*Politik

Siapa Kekuatan Besar Di Belakang Ahok ?

 

wp-1476191854024.jpgKetua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin seperti yang dinasir berbagai media online mengungkapkan ada ancaman besar dibalik polemik Ahok. Din menekankan, Ahok jelas telah memberi penilaian (judgement) terhadap pemahaman orang lain dengan kata pejoratif. Tapi karena dia sudah minta maaf, menurut Din selayaknya dimaafkan asal tidak mengulangi lagi. Namun permasalahan yang ada lebih besar dari kejadian di pulau kecil itu.“Permasalahannya, bahkan ancaman nyata, adalah fakta adanya kekuatan uang (the power of money) yang tengah menguasai Indonesia,” kata Din, Minggu (6/11). Din pun menganalogikan kekuatan uang itu bagaikan cengkeraman naga raksasa yang sedang melilit NKRI yang kaya raya, dan satu persatu kekuatan penghalangnya dilumpuhkan bahkan dimatikan dengan uang. Proses ini dicermatinya tidak terlepas dari perkembangan geo-politik dan geo-ekonomi global dan regional. “Sayangnya, Indonesia tidak memiliki mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism) karena infrastruktur nasional rapuh, sejak dari pemerintah, partai politik, ormas, sampai kepada pers, yang banyak terdiri dari orang-orang lemah baik iman, akal pikiran, dan komitmen kerakyatan,” ujarnya, miris. Kondisi ini, menurutnya, akan membawa Indonesia mengalami malapetaka dan terjatuh dalam nestapa. Din melanjutkan, kasus Ahok tidaklah kecil dan terlalu mahal harganya untuk dibiarkan tumbuh, karena akan menjadi kanker yang merusak integrasi dan harmoni bangsa. “Ujaran Pulau Seribu adalah bentuk intolerasi dan rendahnya kadar tenggang rasa. Akar tunjang permasalahan harus diamputasi dan solusi terbaik adalah penegakan hukum yang berkeadilan,” tegasnya

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015, Prof. Dr. KH. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA, menilai ada ancaman besar dibalik polemik Ahok. Din menganalogikan kekuatan uang itu bagaikan cengkeraman naga raksasa yang sedang melilit NKRI yang kaya raya. Kekuatan tersebut membuat negeri ini menjadi terpuruk ketika pemerintah, partai politik, ormas, sampai kepada pers, yang banyak terdiri dari orang-orang lemah baik iman, akal pikiran, dan komitmen kerakyatan. Kekuatan besar yang di belakang Ahok semakin banyak dirasakan rakyat tetapi sulit dibuktikan. Ternyata adanya kekuatan besar itu juga sudah ramai diungkapkan oleh banyak ulama dan banyak dicermati oleh orang Indonesia yang berpikir. Bahkan sebagian ulama seperti Emha Ainun Najib, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc, atau mantan Menko Perekonomian Kwik Kian Gie sebelumnya juga sudah sering memberi “warning” pada masyarakat. Tetapi tampaknya peringatan para orang alim dan orang pintar itu tidak membuat semua orang tersadar. Wajar bila kekuatan besar dibalik Ahok dianggap ilusi atau hanya isu semata. Karena pada umumnya media mainstream yang juga sudah dicengkeram kekuatan besar itu tidak berani ada yang memunculkan pendapat para pakar tersebut. Sedangkan beberapa media online lainnya sudah mulai banyak dan menyuarakan suara para orang alim dan orang pintar di Indonesia itu. Sehingga kebangkitan umat ini bagi orang yang berpikir bahwa masalahnya bukan sekedar Ahok.

