*Agama Islam

Sunan Kalijaga, Tokoh Walisongo Paling Hebat

Sunan Kalijaga, Tokoh Walisongo Paling Hebat

http://danyalmim.files.wordpress.com/2010/06/sunan-kalijaga1.jpg

Sunan Kalijaga adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu, Demak.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Riwayat Hidup

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.

Riwayat Silsilah Keluarga

  • Mengenai asal usul beliau, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa beliau juga masih keturunan Arab. Tapi, banyak pula yang menyatakan ia orang Jawa asli. Van Den Berg menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
  • Menurut Babad Tuban menyatakan bahwa Aria Teja alias ‘Abdul Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, Aria Dikara, dan mengawini putrinya. Dari perkawinan ini ia memiliki putra bernama Aria Wilatikta. Menurut catatan Tome Pires, penguasa Tuban pada tahun 1500 M adalah cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putra Aria Wilatikta. Sejarawan lain seperti De Graaf membenarkan bahwa Aria Teja I (‘Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, paman Muhammad. Sunan Kalijaga mempunyai tiga anak salah satunya adalah Umar Said atau Sunan Muria.
  • Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.

Jadi Perampok

Menurut cerita,Sebelum menjadi Walisongo,Raden Said menjadi seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan Hasil Bumi. Dan hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang-orang yang miskin. Suatu hari,Saat Raden Said ke hutan,ia melihat seseorang kakek tua yang bertongkat.Orang itu adalah Sunan Bonang.Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas,ia merampas tongkat itu.Katanya,hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin.Tetapi,Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu.Ia menasihati Raden Said bahwa Allah tidak akan menerima amal yang buruk.Lalu,Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha,maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang.Karena itu,Raden Said ingin menjadi murid Sunan Bonang.Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai.Raden Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya.

Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tep sungai.Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang.Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut.Karena itu,ia menjadi tertidur dalam waktu lama.Karena lamanya ia tertidur,tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya.Tiga tahun kemudian,Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said.Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditanjapkan ke sungai,maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga.Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang.Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu (“Petruk Jadi Raja”). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang.

Ketika wafat, beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam ini hingga sekarang masih ramai diziarahi orang.

