*Politik-Sosial

Wikileaks Akan Menghebohkan Beberapa Negara Dunia

 

Wikileaks Akan Menghebohkan Negara Di Dunia

 

Situs web online penyingkap aib atau whistle blower Wikileaks saat ini bakal lebih populer, bahkan akan membuat heboh dan kecemasan berbagai negara besar dunia. Wikileaks telah menerbitkan ribuan dokumen rahasia berbagai negara bahkan yang bersifat sangat rahasia yang bisa mengancam kelangsungan hidup negara tertentu. WikiLeaks mulai menerbitkan lebih dari 250.000 dokumen diplomatik dari kedutaan-kedutaan besar AS di seluruh dunia. Fenomena ini mengundang kecaman pemimpin di Gedung Putih, para pemimpin Kongres AS dan selanjutnya semua pimpinan negara dunia yang terkait.wp-1483337773434.jpg

Dokumen yang dipublikasikan oleh laman internet WikiLeaks menunjukkan bahwa milliter Amerika Serikat menutup mata terhadap bukti-bukti yang menunjukkan adanya penyiksaan dan penyalahgunaan kekuasaan oleh Pemerintah Irak. “Besarnya jumlah kejahatan seharusnya membuat setiap orang marah. Namun, hal itu menjadi pertanyaan besar ketika AS mendeklarasikan diri sebagai “gembong” hak asasi manusia terbesar di dunia,” tulis China Daily.

“Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat telah membawa bendera hak asasi manusia untuk mengkritik negara lain, terutama negara-negara berkembang,” tulis laporan itu. “Bagaimanapun, Amerika Serikat menolak untuk mengklarifikasi atau memperbaiki pelanggaran HAM mereka, seperti yang telah tertulis di dokumen WikiLeaks,” tulis laporan itu, yang menambahkan bahwa dunia melihat AS melalui paham unilateralisme dan standar ganda mereka. Amerika akan kehilangan kredibilitasnya bila mereka tidak dapat menghadapi pelanggaran HAM yang mereka lakukan. HAM adalah satu dari daftar panjang isu yang tampaknya menjadi agenda AS ketika Presiden China Hu Jintao mengunjungi Washington pada Januari mendatang.

Julian Assange, pendiri WikiLeaks, mengatakan, rilis dokumen rahasia oleh situs whistle-blower itu bisa menjadi “sejarah diplomatik” dalam percaturan global. “Bahan yang akan kami umumkan meliputi hal-hal mendasar dalam setiap isu besar di setiap negara,” kata Assange.

Wikileaks

WikiLeaks atau Wikileaks adalah organisasi internasional yang bermarkas di Swedia. Situs Wikileaks menerbitkan dokumen-dokumen rahasia sambil menjaga kerahasiaan sumber-sumbernya. Situs tersebut diluncurkan pada tahun 2006. Organisasi ini didirikan oleh disiden politik Cina, dan juga jurnalis, matematikawan, dan teknolog dari Amerika Serikat, Taiwan, Eropa, Australia, dan Afrika Selatan. Artikel koran dan majalah The New Yorker mendeskripsikan Julian Assange, seorang jurnalis dan aktivis internet Australia, sebagai direktur Wikileaks. Situs Wikileaks menggunakan mesin MediaWiki.

Dokumen-dokumen itu menunjukkan, AS memata-matai sekutu-sekutunya dan PBB; menutup mata terhadap korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia di ‘negara-negara yang menjadi klien’; mengadakan perjanjian rahasia dengan negara-negara yang seharusnya menjadi negara netral; dan melobi untuk kegiatan perusahaan-perusahaan AS,” kata pemimpin redaksi dan juru bicara WikiLeaks, Julian Assange, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Minggu malam, sebagaimana dikutip CNN.

Pembeberan dokumen ini mengungkapkan kontradiksi antara persona publik AS dan apa yang dikatakannya di balik pintu tertutup, dan menunjukkan bahwa warga suatu negara demokrasi ingin pemerintah mereka bisa mencerminkan keinginan mereka, mereka meminta untuk melihat apa yang terjadi di balik layar.”