Tampaknya isu tentang kekuatan besar yang mencengkeram tersebut bukan sekedar halusinasi. Kekuatan besar yang berada mencengkeram bangsa ini adalah yang seperti diucapkan Din bahwa kekuatan besar tersebut tidak terlepas dari pengaruh kekuatan geo-ekonomi global dan regional. Kekuatan geo-ekonomi global memang tidak disebutkan secara jelas, tetapi rakyat sudah bias menduga bahwa kekuatan global itu adalah Negara Cina sebagai kekuatan ekonomi raksasa baru yang mulai mengancam pengaruhnya di dunia khususnya Asia Timur. Sedangkan regional tentunya tidak terlepas dari para pemodal raksasa para konglomerat di Indonesia. Sosok fenomenal yang nasionalisme sangat tinggi dan tidak berpretensi politik si mantan Menko Perekonomian Kwik Kian Gie, tanpa basa basi dalam acara ILC membuat heboh mempertanyakan kebenaran rumor dikuasainya Jokowi oleh 9 naga atau taipan (pebisnis bermodal kuat keturunan Tiongkok memiliki jaringan bisnis di Hongkong atau China). Ada nama-nama besar taipan Indonesia yang selama ini terlihat mendukung Jokowi-JK. Kwik Kian Gie, merasa perlu mengingatkan seluruh rakyat dan pendukung Jokowi, bahwa ada harga yang harus dibayar sebagai efek kemenangan Jokowi. “Saya dengar kabar-kabar yang sudah meluas bahwa Jokowi dikendalikan oleh 9 taipan, orang- orang kaya yang mengendalikan, dan kabar ini sudah menyebar luas, dan tidak ada yang berani mengatakan, biarlah saya yang mengatakan. Bukan karena apa, tapi karena kecintaan saya. Tolong dibantah yang sekeras-kerasnya, dengan fakta yang sekeras- kerasnya bahwa ini tidak betul, karena kabar ini sangat meluas.” Sebagai kader yang sangat mencintai partainya, Kwik merasa harus mempertanyakan hal tersebut. Kwik adalah politisi senior sekaligus ekonom handal yang pernah menduduki jabatan strategis di negeri ini. Bahkan kwik sebagai kader PDIP dengan gagah berani menantang PDIP untuk membantah 9 naga tersebut. “Kader yang mencintai partainya (PDI P) harus jujur mengatakan apa adanya,”. Sebagai kader senior PDI P Kwik tentu juga banyak mengetahui ‘isi dapur’ partai berlambang banteng itu. Kecintaanya kepada PDI P itulah yang mendorong Kwik tak ingin partainya dikuasai cukong. “Saya melakukan ini karena kecintaan saya karena saya kader PDI P yang telah lama berjuang.. ” Kwik juga mempersoalkan kemunculan Sofjan Wanandi, seorang pengusaha dan sekaligus ketua Asosisi Pengusaha Indonesia (APINDO). Sofjan Wanandi sudah sejak lama melobi Megawati untuk memasangkan Jusuf Kalla dengan Jokowi. Sejak 2013, di berbagai kesempatan, Sofjan menyatakan bakal mengeluarkan Rp 2 triliun bila Kalla dipasangkan dengan Jokowi. Bahkan dalam kesempatan lain Kwik dalam http://www.citizenjurnalism.com (6/9/2015) menyebutkan Ekonom senior, Kwik Kian Gie, menilai kabinet pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla sesungguhnya tidak layak disebut Kabinet Kerja. Namun, lebih tepat disebut Kabinet Saudagar. “Jauh sebelum Jokowi-JK jadi presiden dan wapres, masa-masa kampanye pasangan ini jelas-jelas didukung oleh sembilan Taipan. Informasi tersebut tersebar demikian luasnya,” ungkap Kwik. Targetnya lanjut Kwik, jika Jokowi-JK menang, maka presiden bisa didikte oleh sembilan Taipan tadi. “Karena itu, saya menantang PDIP agar membantah informasi sembilan Taipan yang memback-up Jokowi-JK itu dengan sekuat-kuatnya,” saran Kwik. Namun sampai sekarang tidak ada bantahan sedikitpun di media masa atau media online tentang hal itu.