Jasa Sunan Kalijaga

  • Sebagai Da’i (Mubaligh) Beliau di kenal sebagai seorang yang dapat bergaul dengan segala lapisan masyarakat. Dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Jika para Wali lain kebanyakan hanya berda’wah daerahnya saja yaitu mendirikan Padepokan atau Pesantren maka Sunan Kalijaga ini dikenal sebagai Mubaligh keliling yang kondang. Dengan memanfaatkan kesenian rakyat yang ada beliau dapat bergaul dan mengumpulan rakyat untuk kemudian diajak mengenal agama Islam. Beliau ahli menabuh gamelan, pandai mendalang, pandai menciptakan tembang yang kesemuanya itu dipergunakan untuk kepentingan da’wah. Terhadap adat itiadat rakyat beliau tidak langsung menentang secara tajam yang akhirnya hanya membuat mereka lari dan enggan mengenal Islam. Beliau dekati rakyat yang masih awam, yang masih berpegang pada adat lama dan diberinya adat lama itu warna Islami. Dengan caranya yang luwes tersesbut maka banyaklah orang Jawa yang bersedia masuk agama Islam.
  • Sebagai Ahli Seni Diantara keahlian Sunan Kalijaga ialah beliau itu kreatif dalam segala cabang seni, diantaranya :
  • Pertama kali menciptakan baju taqwa. Baju Taqwa iniakhirnya disempurnakan oleh Sultan Agung dengan destar nyamping dan keris serta rangkaian lainnya.
  • Ahli seni suara yaitu pencipta Tembang Dandang Gula dan Dandang Gula Semarangan.
  • Ahli seni lukis, yaitu menciptakan bentuk seni ukir bermotif dedaunan, bentuk gayor atau alat menggantungkan gamelan dan bentuk ornamentik lainnya yang sekarang dianggap sebagai seni ukir Nasional. Semua itu tak lain adalah ciptaan Sunan Kalijaga dan wali lainnya. Sebelum jaman para wali, kebanyakan seni ukir bermotifkan manusia dan binatang.
  • Sunan Kalijagalah yang memerintahkan Ki Pandanarang atau Sunan Tembayat untuk membuat Bedhu, yaitu semacam drum besar untuk memanggil orang supaya berkumpul di masjid. Sesuai dengan bunyinya maka falsafah bedhug itu artinya adalah sebagai berikut : deng-deng=deng isih sedeng-isih sedeng. Atau masih muat, yaitu di dalam masjid masih muat atau cukup utnuk shalat berjamaah. Kalau kentongan langgar berbunyi thong-thong-thong, artinya masih kotong atau masih kosong.
  • Gerebek Maulud itu adalah suatu acara yang diprakarsai sunan kalijaga. Aslinya acara ini adalah tabligh atau pengajian akbar yang diselenggarakan para wali di depan masjid demak untuk memperingati Maulid Nabi. Dalam kesempatan itu juga diadakan musyawarah tahunan para wali. Di halaman masjid demak ditempatkan gamelan dan komplek masjid dihias dengan hiasan yang menarik dan meriah. Suasana jadi meriah seperti pasar malam, orang yang ingin melihat perayaan harus melalui pintu yang disebut gapura sembari mengucapkan syahadat. Sesudah pengunjung melimpah maka gamelan ditabuh disertai tembang-tembang keagamaan kemudian diselingi ceramah atau da’wah para wali. Perayaan itu berlangsung seminggu penuh. Pada jaman itu belum disebut gerebek, kata geberek baru ada dijaman keraton surakarta dan yogyakarta. Gerebek artinya mengikuti yaitu mengikuti sultan dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan peringatan Maulud Nabi saw. Adapun arti sekaten adalah dari bahasa arab syahadatain, yaitu dua kalimat syahadat. Yang dimaksud dengan sekaten adalah dua buah gamelan yang diciptakan sunan kalijaga dai ditabuh pada hari-hari tertentu. Nama gamelan itu semula adalah kyai nagawita dan kyai guntur Madu. Sekarang disebut kyai sekati dan Nyai sekati. Gamelan itu misalnya dibunyikan pada hari jum’at atau hari-hari besar islam lainnya. Karena rakyat senang mendengar bunyinya maka mereka berkumpul untuk mendengarkannya di depan masjid demak bila mereka sudah berkumpul para wali memberi ceramah agama islam.
  • Gong sekaten adalah ciptaan sunan kalijaga yang mempunyai falsafah mengajak orang masuk islam Yaitu : keneng bunyinya nong-nong-nong. Kempul suaranya pung-pung-pung. Kendang bunyinya tak-ndang-tak-ndang. Genjur bunyinya nggurrrr. Semua gamelan itu bila dibunyikan bersama akan membentuk suara kesatuan yang unik yaitu : Nong-ning nong kana nong kene pumpung mumpung-mumpung pul-pul-pul ndang-ndang-ndang,endang-endang tak ndang-ndang tandang nggur, jegurrr. Artinya ialah : di sana di situ di sini, mumpung masih ada waktu atau masih hidup, berkumpulah dan cepat-cepat masuk agama islam.
  • Pencipta wayang kulit, karena pada jaman sebelum wali, hanya ada wayang beber yaitu gambarnya setiap adegan dibeber pada sebuah kulit. Gambarnya adalah berupa manusia. Kemudian oleh sunan kalijaga dirubah menjadi bentuk wayang kulit seperti sekarang ini.
  • Di antara tembang ciptaan sunan kalijaga yang masih akrab dikalangan rakyat jawa hingga jaman sekarang adalah tembang lirilir. Teks tembang tersebut adalah sebagai berikut ilir-ilir lilir ilir tandure wis sumilir tak ijo royo-royo dak sengguh penganten anyar cah angon-a acah angon peneko blimbing kuwi lunyu-lunyu penek no kanggo masuh dodotiro dodotiro, dodotiro kumitir bedhah ing pinggir domono jlumotono kanggo seba mangko soe mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane yo surako surak horee.

cropped-wp-14943845170791.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s