Respon Amerika

Pejabat AS menempuh cara tak lazim pada Sabtu lalu, dengan mengirim surat ke WikiLeaks untuk mengingatkan agar tidak menyiarkan dokumen rahasia negara itu, yang disebutkan akan berisiko luar biasa. Surat dari Harold Hongju Koh, pengacara top Kementerian Luar Negeri AS, itu menyatakan, publikasi dokumen rahasia itu akan mengancam operasi kontra terorisme dan membahayakan hubungan AS dengan para sekutunya.

Sama seperti saat WikiLeaks membocorkan 77.000 dokumen rahasia tentang Perang Afganistan, Juli lalu, para pejabat AS langsung memprotes publikasi laporan rahasia tentang Irak ini. Komandan Kepala Staf Gabungan AS Laksamana Mike Mullen menyebut langkah WikiLeaks tersebut tidak bertanggung jawab dan dapat membahayakan jiwa serta menguntungkan musuh.

Karena ulahnya tersebut WikiLeaks melaporkan situsnya baru saja diretas, hanya beberapa jam sebelum memuat dokumen diplomatik rahsia AS.
“Kami sedang diserang agar tidak dapat menyalurkan informasi secara massal,” demikian WikiLeaks dalam pernyataan melalui akun Twitter-nya. Namun, WikiLeaks menegaskan tetap akan menyiarkan lima dokumen yang berisi banyak surat kawat milik Kedutaan Besar AS meskipun situsnya sedang down.

Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs mengecam pembeberan dokumen itu. “Penerbitan dokumen-dokumen tersebut akan membahayakan para diplomat kami, para intelijen profesional dan orang-orang dari seluruh dunia yang datang ke Amerika Serikat untuk upaya mempromosikan demokrasi dan pemerintahan yang terbuka. Dengan membeberkan dokumen-dokumen yang dicuri dan dirahasiakan, WikiLeaks telah menempatkan dalam bahaya tidak hanya hak asasi manusia, tetapi juga kehidupan dan pekerjaan orang-orang ini,” kata Gibbs. “Kami mengutuk keras pengungkapan yang tidak sah dari dokumen-dokumen rahasia dan informasi keamanan nasional yang sensitif.”

Bocoran Dokumen Terkait Beberapa negara

Arab Saudi minta Amerika serang Iran

Dokumen rahasia mengungkapkan raja Arab Saudi yang secara pribadi mendesak Amerika Serikat untuk menyerang Iran demi menghancurkan program senjata nuklir negera republik Islam itu. Bocoran dari WikiLeaks menyebutkan, pemimpin Arab Saudi sering mendesak AS untuk menyerang Iran demi mengakhiri program senjata nuklir Iran. Bocoran itu mengungkapkan, Raja Arab Saudi, Abdullah, meminta kepada Amerika untuk “memotong kepala ular itu (Iran)” pada sebuah pertemuan tahun 2008. Bocoran itu juga mengungkapkan bagaimana para pemimpin di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir menyebut Iran “jahat” dan sebuah kekuasaan yang “akan membawa kami ke dalam perang”.

Bocoran itu, sebagaimana dilansir Telegraph.co.uk, juga mengungkap tindakan para pejabat Amerika yang memata-matai kepemimpinan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon. Dalam dokumen-dokumen itu, diplomat Amerika juga membandingkan Presiden Iran Ahmadinejad dengan Adolf Hitler dan melabel Presiden Perancis Nicolas Sarkozy sebagai “kaisar tanpa busana”. Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin disebut sebagai seekor “anjing alpha”. Presiden Afganistan Hamid Karzai sebagai orang “yang didorong oleh paranoia”

Pakistan

Di antara rahasia yang dibocorkan dan mengejutkan adalah soal hubungan Taliban dan dinas intelijen militer Pakistan. Dokumen itu menyebutkan, dinas intelijen militer Pakistan adalah sahabat dan musuh dalam waktu bersamaan. Menurut dokumen itu, AS sudah lama menyimpan keraguan terhadap perilaku dinas intelijen militer Pakistan dan mencurigai bermain ganda antara AS dan Taliban. Dikatakan pula, dinas intelijen militer Pakistan selalu melaksanakan permintaan AS untuk memperkuat kerja sama, tetapi dalam waktu yang sama terus berusaha menancapkan pengaruhnya di Afganistan melalui main mata dengan Taliban.