Sang Kiai Nyentrik Cak Nun bak pujangga berseru : “Saat ini umat sibuk mengejar seekor tikus yang berlarian tetapi tidak tahu segerombolan babi di belakangnya”. Umat banyak yang tidak menyadari saat ini kita hanya berhadapan dengan pelurunya, belum berhadapan dengan senapan dan siapa yang mengkomando untuk menembak. Tentunya kekuatan yang sangat besar luarbiasa itu mampu mempengaruhi Partai Politik, Kabreskrim, Kapolri, KPK, Para Menteri bahkan RI-1 sekalipun. Kekuatan sebesar itu bukan hanya dana yang luar biasa banyak, pengaruh kekuatan asing pasti yang mampu terlibat. Bila kajian dan analisa pengamat itu benar maka bangsa ini sedang berhadapan dengan segelintir manusia yang mepunyai pengaruh luar biasa. Segelintir manusia itu adalah pentu penarik pemicu senapan yang mengarah pada bangsa ini. Dan Sang petahana hanyalah sebutir peluru. Kita sedang disibukkan terkoyaknya emosi dan keyakinan kita yang dinista dan di aduk aduk sebuah peluru yang melampaui batas ini. Kekuatan besar yang menyodorkan senapan di mulut bangsa ini tidak pernah disadari.

Seperti yang diungkapkan Din bahwa infrastruktur nasional saat ini sangat rapuh, sejak dari pemerintah, partai politik, ormas, sampai kepada pers, yang banyak terdiri dari orang-orang lemah baik iman, akal pikiran, dan komitmen kerakyatan. Sehingga kekuatan besar tersebut mencengkeram erat termasuk pencalonan sang Petahana. Kekuatan besar atau pemodal bahkan diinformasikan pernah ada yang mengeluh bahwa si Petahana sudah mengeluarkan biaya yang sangat besar tetapi ternyata hasilnya semakin tidak menentu bahkan mereka berkeyakinan sulit untuk menang dari Pilkada. Maka belakangan ini berhembus kabar bahwa 2 tokoh naga sudah mengundurkan diri. Tetapi saat para elite dikonfirmasi mereka menyarankan bertanya ke Megawati.

Kehebatan Ahok

Kehebatan dan keberanian Ahok membuat rakyat Indonesia geleng geleng kepala. Jangankan Kabareskrim, Kapolri, Menko bahkan wakil presiden JK dilawannya. Bahkan ditengarai RI-1 Pun takut berkontroversi dengan Ahok. Jangankan kasus RS Sumber Waras, Kasus suap reklamasi bahkan dugaan penistaan agamapun dilawannya dengan jumawa. Bahkan dengan sombongnya Ahok sangat berani melawan emosi ratusan juta rakyat Indonesia ketika dinista agamanya. Bahkan dengan sombongnya dia berani melawan kemarahan umat dengan menyuruh polisi menangkap orang yang ,melaporkannya ke polisi atas tuduhan penistaan terhadap agama Islam. Ahok meminta agar pihak kepolisian untuk menangkap oknum yang melaporkan dirinya terkait pelecehan terhadap Alquran. Bahkan dengan sombongnya dia berani melawan kemarahan umat dengan menyuruh polisi menangkap orang yang ,melaporkannya ke polisi atas tuduhan penistaan terhadap agama Islam. Ahok meminta agar pihak kepolisian untuk menangkap oknum yang melaporkan dirinya terkait pelecehan terhadap Alquran.wp-1479186103225.jpg

Opini Tokoh Pintar yang tidak diragukan nasionalisme dan kecintaan rakyat dan bangsa tentang kekuatan besar yang mencengkeram negeri ini:

