*Lingkungan Hidup

Reklamasi Penjajahan Cina Yang Sempurna?

wp-1461796448437.jpgKasus Reklamasi Teluk Jakarta yang juga melibatkan staf khusus Gubernur DKI Jakarta semakin bergelinding bak bola salju semakin membesar. Tampaknya kasus itu semakin rawan memanas dan tidak terelakkan termasuk menyentuh segala ranah aspek politik, sosial masyarakat. Karena sebagian besar melibatkan WNI keturunan Tioghoa maka isu kaum minoritaspun mulai bermunculan. Kekawatiran beberapa tokoh akan menyentuh isu SARA pun semakin tak terbendung. Hal ini terjadi ketika dua tokoh lulusan Universitas Indonesia (UI) yaitu Ridwan Saidi dan Ichsanudin Noorsy menuding proyek reklamasi pantai Jakarta adalah bentuk penjajahan Cina. Proyek ini merupakan ancaman pertahanan bangsa Indonesia.

“Saya tegaskan reklamasi adalah bentuk nyata proxy war yang dilakukan Cina. Saya mengajak Anda semua untuk berjuang melawan!,” ujar Ridwan Saidi berapi-api saat orasi di panggung dialog Kebangsaan, UI Bangkit Untuk Rakyat. Ridwan yang juga tokoh masyarakat Betawi itu mengungkapkan tudingannya itu saat berbicara dalam panggung yang di gelar di taman perpustakaan kampus UI Depok, Jumat (22/4/2016). Tampil pula Akbar Tandjung, Yusril Ihza Mahendra, Fahri Hamzah dan Taufik Bahaudin.

Ridwan yang alumnus Fakultas Ilmu Kemasyarakatan-UI (kini FISIP-red) mengatakan reklamasi dilakukan dengan sengaja menggusur nelayan dari pantai. Pelakunya adalah para pengembang Cina yang didukung Gubernur DKI Jakarta Ahok. “Ini para pengembang yang memiliki ratusan apartemen di sepanjang pantai, meski tidak laku namun malah diberi ijin melakukan reklamasi. Ini jelas tidak masuk akal secara bisnis,” papar Ridwan yang juga mantan Ketua Umum HMI dan anggota DPR ini. Kelakuan para pengembang itu jelas berlawanan dengan adat Betawi. “Kalau dagang ketoprak, empat hari nggak laku yah tutup kiosnya. Nah ini pengembang apartemen kagak laku masih aje terus bangun dan malah diijinin reklamasi,” papar Ridwan.

Ichsanudin Noorsy

Senada dengan Ridwan, penilaian yang sama juga diungkapkan Ichsanudin Noorsy. “Reklamasi adalah bentuk penjajahan paling sempurna. Saya setuju ini akan membahayakan pertahanan Indonesia,” ujar Noorsy.

Sedang Noorsy mengungkapkan para pengembang yang umumnya keturunan Cina secara sengaja menguasai lahan di ibukota dan berbagai daerah. Kini oleh Ahok diijinkan melakukan reklamasi. “Ini penjajahan yang sempurna!,” ujar Noorsy.

image

Reklamasi

Kasus reklamasi teluk Jakarta semakin memanas. Banyak pihak termasuk Wakil presiden JK, sebagian menteri, tokoh DPR, dan para penggiat lingkungan merekomendasikan reklamasi untuk dihentikan Tetapi anehnya yang paling bersikeras ingin meneruskan proyek itu adalah Ahok.  Dengan segala upaya dan segala cara Ahok bersikeras bahwa proyek reklamasi harus jalan karena sudah benar dan demi kepentingan rakyat. Padahal bila dicermati banyak pengamat melihat bahwa reklamasi adalah hanya sekedar untuk hunian kaum kaya dan kwpentingan lengusaha pengembang. Berbeda dengan kasus reklamasinjaman Ali Sadikin dahulu. Bukan Ahok namanya kalau tidak bisa berkelit untuk memuluskan rencana besarnya membangun hunian mewah di proyek reklamasi. Segala argumen untuk pembenaran proyek reklamasi itu diungkapkannya.

Banyak pihak berkeinginan agar kasus ini diselesaikan segera. Karena isu sensitif ini akan melebar kemana mana termasuk isu sara yang akan rawan terjadi konflik horisontal yang tidak diinginkan. Termasuk isu penjajahan Cina mulai banyak dihembuskan oleh berbagai pihak. Alasan beberapa tokoh yang menuding penjajahan Cina itu bisa saja faktual tetapi seringkali diboncengi oleh kepentingan tertentu yang bisa memecah belah bangsa. Melihat gelagat seperti itu sebaiknya semua lihak menahan diri termasuk Ahok dan tokoh masyarakat lainnya. Masalah reklamasi teluk Jakarta bukan hanya masalah hukum tetapi juga masalah sosial masyarakat yang menyimpan bom waktu yang akan meledak sewaktu waktu. Bila hal ini terjadi maka sejarah isu kerusuhan SARA di ibukota dikawatirkan akan meledak lagi berulang.

Iklan