*Politik-Sosial

Respon Hebohnya Ahok Ajak Umat Muslim Tidak Ikuti Surat Al Maidah

Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kepada publik agar tidak menjadikan surat Al Maidah ayat 51 sebagai alasan tidak memilih dirinya, menuai kecaman dari banyak pihak. Dalam satu kesempatan Ahok pernah menyatakan ‘jangan tak pilih saya karena Almaidah 51’. 

Ahok mengatakan hal itu dalam jumpa pers bersama wakilnya, Djarot S Hidayat, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, serta ketua tim pemenangannya, Nusron Wahid di Jakarta, Rabu (21/9). “Jangan tak pilih saya karena  Almaidah 51,” ujar Ahok.

Respon Masyarakat Indonesia

  1. Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengecam peryataan Ahok tersebut. Selama ini Ahok banyak menyerukan agar jangan ada isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta jangan rasis di dalam kampanye politik. Namun, pernyataan Ahok yang mengutip surat Al-Maidah 51 dengan konteks tidak tepat dinilai merupakan pernyataan provokatif dan bermuatan SARA. Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengatakan Ahok bukan orang yang memiliki kompetensi untuk mengutip ayat suci umat Islam dan mengajarinya tentang agama. “Pernyataan Ahok juga sangat tidak tepat, sebab itu sama saja dengan melarang umat Islam menjalankan keyakinan ajaran agamanya,” ujar Fadli dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/9). Fadli sangat prihatin dengan pernyataan Ahok. Pasalnya hal tersebut bukan akan memunculkan persaingan yang sehat, melainkan justru menyinggung sebagian umat Islam, serta berpotensi memunculkan keresahan sosial dan menodai proses pemilihan gubernur (pilgub) DKI Jakarta. “Negara kita berdasarkan Pancasila dan di sisi lain kita juga menghargai pluralisme. Namun bukan berarti Ahok bebas mengutip dan mengajari ajaran agama umat Islam yang bukan keahliannya,” kata Fadli. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini menyarankan Ahok menghentikan pernyataan-pernyataan provokatif yang menyinggung SARA. Menurut Fadli, kritik dan debat adalah hal biasa dalam demokrasi. Tapi pernyataan yang menyinggung agama bisa ditanggapi berbeda oleh masyarakat. Dia berharap pilgub 2017 nanti berjalan secara sehat, demokratis dan konstitusional.
  2. Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI), KH Ahmad Shabri Lubis menanggapi pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ustadz Shabri -sapaan akrabnya- menjelaskan, di dalam Al-Qur’an larangan mengangkat orang kafir sebagai pemimpin adalah bukti Islam sebagai agama yang sempurna, karena telah mengatur berbagai sektor kehidupan manusia. Menurutnya, Ahok sengaja menyebut-nyebut ayat Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 sebagai strategi busuk playing victim. “Ahok bawa-bawa Surat Al-Maidah hanya ingin mempersalahkan Al-Qur’an. Seolah-olah dia jadi korban gara-gara Al-Qur’an,” kata KH Ahmad Shabri Lubis seperti dilansir Panjimas.com, Kamis (22/9/2016) . Ia melanjutkan, sikap umat Islam yang mengikuti ajaran agamanya tak boleh diintervensi siapa pun karena dijamin oleh konstitusi. “Ini justru sikap intoleran, kalau ada orang mempermasalahkan itu (Al-Maidah 51),” imbuhnya. Oleh sebab itu, Ustadz Shabri mengimbau agar umat Islam tak terpengaruh, tetap teguh dengan prinsip dan nilai-nilai yang diajarkan Islam. Terakhir, Ustadz Shabri dengan tegas menyebut, hanya setan yang takut dengan ayat Al-Qur’an. “Orang yang takut dengan Al-Qur’an ya setan itu,” tandasnya.Dilaporkan Polisi 
  3.  Wakil ketua Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) Agustiar mengatakan calon gubernur DKI Jakarta yang diusung oleh PDIP, Golkar, NasDem dan Hanura, Basuki Tjahaja Purnama telah melakukan dua tindak pidana. Pertama, Basuki alias Ahok melanggar pasal 15 UU No. 40 tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis. Pada pasal ini Ahok dinilai melarang umat muslim untuk mematuhi perintah alquran. “Bapak Basuki Tjahaja Purnama itu meminta masyarakat muslim untuk tidak memilih dia karena Al Maidah ayat 51. Sebagaimana diketahui bahwa menjalankan perintah Alquran merupakan bagian dari hak asasi umat muslim untuk menjalankan perintah agama. Termasuk menjalankan surat al Maidah ayat 51 itu,” ungkap Agustiar di Kantor Bawaslu DKI Jakarta, Danau Agung, Sunter, Jakarta Utara, Selasa (27/9). Kedua, Ahok dituduh melanggar pasal 156 KUHP junto pasal 28 ayat 2 UU No. 11 tahun 2008 UU ITE tentang penghinaan terhadap agama. Menurutnya Ahok tak sepatutnya mengutip surat Al-Maidah seenaknya. Sebelumnya Ahok meminta agar lawannya jangan SARA dan hanya mengutip Surat Al-Maidah. “Surat Al Maidah ayat 51 sudah sangat jelas artinya yaitu larangan bagi umat muslim untuk mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk menjadi pemimpin,” kata Agustiar. Dengan melaporkan Ahok ke Bawaslu dia berharap pihak pengawas Pemilu bisa menjaga situasi menjelang Pilgub DKI yang aman dan damai. Sebab pernyataan yang disampaikan oleh Ahok sangat sensitif dan memicu kemarahan umat Islam. “Bawaslu harus bergerak cepat merespons pernyataan Ahok tersebut dengan memanggil Ahom dan memberikan peringatan. Kami khawatir jika dibiarkan di kemudian hari akan terus ada pembatasan hak beribadah umat Islam hanya untuk kepentingan pemenangan Ahok dalam pelaksanaan Pilgub,” tutupnya.
  4. Salah satu Pimpinan Bawaslu DKI Jakarta M. Jufri mengatakan pihaknya telah menerima laporan yang diajukan oleh ACTA. Atas laporannya tersebut pihaknya akan mengadakan rapat pleno untuk membahas laporan. “Kami akan menindaklanjuti apa yang dilaporkan. Kami akan melakukan rapat pleno untuk menentukan status pelaporan ini. Nanti juga kami akan menyampaikan penanganan kami,” kata Jufri di Kantor Bawaslu DKI Jakarta, Danau Agung, Sunter Agung, Jakarta Utara, Selasa (27/9). Jufri menuturkan pelaporan tindak pelanggaran dalam pemilu memiliki batas waktu 7 hari dari peristiwa pelanggaran. Laporan yang diajukan ACTA hari ini tepat 7 hari dari peristiwa yang diduga melakukan pelanggaran yakni 21 September 2016.
Iklan

Kategori:*Politik-Sosial

Tagged as: , , ,