  • Mantan Ketua Muhammadiyah dan Ketua Pembina MUI Prof Dr KH Din Syamsudin yang dilansir berbagai media online mengungkapkan ada ancaman besar dibalik polemik Ahok. Din menekankan, Ahok jelas telah memberi penilaian (judgement) terhadap pemahaman orang lain dengan kata pejoratif. Tapi karena dia sudah minta maaf, menurut Din selayaknya dimaafkan asal tidak mengulangi lagi. Namun permasalahan yang ada lebih besar dari kejadian di pulau kecil itu.“Permasalahannya, bahkan ancaman nyata, adalah fakta adanya kekuatan uang (the power of money) yang tengah menguasai Indonesia,” kata Din, Minggu (6/11). Din pun menganalogikan kekuatan uang itu bagaikan cengkeraman naga raksasa yang sedang melilit NKRI yang kaya raya, dan satu persatu kekuatan penghalangnya dilumpuhkan bahkan dimatikan dengan uang. Proses ini dicermatinya tidak terlepas dari perkembangan geo-politik dan geo-ekonomi global dan regional. “Sayangnya, Indonesia tidak memiliki mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism) karena infrastruktur nasional rapuh, sejak dari pemerintah, partai politik, ormas, sampai kepada pers, yang banyak terdiri dari orang-orang lemah baik iman, akal pikiran, dan komitmen kerakyatan,” ujarnya, miris. Kondisi ini, menurutnya, akan membawa Indonesia mengalami malapetaka dan terjatuh dalam nestapa. Din melanjutkan, kasus Ahok tidaklah kecil dan terlalu mahal harganya untuk dibiarkan tumbuh, karena akan menjadi kanker yang merusak integrasi dan harmoni bangsa. “Ujaran Pulau Seribu adalah bentuk intolerasi dan rendahnya kadar tenggang rasa. Akar tunjang permasalahan harus diamputasi dan solusi terbaik adalah penegakan hukum yang berkeadilan,” tegasnya. Dalam kesempatan lain Din Syamsuddin menduga the power of money mulai mendikte politik nasional. Hal itu pun dinilai menambah keterpurukan bangsa.  Pernyataan itu sendiri ia keluarkan sebagai tanggapan terhadap demo 4 November yang merupakan buntut dari kasus dugaan penistaan agama oleh gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), di Kepulauan Seribu.  Din Syamsudin juga berpesan kepada semua pihak untuk berlaku adil. “Jangan ‘karena nila setitik, rusak susu sebelanga’. Jangan karena satu orang, harmoni bangsa terganggu,” ucapnya.  Selain itu, Din juga menyerukan agar semua pihak mengambil hikmah dari kondisi saat ini. Apalagi sekarang penampakan permasalahan bagaikan puncak gunung es. “Penampakan permasalahan bangsa yang sungguhnya menggumpal lebih besar di bawah. Bagaikan puncak gunung es,”
  • Mantan Menko Perekonomian Kwik Kian Gie Sosok fenomenal yang nasionalisme sangat tinggi dan tidak berpretensi masalah politik si mantan Menko Perekonomian Kwik Kian Gie, tanpa basa basi dalam suatu acara ILC membuat heboh mempertanyakan kebenaran rumor dikuasainya Jokowi oleh 9 naga atau taipan (pebisnis bermodal kuat keturunan Tiongkok memiliki jaringan bisnis di Hongkong atau China). Ada nama-nama besar taipan Indonesia yang selama ini terlihat mendukung Jokowi-JK. Kwik Kian Gie, merasa perlu mengingatkan seluruh rakyat dan pendukung Jokowi, bahwa ada harga yang harus dibayar sebagai efek kemenangan Jokowi. “Saya dengar kabar-kabar yang sudah meluas bahwa Jokowi dikendalikan oleh 9 taipan, orang- orang kaya yang mengendalikan, dan kabar ini sudah menyebar luas, dan tidak ada yang berani mengatakan, biarlah saya yang mengatakan. Bukan karena apa, tapi karena kecintaan saya. Tolong dibantah yang sekeras-kerasnya, dengan fakta yang sekeras- kerasnya bahwa ini tidak betul, karena kabar ini sangat meluas.” Sebagai kader yang sangat mencintai partainya, Kwik merasa harus mempertanyakan hal tersebut. Kwik adalah politisi senior sekaligus ekonom handal yang pernah menduduki jabatan strategis di negeri ini. Bahkan kwik sebagai kader PDIP dengan gagah berani menantang PDIP untuk membantah 9 naga tersebut.