Para komandan AS di Afganistan pada era Presiden George W Bush dan Presiden Barack Obama sering menuduh elemen dalam dinas intelijen militer Pakistan terlibat dalam serangan di Afganistan. Pihak AS telah menyerahkan nama-nama anggota aktif dan mantan anggota dinas intelijen militer Pakistan yang terlibat dalam serangan di Afganistan itu kepada pimpinan militer Pakistan.

Dikatakan pula, AS sering marah melihat militer Pakistan setengah hati menghadapi kelompok perlawanan bersenjata di wilayah perbatasan dengan Afganistan dan tampak bebas membiarkan para anggota perlawanan keluar masuk Afganistan.

Hal itulah yang mendorong AS terakhir ini lebih mengandalkan pesawat tanpa awak untuk memantau dan menyerang sasaran di wilayah Pakistan yang ternyata banyak membawa korban dari warga sipil. Di antara nama menonjol yang dicurigai terlibat main mata dengan Taliban adalah kepala dinas intelijen militer Pakistan pada tahun 1987-1989, Letnan Jenderal (purnawirawan) Hamid Gul.

Dalam dokumen tersebut disebutkan, Gul menjalin kerja sama dengan Taliban dan kelompok perlawanan lainnya seperti kelompok Gulbuddin Hekmatyar dan berusaha menyatukan mereka untuk melancarkan perlawanan terhadap pasukan AS di Afganistan. Gul juga disinyalir sering mengadakan pertemuan dengan para aktivis Tanzim Al Qaeda di wilayah suku (tribal) di perbatasan Pakistan-Afganistan. Diungkapkan pula, Gul terus berusaha menghidupkan lagi jaringan lamanya yang pernah marak pada tahun 1980-an, seperti jaringan Jalaluddin Haqqani dan Gulbuddin Hekmatyar

Afghanistan

Pada Juli 2010, situs ini mengundang kontroversi karena pembocoran dokumen Perang Afganistan. Catatan Harian Perang Afganistan” adalah kumpulan naskah dan laporan meliputi perang di Afganistan sejak 2004. Laporan itu menggambarkan tindakan maut tentara Amerika Serikat, termasuk jumlah yang tewas, luka atau ditahan serta tempat setiap peristiwa. Naskah itu juga mengungkapkan satuan tentara, yang terlibat dan senjata utama, yang digunakan. Setiap judul ditulis tentara dan perwira sandi, yang mendengarkan laporan radio dari garis depan.

Naskah berisi sejumlah topik yaitu korban di kalangan rakyat, Taliban menggunakan banyak IED, satuan “hitam” pencari pemimpin Taliban, peluru kendali pencari panas, dan Pakistan membantu perlawanan di Afganistan.

Topik Korban di Kalangan Rakyat berisi daftar penuh angka jumlah warga tewas dan luka. The Guardian menyatakan 144 judul mencatat cakupan luas serangan atas Afganistan. Dikatakan naskah itu menunjukkan bahwa pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat menewaskan ratusan warga dalam kejadian tak dilaporkan.

Kejadian itu berkisar dari penembakan atas seseorang tak bersalah hingga kematian besar akibat serangan udara. Satu laporan, yang merinci cara satu bocah tewas dan satu lagi luka akibat mobil mereka ditembaki pasukan, menunjukkan bahwa warga diberi “ganti-rugi”, 100.000 Afghani (sekitar 19,5 juta rupiah) untuk kematian, 20.000 Afghani (lebih kurang 3,9 juta rupiah) untuk cedera dan 10.000 (kira-kira 1,9 juta) untuk kendaraan.

