak kecil Gatot hidup berpindah-pindah. Setelah dari Tegal, ia pindah ke.Cimahi, Jawa Barat, hingga kelas 1 Sekolah Dasar. Setelah itu ia pindah Cilacap sampai kelas 2 SMP. Lalu ia pindah ke Solo hingga tamat SMA. Sebenarnya Gatot ingin menjadi arsitek. Makanya ia mendaftar ke Universitas Gadjah Mada (UGM). Tapi mengetahui anaknya mau masuk l UGM, ibundanya berpesan: “Ayahmu hanya seorang pensiunan. Kalau  kamu masuk UGM, maka adik-adikmu bisa tidak sekolah.” Mendengar hal tersebut, Gatot berubah haluan. Diam-diam dia berangkat ke Semarang, mendaftar Akabri melalui Kodam Diponegoro. Sekembalinya dari Semarang, ia memberitahu ibunya bahwa ia sudah mendaftar ke Akabri. Ibunya langsung mengizinkan dengan pesan, “Jika kamu menjadi tentara, kamu harus menjadi anggota RPKAD.” Menurut Gatot, ibunya terobsesi anaknya menjadi anggota RPKAD karena rumah orang tua ibunya dekat dengan markas RPKAD di Cilacap.

Setelah lulus Akabri 1982, Gatot berusaha masuk menjadi anggota Kopassus (nama baru RPKAD). Tapi dalam usaha pertama ia tidak diterima. Pada kesempatan berikutnya, setelah berpangkat Kapten, saat bertugas di Pusat Latihan Tempur di Baturaja, Sumsel, ia kembali mendaftar masuk Kopassus. Kembali tidak diterima. Sebenarnya kesempatan tersebut sudah habis. Tapi Gatot tidak pernah menyerah. Ia terus berdoa kepada Allah SWT agar suatu hari bisa diterima menjadi prajurit Kopassus. Kesempatan itu akhirnya datang …

Kesempatan itu akhirnya datang setelah ia menjabat KSAD (25 Juli 2014–15 Juli 2015). Tak lama setelah pelantikan, Gatot memanggil Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo dan menyampaikan maksudnya ingin mendaftar pendidikan Kopassus. Tapi Agus Sutomo menyampaikan, “Tidak usah ikut pendidikan Pak, nanti Bapak saya kasih brevet kehormatan saja”.Tapi Gatot menolak. Ia bersikukuh mau mendapat baret merah melalui jalur normal. Maka masuklah Gatot menjadi siswa Kopassus. Ia mengikuti semua prosedur normal, mulai dari pendaftaran, ujian, hingga penyematan brevet komando dan baret di pantai Cilacap. Untuk itu, ia harus melalui ujian yang keras, antara lain senam jam 2 pagi, lalu direndam di kolam suci Kopassus di Batujajar. Kemudian longmarch, hingga berenang militer selama lebih 2 jam dari pantai Cilacap ke pulau Nusakambangan. Bahkan Gatot juga mengikuti pendidikan Sandi Yudha yang salah satu ujiannya harus menyusup masuk ke suatu tempat yang terkunci dan dikawal ketat oleh prajurit Kopassus. Ia lolos mulus. Gatot akhirnya diyatakan lulus semua tahapan dan resmi diangkat menjadi keluarga besar Korps Baret Merah di pantai Permisan Cilacap, Jawa Tengah, pada 2 September 2014. Tidak seperti “brevet kehormatan” Kopassus yang disematkan di dada sebelah kiri penerimanya, brevet pasukan komando tersebut disematkan di dada sebelah kanan Gatot, sebagai tanda ia menerimanya melalui prosedur selayaknya yang harus dilalui setiap prajurit Kopassus.Setelah resmi menjadi prajurit Kopassus, Gatot naik helikopter dari Cilacap ke Kartosuro (Markas Grup 2 Kopassus). Masih berbaret merah, pakai loreng, darah mengalir, masih pakai hitam-hitam samaran dan masih bau lumpur, ia langsung menuju makam kedua orang tuanya di Solo.Di depan makam kedua orang tuanya itu ia memberi hormat dan menyampaikan, ”Ibu saya sudah menunaikan tugas.” Dan itu terjadi saat Gatot berusia 55 tahun.

Iklan

Kategori:Tak Berkategori