    “Kader yang mencintai partainya (PDI P) harus jujur mengatakan apa adanya,”. Sebagai kader senior PDI P Kwik tentu juga banyak mengetahui ‘isi dapur’ partai berlambang banteng itu. Kecintaanya kepada PDI P itulah yang mendorong Kwik tak ingin partainya dikuasai cukong. “Saya melakukan ini karena kecintaan saya karena saya kader PDI P yang telah lama berjuang.. ” Kwik juga mempersoalkan kemunculan Sofjan Wanandi, seorang pengusaha dan sekaligus ketua Asosisi Pengusaha Indonesia (APINDO). Sofjan Wanandi sudah sejak lama melobi Megawati untuk memasangkan Jusuf Kalla dengan Jokowi. Sejak 2013, di berbagai kesempatan, Sofjan menyatakan bakal mengeluarkan Rp 2 triliun bila Kalla dipasangkan dengan Jokowi. Bahkan dalam kesempatan lain Kwik dalam http://www.citizenjurnalism.com (6/9/2015) menyebutkan Ekonom senior, Kwik Kian Gie, menilai kabinet pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla sesungguhnya tidak layak disebut Kabinet Kerja. Namun, lebih tepat disebut Kabinet Saudagar. “Jauh sebelum Jokowi-JK jadi presiden dan wapres, masa-masa kampanye pasangan ini jelas-jelas didukung oleh sembilan Taipan. Informasi tersebut tersebar demikian luasnya,” ungkap Kwik. Targetnya lanjut Kwik, jika Jokowi-JK menang, maka presiden bisa didikte oleh sembilan Taipan tadi. “Karena itu, saya menantang PDIP agar membantah informasi sembilan Taipan yang memback-up Jokowi-JK itu dengan sekuat-kuatnya,” saran Kwik. Namun sampai sekarang tidak ada bantahan sedikitpun di media masa atau media online tentang hal itu.
  • Kyiai Mbeling Emha Ainun Najib. Sang Kiai Nyentrik Cak Nun bak pujangga berseru : “Saat ini umat sibuk mengejar seekor tikus yang berlarian tetapi tidak tahu segerombolan babi di belakangnya”. Umat banyak yang tidak menyadari saat ini kita hanya berhadapan dengan pelurunya, belum berhadapan dengan senapan dan siapa yang mengkomando untuk menembak. Tentunya kekuatan yang sangat besar luarbiasa itu mampu mempengaruhi Partai Politik, Kabreskrim, Kapolri, KPK, Para Menteri bahkan RI-1 sekalipun. Kekuatan sebesar itu bukan hanya dana yang luar biasa banyak, pengaruh kekuatan asing pasti yang mampu terlibat. Bila kajian dan analisa pengamat itu benar maka bangsa ini sedang berhadapan dengan segelintir manusia yang mepunyai pengaruh luar biasa. Segelintir manusia itu adalah pentu penarik pemicu senapan yang mengarah pada bangsa ini. Dan Sang petahana hanyalah sebutir peluru. Kita sedang disibukkan terkoyaknya emosi dan keyakinan kita yang dinista dan di aduk aduk sebuah peluru yang melampaui batas ini. Kekuatan besar yang menyodorkan senapan di mulut bangsa ini tidak pernah disadari.
  • Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno:  Hedrawan PDIP mendukung Ahok mengungkapkan bahwa kandidat calon petahana Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dibiayai sejumlah pengusaha kaya raya untuk penggalangan dukungannya di Pilgub DKI 2017 mendatang. Saya dengar ada lima konglomerat di belakang Ahok. Ya sponsornya kuat,”
  • Prof DR Yuzriel Ika Mahendra SH. Ketua Umum Partai Bulang Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra mengatakan, Ahok secara pribadi tidak ada apa-apanya. Dia curiga, ada kekuatan besar di belakang Ahok, yang memaksa umat Islam melakukan tekanan untuk mendapatkan keadilan. “Ada kekuatan besar di balik Ahok, yang tidak bisa ditembus dengan imbauan dan permintaan, melainkan melalui unjuk rasa besar-besaran, dengan segala risiko yang mungkin terjadi,” kata Yusril. Demo 4 November adalah demo umat Islam yang menuntut keadilan, agar pemerintah memproses hukum Ahok yang telah menistakan Alquran, surah Al Maidah ayat 51. Sudah lebih satu bulan kasus Ahok bergulir, namun aparat penegak hukum belum menaikkan status kasus Ahok menjadi penyidikan.wp-1479593858057.jpg
  • Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo Panglima TNI beberapa kali dalam berbagai kesempata mengunhgkpakan “Banyak negara iri terhadap kekayaan alam dan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga Bhinneka Tunggal Ika, terancam perpecahan benar adanya. Hal ini karena faktor kekayaan Indonesia menjadi hal yang seksi di mata dunia (Amerika, China) dan khususnya 5 (lima) negara (Five Power Defence Arrangement (Selandia Baru, Australi, Singapura, dan dua negara lagi) di sekitar Indonesia yang juga pernah bermasalah dengan Indonesia. Panglima mengkhawatirkan Wilayah Laut CIna Selatan: kapal-kapal yang ditangkap TNI-AL semua dikawal oleh ‘Kostrad’ Tiongkok. Dalam kasus Pilipina: Klaim 12 Juli 2016. Tiongkok memberikan potensi konflik dengan ketidakmauannya diatur dalam Zona Lautan. Tentang fenomena serangan kuning tersebut, Panglima di depan BEM se Indonesia pernah menyindir dengan mengungkapkan cerita “Saya tidak takut, kalau 1 Miliar penduduk Cina ke Indonesia lewat laut. Begitu mereka nyebrang, saya potong saja 10 sapi di tengah-tengah lautan, pasti ikan hiu kumpul, habis itu saya tembakin (kapal mereka) biar bocor, dimakan hiu mereka semuanya”.
  • Pengamat ekonomi INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara, Bhima mengungkapkan model investasi yang ditawarkan oleh China memang cukup membahayakan. Pasalnya, tak hanya dengan mengirim modal, baik berupa investasi atau utangan, tapi juga sekaligus dengan para pekerjanya.“Justru mendatangkan para pekerja ini yang cukup sulit. Dan bagaimana pengawasannya? Tentu sangat sulit. Karena tenaga kerja asal China itu bisa menggunakan visa wisata, tapi bisa jadi pekerja,” tandas Bhima Senin (14/11). Makanya, dengan pengawasan yang lemah sangat berpotensi terjadinya penyimpangan.
  • Peneliti Jepang asal Universitas Tsurumi dan Universitas Seigakuin Jepang, Masako Kuranishi. Kuranishi mengingatkan Indonesia agar sangat hati-hati terhadap gerakan China di Asia, terutama di Indonesia. Dia menyebut, jangan sampai Indonesia salah langkah, kalau tak mau Tanah Air ini berantakan gara-gara ulah China tersebut.“China itu, punya rencana atau konsep besar sejak Oktober 2013 terhadap Asia, yaitu Maritime Silk Road atau sering dijuluki One Belt One Road. Ide injidilemparkan oleh Xi Jinping. Secara kasar bisa dikatakan munculnya hegemoni China terhadap negara-negara di Asia. Bila China sudah menguasai jalur Shinkansen dan sekitarnya, maka akan mudah bagi mereka untuk semakin merealisasikan konsep One Belt One Road tersebut yang akan berlanjut ke negera Asia lain. Pada Indonesia realisasi konsep tersebut terlihat dari adanya proyek kereta cepat yang dibiayai oleh China. Proyek ini akan berdampak pengusiran masyarakat sekitar yang dipaksa mengungsi dengan dalih keamanan jalur kereta cepat itu. Di Indonesia itu dimulai dari penguasaan Shinkansen. Dan tak hanya soal Shinkansen, tetapi daerah yang dilewati dan sekitarnya akan harus dikuasai pihak China walaupun perusahaan patungan 60% Indonesia dan 40% China. “Sementara China sendiri yakin Indonesia akan kesusahan bayar (utang). Sehingga penguasaan mayoritas perusahaan nanti akan dilakukan China. Demikian pula tenaga kerja yang dikerahkan semua akan diturunkan dari China. Tenaga kerja Indonesia hanya sedikit, dan itu tak penting yang terlibat dalam proyek kereta api cepat tersebut.