Laporan itu mencakup sekitar 100 penembakan warga oleh pasukan gelisah di pos pemeriksaan, dekat pangkalan atau pada iringan, kata Guardian. Sopir tak kerjasama atau pengendara sepeda motor sering menjadi sasaran. WikiLeaks menyatakan berbagai macam kengerian kecil biasa tak dilaporkan, tapi berarti bagi sebagian besar kematian dan cedera.

Naskah Taliban Menggunakan Lebih Banyak menunjukan bahwa pada 2004-2009, peledak rakitan menjadi senjata kesukaan Taliban dan pembunuh terbesar tentara sekutu. The Guardian mengatakan, pada 2004 catatan itu melaporkan kejadian melibatkan 308 bom rumahan, sedangkan pada 2009, jumlah itu melonjak menjadi 7.155. Koran itu menyatakan catatan tersebut menduga Taliban membunuh atau melukai sedikit-dikitnya 7.000 warga Afghanistan dalam serangan IED antara 2004 hingga 2009.

Naskah Satuan “Hitam” Pencari Pemimpin Taliban berkisah tentang satuan rahasia pasukan khusus pimpinan Amerika Serikat -Satuan Tugas 373- yang digunakan untuk memburu pemimpin Taliban “hidup atau mati” tanpa pengadilan.

Naskah itu menunjukkan bahwa satuan hitam tersebut membunuh orang tak bersalah, perempuan, anak-anak dan polisi Afghanistan saat memburu mangsanya. Pasukan rahasia itu memiliki “daftar yang tertangkap/terbunuh” sekitar 70 pemimpin pejuang, kata The New York Times.

Naskah Peluru Kendali Pencari Panas berisi laporan bahwa tentara Amerika Serikat tahu Taliban menggunakan peluru kendali jinjing pencari panas terhadap pesawat sekutu, meskipun tidak mengungkapkan buktinya. The New York Times mengutip laporan, yang menyatakan satu helikopter Amerika Serikat dihantam peluru kendali darat-ke-udara pencari panas, yang menewaskan ketujuh penumpangnya.

Meskipun helikopter lain melaporkan kejatuhan itu akibat serangan peluru kendali darat-ke-udara, juru bicara NATO pada saat itu menyatakan helikopter itu jatuh oleh tembakan senjata kecil. Naskah Pakistan Bantu Perlawanan Afganistan mengisyaratkan bahwa Pakistan mengizinkan perwakilan jasa mata-matanya (Antar-Layanan Sandi) bertemu langsung dengan Taliban untuk menggalang kelompok pejuang, yang menyerang tentara Amerika Serikat, kata New York Times. Suratkabar itu mengutip beberapa laporan, yang menggambarkan sandi Pakistan bekerja dengan Al Qaeda untuk merencanakan serangan. Salah satu naskah membahas pertemuan pejuang, yang dihadiri mantan pejabat tinggi sandi Pakistan, yang tampak bekerja melawan pasukan Amerika Serikat di Afganistan. Der Spiegel menyatakan naskah itu menunjukkan ISI adalah “kaki paling penting” Taliban di luar Afganistan. Dikatakannya, Pakistan berperan sebagai suaka aman pasukan musuh. Majalah itu mengutip laporan ancaman pada 14 Januari 2008, yang menyatakan ISI mengarahkan pejabat Taliban untuk “melihat bahwa (Presiden Afganistan Hamid) Karzai terbunuh”.

The New York Times menyatakan laporan itu juga merinci upaya petugas ISI menjalankan jaringan pembom jibaku di Afganistan dan mengatakan bahwa mereka menunjukkan bahwa ISI membantu mengatur serangan Taliban pada saat penting perang. Laporan itu juga berisi naskah persoalan dengan kepolisian Afghanistan, menceritakan keberingasan polisi, kawanan korupsi dan pemerasan.

