Tak Berkategori

Rakyat Turun Jalan Tolak Ahok, Ajukan 5 Tuntutan


Aksi rakyat Jakarta menolak pencalonan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi Gubernur DKI Jakarta semakin tidak terbendung. Setelah ribuan umat Islam dan Forum RT RW turun ke jalan menolak Ahok, hari ini (08/09), gerakan masyarakat DKI Jakarta juga menggelar aksi massa menolak Ahok.

Tak hanya di jalanan, di sosial media, gerakan tolak Ahok juga mencapai klimaks. Hastag atau tanda pagar (tagar) #MahasiswaTolakAhok menduduki posisi puncak trending topic Twitter hari ini (08/09).

Diberitakan sebelumnya, sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam “Indonesia Bergerak” melakukan aksi massa di Silang Monas, Jakarta Pusat, menolak Ahok. Massa menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat Ibukota agar menolak Ahok duduk di kursi Gubernur DKI untuk kedua kalinya.

Indonesia Bergerak sendiri terdiri dari kalangan pekerja, pedagang, mahasiswa, profesional muda, buruh, aktivis dan masyarakat lainnya.
Juru bicara Indonesia Bergerak, Jamal Hidayat, membeberkan enam alasan mengapa Ahok wajib dan harus ditolak. Berikut alasan-alasan tersebut :

  1. Pemimpin minus etika. Rekam ingatan publik tak lupa bagaimana ketika Ahok memaki seorang ibu tua renta yang hendak mengeluhkan persoalan kepadanya. Belum lagi suguhan tayangan berisi umpatan dan sikap arogansi seorang Ahok.
  2. Ahok adalah pemimpin anarkis terhadap rakyat kecil. Saat Pilgub DKI 2012 lalu, Jokowi-Ahok berjanji tidak akan melakukan penggusuran kepada masyarakat Jakarta. Faktanya, sampai dengan Agustus 2015 sebanyak 3.433 kepala keluarga sudah menjadi korban penggusuran Ahok dengan alasan menyelamatkan ruang terbuka hijau. Bahkan mayoritas dari penggusuran tersebut harus berakhir konflik fisik antara warga dengan perangkat aparat birokrat. Di sisi lain, banyak bangunan elit dan megah seperti perumahan, apartemen dan pusat perbelanjaan yang diindikasi melanggar ruang terbuka hijau, tetapi tidak pernah sedikitpun ditertibkan oleh Ahok.
  3. Ahok pemimpin yang tak mampu membenahi Jakarta. Persoalan krusial di Jakarta adalah macet dan banjir. Harapan masyarakat kepada Ahok untuk membenahi dua persoalan besar ini sangat tinggi. Namun bukannya teratasi, menurut dia, kemacetan dan banjir di Jakarta pun semakin menggila. Angkutan massal yang digembar-gemborkan juga tidak kunjung terbukti. Begitu pula untuk persoalan banjir. Bahkan jalan protokoler di kasawan Sudirman-Thamrin dan kawasan Kemang yang selama ini steril dari banjir, bisa berubah menjadi genangan parah saat hujan turun meski dengan intensitas tidak terlalu deras.
  4. Pemimpin dengan sederet konflik. Bukan Ahok namanya kalau tidak melempar kesalahan orang lain. Hampir semua pihak pernah dijadikan kambing hitam oleh Ahok.ketika Jakarta banjir Ahok menyalahkan PLN, galian kabel, gubernur sebelumnya, anak buah, masyarakat, hingga tudingan sabotase pihak tertentu. Bahkan saat Jakarta terserang DBD pun, Ahok dengan lantang menyalahkan nyamuk dari Bekasi.
  5. Pemimpin minus prestasi. Keberhasilan Ahok selama ini, ia menilai, hanya digembar-gemborkan oleh media massa pendukung dan pasukan sosmednya. Audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pernah merilis bahwa pengelolaan anggaran di DKI Jakarta era Ahok terjadi 
Iklan

Kategori:Tak Berkategori