Kebangkitan Umat Islam

Saat ini perkembangan demokrasi di Indonesia semakin baik, tetapi banyak orang menganggap terhambat oleh kultur atau agama Islam. Memang sejarah menunjukan bawah Islam tidak mudah disatukan dengan demokrasi, meski bukan berarti tidak bisa. Kondisi tersebut dipersulit dengan adanya upaya beberapa pihak memisahkan agama dan Politik. Sebagian golongan takut dengan kekuatan Islam yang besar bila bersatu akan memenangkan demokrasi itu. Salah satu yang melemahkan kekuatan islam dalam politik adalah paham sekular. Sekularisme secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi, negara atau politik harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Memang sampai saat ini paham sekular diharamkan menurut Islam. Bahkan MUI melalui fatwanya telah mengharamkan paham sekuler, liberal dan pluralisme. Tetapi banyak diperjuangkan oleh tokoh islam berpaham pluralisme dan liberal. Mungkin dalam satu titik tertentu kaum sekular berhasil sedikit meredam kekuatan Islam. Tetapi saat ini kekuatan sekuler di negara asalnya seperti Eropa dan Amerika tidak berhasil dan semakin diabaikan. Terbukti kekuatan Islam semakin kuat dan tokoh Islam muncul jadi walikota di Eropa. Orang menganggap ini keberhasilan dari pluralisme tetapi belum tentu karena kebangkitan Islam di Inggris paling tinggi di Eropa. Begitu juga kemunculan Donald Trump adalah tanda tanda paham sekular sudah melemah. Trump adalah calon presiden yang terkenal rasis yang menjadi lawanya kaum sekuler dan pluralis. Di Indonesiapun demikian apalagi sejak tokoh tokoh besar yang memperjuangkan paham sekular seperti Gus Dur dan Nurcholis Majid belum ada yang menggantikan. Sehingga kekuatan kaum sekuler dan pluralis tidak sekuat dulu. Hal inilah yang membuat kekuatan Islam semakin mengkristal.

Faktor lain adanya poros kekuatan dunia sudah bergeser memperhitungkan kedahsyatan kekuatan ekonomi Cina yang mengancam dunia. Kekuatan ekonomi baru itu sudah mulai mempengaruhi kehidupan politik dan sosial di dunia termasuk Indonesia seperti yang dirasakan saat ini. Berbagai Faktor tersebut tampaknya berdampak membuat kebangkitan Islam si Indonesia semakin kuat. Faktor ekonomi baru dunia tersebut yang membuat Islam semakin kuat di Indonesia karena sebagian umat sudah merasakan adanya kekuatan besar yang sudah mulai dirasakan menekan kepentingan umat Islam. Gesekan umat muslim Jakarta terhadap Ahok, sebenarnya bukan sekedar kesalahan perilaku Ahok. Tetapi kepentingan para pemodal khususnya pembangunan reklamasi yang berpengaruh pada penggusuran warga Luar Batang dan pasar Ikan yang sudah 4 generasi tidak pernah diutak utik penguasa. Hal ini akan membuat jarak antara Ahok dengan umat muslim semakin lebar. Kebetulan saat ini umat yang cerdas sudah menyadari bahwa Ahok itu hanyalah sebuah peluru ada senapan dan pemicunya yang tdk disadari. Ada kekuatan besar dibelakang Ahok yang mencengkeram Indonesia. Hal ini sudah semakin terasa tetapi sulit dibuktikan. Umat yang cermat pasti sdh mulai banyak merasakan. Saat ini ulama atau tokoh Islam yang cerdas tampaknya tidak perlu menunggu bukti lagi karena kondisi dirasakan sudah mulai kronis sehingga mulai berani menyuarakan adanya kekuatan besar itu. Tokoh itu Emha Ainun Najib, Ustadz Bahtiar, Yusril bahkan Din Syamsudin yang biasanya menahan diri sekarang sudah berani mengatakan bahwa ada naga besar. Jadi umat yang cerdas harus mulai berpikir cermat ada kekuatan besar yang mengerikan menguasai negeri ini. Itulah yang menunjukkan bahwa RI-1 berani mempertaruhkan ketidakstabilan bangsa ini demi nasib seseorang. Sehingga saat ini Kebangkitan kekuatan Islam yang luar biasa itu saat ini oleh golongan yang takut atau golongan yang tidak mengerti dengan ditunggangi politik. Sehingga kebangkitan umat ini bagi orang yang berpikir bahwa masalahnya bukan sekedar Ahok.

Iklan