Perang Iran

Bocoran dokumen rahasia terbaru dari WikiLeaks mengungkap fakta-fakta baru yang menyedihkan dari Perang Irak. Warga sipil menjadi obyek pembunuhan, penyiksaan, dan bentuk kekerasan lain oleh aparat keamanan. Amerika Serikat, Inggris, dan Australia protes. Sebanyak 391.832 laporan militer tentang kondisi di lapangan selama Perang Irak dari 1 Januari 2004 hingga 31 Desember 2009 dipublikasikan WikiLeaks (www.wikileaks.org), Jumat pekan lalu. Dokumen rahasia tersebut mencakup laporan harian para prajurit Angkatan Darat AS, yang mengungkap berbagai tindak kekerasan, mulai dari penembakan, peledakan bom, eksekusi, hingga pembunuhan berencana.

Kantor berita Al Jazeera, yang mendapat bocoran dokumen dari WikiLeaks lebih awal, mencatat sekitar 680 warga sipil di Irak, termasuk perempuan hamil dan penderita gangguan mental, tewas terbunuh hanya karena melintas terlalu dekat dengan pos- pos pemeriksaan militer di jalanan yang dijaga pasukan AS dan sekutunya.

Salah satu insiden yang dilaporkan terjadi Mei 2006, saat seorang perempuan hamil bernama Nahiba Jassim dan sepupunya, Saliha Hassan, tewas ditembak di sebuah pos pemeriksaan di Samarra. Jassim dan Hassan dalam perjalanan buru-buru ke sebuah rumah sakit bersalin di kota tersebut. Al Jazeera juga mencatat lebih dari 300 warga sipil terluka terkena pantulan (ricochet) peluru tembakan peringatan dari pasukan penjaga pos pemeriksaan. Tentu saja sudah tidak mungkin membuktikan apakah laporan tersebut ditulis dengan jujur atau sekadar dibuat untuk menutupi tembakan peringatan yang ceroboh.

Lembaga independen Iraq Body Count (IBC) yang bermarkas di Inggris dan telah mempelajari bocoran WikiLeaks tersebut menemukan jumlah korban tewas selama periode lima tahun mencapai 109.032 orang, sebanyak 66.081 orang di antaranya warga sipil. IBC menemukan sebanyak 15.000 korban tewas belum pernah dilaporkan sebelumnya.

Hal lain yang mengejutkan dari laporan-laporan ini adalah tidak adanya tindak lanjut dari unit-unit pasukan yang menembak warga sipil tersebut. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa pasukan AS terkesan menutup mata terhadap penyiksaan warga sipil Irak oleh aparat keamanan Irak sendiri. Salah satu laporan yang dibuat para prajurit 101st Airborne Division, Agustus 2006, menguraikan pengakuan seorang tersangka kriminal yang pernah disiksa polisi Irak. Ia mengaku digantung di langit-langit menggunakan borgol kemudian disiram air mendidih dan digebuki dengan tongkat. Laporan lain menyebut pasukan AS menemukan rekaman eksekusi seorang tahanan oleh 12 prajurit Irak di kawasan Tal Afar, Desember 2009. Tahanan yang terikat itu didorong ke tengah jalan lalu ditembak

Belanda

Sebagian dokumen rahasia itu dibocorkan situs WikiLeaks dan nama Belanda disebut hampir 2.500 kali. Ben Bot menjadi menteri luar negeri selama 2003-2007, periode yang mencakup saat Belanda memutuskan ikut mengirim tentara ke Irak dan Afghanistan. Suatu data statistik yang diterbitkan oleh mingguan Jerman, Der Spiegel, juga menunjukkan meningkatnya lalu lintas pengiriman berita pada masa hangatnya diskusi mengenai Irak dan Afghanistan.

Nama Belanda kadang disebut dalam berbagai dokumen yang telah dipublikasikan sekarang ini. Di antaranya campur tangan langsung Presiden Prancis, Sarkozy, mengenai diskusi di Belanda tentang kelangsungan misi militer di Afghanistan, pada masa jabatan terakhir Jan Peter Balkenende. Dari dokumen lain terungkap penilaian positif Amerika pada Menteri Luar Negeri Belanda saat itu, Maxime Verhagen. Mereka menyebutnya sebagai sekutu setia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s